
Kondisi Toby yang semakin parah membuat yang lainnya bergantian untuk menjaga Toby. Namun Sasy pasti akan tetap menjaga Toby. Tetapi hari ini giliran Cherry dan suaminya yang sekalian Verro juga bisa mengontrol kondisi Toby.
Cherry duduk di kursi yang ada di samping tempat tidur Toby. Dengan tangan Cherry memegang tangan Toby yang seakan memberikan energi tenaga untuk Toby.
" Kamu pasti kuat, aku yakin itu. Bukannya kamu pernah bilang jika sudah belajar dariku dan kamu pasti bisa mengahadapi semuanya. Kamu pasti bisa melawan sakit itu. Karena kamu tau caranya. Iya Toby kamu juga dulu beberapa kali mengingatkanku, memberiku semangat kamu selalu membuat tawa sehingga aku melupakan sakit ku. Jadi tetaplah bangun Toby. Aku masih ingin mendengar suaramu yang bertengkar dengan Sasy. Walau kalian sudah dewasa. Tapi aku masih ingin Toby mendengarnya. Maka bangunlah lawan semuanya," ucap Cherry meneteskan air mata yang bercerita dengan Toby.
" Kamu lihat Sasy dia akan sangat sedih. Jika kamu pergi begitu saja. Kamu harus kuat, harus," Cherry terus bicara yang memberikan semangat kepada temannya itu yang tidak sadarkan diri sama sekali. Hanya suara mesin jantung yang terdengar di dalam ruangan itu.
Krekkk pintu ruangan Toby di buka dan ternyata Verro yang datang yang masih memakai seragam Dokternya. Verro langsung menghampiri istrinya dan mengusap-usap pundak Cherry.
" Apa semuanya baik-baik saja?" tanya Cherry melihat kearah suaminya.
" Iya sayang. Aku tadi sedang bicara dengan Dokter Arif, mengenai kondisi Toby," jawab Verro.
" Lalu bagaimana. Apa donor jantungnya sudah ada?" tanya Cherry.
" Dokter Arif bilang ada. Tetapi ini belum pasti," sahut Verro.
" Ada," sahut Cherry yang tampak semangat saat mendengar akan ada donor untuk Toby.
" Iya sayang. Tetapi belum pasti," sahut Verro yang menerangkan jelas-jelas, jangan sampai istrinya berharap banyak.
" Kok bisa belum pasti," sahut Cherry heran. " Memang donor dari mana?" tanya Cherry lagi.
" Itu rahasia pasien sayang dan kepastiannya ada di tangan keluarganya," sahut Verro yang pasti juga tidak tau jantung siapa yang di katakan Dokter Arif.
" Ya Allah semoga saja semuanya di beri kelancaran," sahut Cherry yang sedikit lega dengan penuh harapan. Walau harapannya tipis. Namun dia tetap berdoa semoga secerca harapan itu.
" Kita doakan saja sayang apa yang terjadi. Semoga semuanya baik-baik saja dan ada jalan yang terbaik," sahut Verro. Cherry mengangguk dan menatap nanar pada Toby.
" Oh iya sayang. Sasy mana?" tanya Verro yang tidak melihat Sasy.
" Tadi keluar sebentar. Dia juga tidak bilang mau kemana," jawab Sasy.
__ADS_1
" Hmmmm, begitu rupanya. Ya sudah kamu sebaiknya istrirahat. Aku sudah membawakan selimut untuk kamu. Kamu tidurlah, biar aku yang mengontrol kondisi Toby," ucap Verro. Cherry mengangguk.
Dia memang juga harus istirahat agar tidak terlalu lelah dan terakhirnya nanti dia yang malah sakit. Verro mengajak istrinya menuju sofa yang lumayan besar di sana dan membantu istrinya merebahkan diri. Memberikan selimut pada istrinya.
" Istirahatlah," ucap Verro mencium kening istrinya. Cherry mengangguk dan langsung memejamkan matanya dengan perlahan. Pasti tidak tenang untuk tidur. Namun apa lagi dia harus tidur untuk beristirahat. Dan menyerahkan Toby pada suaminya yang pasti Verro akan mengontrol terus kesehatan Toby. Sembari menunggu Sasy yang tidak tau kemana.
*************
Sepulang dari rumah sakit Arif mampir kerumah Selina. Arif terlihat begitu lelah dengan bersandar di dingding dengan kakinya satu di luruskan dan satu di tekuknya. Pikirannya. Arif memijat kepalanya yang terasa begitu berat.
Tidak lama Selina sang dengan membawakan semangkok mie instan dan segelas air putih.
" Kamu makan dulu," ucap Selina yang duduk di depan Arif. Arif mengangguk dan bersilah kaki untuk menikmati apa yang di masakkan kekasihnya itu.
" Apa ada masalah?" tanya Selina. Arif melihat kearahnya dengan mengangguk.
" Masalah apa?" tanya Selina yang pasti begitu penasaran.
" Aku bingung Selina," sahut Arif dengan wajahnya yang terlihat begitu stres.
" Ada orang yang ingin mendonorkan jantungnya pada Toby," ucap Arif yang ternyata tidak bisa jika tidak menceritakan apa yang terkumpul di dalam pikirannya.
" Lalu?" tanya Selina heran, " bukannya itu bagus dan Toby memang lagi butuh itu kan," ucap Selina.
" Ini yang menjadi masalahnya. Dia juga memiliki sakit yang luar biasa dan bahkan lebih parah dari pada Toby. Dia datang kepadaku dan memeriksakan jantungnya. Dia bahagia dengan jantungnya yang sehat dan bisa di donorkan dan dia juga memberi amanah untuk mendonorkannya pada Toby," jelas Arif.
" Di mendonorkan khusus pada Toby," sahut Selina. Dokter Arif mengangguk.
" Jika dia mendonorkan langsung pada Toby apa dia mengenal Toby?" tanya Selina yang begitu mudah menebak arah jalan dari apa yang di ceritakan Arif kepadanya.
" Hmmm, kamu benar. Dia mengenal Toby," sahut Arif.
" Siapa dia?" tanya Selina yang pasti begitu penasaran.
__ADS_1
" Fiona," jawab Arif yang membuat Selina kaget mendengarnya.
" Fiona!" pekik Selina. Arif mengangguk. Pasti calon istrinya itu menjadi satu-satunya orang yang di beritahunya untuk berbagai cerita. Selina masih begitu kaget sampai-sampai menutup mulutnya dengan 1 tangannya.
" Dan Fiona tidak ingin orang lain tau. Termasuk Toby, Sasy, Cherry, Verro atau yang lainnya dia ingin mendonorkan organ jantungnya pada Toby sebagai permintaan maafnya dengan apa yang di lakukannya kepada yang lainnya memulai transplantasi jantung," jelas Arif Selina masih begitu kagetnya mendengarnya.
" Ini sungguhan. Fiona yang meminta sendiri," sahut Selina yang masih tidak percaya.
" Iya Selina. Aku juga kaget jika dia melakukan hal itu dan jelas-jelas dia memberikan amanah itu kepadaku," sahut Arif.
" Bukannya Selina juga sekarat," sahut Sasy.
" Justru itu yang membuatku bingung. Karena kondisi ini yang harus menuntut ku untuk menjalankan amanat itu dan Toby juga kritis dan aku juga takut tidak bisa menjalankan amanah itu. Tetapi aku masih ragu untuk melakukannya," ucap Arif dengan wajahnya yang penuh kebingungan.
" Ya Allah aku tidak percaya jika Fiona bisa kepikiran hal itu. Dia benar-benar bertaubat dah taubatnya tidak main-main," sahut Selina yang pasti masih tidak menyangka dengan apa yang di dengarnya dari pacaranya itu.
" Kamu benar sayang. Aku juga tidak percaya Fiona bisa melakukan hal itu," sahut Arif.
" Lalu bagaimana. Dan keluarganya apa setuju. Setauku Fiona juga masih memiliki keluarga?" tanya Selina.
" Memang hanya tinggal persetujuan itu. Tetapi tetap aku bingung. Apa iya aku harus melakukannya sekarang yang artinya aku menghentikan kehidupan Fiona," sahut Arif.
" Sayang, kamu jangan bicara seperti itu. Jika itu memang amanah maka laksanakanlah dan mungkin memang itu yang di inginkan Fiona dan jika keluarganya setuju mungkin memang itu yang terbaik," ucap Selina yang berusaha untuk memberikan arahan kepada Arif.
" Iya kamu benar," sahut Arif.
" Sayang kamu jangan terlalu memikirkan hal ini. Jika memang keluarganya setuju dan lakukanlah," ucap Selina memberi saran. Arif mengangguk tidak merasa pasti.
" Ya sudah sebaiknya kamu sekarang makan dulu. Kamu jangan terlalu mikirin yang berat-berat lagi. Kita doakan saja semuanya berjalan dengan lancar," ucap Selina yang sekarang bertambah bijak dalam berbicara.
" Iya. Makasih ya sudah memberiku saran. Aku tidak menyesal menceritakannya pada mu," ucap Arif.
" Itulah gunanya pacar. Dan aku beruntung dengan kamu yang mempercayaiku," ucap Selina. Arif mengangguk tersenyum.
__ADS_1
" Ayo di makan!" ucap Selina lagi. Atif pun langsung menikmati apa yang di buatkan istrinya.
Bersambung