DETAK Love Story' School

DETAK Love Story' School
Episode 154 Mencoba Menyimpulkan.


__ADS_3

Ternyata pertikaian kecil antara Clara dan Felly di saksikan oleh Bayu. Bayu mengepal tangannya dengan kuat. Dengan melihat pemandangan itu.


Bagaimana Clara terlihat jelas sangat yang lebih mendominan pada Verro. Bayu seperti terbakar cemburu dengan pemandangan yang di lihatnya. Sampai matanya yang melotot. Ingin keluar karena api cemburu yang di pendamnya.


" Dia benar-benar tidak mendengarkan ku. Clara kamu tidak bisa di biarkan di sini saja," batin Bayu dengan merapatkan giginya. Sangat marah dengan tindakan Clara.


" Siapa Pria sebenarnya. Dia terlihat seperti ada sesuatu dan Clara sendiri. Aku yakin dia sudah mulai menyukai Dokter gadungan itu," batin Bayu.


" Sial. Jika lama-lama di biarkan. Maka semuanya akan berantakan," ucapnya berdecak kesal. Lalu pergi meninggalkan tempat itu. Dia bisa tau jika Clara sudah menyukai Verro dan itu membuatnya khawatir.


Ternyata bukan hanya Bayu yang melihat Verro dan Clara. Tetapi Sasy dan Raquel juga. Bahkan mereka juga sangat jelas memperhatikan eksperesi Bayu.


" Aku bilang juga apa. Mereka pasti bukan saudara kandung. Jika iya laki-laki gila itu tidak mungkin segitunya kepada Clara. Dia lebih seperti cemburu dari pada tidak suka," sahut Sasy yang bingung dengan kejadian itu.


" Kamu benar sih. Tapi mereka memanggil wanita yang sama sebagai mama. Atau mungkin memang iya Bayu menyukai Clara. Ya dia menyukai saudaranya sendiri," ucap Raquel yang tidak bisa menyimpulkan apa-apa. Jadi yang keluar dari mulutnya asal-asalan saja.


" Ya dia memang gila. Jika sampai menyukai saudaranya sendiri," sahut Sasy.


" Berarti hanya ada kemungkinan, mereka saudara dan Bayu menyukai Clara dan sangat sensitif pada Clara. Atau mereka bukan saudara dan Bayu menyukai Clara. Dan ingin memiliki Clara dengan sepenuhnya," ucap Raquel menyimpulkan sendiri.


" Berarti itu tugas kamu?" sahut Sasy. Raquel mendengarnya bingung dengan kata tugas.


" Maksudnya?" tanya Raquel mengkerutkan dahinya.


" Tanyalah pada pacar kesayanganmu. Bukannya kliennya teman Clara. Jadi tanyakan masalah status itu. Agar semuanya jelas dan kita tidak perlu kebingaunga," ucap Sasy.


" Kenapa harus dia," sahut Raquel.


" Sudah dengar kan saja. Apa susahnya," tegas Sasy. Raquel kesal harus membawa-bawa Aldo lagi.


" Tapi kalau di lihat-lihat. Apa benar ya kata Bayu!" ucap Sasy lagi.


" Apanya yang benar?" tanya Raquel heran.


" Kalau, Clara menyukai Verro," jawab Sasy.


" Kok kamu bisa menyimpulkan seperti itu?" tanya Raquel yang pemikirannya tidak sejauh itu.


" Ya kita lihat saja buktinya. Sangat terlihat jelas. Jika Clara yang memang seperti memiliki perasaan pada Verro. Dia juga banyak membela Verro. Sudah begitu mencari Verro hanya untuk mengobati lukanya dan bukan hanya itu. Bahkan Verro sudah menolak beberapa kali. Tetapi malah Clara kayaknya maksa banget. Jika bukan tertarik dengan Verro apa lagi namanya," ucap Sasy menjelaskan berdasarkan apa yang di simpulkannya.


" Tapi wajar sih. Kalau Clara menyukai Verro. Karena Verro kan ganteng. Siapa juga yang tidak tertarik dengannya. Dokter muda yang tampan rupawan," sahut Raquel degan santai.

__ADS_1


" Tapi kasian Verro nya. Dia pasti dilema dan tidak bisa membedakan Clara dan Cherry. Seperti tadi dia sangat tertekan dengan tindakan Clara. Makanya bisa sampai semarah itu," ucap Sasy.


" Iya sih. Semuanya memang membingungkan," sahut Raquel.


" Sudahlah. Kenapa juga kita harus memikirkan perasaan orang lain yang menyukai siapa. Mendingan kita cari tau saja hubungan Bayu dan Clara. Agar semuanya jelas," tegas Sasy.


" Iya. Ya sudah ayo kita kembali," ajak Raquel. Sasy mengangguk dan merekapun akhirnya pergi.


************


Kejadian tadi membuat Clara menjadi kepikiran. Perasaannya yang tidak tenang mengantarkannya duduk melamun di Restaurant. Dengan mengaduk-aduk minumannya.


" Tatapan matanya sangat aneh. Lalu kenapa dia marah kepadaku. Dia juga mengatakan aku tidak mungkin sama dengan Cherry. Aku tidak mengerti apa maksudnya. Sangat aneh. Kenapa aku bertemu orang-orang yang menganggapku adalah Cherry,"


" Apa mereka satu kelompok yang sama. Pilot itu, 2 Dokter wanita itu, pengacara Tari dan bahkan kasir itu mereka menyebutku dengan Cherry dan tadi Verro yang seakan sangat marah denganku. Tetapi aku tidak tau kenapa dia sangat marah,"


" Padahal, aku hanya ingin minta maaf dan mengobati lukanya. Tetapi dia langsung marah dan seperti membenciku. Hal itu membuatku sangat bingung dan tidak mengerti," Kiara terus bergerutu di dalam hatinya. Pikirannya jadi terbagi dengan apa yang terjadi barusan.


" Lalu kenapa rasanya sakit. Ketika dia membentakku. Kenapa aku merasa seperti merasakan sesuatu. Air mataku langsung menetes saat mendengar bentakan itu. Sementara Mas Bayu pernah menggertakku. Tetapi aku tidak meneteskan air mata sama sekali," batinnya sekarang memegang dadanya. Seperti ada sesuatu di dadanya yang membuatnya bingung.


" Apa semua ini. Apa mungkin iya aku menyukainya," Clara bergejolak di dalam hatinya tidak mengerti dengan debaran jantungnya saat mengucapkan nama Verro. Yang seperti sudah lama ada di dirinya.


" Clara!" tegur Tari yang membuat Clara tersentak kaget.


" Kamu sedang apa di sini?" tanya Tari bingung.


" Oh, aku sedang makan?" Clara. Ya kalau di restauran mau ngapain lagi kalau tidak makan. Tapi Clara memang tidak makan. Dia hanya melamun tanpa menyentuh makanan yang sudah di pesannya.


" Oh begitu!" sahut Tari mengangguk-angguk saja.


" Lalu kamu sedang apa di sini?" tanya Clara.


" Aku sedang menemui pengacaraku?" jawab Tari. Clara mengangguk-angguk saja.


" Kalau begitu mari makan bersama!" ajak Clara menawarkan sahabatnya.


" Tidak usah, aku lagi buru-buru soalnya," jawab Tari melihat arloji di tangannya.


" Memang kamu mau kemana?" tanya Clara.


" Aku mau kepemakaman Laudya," jawab Tari.

__ADS_1


" Ohhhhh. Hmmm, aku boleh ikut," sahut Clara tiba-tiba yang tertarik untuk ikut.


" Kamu mau ikut?" tanya Tari. Clara mengangguk. Dia merasa jenuh dan tidak tau mau berbuat apa perasaannya juga tidak tenang dan mungkin lebih baik dia pergi bersama temannya itu.


" Ya, sudah kalau begitu," sahut Tari tanpa keberatan. Clara mengangguk dengan tersenyum. Clara memanggil pelayan dan langsung membayar pesanannya yang sama sekali tidak di sentuhnya. Lalu mereka pergi.


***********


Tidak berapa lama. Akhirnya Clara dan Tari sampai di pemakaman Mewah. Mereka sama-sama keluar dari mobil dengan membawa keranjang bunga untuk di tabur dan juga boucket bunga.


" Ayo!" ajak Tari. Clara mengangguk. Ini memang pertama kali baginya pergi kepemakaman tempat sepupu temannya di makamnya. Jadi wajar dia terlihat bingung dengan kepalanya yang berkeliling melihat di sekitar makam.


Mungkin karena hari jummat banyak yang berkunjung ke makam itu. Jadi memang bukan mereka saja yang ada di sana. Langkah Clara harus terhenti ketika melihat seseorang yang di kenalnya. Seorang pria yang dengan kemeja hitam yang berdiri di pemakaman seseorang.


" Bukannya itu Dokter Verro," batin Clara yang sudah hafal dengan bentuk tubuh Verro. Pria yang tadi di suruh untuk menjauhinya.


" Clara kenapa berhenti?" tanya Tari bingung melihat sahabatnya malah bengong.


" Oh itu," Clara gugup tidak tau harus mengatakan apa.


" Ya sudah ayo!" ajak Tari. Clara mengangguk dan melanjutkan langkah dengan hati yang penasaran.


Clara dan Tari, sudah berjongkok di depan makam Laudya sepupu Tari. Model yang meninggal mengenaskan dan sampai sekarang kasusnya masih sedang di tangani Aldo.


Tari sangat Fokus dengan membaca doa dan lain sebagainya. Tidak dengan Clara yang ternyata terus melihat kebelakang dan memperhatikan Verro.


" Siapa yang di zarahinya. Kenapa dia terlihat murung sekali. Apa orang tuanya," batin Clara yang penasaran dengan orang yang di kunjungi Verro.


Saat Verro sudah selesai Ziarah. Verro melihat di sekelilingnya dan dengan cepat. Clara membalikkan tubuhnya. Dia tidak ingin. Verro tau bahwa dia ada di sana yang mungkin akan membuat Verro marah seperti tadi.


Akhirnya Clara dan Tari sudah selesai Ziarah. Mereka berjalan menuju mobil. Clara sudah tidak Verro lagi di pemakaman yang mungkin memang sudah kembali.


" Aku sangat penasaran dengan makam yang di kunjungi Verro," batin Clara yang masih bertanya-tanya.


" Tari!" tegur Clara saat Tari ingin masuk kedalam mobil.


" Iya kenapa?' tanya Tari.


" Aku ketoilet sebentar. Kamu tunggu di mobil ya," ucap Clara.


" Oke," sahut Tari yang tidak masalah. Clara yang tidak ingin membuang waktu langsung pergi.

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2