
Akhirnya Varell dan Cherry pun tiba di tempat kerja Nadya. Di salah satu perusahan kecil dan ternyata Nadya sudah menunggu dan mobil Varell yang berhenti di depannya membuatnya bingung.
" Bukannya ini mobil Varell?" batin Nadya heran yang mengenali mobil itu adalah mobil Varell.
" Ngapain mobil Varell ada di sini," ucapnya salah hatinya yang penuh kebingungan. Sampai akhirnya Varell menurunkan kaca mobilnya dan memang benar apa yang di pikirannya itu adalah mobil Varell.
" Nadya ayo masuk!" Tiba-tiba nongol kepala Cherry dan memang memperlihatkan Cherry ada di sana. Membuat Nadya bertambah heran. Sementara Varell tidak bersuara sama sekali.
" Nadya, kenapa diam. Ayo cepat masuk," ucap Cherry.
" Ha, i-iya," sahut Nadya gugup lalu langsung masuk kedalam mobil Varell dan Nadya yang duduk masih terlihat bingung dengan banyak pertanyaan di kepalanya.
" Nadya, aku tidak sengaja bertemu Varell di halte bus dan dia menawarkan tumpangan. Makanya kami menjemputmu," ucap Cherry menengok kebelakang.
" Oh, begitu rupanya," sahut Nadya tersenyum tipis. Namun Varell hanya melihatnya dari kaca di dalam mobil.
" Hmmm, ya sudah Varell. Ayo jalan!" ucap Cherry.
" I-iya," sahut Varell yang langsung melajukan mobilnya.
Di dalam mobil di sepanjang perjalanan terlihat hening-hening saja. Varell terus mencuri-curi pandang untuk melihat Nadya dari kaca di dalam mobil. Namun Nadya menyadari hal itu. Dia malah terlihat canggung dan beberapa kali menyelipkan rambutnya ke belakang daun telinganya.
" Apa yang salah dengan ku. Apa dia tidak bisa jangan melihatku," batin Nadya yang risih dengan Varell yang terlalu memandanginya.
**************
Verro pulang ke rumahnya dan Verro langsung memasuki kamar yang tidak ada Cherry sama sekali. Verro langsung duduk di pinggir ranjang dengan kakinya terbuka sedikit.
Terlihat Verro yang tampak frustasi dengan mengusap kasar wajahnya dengan ke-2 tangannya. Hembusan napas beratnya yang terus terus terhembus.
" Cherry, kenapa kamu seperti ini. Aku tau aku salah. Tetapi apa kamu tidak bisa memaafkanku," ucap Verro dengan napas beratnya.
Verro mengambil ponselnya. Lalu melihat kontak Cherry. Dia juga melihat pesanan wa. Tadi dia sempat mengirim Cherry pesan. Bertanya apa sudah makan atau tidak. Keadaan Cherry yang seperti apa. Tetapi sama sekali tidak di balas Cherry dan hanya di read saja.
Verro pun mencoba untuk menelpon Cherry. Namun tidak di angkat sama sekali. Yang ternyata Cherry yang berada di kamarnya. Di rumah alm papanya. Dia berbaring miring dengan ponsel di depannya yang sengaja di silient agar tidak mengganggu Nadya yang juga sudah tidur di sampingnya.
Cherry hanya melihat panggilan masuk dari suaminya itu saja tanpa ingin mengangkatnya sama sekali dan bahkan tidak kepikiran untuk mengangkatnya. Dia begitu marah pada Verro makanya sampai seperti itu dan memang tidak akan peduli dengan Verro.
Verro terus menelponnya dan Felly tetap tidak mengangkatnya.
************
__ADS_1
Pagi hari kembali tiba. Nadya dan Cherry sarapan bersama. Nadya melihat Cherry tampak sangat tidak bersemangat dan bahkan sangat murung. Dia melihat Cherry seperti sangat banyak pikiran.
" Cherry kamu tidak apa-apa kan?" tanya Nadya. Cherry melihat ke arah Nadya.
" Tidak, Nadya. Aku tidak apa-apa," jawab Cherry yang masih bisa tersenyum.
" Lalu. Kalau tidak apa-apa. Kenapa tidak sarapan?" tanya Nadya.
" Aku hanya tidak selera makan. Belakangan ini suka mual-mual. Makanya tidak selera untuk makan," ucap Cherry memberikan alasannya.
" Apa itu berbahaya?" tanya Nadya Khawatir.
" Tidak. Dokter bilang itu hal yang wajar. Jadi aku tidak apa-apa dan tidak perlu khawatir," ucap Cherry dengan tersenyum lebar.
" Lalu kalau kamu tidak makan. Bagaimana dengan janin kamu yang ada di kandungan kamu. Apa dia tidak kelaparan?" tanya Nadya. Cherry terdiam mendengarnya.
" Cherry, kalau Verro tau masalah ini. Bukannya Verro akan marah," sahut Nadya lagi.
" Aku rasa dia tidak akan peduli," batin Cherry yang merasa kecewa jika ada yang menyebutkan nama Cherry.
" Cherry kamu kenapa diam?" tegur Nadya yang membuat Cherry sedikit kaget. Namun Cherry tersenyum seakan tidak terjadi apa-apa.
" Sudahlah Nadya, jangan membicarakan hal itu lagi. Sungguh aku benar-benar tidak apa-apa. Dan masalah anak di dalam kandungan ku. Juga tidak apa-apa. Aku ada bantuan susu. Kamu jangan khawatir. Nanti juga pasti aku selera makan lagi," ucap Cherry yang kelihatan tabah.
" Semoga saja Cherry benar-benar tidak apa-apa dan bayinya juga sehat," batin Nadya yang penuh dengan harapan kepada Cherry dan juga bayinya.
********
Sasy, Raquel, Toby, Vandy, dan Varell. Sedang menikmati makan siang bersama dengan santai sambil mengobrol-ngobrol.
" Sasy, nanti kita pulang dari rumah sakit. Langsung ke Mall ya. Kita jalan-jala, sekalian shopping," ajak Raquel.
" Hmmm, boleh," sahut Sasy tanpa menolak.
" Shopping mulu. Giliran di suruh bayar makanan nggak mau," sahut Vandy.
" Beda dong. Kalau makanan masih ada yang gratisan ngapain juga harus repot-repot bayar. Lagian juga shopping itu kebutuhan," ucap Raquel.
" Benar, setuju," sahut Sasy.
" Jangan lama-lama pulangnya," ucap Toby menegaskan.
__ADS_1
" Iya, Toby," sahut Sasy gemes.
" Hmmm, sekalian aja kita ajak Azizi, Nadya, dan Cherry!" sahut Raquel mendapatkan ide.
" Nggak-nggak Azizi lagi nggak bisa keluar," sahut Vandy langsung melarang.
" Ishhh, dasar suami posesif," sahut Raquel kesal.
" Bukan posesif, ngikuti kalian. Yang ada dua nggak pulang-pulang. Jadi mending dia nggak usah ikut," ucap Vandy menegaskan.
Sasy, dan Raquel hanya melihat dengan kesal.
" Ya sudah, sama Nadya, Cherry aja. Nanti aku jemput kerumahnya," sahut Sasy. Raquel mengangguk.
" Cherry, kan lagi tidak tinggal di rumahnya," sahut Varell tiba-tiba.
" Hah! maksud kamu?" tanya Sasy heran.
" Dia lagi, tinggal di rumah alm papanya sama Nadya," jawab Varell membuat orang-orang bingung.
" Kok bisa?" tanya Toby.
" Ya aku nggak tau. Kemarin aku lihat dia halte bis dan dia lagi nunggu bis buat Kerumah papanya. Ya sudah aku anterin aja," sahut Varell menjelaskan membuat yang lainnya terlihat bingung.
" Tunggu-tunggu apa kamu bilang. Cherry di halte bis nunggu bis," sahut Sasy. Varell mengangguk. " Lalu Verro kemana?" tanya Sasy.
" Aku juga tidak tau. Katanya sibuk!" jawab Varell.
" Sibuk bagaimana. Mana mungkin Verro sibuk. Sampai istrinya tidak bisa di anterin dan tidak temani istrinya untuk kesana," sahut Sasy malah terlihat emosi.
" Aku tidak tau Sasy. Yang aku tau Cherry minta temani Nadya menginap di sana. Ya masalah Verro aku mana tau," ucap Varell yang memang tidak tau apa-apa.
" Wah. Ini pasti ada yang tidak beres," sahut Sasy mulai punya pikiran yang tidak enak.
" Benar sih, ini aneh sekali. Tidak biasanya mereka berpisah seperti itu," sahut Toby merasa curiga.
" Apa mereka bertengkar?" tebak Raquel.
" Bisa jadi," sahut Vandy.
" Harus, di tanya nih sama yang menjadi pokok masalahnya," ucap Sasy yang sudah terlihat tidak tenang. Seakan tidak sabaran untuk bertemu Cherry dan mencecar Cherry dan Verro dengan banyak pertanyaan.
__ADS_1
Dia seakan tidak akan membiarkan jika sabatnya kenapa-kenapa. Apa lagi ada masalah yang terjadi. Sasy sepertinya tidak ingin terjadi hal yang tidak di inginkannya.
Bersambung