
Pagi hari Cherry sudah bangun dan bahkan sudah mandi dan sudah rapi. Cherry memakai dress Navy di atas lututnya. Pakaian yang memang ada di rumah Verro.
Rambutnya di biarkan di gerai dengan di beri keriting bagian bawahnya. Sehingga dia memang terlihat anggun dan sangat jauh dari penampilannya sehari-hari sewaktu menjadi Clara.
Cherry membuka pintu kamar dan ternyata Verro sudah ada di depannya. Verro sudah berdiri di depan pintu dengan tersenyum.
" Kamu sudah selesai?" tanya Verro. Cherry mengangguk.
" Ya sudah kita pergi," ucap Verro meraih tangan Cherry menggenggamnya erat dan membawanya pergi.
" Kita jadi ke rumah sakit?" tanya Cherry sambil berjalan di samping Verro.
" Hmmm, kamu benar, kita akan kerumah sakit," jawab Verro melihat ke arah Cherry. Cherry hanya mengangguk saja dan ikut pergi bersama Verro.
********
Tidak berapa lama akhirnya Verro dan Cherry sudah sampai ke rumah sakit. Verro akan melakukan pengobatan serius pada saraf Cherry. Agar saraf itu kembali normal dan Cherry bisa mengingat kembali siapa dirinya.
Sekarang Cherry sudah berbaring di atas tempat tidur dorong yang seukuran dengan tubuhnya. Ke-2 tangan Cherry di lipat di letakkan di atas perutnya. Sasy juga ada di sana bersama beberapa suster yang juga ada di sana.
" Kita mulai ya," ucap Verro.
Cherry mengangguk. Verro mengarahkan pada suster. Dan suster mendorong tempat tidur Cherry kedalam sebuah lorong yang mungkin Verro ingin melihat bagian kepala Cherry yang berupa saraf Cherry yang rusak akibat vitamin yang selama 7 tahun di konsumsinya.
Kepala Cherry sudah tepat pada posisinya dan sekarang Verro sedang melihat layar di monitor dengan mencatat-catat dengan melihat hal-hal yang pasti hanya dia yang paham apa itu.
Tidak berapa lama akhirnya Cherry selesai juga melakukan pemeriksaan dan dia dan Verro sudah keluar dari ruang pemeriksaan tersebut.
" Bagaimana keadaanku?" tanya Cherry. Verro tersenyum mendengarnya. Seperti seorang pasien yang bertanya pada Dokter.
" Kamu baik-baik saja dan akan secepatnya sembuh kembali," jawab Verro.
" Aku ingin sembuh lebih cepat. Aku tidak ingin lupa sedikitpun tentang hubungan kita dulu," ucap Cherry dengan senyumnya dan semangatnya yang sangat penuh.
" Hmmm, iya kamu akan sembuh," sahut Verro meyakinkan. " Cherry!" tegur Verro.
" Ada apa?" tanya Cherry.
" Aku ada operasi selama 4 jam. Kamu pulang atau menunggu di sini?" tanya Verro. Memang ada kewajiban yang harus di laksanakan nya.
__ADS_1
" Aku menunggu di sini saja, tapi di mana?" tanya Cherry.
" Kamu bagaimana sama aku saja," sahut Sasy yang tiba-tiba ke luar dari ruang perawatan.
" Kamu mau?" tanya Sasy tersenyum.
" Aku juga melihatmu beberapa kali di dalam ingatanku. Dan tampaknya kita dulu sangat akrab," ucap Cherry. Sasy yang mendengarnya langsung tersenyum lebar.
" Serius kamu mengingatku?" tanya Sasy tidak percaya. Cherry mengangguk.
" Ahhhh, aku senang banget," sahut Sasy yang langsung memeluk Cherry dengan gemas. Membuat Cherry kebingungan. Sasy yang masih kegemasan dan melepas pelukan itu.
" Aku masih tidak percaya, kamu akan ingat hal itu," sahut Sasy dengan mengipas-ngipas matanya yang mulai mengeluarkan air mata.
" Tapi kenapa berbeda?" tanya Cherry tiba-tiba.
" Maksudnya?" tanya Sasy heran.
" Aku melihat kamu di dalam ingatanku, sepertinya sangat ceria. Tetapi kenapa sekarang terlihat judes," ucap Cherry. Sasy langsung mengkerutkan dahinya.
" Masa sih," sahut Sasy tidak percaya dengan penilaian Cherry kepadanya.
" Iya dan kamu juga terlihat tidak menyukaiku," ucap Cherry.
" Sudah, Sasy, makanya jangan galak-galak sama Cherry. Lihat dia jadi punya pikiran seperti itu kepadamu," ucap Verro.
" Aku tidak pernah galak sama dia," sahut Sasy meyakinkan.
" Kamu galak sama dia, makanya dia sampai seperti itu menanggapi kamu," ucap Verro.
" Masa sih," sahut Sasy.
" Sudahlah, aku harus ke ruang operasi, kamu jagain Cherry dan ingat jangan pergi-pergi kemana-mana dan jangan galak-galak kepadanya. Apa lagi sampai membuatnya tidak nyaman," ucap Verro menegaskan.
" Iya," sahut Sasy terdengar tidak ikhlas.
" Ayo Cherry, kamu ikut dengan ku," ajak Sasy lembut dengan memegang tangan Cherry.
Cherry pun mengangguk-angguk saja dan Verro yang melihatnya geleng-geleng melihat istrinya dan Sasy yang pergi bersama dengan tangan yang bergandengan yang mengingatkannya sewaktu mereka masa-masa SMA. Dia mana Sasy dan Cherry dulu sangat akrab dan selalu bersama. Hanya kurang satu yaitu Toby.
__ADS_1
***********
Sementara di sisi lain. Vandy dan Azizi sedang berada di rumah sakit yang berbeda. Vandy sedang mengecek tulang sumsumnya yang akan di donorkan untuk anaknya. Memang sengaja di rumah sakit lain dan bukan rumah sakit tempatnya bekerja.
Karena memang Azizi tidak mau teman-temannya tau hubungannya dengan Vandy di masa lalu dan pasti akan banyak pertanyaan ketika teman-temannya tau Vandy mendonorkan tukang sumsum itu. Dia tidak mungkin menjelaskan hubungan masa lalu yang sangat menyakitkan itu.
Azizi sedang menunggu di ruang Dokter. Sementara Vandy masih di periksa oleh Dokter. Azizi lumayan menunggu lama dengan gelisah. Tidak tau kenapa.
Dia sangat takut dan dek-dekan. Karena memang pemeriksaan Vandy itu sangat berguna untuk anaknya yang yang sekarang sekarat.
Lama menunggu akhirnya Dokter membuka tirai dan memperlihatkan Vandy yang bangkit dari tempat tidur dan langsung menyusul Dokter yang duduk di hadapan Azizi dan Vandy duduk di samping Azizi.
" Bagaimana Dok hasilnya?" tanya Vandy.
" Pak, Vandy, hasilnya baru bisa di lihat lusa," jawab Dokter.
" Oh begitu rupanya," sahut Vandy.
" Benar pak, nanti kalau hasilnya sudah keluar bapak dan ibu akan saya hubungi," ucap Dokter.
" Iya. Baik Dok saya tunggu kabarnya. Kalau begitu. Saya permisi dulu," ucap Dokter
" Ya sudah kalau begitu. Saya permisi dulu," ucap Vandy pamit.
" Iya," sahut Dokter. Vandy dan Azizi sama-sama berdiri, sebelum keluar dari ruangan Dokter mereka berjabat tangan terlebih dahulu. Lalu kemudian mereka langsung pergi.
" Semoga semuanya lancar," ucap Vandy dengan penuh harapan.
" Iya," jawab Azizi datar.
" Ya sudah, ayo kita ke rumah sakit. Kamu mau melihat Iqbal kan?" ucap Vandy mengajak.
" Hmmm, tapi aku pergi sendiri saja," sahut Azizi yang langsung menolak. Karena dia memang merasa tidak sedekat itu dengan Vandy.
" Baiklah!" sahut Vandy yang tidak bisa melarangnya.
" Ya sudah aku pergi," ucap Azizi pamit.
" Iya," sahut Vandy. Azizi pun langsung pergi.
__ADS_1
" Aku tau Azizi ini tidak mudah untuk kamu. Aku juga tau. Kamu sangat tidak nyaman dengan hal itu. Semuanya akan selesai. Ketika Iqbal akan selesai di operasi dan aku benar-benar tidak akan mengganggu kamu lagi," batin Vandy yang memang berjanji untuk hal itu.
Bersambung.......