
" Benarkan Toby. Baru sekarang kau sadar jika dulu apa yang kau lakukan pada Sasy itu hal yang menjijikkan. Kau mengejar-ngejar seperti tidak ada wanita lain di dunia ini," ucap Varell yang menepuk bahu Toby. Membuat dia tidak tau harus menanggapi seperti apa.
" Apa sih," Toby jadi risih dengan becandaan Varell. Sasy yang kesal langsung memukul meja. Sehingga terdengar suara piring yang berjatuhan.
" Awas lo ya Varell. Cari tau sendiri mengenai Nadya. Nggak usah nanya-nanyak," gertak Sasy yang langsung berdiri. Dia benar-benar sentimen dengan Varell. Sasy yang kesalpun akhirnya memilih pergi.
" Eh Sasy mau kemana, jangan marah gitu. Hanya bercanda tau!" panggil Varell yang sama sekali tidak di pedulikan Sasy. Terlanjur kesal dengan Varell yang seenaknya bicara.
" Varell, kenapa sih harus membahas masalah itu. Tuh lihat di jadi marah," ucap Toby.
" Namanya juga becanda. Dia aja yang menanggapi berlebihan," ucap Varell yang bicara tanpa dosa. Padahal Toby juga merasa tidak enak dengan Sasy.
Sementara di sebrang sana. Aldo sudah sampai ketempat kekasihnya.
" Sayang ayo kita pergi," ucap Aldo yang langsung membawa Raquel pergi.
" Sayang, tapi dia...." Raquel sepertinya masih ingin berdebat dengan Fiona sampai tidak mau pergi.
" Sudahlah, jangan cari gara-gara. Ingat ini rumah sakit dan kamu adalah Dokter, jaga wibawa kamu," ucap Aldo memperingati pacarnya.
" Ayo, Azizi," ajak Aldo juga. Azizi mengangguk saja. Dia juga tidak ada gunanya berlama-lama dengan Fiona.
Akhirnya Raquel pun mau pergi dari hadapan Fiona. Fiona terlihat membuang napasnya perlahan.
" Kenapa mereka. Seperti ingin menyerangku saja. Raquel dia selalu mencari masalah denganku," batin Fiona yang baru bisa berbicara sekarang.
Dia tampak kesal dengan Raquel yang membuatnya emosian dan hampir saja kehilangan kesabarannya. Fiona pun akhirnya pergi dari rumah sakit itu.
Dia sudah tidak bersemangat untuk menemui Verro lagi. Lagian orang-orang yang ditemuinya tadi pasti akan mencegahnya.
Jadi Fiona memilih pergi. Dari pada nanti masalahnya akan semakin besar. Dia salah rumah sakit bukan tempat yang cocok untuk menemui Verro. Karena ada orang-orang yang sama sekali tidak menyukainya.
*********
__ADS_1
Clara sudah kembali sadar. Bahkan tadi malam tidurnya lumayan tenang. Kepalanya yang masih di perban mengeliling. Clara yang duduk di atas ranjang tampak memeluk ke-2 lututnya. Dia tidak tau apa yang di pikirkannya.
Dia masih belum tenang dan bahkan air matanya menetes. Dia ingin mengetahui sesuatu tetapi tidak tau apa yang ingin di ketahuinya.
" Jangan memikirkan apapun," suara khas itu membuat Clara mengangkat kepalanya dan ternyata memperlihatkan Verro yang sudah di depannya. Dengan cepat Clara menyeka air matanya.
" Kondisi mu belum pulih seutuhnya. Jangan menyiksa dirimu," ucap Verro yang kembali mengingatkan Clara.
" Verro, kenapa aku merasakan hal yang aneh kepadanya. Wanita yang di lihatnya di pemakaman itu sangat mirip denganku. Siapa wanita itu dan kenapa dia menatapku seakan sangat mengenalku. Apa karena aku mirip dengannya," batin Clara yang terus melihat mata Verro dengan dalam.
" Kenapa kemarin dia menyebutkan namaku apa yang di pikirkannya sebenarnya," batin Verro yang penasaran dengan Clara.
" Aku akan memeriksamu," ucap Verro. Clara masih diam dan tetap melihat Verro tanpa melepas pandangan mata itu.
" Berbaringlah!" ucap Verro. Clara tampak diam.
" Clara!" tegur Verro lagi. Clara pun sadar dari lamunannya dan langsung berbaring.
Clara meluruskan kakinya dan Verro harus membuka 1 kancing baju Clara di bagian atas. Untuk meletakkan steteskop di dadanya. Dia harus memeriksa wanita itu.
" Apa yang terjadi padaku?" tanya Clara dengan suara seraknya.
" Kau mengalami pendarahan otak dan hal itu disebabkan benturan yang di kepalamu, jadi sangat wajar. Jika kepalamu sakit," jawab Verro sedikit penjelasan.
" Clara apa yang berusaha kau ingat?" tanya Verro yang penasaran dengan Clara yang memang dia bisa tahu Clara yang mengingat-ingat sesuatu.
Clara terdiam dia juga tidak tau apa yang berusaha di ingatnya. Tetapi dia hanya penasaran dengan wanita yang mirip dengannya.
" Lupakan pertanyaanku, jangan memikirkan itu," sahut Verro yang tidak ingin Clara kembali merasakan sakit.
" Kau akan segera pulih jadi jangan memikirkan apa-apa. Kau harus menjaga kesehatanmu. Minum obatmu dengan baik. Beberapa hari lagi. Hasil medismu akan keluar," ucap Verro yang terus memberi saran Clara. Clara hanya diam tanpa bicara apa-apa lagi.
Verro memang memutuskan untuk memeriksa Clara secara keseluruhan dia ingin tau lebih lanjut mengenai kondisi Clara.
__ADS_1
" Istirahatlah," ucap Verro lagi.
Verro melangkah dan meninggalkan Clara. Tetapi Verro menghentikan langkahnya. Verro kembali menghadap Clara.
" Aku minta maaf, karena sikatku kemarin yang berlebihan padamu, aku sudah menggertak mu dan bersikap kasar padamu. Aku minta maaf, karena karena melakukan hal itu," ucap Verro dengan tulus meminta maaf. Dia memang sudah berjanji. Jika Clara masih bertahan hidup. Dia akan meminta maaf dengan apa yang di katakannya pada Clara.
" Istirahatlah," ucap Verro kembali melanjutkan langkahnya tanpa mendengarkan apa pendapat Clara ingin memaafkan Verro atau tidak.
" Kenapa dia meminta maaf. Dia sangat aneh. Terkadang sangat dingin dan terkadang dia juga sangat hangat bahkan sangat peduli. Aku tidak tau apa yang terjadi padaku. Aku hanya merasa jika aku sangat nyaman dengannya," batin Clara yang memikirkan Verro.
Krekkk pintu kamar kembali terbuka. Clara mengira. Verro yang datang tetapi ternyata Bayu. Membuat Clara terlihat tidak suka. Dia mengingat dia kecelakaan karena mengangkat telpon dari Bayu.
" Bagaimana keadaan kamu?" tanya Bayu yang menghampiri Clara dan berdiri di samping Clara.
" Aku baik-baik saja?" jawab Clara dengan singkat.
" Clara, mas..
" Aku mau istirahat," sahut Clara memotong pembicaraan Bayu dan langsung memiringkan tubuhnya.
Dia tampaknya tidak ingin mendengar Bayu berbicara banyak. Karena pikirannya yang sedang ada di mana-mana. Lagian Bayu pasti hanya menimbulkan keributan saja.
" Baiklah, kamu istirahatlah," ucap Bayu yang kali ini mengalah tidak membesar-besarkan masalah. Karena dia juga tidak ingin membuat Clara semakin sakit. Jadi dia membiarkan Clara untuk istirahat.
Sementara Clara memejamkan matanya. Dia tidak tidur. Dia tidak tidur. Hanya pura-pura tidur agar Bayu keluar dari ruangan itu. Karena dia benar-benar tidak nyaman jika Bayu ada di sana.
Ternyata apa yang di inginkan Clara terwujud. Clara mendengar langkah kaki Bayu yang melangkah semakin jauh dan dan dia juga mendengar suara pintu tertutup. Clara kembali membuka matanya dengan perlahan.
" Aku tidak akan kembali ke Jerman. Aku tidak mungkin kembali. Semetara banyak teka-teki. Aku merasa ada sesuatu pada diriku. Tidak tau kenapa aku sangat penasaran dengan wanita yang bernama Cherry. Aku harus mencari taunya dan aku harus mencari cara untuk tidak ke Jerman. Aku tidak akan ke Jerman sebelum aku memecahkan semuanya," batin Clara yang sudah bukan dengan keputusannya.
Apa yang di alaminya membuatnya bingung. Dia bertemu orang-orang yang memanggilnya Cherry. Dia bertemu Verro yang membuatnya selalu merasakan hal aneh.
Dia menemukan makam wanita yang mirip dengannya. Saat dia kecelakaan banyak bayangan yang sama sekali tidak dapat di ketahuinya apa itu dan jelas dia tik mungkin meninggalkan Indonesia begitu saja. Sebelum mengetahui semuanya.
__ADS_1
Bersambung