
Pertanyaan Verro membuat Vandy mendadak linglung. Dia juga tidak tau harus menyapa seperti apa Azizi. Apa pantas dia menyapa Azizi.
" Hay Azizi, kamu apa kabar?" tanya Vandy berusaha tenang.
" Aku baik-baik saja," jawab Azizi datar.
Dia masih tidak percaya bisa bertemu dengan Pria yang dulu ada di dalam hidupnya. Pria yang tidak mau bertanggung jawab dengan kandungannya. Saat bertemu dengan Vandy. Azizi pun masih menahan matanya agar tidak menangis.
Jika di tanya sakit hati pasti siapa yang tidak sakit satu dengan semua kejadian itu. Di mana Vandy seakan membuang dirinya. Membiarkannya di bully dan malah lari dari tanggung jawabnya.
" Kamu sedang apa di sini?" tanya Vandy basa-basi.
" Aku sedang membawa anakku untuk berobat," jawab Azizi dengan tenang.
" Anak," sahut Vandy kaget mendengar kata anak.
" Azizi sudah menikah Vandy," sahut Verro.
" Oh begitu rupanya," sahut Vandy datar. Dia tidak bisa harus menanggapi seperti apa semuanya.
" Kamu pasti tidak menyangka dengan kabar pernikahannya. Aku juga sangat kaget. Tau-tau Azizi sudah menikah saja. Dan sudah memiliki seorang putra," ucap Verro.
" Benarkah begitu," ucap Vandy yang memang tidak bisa menanggapi seperti apa.
" Ya sudah, Verro aku keluar dulu. Takutnya Iqbal sudah bangun," ucap Azizi.
" Ha sudah," sahut Verro.
" Hmmm, aku permisi! mari," ucap Azizi langsung pergk.
Dia benar-benar tidak tahan lama-lama di sana. Verro hanya mengangguk-angguk saja. Sementara Vandy masih terlihat sangat bingung. Bahkan Vandy terus melihat punggung Azizi yang berjalan semakin lama semakin jauh.
" Jadi dia sudah menikah dan sudah memiliki anak. Apa anak itu... Tidak, mana mungkin. Dia sudah menikah dan wajar mempunya anak," batin Vandy yang sepertinya memikirkan sesuatu. Mungkin saja Vandy memikirkan masa lalunya dengan Azizi.
" Ada apa mencariku?" tanya Verro. Vandy diam.
" Vandy!" tegur Verro.
" Oh. Iya kenapa tadi?" tanya Vandy gugup.
__ADS_1
" Kenapa mencariku?" tanya Verro lagi.
" Ini aku hanya memberikan ini," jawab Vandy dengan kegugupannya.
" Kau ada masalah, sepertinya kurang fokus," tebak Verro memperhatikan gelagat temannya yang tidak biasanya.
" Oh, tidak. Aku hanya sedikit kurang tidur," jawab Vandy. Jelas kurang fokus pikirannya yang terus menerus mengarah kepada Azizi wanita yang baru di temuinya dan pasti akan membuatnya sama sekali tidak fokus.
" Ya sudah aku ke luar dulu," ucap Vandy yang langsung pamit.
" Aneh," gumam Verro.
************
Azizi memasuki ruangan perawatan anaknya. Azizi menarik kursi dan duduk di samping buah hatinya yang masih tertidur. Azizi memegang tangan sang putra meletakkan di pipinya.
" Sayang, kamu pasti sembuh, mama yakin kamu akan sembuh secepatnya. Kamu tidak akan pergi dari mama. Mama tidak punya siapa-siapa lagi selain kamu. Mama sangat menyayangi kamu. Jangan tinggalin mama ya," ucap Azizi yang sangat takut kehilangan putranya.
" Kita akan tetap bersama selamanya," ucap Azizi yang berusaha menguatkan dirinya.
Mendengar sang anak yang terkena kanker memang membuatnya langsung drop. Dia tidak menyangka jika anaknya akan menderita kanker. Ini adalah ujian terberatnya sebagai seorang ibu. Karena penderitaan anak akan menjadi penderitaannya.
" Mama," lirih Iqbal yang sudah sadar.
" Sayang, kamu sudah bangun," ucap Azizi.
" Kenapa badan Iqbal lemah, Iqbal mau main?" tanya Iqbal yang ingin duduk. Azizi langsung berdiri dan mencoba membantu sang putra.
" Sayang, kamu jangan bergerak dulu. Kamu masih sakit," ucap Azizi membujuk putranya.
" Iqbal mau pulang, Iqbal tidak mau di sini, tempatnya bau, tempatnya tidak enak," rengek Iqbal yang memang tidak menyukai rumah sakit. Dia sangat takut dengan alat-alat rumah sakit apa lagi jarum suntik.
" Iqbal dengerin mama, kamu tidak boleh dalam keadaan seperti ini. Kamu harus di rawat agar cepat sembuh," ucap Azizi dengan penuh penegasan kepada putranya. Tetapi Iqbal terus merengek ingin pergi dan tidak mau berada di rumah sakit.
" Nggak mau, Iqbal mau pergi. Iqbal mau pulang," Iqbal terus ingin pulang sampai Azizi kewalahan untuk menahan putranya. Iqbal terus memberontak memukul-mukul Azizi yang sedari tadi memeluknya.
" Sayang, kamu jangan begini, kamu akan semakin sakit," Azizi berusaha membujuk putranya. Tetapi tenaga putranya lebih kuat. Iqbal yang memaksa untuk pergi dari tempat itu. Akhirnya duduknya semakin lama semakin meminggir.
Brukkk.
__ADS_1
Alhasil Iqbal dan Azizi sama-sama jatuh kelantai.
" ya ampun Iqbal!" teriak Azizi melihat anaknya sudah terluka dan tarikan impus yang terputus. Sehingga membuat punggung tangannya langsung terluka.
" Eeeeeeeeee, Iqbal menangis karena kesakitan.
" Tolong! Dokter! Dokter!" teriak Azizi yang meminta tolong. Karena panik dengan anaknya yang sudah entah seperti apa. Iqbal hanya menangis semakin parah dan Azizi hanya semakin panik.
tiba-tiba Vandy yang lewat dari ruangan itu dan melihat apa yang terjadi di ruangan itu. Vandy langsung berlari memasuki ruangan itu.
" Astaga apa yang terjadi?" tanya Vandy panik. Melihat kedatangan Vandy membuat Azizi bengong.
Vandy yang tidak mendapatkan jawaban apa-apa langsung dengan cepat menggendong anaknya dan membawa anaknya ke atas tempat tidur.
Azizi pun langsung berdiri melihat kondisi putranya yang sama sudah semakin sekarat.
" Kenapa bisa seperti ini?" tanya Vandy panik yang langsung memeriksa Iqbal yang masih menangis. Dia memeriksa menggunakan steskop dan langsung memasangkan impus Iqbal dengan lembut.
" eeeeee, eeeeee..." Iqbal terus menangis kesakitan.
" Kamu kenapa menangis, tidak ada yang perlu di tangisi, jangan menangis ya, Dokter bantu untuk periksa ya," bujuk Vandy yang berusaha menenangkan Ikbal yang merengek tidak jelas.
Sementara Azizi masih diam dan hanya melihat bagaimana Vandy yang berusaha untuk mendiamkan putranya.
" Iqbal tidak mau di sini Dokter. Tempatnya bau. Jadi Iqbal mau pulang. Tetapi mama malah melarang Iqbal," sahut Iqbal.
" Kamu memang tidak boleh pulang. Kamu masih sakit. Jadi jelas mama kamu melarang. Kamu tidak boleh band. Sudah ya jangan menangis lagi," bujuk Vandy.
Azizi terus melihat Vandy yang mendiamkan anaknya sampai kondisi anaknya benar-benar tenang dan bahkan Iqbal sudah tertidur setelah berhasil di bujuk Iqbal.
" Dia tidak akan apa-apa," ucap Vandy melihat Azizi.
" Iya, terima kasih sudah membantuku," ucap Azizi. Menahan sesak di dadanya saat berbicara dengan Vandy seakan membangkitkan luka yang sama sekali belum mengering.
Apa lagi dengan apa yang di lihatnya sekarang. Vandy pria yang benar-benar jelas di bencinya. Sekarang membantu anaknya dan itu membuat hatinya sakit. Seharusnya Pria itu tidak melakukan apa-apa yang membuatnya sakit.
" Kamu sangat jahat Vandy, kamu sangat jahat kepadaku," batin Azizi merasa terluka.
Bersambung
__ADS_1