
Raquel pulang kerumahnya. Setelah putus dengan Aldo dia memutuskan untuk pulang. Karena memang tidak fokus untuk melanjutkan pekerjaan apa-apa lagi.
Raquel memasuki kamarnya. Jelas banyak kenanagannya bersama Aldo kekasihnya dingding kamarnya itu tertempel foto-foto falaroid dari jaman sekolah, kuliah dan sampai sekarang. Foto-foto moment-moment bersama Aldo.
" Hmmm, sudahlah! mungkin memang sudah saatnya. Come on Raquel. Tidak ada gunanya kamu memikirkan hal itu lagi. Karena semuanya sudah berakhir, kamu harus memulai hidup baru jangan mengenang masa lalu yang sangat menyakitkan itu," batin Raquel yang berusaha untuk menguatkan dirinya sendiri.
Raquel terlihat menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan kedepan dengan kepalanya yang berkeliling menatap isi kamarnya yang penuh foto-foto romantisnya dengan Aldo dan juga beberapa hadiah pemberian dari Aldo.
Raquel tersenyum tipis yang hanya terus berusaha menguatkan dirinya. Yang ingin memulai semuanya dari awal. Melupakan Aldo pria yang di cintainya yang menjadi mantan kekasihnya itu.
Bukan perkara dia kalah dari pelakor. Tetapi memang tidak ada yang harus menang hanya untuk mendapatkan kesetiaan seoarang Pria.
************
Sementara di sisi lain Aldo yang menyetir di mobilnya dengan wajahnya yang murung dan terlihat sangat lelah. Setelah mengantarkan Tari pulang Aldo juga langsung pergi dan menyetir dengan pikirannya yang tidak fokus.
" Kenapa Raquel. Kamu tidak memberiku kesempatan. Apa yang aku lakukan selama ini untukmu. Kenapa kamu tidak bisa melihat perjuanganku dan malah memutuskan semuanya dengan mudah," ucap Aldo yang tampaknya kecewa. Siapa yang di sakiti siapa yang kecewa. Memang Aldo aneh-aneh saja.
" Jika memang sendiri-sendiri yang terbaik untuk kita. Maka aku tidak akan mengganggumu lagi. Mungkin selama ini kamu meragukanku dan maka aku akan memberikanmu kebebesan yang engkau mau. Hubungan kita yang pada akhirnya selesai seperti ini," batinnya yang sepertinya juga merelakan Raquel.
Mungkin karena Aldo juga lelah membujuk Raquel dan kesabarannya juga habis dan menerima keputusan Raquel yang ingin berpisah darinya.
*************
Hari telah di jalani. Ternyata hubungan Raquel dan Aldo memang berakhir tanpa ada kejelasan dan Raquel tetap menganggap jika Aldo menghiyanatinya dan masalah Aldo dan Tari. Jelas Raquel tidak peduli.
Penghiyanatan yang di dapatkannya membuatnya memang sudah tidak peduli apa-apa lagi dan jika Raquel saja benar-benar dengan cepat bisa move on. Lalu untuk apa teman-teman Raquel dan Aldo berusaha memperbaiki hubungan ke-2 temannya itu.
Ya pasti masih netral-netral aja. Tetap menjalin persahabatan yang baik dengan Aldo. Tanpa melihat apa yang terjadi. Karena urusan percintaan tidak di masukkan kedalam urusan persabatan jadi semuanya hanya akan mengalir seperti itu saja.
Pagi hari yang cerah ini tampak Raquel, Sasy, Toby, Vandy, Verro dan Cherry tampak sedang sarapan bersama si Restaurant di depan rumah sakit di tempat biasa.
Toby memang ikut sarapan karena kebetulan mengantarkan Sasy karena mobil Sasy yang sedang ada masalah dan di ajak Vandy deh mereka untuk sarapan bersama.
__ADS_1
" Eh Vandy, bukannya kamu bakalan nikah besok ya. Bukannya di rumah malah kerja," sahut Sasy yabg sepertinya geram dengan Vandy. Bagaimana tidak geram calon pengantin pria seharusnya di rumah bersantai. Tetapi malah tidak.
" Sasy pernikahannya besok bukan sekarang," sahut Vandy dengan santainya.
" Ya tetap aja. Kamu itu harusnya di rumah famali tau calon pengantin malah keluyuran," sahut Sasy kesal.
" Siapa yang keluyuran sih. Ini itu namanya bukan keluyuran. Tapi kerja," sahut Vandy menegaskan.
" Sudahlah, Sasy biarin aja deh, Azizi aja nggak komen, jadi biarin dia mau suka-sukanya," sahut Raquel yang pusing mendengar ocehan Sasy.
" Ishhh, nyebelin banget. Buat dongkol aja," geram Sasy sewot.
" Sudahlah," sahut Toby. Cherry hanya saling melihat saja.
" Lalu bagaimana keadaan Azizi, apa dia baik-baik saja?" tanya Cherry.
" Paling hanya nerves doang. Namanya juga mau nikah. Jadi masalah yang lainnya tidak ada," sahut Vandy.
" Lalu kamu gimana, kamu dek-dekan nggak sih detik-detik mau nikah?" tanya Verro yang melihat temannya santai saja.
" Namanya juga mau nikah. Jadi wajarlah dek-dekan," sahut Toby.
" Nah itu, dia," sahut Vandy.
" Sudahlah kita berdoa saja semoga semuanya lancar," sahut Cherry.
" Amin," sahut semuanya serentak.
" Itu bukannya Dokter Arif!" tunjuk Raquel yang melihat kakak Vandy bersama Iqbal yang memasuki Restaurant.
" Hmmm, sama Iqbal lagi," sahut Sasy yang juga melihat dengan jelas.
" Ngapain mereka?" tanya Toby.
__ADS_1
" Kok, nggak bilang sama aku dulu mau bawa Iqbal," sahut Vandy heran.
" Dokter Arif," panggil Cherry yang langsung berdiri.
Tampaknya Cherry semenjak pulang ke Indonesia tidak pernah bertemu dengan Dokter tampannya dulu yang merawatnya dan terlihat Cherry begitu ceria saat melihat Dokternya tersebut.
Arif langsung melihat ke arah suara yang memanggilnya yang benar-benar Cherry. Dan Arif tersenyum langsung menghampiri Cherry dan yang lainnya.
" Cherry," sapa Arif yang juga terlihat senang. Karena memang benar-benar baru bertemu Cherry yang selama ini hanya mendengar kabarnya dari Vandy saja. Jika Cherry gadis manja yang di kenalnya masih hidup.
" Dokter," sahut Cherry yang melangkah yang sepertinya ingin memeluk karena saking bahagianya. Tetapi Verro langsung menyadari hal itu dan langsung berdiri di depan Cherry seakan tidak rela istrinya berpelukan dengan pria lain.
" Sayang, kamu bukan anak remaja lagi," ucap Verro yang malah memeluk sang istri menghadang Cherry agar tidak berpelukan dengan Arif. Apa yang di lakukan Verro membuat seisi meja tertawa dengan kecemburuan Verro.
" Sayang, apaan, sih, aku belum ketemu sama Dokter Arif sama sekali," sahut Cherry yang tampaknya masih memaksa. Sementara Arif heran harus bertindak seperti apa.
" Nggak, usah pakai peluk-peluk. Kamu itu sudah menikah," tegas Verro dengan melototkan matanya membuat yang lainnya tertawa geleng-geleng dengan kesulitannya Verro menghadapi istrinya yang tampaknya merindukan Dokter nya itu.
" Cherry kamu apa kabar?" tanya Arif. Verro beralih dari hadapan sang istri dan berdiri di sampingnya. Arif mengulurkan tangannya menyapa Cherry.
" Baik, Dokter," sahut Cherry menyambut uluran tangan itu dengan tersenyum-senyum.
" Hmmm, Dokter senang banget bisa ketemu sama kamu. Ternyata kamu tidak ada bedanya dengan Cherry yang dulu," sahut Arif yang masih memegang tangan Cherry. Dan Verro langsung melepas. Padahal Cherry yang tidak melepas tangan itu.
" Sayang jangan lama-lama, maaf ya kak Cherry memang agak aneh," sahut Verro. Arif geleng-geleng melihat Verro kelewat batas cemburunya.
" Santai Verro," Arif menepuk bahu Verro, " Cherry nggak akan berpaling dari kamu. Kamu jangan khawatir," sahut Arif menggoda Verro dan terakhirnya Verro yang malu dan Cherry tersenyum melihat suaminya yang tergoda.
" Raquel, Dokter, Arif sekarang masih jomblo," bisik Sasy membuat Raquel mengkerutkan dahinya.
" Lalu?" tanya Raquel heran.
" Sikat," ucap Sasy. Raquel langsung menggeserkan sikunya pada Sasy.
__ADS_1
" Shuttt, ada-ada aja," sahut Raquel berbisik membuat Sasy tertawa-tawa gemes. Menggoda temannya itu
Bersambung