DETAK Love Story' School

DETAK Love Story' School
Episode 49 Makan bersama.


__ADS_3

" Issss, selalu mengaturku," desis Cherry kesal melihat Verro yang malah memejamkan matanya.


Sementara anak-anak yang lain heboh dengan alunan musik DJ di dalam bus. Termasuk Raquel yang membuat Aldo pusing.


Bentar-bentar Raquel menyenggolnya Aldo yang juga lebih memilih tidur. Tetapi Raquel yang jingkrak-jingkrak hanya mengganggu kenyamanan Aldo.


" Apa dia tidak bisa diam," desis Aldo kesal dengan kebarbaran Raquel yang sekarang memutar-mutar kepalanya sampai rambut Raquel mengenai matanya.


" Raquel mending kau pergi, kalau ingin menari Jangan di sini!" usir Aldo yang geram. Raquel tidak mempedulikan dan tetap menari-nari dan malah semakin di buat-buat agar Aldo semakin kesal.


" Dasar wanita gila," batin Aldo menggeserkan lebih rapat ke jendela, agar Raquel tidak mengganggunya.


Lain dengan Fiona di sudut sana yang pasti menyindiri dengan earth phonenya. Menyilangkan ke-2 tangannya di dadanya dengan matanya yang terpejam.


**********


Perjalanan Bus sudah melewati kota Jakarta dan sudah memasuki perjalanan kecil. Melewati jalanan yang mungkin hanya bisa di lewati 1 kendaraan yang saling berpapasan.


Dengan pepohonan yang rindang di sepanjang jalan. Perjalanan mereka sudah cukup jauh sampai cuaca sudah berubah menjadi gelap. Karena cuaca yang mendung. Jadi jam 6 sore. Seperti sudah larut malam.


Suasana bus tidak sericuh awal keberangkatan. Sekarang menjadi hening, tanpa ada suara sama sekali. Hanya ada suara mesin dan suara hujan yang turun.


Cherry juga sedari tadi tertidur di bahu Verro. Masih dengan 1 headset di telinganya. Sebenarnya Cherry juga baru tertidur.


Meski Verro tadi melarangnya ikut-ikutan menari-nari. Tetapi Cherry melepas headset tersebut dan mendengarkan musik yang di pasang di dalam Bus.


Tetapi lama kelamaan Cherry menjadi bosan dan akhirnya, Cherry memakai headset dan tertidur di bahu Verro. Karena musik yang di stel Verro juga musik selow yang mengantarkan tidur.


Bukan hanya Cherry yang seperti itu. Suami istri Sasy dan Toby yang sedari tadi heboh ternyata tertidur sangat romantis.


Tetapi bukan kepala Sasy yang berada di bahu Toby. Tetapi sebaliknya. Kepala Toby yang di bahu Sasy bahkan tangan ke-2nya saling menggenggam, mengalahkan keromantisan Cherry dan Verro.


Tiba-tiba bus berhenti di depan sebuah warung. Tetapi ada juga beberapa bus yang juga berhenti di sana. Mungkin itu memang tempat pemberhentian bus.


Pak Sony langsung berdiri dan melihat murid-muridnya masih tertidur.


" Anak-anak perhatiannya sebentar!" ucap Pak Sony menghidupkan toaknya. Para murid mulai membuka mata. Ada yang menguap, ada yang mengucek mata, ada merenggangkan tangan ke atas.


Saat Sasy terbangun, Sasy kaget dengan keberadaan tangan Toby.


" Ahhhhh," teriak Sasy melepas genggaman tangan Toby. Teriakannya membuat 1 bus kaget. Yang belum terbangun jadi terbangun. Termasuk Cherry dan Verro di belakang mereka.

__ADS_1


" Berisik banget sih, lo Sasy," sahut Varell menoleh kebelakang.


" Lo kesempatan ya Toby," pekik Sasy mennggeplak kepala Toby yang masih setengah sadar.


" Apa sih," sahut Toby yang masih belum sadar sempurna.


Cherry yang masih membuka matanya sempurna melihat ke belakang dan melihat temannya kembali ribut. Memang hanya diam. Ketika mereka tidur.


Sementara Verro, apalagi jika bukan kesal. Memang ada kalanya. Dia tidak dekat-dekat dengan Sasy dan Toby yang selalu rusuh.


" Anak-anak, sudah jangan ribut," sahut Pak Sony.


" Apa kita sudah sampai Pak?" tanya Mitha melihat keluar jendela. Dan melihat beberapa bus, juga hujan deras. Dan hanya ada warung. Jauh dari kata Study tour yang di bayangkannya. Jadi pasti belum sampai.


" Kita belum sampai, karena cuacanya yang tidak bagus, jadi sampainya agak lama. Anak-anak, sekarang sudah kita makan malam dulu," ucap Pak Sony menjelaskan.


" Kita makan di mana Pak?" tanya Beben, soal makan mulutnya paling lahap.


" Kita makan di bus, kalian bisa pesan makan di warung tersebut, dan selesai membawa makanannya, kalian langsung menaiki bus," jawab Pak Sony.


" Makan di warung, nggak salah tuh," sahut Selina mengintip ke luar dan melihat waduk itu. Mungkin najis jika makan di sana.


" Benar Pak, itu sih bukan level kita," sambung Raquel lagi.


" Ini namanya penyiksaan pak," protes Raquel lagi.


" Jangan banyak protes, yang mau makan, makan yang tidak ya sudah, perut masing-masing kok," sahut Pak Sony menutup arahannya.


Murid-murid mulai berturunan dari Bus, menyusul Pak, Sony, Bu Asri dan Pak Lucky.


" Cherry ayo ambil makanan!" ajak Sasy yang sudah berdiri, sementara Toby masih menempel molor di jendela kaca.


" Iya," jawab Cherry. Cherry melihat Verro tidak bergerak, " kau tidak mau makan?" tanya Cherry.


" Tunggu sini saja, di luar hujan, biar aku yang ambilkan," ucap Verro langsung berdiri. Cherry hanya menggedikkan ke-2 bahunya. Ya terserah jika mau di ambilkan. Dia juga malas turun.


Aldo pun pergi mengambil makan dan memaksa lewat dari Raquel yang tidak bergerak dari tadi. Maklumlah Raquel tidak mungkin makan di tempat seperti itu.


Vandy dan Azizi juga sudah berdiri. Sebelum turun Vandy menepuk bahu Varell yang duduk di depannya. Membangunkan temannya.


" Varell makan!" hanya itu yang di lakukan Vandy dan turun. Tetapi Varell sama sekali tidak terbangun. Sementara Nadya sudah pergi terlebih dahulu.

__ADS_1


Verro pun turun ke bawah dan membeli makanan. Namanya juga wartek jadi makanannya makanan sederhana. Setelah meminta sama yang punya warung apa yang di butuhkannya, Verro kembali menaiki bus di payungi Yogi, agar nasinya tidak basah.


Di tangga Bus. Verro berpapasan dengan Fiona yang mau turun. Tetapi ke duanya malah saling berhenti dan tidak ada yang membuka jalan.


" Lo masih mau berdiri di situ?" tanya Verro, tangannya terasa berat.


Fiona membuka jalan dan membiarkan Verro lewat. Fiona melihat Verro berjalan ke arah Cherry. Hanya sebentar Fiona kembali turun.


" Kau mengambilkan apa?" tanya Cherry. Verro memberikan piring yang berisi nasi dan ayam goreng, ikan goreng balado, sayuran dengan porsi yang jumbo.


" Banyak sekali," protes Cherry.


" Sudah syukur di ambilkan, jadi jangan banyak protes," desis Verro kesal.


" Tapi aku mana habis, jika sebanyak ini," sahut Cherry lagi, dengan menelan beberapa kali salavinanya, melihat tumpukan nasi itu.


" Makanlah jangan banyak protes!" tegas Verro.


" Bagaimana tidak di protes, jika sebanyak ini, kalau tidak habis kan mubajir," Cherry bergerutu kesal menyendokkan makanan.


" Kau tidak makan?" tanya Cherry melihat Verro sama sekali tidak mengambil nasi.


" Aku tidak lapar," jawab Verro.


" Memang apa yang kau makan, sampai kenyang?" cicit Cherry.


" Diamlah! makan makananmu," tegas Verro lagi.


" Cherry pun mulai menyendokkan makanan itu dan tidak tau kapan akan berakhir dia makan melihat tumpukan nasi dan lauk itu. Satu persatu murid-murid juga sudah kembali berbaikan membawa makanan masing-masing.


Aldo juga sudah mulai makan. Sementara Raquel di sampingnya tetap kekeh tidak mau makan. Tetapi dia terus melirik Aldo yang makan tampak lahap. Bahkan Raquel menelan ludahnya. Seakan apa yang di makan Aldo mengunggah selera.


" Kalau mikirin gengsi bakalan mati kelaparan," ucap Aldo menyindir.


" Diam lo, nggak sudi juga lambung gue terima makanan kampungan kayak gitu," sahut Raquel. Aldo hanya mendengus dan melanjutkan makannya.


Aroma makanan yang lekat di dalam bus hanya membuat perut Selina dan Mitha semakin keroncongan. Tetapi gengsi mengalahkan rasa lapar mereka. Dan tetap menahannya.


💝💝Bersambung


Hay para readers yang baru bergabung. Bantu support ya novel aku yang baru.

__ADS_1


Tinggalkan jejak. Komentar, like, dan jangan lupa vote sebanyak-banyaknya. Agar aku semakin semangat melanjutkan ceritanya


__ADS_2