
Mentari pagi kembali tiba. Verro harus kesekolah dengan tidak semangat. Karena ternyata apa yang di inginkannya kemarin tidak tercapai. Nyatanya Cherry tidak sadarkan diri dan kondisinya semakin memburuk.
Verro sebenarnya tidak ingin meninggalkan Cherry walau sedetikpun. Tetapi Laskarta menyuruhnya untuk sekolah. Laskarta tau jika hari ini ada ujian pertama.
Memang mereka sedang memasuki semester akhir dan di sayangkan Cherry tidak bisa ikut ujian karena sedang mengalami koma.
Sebelumnya Cherry pernah mengatakan kepada Verro jika dia tidak sempat mengikuti ujian. Verro harus tetap ujian jangan menunggunya. Dia tidak ingin melihat pacara nya itu memiliki nilai yang jelek.
Semua pembicaraan Cherry belakangan ini memang adalah pertanda dan bahkan hari ini kenyataan bahwa Cherry tidak bisa mengikuti ujian.
Suasana kelas begitu hening. Para murid-murid serius mengerjakan soal ujian mereka. Tetapi tidak untuk orang-orang yang dekat dengan Cherry.
Mereka malah gelisah mengerjakan soal-soal ujian mereka. Fokus mereka harus terbagi dengan tidak hadirnya Cherry di sana.
Ternyata Sasy yang mengerjakan ujiannya. Sambil menangis. Dia sangat khawatir dengan sahabatnya yang sedang berjuang. Bahkan lembar soalnya penuh air mata.
Sementara Verro juga terus melihat bangku Cherry yang kosong. Seharusnya Cherry ada di sana ikut ujian. Tetapi bangku itu kosong. Matanya yang bergenang terus melihat tempat duduk Cherry.
Tidak hanya Verro dan Sasy. Varell, Vandy, Toby, Aldo, dan Nadya. Juga sebentar-sebentar melihat ke arah bangku Cherry. Mereka sangat sedih mendengar keadaan Cherry yang benar-benar menurun.
Raquel juga yang mendengar kondisi Cherry dari Nadya ikut sedih. Dia sangat tau bagaimana sakitnya itu. Karena dia pernah menyaksikan Cherry yang kesakitan.
" Kenapa harus orang sepertinya yang mengalaminya. Apa tuhan tidak bisa memilih-milih dalam menurunkan penyakit," batin Raquel dengan matanya berkaca-kaca dia tau Cherry orang seperti apa.
Bukan hanya cantik. Cherry sangat pintar dan ramah kepada semua orang tanpa melihat status sosialnya. Bahkan Cherry wanita yang paling baik yang pernah di temuinya
" Seharusnya ujiannya lebih cepat, kenapa hari ini sangat berbeda," batin Sasy yang sudah Sengugukan terus mengingat kondisi sahabatnya.
" Kasihan Cherry. Semoga dia bisa melewati semua ini. Dia wanita yang sangat baik," batin Nadya yang juga melihat kebangku Cherry.
Beberapa hari yang lalu. Nadya baru menerim dana untuk perawatan ibunya. Dan ibunya juga ada di rumah sakit terbaik sekarang sedang mendapat perawatan yang baik. Tetapi orang yang memberikan itu kemarin malah sedang mengalami koma.
" Apa Cherry besok juga tidak akan mengikuti ujian," ucap Toby di dalam hatinya. Yang tidak ingin hal itu terjadi.
" Semoga ada keajaiban untuk Cherry," batin Vandy yang berharap banyak. Meski dia tau itu tidak mungkin. Karena dia sudah mendengar dari kakaknya sendri bagaimana kondisi Cherry.
" Verro pasti sangat khawatir dengan Cherry dia bahkan sangat gelisah," ucap Varrell melihat kearah temannya yang benar-benar tidak tenang.
" Ujian mereka terasa hampa. Tidak seperti biasanya," batin Aldo melihat ke arah perkumpulan bangku itu.
Setiap ada ujian atau ulangan. Aldo sudah tau bagaimana sistem mereka yang suka saling mengoper jawaban. Yang pasti membuat Aldo dongkol dengan hal itu. Tetapi sekarang sudah berbeda ujian itu terasa sangat haru.
__ADS_1
ting-ting-ting-ting-ting. Bel berbunyi
" Waktunya habis jangan ada yang mengerjakan ujian lagi. Aldo silahkan ambil lembar jawaban teman-teman kamu," perintah guru yang mengawasi.
" Baik Pak," jawab Aldo.
Verro langsung membereskan isi mejanya. Memasukkan semua kedalam tasnya dengan cepat Verro langsung bangkit dari duduknya dan langsung keluar dari kelas. Tanpa berpamitan.
" Verro," panggil Vandy.
" Verro mau kemana?" tanya Pak guru yang tidak mendapat jawaban apa-apa.
Toby dan Sasy saling melihat. Mereka mengangguk dan mereka pun dengan cepat memebereskan isi tas mereka dan langsung berdiri ke luar dari kelas menyusul Verro.
" Kalian mau kemana?" tanya guru yang lagi-lagi di cuekin.
Varell pun akhirnya pergi bersama Vandy. Saat ingin keluar guru yang tadi di cuekin harus mengehentikan Varell dan Verro.
" Apa kalian mau pergi juga?" tanya Pak guru.
" Kami harus kerumah sakit. Kondisi Cherry sedang kritis," jawab Varell dengan santai.
" Oh, ya sudah," sahut Pak guru tanpa melarang dengan santainya mengatakan ya sudah.
***********
Verro sampai kerumah sakit. Ternyata Cherry belum juga siuman. Verro yang memasuki ruangan itu terlihat tidak bersemangat. Matanya hanya memerah dengan keadaan yang ada.
Di dalam ruangan perawatan itu. Hanya terdengar suara mesin jantung Cherry. Verro mendekati ranjang Cherry. Verro menarik kursi dan duduk di samping Cherry.
Di ambilnya tangan Cherry lalu genggam erat. Verro juga mencium tangan kekasihnya yang sudah di banjiri air mata.
Tangan itu juga di tempatkan Verro di pipinya. Tanpa Verro mengatakan apapun. Karena dia sudah tidak sanggup bicara lagi.
Flassback
" Apa yang Dokter katakan Om?" tanya Verro setelah Laskarta keluar dari ruangan Dokter.
" Cherry harus segera di operasi," jawab Dokter.
" Lalu kapan?" tanya Verro dengan cepat.
__ADS_1
" Kalau memang rasa sakit itu hilang. Ketika dia di operasi, kenapa tidak di laksanakan secepatnya. Bukannya kita sudah membahas ini sebelumnya," desak Verro.
Dia sudah tidak peduli akan kehilangan atau tidak. Dia hanya ingin Cherry tidak menderita lagi. Meski menghilangkan sakit itu juga menghilangkan Cherry dari kehidupan.
" Verro ada masalah besar," ucap Laskarta membuat Verro membuka lebar matanya sempurna.
" Masalah besar, apa maksud Om? tanya Verro dengan was-was debaran jantung berdebar tidak menentu.
" Jantung yang di donorkan sahabat Cherry. Tidak cocok untuk Cherry," jawab Laskarta dengan suara seraknya.
Verro mendengarnya langsung merasakan sesak di dadanya. Suara napasnya yang tersenggal-senggal dapat terdengar. Verro mengusap wajahnya dengan kasar dengan ke-2 tangannya.
" Lalu apa lagi yang harus di lakukan?" tanya Verro dengan nada suara yang sangat pasrah.
" Om akan bawa Cherry ke Jerman. Teman Om seorang Dokter ahli jantung yang ada di sana akan menangani Cherry. Cherry akan di operasi di sana," jawab Laskarta yang memang sudah mempersiapkan jika keadaan darurat datang.
" Kemungkinannya?" tanya Verro yang masih ingin berharap Cherry tetap ada.
" 20%," jawab Laskarta. Membuat napas Verro semakin berat. Bahkan dia tertawa dengan air mata di pipinya.
" Apa itu bisa di katakan kemungkinan?" tanya Verro memijat kepalanya.
" Hanya itu yang bisa om lakukan di masa-masa terakhirnya. Om hanya berjuang. Jika takdir juga tidak mengijinkannya. Kita tidak bisa berbuat apa-apa. Yang penting kita berusaha dan kita juga menyiapkan diri untuk hasil akhirnya," jelas Laskarta yang benar-benar pasrah akan putrinya.
" Verro Om tau. Ini akan berat untuk kamu. Kamu sangat mencintai Cherry om paham itu. Tetapi kita tidak punya pilihan," ucap Laskarta mengusap bahu Cherry.
" Tetapi kenapa Jerman. Apa tuhan juga tidak memberiku kesempatan untuk menemaninya di masa-masa terakhirnya," batin Verro.
Falss on
Air mata Verro semakin deras. Saat mengingat perkataan Laskarta kemarin. Di mana Cherry akan di bawa ke Jerman untuk di tangani oleh Dokter yang mungkin lebih frofesional.
Yang pasti itu artinya. Dia tidak akan ada di samping Cherry pada masa terakhirnya. Hal itu membuat Verro bingung.
Verro menangis sampai Sengugukan dengan kenyataan itu. Menangis menundukkan kepalanya dengan terus menggenggam tangan Cherry dengan ke-2 tangannya
Dia tidak tau kenapa mencintai sesakit itu. Dia tidak tau kenapa harus Cherry. Dia dan Cherry baru bahagia- bahagianya. Tetapi semuanya terampas begitu saja.
Ternyata suara tangisan Verro terdengar di telinga Cherry. sampai membuat mata Cherry terbuka perlahan. Cherry melihat ke arah orang yang menggengam tangannya dengan suara tangisannya.
Yang pasti dia tau jika itu Verro. Karena di setiap dia bangun. Pasti Verro yang pertama dilihatnya.
__ADS_1
" Verro!" panggil Cherry dengan suaranya yang serak.
Bersambung....