
Mata Azizi dan Vandy saling bertemu dengan bibir yang masih saling bertemu dan pasti ada getaran di dalam sana yang mungkin ke-2nya saling mendengar detak jantung satu sama lain.
" Kenapa aku harus menciumnya," batin Azizi dengan perasaannya seperti debaran hebat di dalam sana.
" Apa ini suatu rencana," batin Vandy. Yang masih saling menempel bibir dengan Azizi.
Selang beberapa detik ke-2nya pun menyadari dan alhasil mereka saling canggung satu sama lain.
" Maaf, aku tidak sengaja," sahut Azizi tampak gugup dan langsung pergi dengan cepat
Sementara Vandy menoleh kearah Iqbal yang memejamkan matanya dengan pura-pura.
" Kamu memang anak jahil," batin Vandy tersenyum dengan geleng-geleng. Yang tau maksud anaknya yang benar-benar ingin menyatukannya dengan Azizi.
Sementara Azizi malah terlihat gelisah dengan mencari-cari pekerjaan, atas ulah anaknya yang membuatnya saling mengecup bibir dengan Vandy.
" Iqbal, sejak kapan kamu jadi usil seperti itu," batin Azizi yang masih canggung.
*********
Karena keinginan Fiona yang ingin berada di yayasan kanker Verro yang ingin mengabdikan diri. Akhirnya Verro pun mengantarkan Fiona ke tempat Yayasan itu.
Mereka sama-sama turun dari mobil.
" Ayo," ajak Verro mempersilahkan. Fiona mengangguk. Melangkah mengikuti Verro. Kepala Fiona berkeliling melihat di sekitarnya.
Di sana banyak anak-anak yang berlarian bermain-main dengan ceria dan ada juga yang dia atas kursi roda. Sepanjang dalam langkahnya. Tidak ada satupun yang di lihatnya yang sehat. Semuanya memiliki penyakit masing-masing.
" Apa mereka semua terkena kanker juga?" tanya Fiona yang sudah berjalan di samping Verro.
" Hmmm, iya kamu benar. Mereka di sini sama-sama berjuang," jawab Verro.
" Lalu apa kamu yang menangani mereka semua?" tanya Fiona.
" Tidak, ada beberapa Dokter juga. Dan di sini juga banyak suster yang membantu mereka," ucap Verro menjelaskan.
" Lalu di mana keluarga mereka?" tanya Fiona.
__ADS_1
" Sebagian, mereka berkeluarga dan sebagian atau lebih banyak tidak ada keluarga dan tinggal di sini," jawab Verro.
" Lalu apa mereka ada sembuh?" tanya Fiona lagi. Sampai Verro menghentikan langkahnya dan menghadap Fiona.
" Ada yang sembuh, dan semua karena usaha dan juga doa. Kamu juga sama seperti mereka. Kamu akan sembuh jika berusaha dan banyak berdoa," jelas Verro. Fiona tersenyum mendengarnya.
" kamu memang baik Verro, kamu membuat yayasan kanker untuk orang-orang yang tidak mempunyai biaya besar seperti ku untuk berobat," ucap Fiona.
" Aku membuat yayasan kanker ini untuk Cherry. Cherry yang mempunyai ide ini. Dari dulu sewaktu Cherry masih dalam keadaan kritis. Dia ingin membuat Yayasan kanker, dia ingin menolong orang-orang banyak. Tetapi takdir membuat Cherry pergi dan aku mendirikan ini untuk dia. Untuk mengabulkan keinginannya dan ternyata hadiah yang di berikan kepadaku. Adalah kembalinya dia," sahut Verro dengan menjelaskan.
" Dia beruntung memiliki kamu Verro," ucap Fiona.
" Bukan Cherry yang beruntung. Tetapi aku yang beruntung yang memilikinya," sahut Verro.
" Kalian ber-2 sama-sama beruntung. Aku berdoa. Untuk kebahagian kalian ber-2," ucap Fiona.
" Terima kasih," sahut Verro, " Ayo lanjut," sahut Verro. Fiona mengangguk dan mereka melanjutkan langkah mereka kembali.
Di mana Verro menjelaskan tempat dan memperkenalkan para pengurus di sana dan juga mengenalkan anak-anak di sana dan ada juga yang sebaya dengan Fiona yang juga sama-sama memiliki penyakit kanker.
**********
Verro melihat istrinya dengan rasa bersalah. Di mana istrinya yang pasti menunggunya makanya sampai tertidur. Verro melangkahkan kakinya mendekati Cherry. Berjongkok di samping Cherry dengan mengusap-usap pucuk kepala Cherry dan mencium kening Cherry lembut.
Ciuman itu membuat Cherry terbangun dan melihat suaminya yang sudah ada di depannya yang tersenyum padanya.
" Kenapa kamu belum tidur?" tanya Verro dengan lembut
" Hmmm, aku menunggumu," jawab Cherry. Cherry pun perlahan duduk dan Verro memegang ke-2 tangan istirnya lalu duduk di samping Cherry.
" Seharusnya tidak perlu menungguku!" ucap Verro.
" Tidak apa-apa, memang kamu dari mana, soalnya tadi aku menelponmu tetapi malah tidak aktif. Lalu aku bertanya pada Sasy. Katanya kamu sudah pulang, sejak sore," ucap Cherry.
" Maaf, ya sayang, handphone aku tadi mati. Dan aku tadi pulang dari rumah sakit mengantar Fiona ke Yayasan kanker," jelas Verro memberikan alasan apa adanya.
" Yayasan kanker untuk apa?" tanya Cherry heran.
__ADS_1
" Hmmm, aku lupa cerita sama kamu. Kemarin saat aku memberitahukan keinginan kamu untuk membiayainya pengobatannya. Tetapi dia menolak dan lebih memilih untuk berada di yayasan. Katanya agar bisa saling mengerti mana hidup dengan beberapa orang-orang yang ada di sekitarnya yang sama penyakitnya dengan dia," jelas Verro.
" Dia menolaknya?" tanya Cherry yang tampak kecewa. Verro menggangguk.
" Kenapa?" tanya Cherry.
" Sayang, Fiona itu tidak ingin merepotkan kamu dan dia hanya ingin menghabiskan hidupnya dengan tenang," ucap Verro.
" Hmmm, tapi kan sayang, kenapa dia harus putus asa seperti itu. Aku hanya mencoba membantunya," sahut Azizi.
" Cherry, orang penderita kanker itu moodnya berbeda-beda sama dengan kamu dulu. Kamu juga dulu putus asa. Dan kita berdoa saja apa yang terbaik untuk Fiona," ucap Verro.
" Ya, sudah lah, tetapi semuanya saja dia sana tenang dan semoga dia mengikuti saran-saran untuk pengobatannya. Agar dia cepat sembuh," sahut Cherry. Verro mengangguk tersenyum.
" Oh. Iya tadi kamu bilang bawa Fiona ke Yayasan, Yayasan mana?" tanya Cherry.
" Yayasan kanker punya kita," sahut Verro membuat Cherry bingung.
" Punya kita," sahut Cherry heran. Verro menepuk jidatnya.
" Ternyata aku lupa memberitahunya kepada kamu. Kamu masih ingat tidak, dengan keinginan kamu dulu saat masa kita SMA. Di mana kamu ingin memiliki yayasan kanker untuk membantu orang-orang penderita kanker. Dan aku sudah membangunnya untuk mewujudkan impian kamu," jelas Verro. Cherry hanya mengangguk-angguk saja.
" Lalu kapan, kalau begitu kapan kamu mengajakku untuk kesana?" tanya Cherry. Verro tersenyum.
" Kita akan kesana besok. Itu adalah milik kamu. Aku hanya tidak mengingatnya harus memberi tahumu tempat itu. Itu tempat paling istimewa untukku dan pasti aku akan membawamu untuk kesana," ucap Verro. Cherry mengangguk tersenyum.
" Ya sudah, sekarang kita tidur yuk!" ajak Verro.
" Kamu sudah makan?" tanya Cherry. Verro mengangguk.
" Aku sudah makan tadi," jawab Verro, " kamu sudah makan?" tanya Verro. Cherry menggeleng.
" Kenapa?" tanya Verro.
" Aku sudah mengatakan. Aku menunggumu?" jawab Cherry.
" Sayang, ya sudah kita makan ya. Aku akan menemanimu makan," ucap Verro merasa bersalah. Cherry mengangguk.
__ADS_1
Bersambung