DETAK Love Story' School

DETAK Love Story' School
Episode 221 tidak ingin berpisah.


__ADS_3

Cherry dan Verro selesai memeriksakan kandungan dan sekarang sudah keluar dari ruangan itu.


" Kamu langsung pulang, atau menungguku di sini?" tanya Verro pada sang istri.


" Aku menunggu saja. Aku tidak mau di rumah sendirian. Aku mau sama kamu terus," jawab Cherry yang tingkat manjanya naik bertingkat-tingkat. Verro tersenyum mendengarnya dan mengacak-acak rambut Cherry.


" Cherry," panggil suara yang khas membuat Verro dan Cherry melihat yang ternyata yang memanggil itu adalah Sasy, yang muncul bersama Vandy, dan Raquel dan 3 Dokter itu langsung menghampiri Cherry dan Verro.


" Kamu ada di sini juga?" tanya Sasy.


" Iya," jawab Cherry.


" Ngapain?" tanya Sasy dan mata Sasy melihat ke arah ruangan tersebut. Yang ada tulisan Dokter kandungan.


" Kamu habis dari dalam sama Verro?" tanya Sasy lagi yang merasa ada sesuatu. Verro dan Cherry mengangguk.


" Apa kalian berdua sedang memeriksa kandungan?" tebak Sasy.


Raquel dan Vandy saling melihat. Sepertinya tebakan Sasy memang benar. Karena ruangan itu ruangan kandungan yang pasti berhubungan dengan kehamilan. Cherry dan Verro mengangguk.


" Kamu hamil?" tanya Raquel memastikan. Cherry kembali mengangguk.


" Serius?" tanya Sasy tidak percaya.


" Iya serius, aku sedang mengandung," jawab Cherry membenarkan membuat mereka semua terkejut. Tetapi wajah itu terlihat sangat bahagia dengan kabar dari Cherry.


" Ya ampun Cherry. Aku tidak percaya," sahut Sasy yang heboh dengan memegang tangan Cherry dia menjadi orang yang paling bahagia dengan kehamilan temannya itu.


" Selamat ya Cherry," sahut Raquel.


" Makasih," sahut Cherry.


" Verro, lo keren," sahut Vandy mengedipkan sebelah matanya.


" Apaan sih, keren-keren," sahut Verro yang malu dengan kata-kata Vandy.


" Calon keponakan sudah ada di dalam," sahut Sasy gemes langsung meraba-raba perut Cherry dengan gemas. Tapi tampaknya Verro melihatnya kegemasan Sasy seperti ingin mencubit perut itu.


" Ishhhh, tangannya, hati-hati," sahut Verro langsung menepis tangan Sasy yang tampak posesif.


" Yeeeee baru juga di pegang," sahut Sasy kesal.


" Sama aja, nggak usah pegang-pegang," sahut Verro kesal.

__ADS_1


Cherry melihat suaminya yang posesif tersenyum dengan geleng -geleng. Sangat lucu melihat wajah Verro yang tampak takut dengan ulah Sasy.


" Sudahlah, orang tidak apa-apa juga," sahut Cherry.


" Tuh, dengarin, yang ngandung aja diam aja," sahut Sasy.


" Ihhh, Sasy, udah dek, kamu itu ya. Wajar Verro gitu. Namanya juga istrinya," sahut Raquel yang ikut-ikutan.


" Ini lagi, ikut-ikutan segala," sahut Sasy langsung sewot.


" Ahhhh, sudah-sudah. Jangan pada ribut yang hamil itu Cherry. Tetapi kalian semua malah heboh. Nanti yang adanya Cherry akan ilfil melihat kalian," sahut Vandy mencegah keributan.


Cherry hanya tertawa-tawa saja. Moodnya semakin baik mendengar pertengkaran kecil yang dulu sudah biasa di dengarnya dan sekarang sangat di rindukannya.


***********


Bandara


Sasy dan Toby saling bergandengan tangan berjalan di Bandara dengan tangan Toby yang satunya menyeret koper. Dan ketika dekat pintu masuk untuk pemeriksaan. Sasy dan Toby menghentikan langkahnya dan Toby menghadap Sasy.


" Aku pergi dulu, kamu hati-hati di sini," ucap Toby membelai-belai rambut Sasy. Jangan tanya wajah Sasy seperti apa sangat manyun.


Apa yang di lakukan Sasy ternyata tidak membuat keputusan Toby berubah. Karena Toby bukan hanya tinggal bersama orang tuanya. Tetapi juga untuk melanjutkan pendidikannya. Mungkin itu yang membuat keputusan itu tidak berubah walau sudah 1 Minggu lebih menghabiskan waktu bersama Sasy. Tidak ada yang berubah dan pada akhirnya Sasy dengan tidak semangatnya. Harus mengantarkan Toby kebandara.


" Iya," jawab Sasy terpaksa.


" Kamu jaga diri ya. Ingat jangan macam-macam. Apa lagi punya niat untuk mendiamkanku," ucap Toby mengingatkan.


" Aku tidak bisa jamin hal itu," sahut Sasy dengan wajah ketusnya. Toby menaikkan 1 alisnya melihat Sasy.


" Aku bisa saja Khilaf dan jangan salahkan aku. Jika aku akan perpaling. Itu salah kamu karena tidak mengawasiku," ucap Sasy dengan mulutnya yang mengkerut yang masih usaha untuk membuat Toby tetap bersamanya.


" Kamu ada niat untuk mendiamkanku?" tanya Toby dengan mengusap-usap pipi Sasy dengan mudahnya Sasy mengangguk.


" Hati ku sangat cepat goyah. Jadi aku aku tidak bisa berjanji apa-apa," sahut Sasy yang sedari tadi bicara tanpa melihat Toby. Toby malah tersenyum melihat tingkah Sasy yang begitu menggemaskan yang tidak ingin di tinggalkan.


" Tapi aku mempercayai. Kamu tidak akan melakukan itu," ucap Toby.


" Terserah!" Sahut Sasy yang begitu ketus.


" Ya sudah, aku pergi dulu, kamu jangan banyak tingkah, kamu harus terus belajar. Agar menjadi Dokter specialis dan penghasilan kamu banyak dan mengubah tabiat busukmu yang perhitungan dengan teman sendiri," ucap Toby mengingatkan. Mendengarnya Sasy kesal dan langsung memukul dada Toby.


" Kamu ini," geram Sasy memukul dada Toby.

__ADS_1


" Sakit," keluh Toby.


" Syukurin," sahut Sasy kesal. Toby hanya tersenyum puas melihat Sasy yang benar-benar marah.


" Apa yang aku katakan memang benar. Kamu harus rajin belajar. Agar tidak kayak gitu-gitu aja," ucap Toby menceramahi dan Sasy langsung menutup telinganya seakan tidak mau mendengarnya.


" Nggak dengar," ketus Sasy menyambarnya. Toby geleng-geleng melihat ulah Sasy.


" Lihatkan keras kepala. Di kasih tau malah ngeyel," ucap Toby. Sasy terus menutup telinganya tetap tidak mau mendengar ceramah Toby.


" Aku mencintaimu," ucap Toby mengetes apa Sasy akan mendengarnya atau tidak. Sasy mendengar hanya saja tetap dengan pertahananya.


" Sasy, Love you," ucap Toby lagi ingin mendapat respon Sasy.


Sasy mengukir senyum tipis dan melepas tangannya dari telinganya. Lalu melihat ke arah Toby dengan wajahnya yang cemberut, sementara Toby tersenyum. Sasy langsung memeluk Toby.


" Kamu kenapa jahat sekali kepadamu. Kamu sama aja kayak dulu. Kalau aku aja yang minta ini itu pasti kamu tidak akan mengabulkan. Coba aja kalau Cherry pasti akan langsung. Kamu jahat tau nggak sih sama ku. Kamu tega pergi. Raquel akan mengejek ku terus," rengek Sasy yang menangis di pelukan Toby.


Toby yang memeluknya hanya tersenyum dengan Sasy yang menangis seperti tidak ingin di tinggalkan.


" Aku hanya pergi sebentar, aku tidak akan menetap di sana," ucap Toby. Sasy melepas pelukan itu.


" Bohong," ucap Sasy yang tidak percaya. Toby mengusap air mata Sasy.


" Kamu sadar tidak kalau kamu itu semakin cantik kalau seperti ini," ucap Toby merayu Sasy.


" Jangan memujiku. Aku memang terlahir cantik. Kamu katakan dulu. Kalau kamu benar-benar hanya pergi sebentar bukan tinggal selamanya di sana," ucap Sasy yang ingin kepastian.


" Iya, aku hanya sebentar. Aku merubah keputusanku untuk tidak menetap di sana dan akan berada di sisi kamu. Aku hanya menyelesaikan beberapa hal yang harus aku selesaikan," jelas Toby.


" Kamu serius" tanya Sasy masih tidak percaya. Toby mengangguk.


" Awas saja. Kalau kamu bohong aku benar-benar akan membencimu," ucap Sasy memberi ancaman. Toby menyunggingkan senyumnya dan kembali memeluk Sasy.


" Jangan menangis lagi. Aku tidak akan mungkin membohongi kamu," ucap Toby.


" Benar ya," sahut Sasy. Toby mengangguk. Dan kembali melepas pelukannya dari Sasy. Mengusap air mata Sasy dan mencium kening Sasy.


" Aku pergi dulu!" ucap Toby pamit. Sasy mengangguk.


" Hati-hati," ucap Sasy. Toby mengangguk dan langsung pergi. Sasy ternyata jauh lebih tenang dan melambaikan dadanya pada pacarnya yang akan pergi.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2