DETAK Love Story' School

DETAK Love Story' School
Part 184 menyetujui


__ADS_3

Napas Azizi seketika menjadi sesak saat mendengar dari Vandy masalah tes DNA. Dia melotot kearah Vandy. Kaget sekaget kagetnya dengan ucapan Vandy yang melakukan tes DNA kepada putranya.


" Apa yang kamu katakan Vandy?" tanya Azizi dengan suara berat.


" Kamu melakukan tes DNA kepada Iqbal?" tanya Azizi dengan suaranya yang menakan dan sulit bicara.


Vandy melangkah mendekati Azizi dan meraih tangan Azizi.


" Ikut denganku," ucap Vandy yang langsung membawa Azizi pergi dari tempat itu. Karena Azizi yang masih schok dengan ucapan Vandy dan tidak sadar jika tubuhnya tertarik begitu saja.


Vandy juga tidak mungkin membicarakan masalah itu di tempat umum. Jadi dia membawa Azizi untuk mencari tempat yang lebih baik.


Vandy membawanya keruangannya. Dan begitu sampai di ruangannya. Azizi langsung melepas tangannya dari pegangan Vandy.


" Kamu belum menjawab pertanyaan ku, kamu melakukan tes DNA tanpa sepengetahuanku?" tanya Azizi dengan menekan suaranya melihat ke arah Vandy dengan matanya yang sudah bergenang.


" Iya aku melakukannya," jawab Vandy.


Plakkk. Azizi langsung melayangkan satu tamparan kepada Vandy sampai wajah Vandy miring kesamping dan pipinya yang merah.


" Lancang sekali kamu Vandy, berani sekali kamu melakukan itu tanpa sepengetahuan ku," ucap Azizi menekan suaranya tidak menyangka jika Vandy nekat melakukan hal itu.


" Jika aku tidak melakukannya. Aku tidak akan pernah tau, siapa Iqbal," jawab Vandy.


" Untuk apa kamu tau. Kalau dulu saja kamu tidak mengakuinya, jadi kenapa sekarang aku sepenasaran itu sampai melakukan tes DNA," teriak Azizi yang sudah mulai emosi.


" Aku tau aku salah. Aku tidak bisa berpikir jernih saat itu. Karena aku kecewa, aku kecewa...." ucap Vandy tidak melanjutkan kalimatnya.


" Kamu kecewa. Karena aku tidak Virgin iya dan yang di pikiran kamu," sahut Azizi yang tau dengan kelanjutan kalimat Vandy.


" Kamu kecewa dengan hal itu. Karena kamu cuma berpikir aku adalah wanita malam yang seperti di tuduhkan anak-anak kepada ku iya!" teriak Azizi.


" Aku tidak mengatakan itu Azizi," sahut Vandy.


" Lalu apa jika tidak. Kau menghindariku. Kau menjauh dariku dan tidak ada di saat aku di kucilkan. Karena pikiranmu sama dengan orang-orang yang menuduhku," teriak Azizi.


" Aku tau aku salah. Aku tidak dewasa saat itu. Pikiranku tidak bisa mencerna apa-apa. Aku tau itu hal yang menyakitkan untuk kamu," ucap Vandy yang hanya bisa mengakui kesalahannya.


" Kamu benar-benar berengsek Vandy. Setelah kamu membuatku jatuh hati kepadamu. Aku menyerahkan diriku kepadamu. Lalu mencampakkan ku dengan hinaan dari mulut motormu dan sekarang kau dengan berani melakukan tes DNA kepada Iqbal dan mengatakan dengan mulutmu yang kurang ajar itu. Jika Iqbal adalah anakmu. Apa tujuanmu sebenarnya," ucap Azizi yang sudah berderai air mata.


" Lalu apa yang akan kau lakukan jika kau sudah tau semuanya. Apa yang akan kau lakukan. Apa kau akan mengambilnya dari ku, katakan Vandy, katakan Vandy," ucap Azizi bertanya-tanya pada Vandy dengan memukul-mukul dada Vandy

__ADS_1


" Apa kau akan mengambilnya dariku. Apa kau akan memisahkan aku dari putraku, apa yang akan kau lakukan Vandy," teriak Azizi yang terus memukul Vandy.


" Kenapa kau begitu kejam. Kenapa kau tidak bisa membiarkan aku dan anakku hidup tenang. Kenapa kau ingin mengakui dia sebagai anak setelah kau membuangnya?" Azizi yang terus menangis dengan tangannya yang memukul-mukul dada Vandy dan Vandy diam menerima semua itu.


Dia menyadari kesalahannya. Usianya juga tidak dewasa saat itu dan tidak bisa berpikir apa-apa selain berpatokan dengan apa yang di lihatnya tanpa berpikir untuk mencari tau dan tidak menyakiti perasaan Azizi.


Ke-2 tangan yang tadi memukul-mukul dada bidang Vandy. Sudah di tangkap Vandy. Vandy memegang ke-2 pergelangan tangan itu tanpa mencengkram nya.


" Aku hanya ingin dia sembuh. Aku tidak meminta apapun darimu. Aku tidak ingin mengambilnya darimu. Karena Iqbal adalah milikmu bukan milikku. Aku tidak berhak atas dirinya. Tapi izinkan aku menebus semua kesalahanku. Aku ingin Iqbal sembuh dan bisa kembali bersamamu. Karena dengan donor tulang sumsumku dia bisa kembali normal dan setelah itu. Aku tidak akan mengganggu kalian lagi," ucap Vandy dengan lembut bicara pada Azizi.


Azizi hanya bisa menangis sengugukan dengan tujuan Vandy yang untuk menyelamatkan anaknya. Yang memang donor tulang sumsum Vandy yang memang sangat di butuhkan oleh Iqbal. Azizi melepas tangannya dari Vandy dan membelakangi Vandy.


" Percayalah padaku Azizi. Aku melakukan semua ini. Hanya untuk kesembuhannya. Tanpa berniat untuk mengambilnya dari kamu. Mendonorkan tulang sumsumku bukan berarti Iqbal dan yang lainnya tau aku ayahnya. Kamu punya hak untuk semua itu. Aku tidak memintamu untuk memberi tahunya. Karena aku sadar. Aku tidak pantas mendapatkan kata ayah untuknya. Aku tidak pantas untuk figuer itu untuknya . Karena aku orang yang tidak bertanggung jawab kepadanya," ucap Vandy yang sedari tadi panjang lebar bicara.


Sementara Azizi hanya mendengarkan tanpa melihat Vandy dengan tangannya yang beberapa kali menyeka air matanya.


" Azizi, aku tau kamu sangat membenciku. Tetapi jangan sampai kebencianmu membuat Iqbal tidak akan terselamatkan. Jadi aku mohon. Hilangkan kebencianmu untuk sementara. Izinkan aku untuk menebus kesalahanku yang aku tau itu juga tidak bisa membayar apa yang sudah aku lakukan kepadamu," ucap Vandy lagi yang berusaha membujuk Azizi.


" Kenapa semuanya jadi seperti ini. Apa yang harus aku lakukan. Aku tidak mungkin membiarkan Iqbal seperti ini," batin Azizi yang mulai kelimpungan.


" Azizi, kamu mendengarkanku kan. Berikan aku kesempatan. Aku hanya ingin Iqbal sembuh dan kamu bisa kembali bersamanya. Aku tidak akan menggangu kalian," jelas Vandy yang berusaha meyakinkan Azizi.


" Tetapi kau benar-benar harus menepati janjimu kali ini. Jangan mengganggu kami," lanjut Azizi dengan tegas yang tidak memberi kesempatan Vandy untuk bersama Iqbal.


" Iya aku akan menepati janjiku. Aku tidak akan mengganggu kamu," ucap Vandy dengan yakin. Dia tidak peduli dengan apapun.


Dia hanya ingin anaknya sembuh dan masalah hubungan dengan anaknya dia tidak berharap apa-apa. Karena dia memang tidak pantas untuk menerima hal itu.


" Tepati janjimu," ucap Azizi dan langsung keluar dari ruangan itu tanpa ingin melihat Vandy.


" Aku akan menepati janjiku. Pasti akan menepatinya, terima kasih Azizi kamu sudah memberiku kesempatan melakukan sesuatu pada anakku," batin Vandy.


Dia merasa lega dengan Azizi yang benar-benar setuju dengan dia mendonorkan tulang sumsum belakangnya untuk anaknya.


***********


Tari sudah sampai di rumah sakit dan Tari langsung menanyakan suster di mana Verro. Setelah suster memberi tahu. Tari langsung keruangan Verro.


" Semoga saja Verro ada di ruangannya. Aku sudah kesulitan mendapatkan obat ini. Hampir saja aku ketahuan oleh Bayu. Aku juga harus menemui Aldo secepatnya," batin Tari yang melangkah buru-buru.


Tok-tok-tok-tok Tari mengetuk pintu ruangan itu setelah sudah berada di depannya.

__ADS_1


" Masuk!" sahut dari dalam. Tari membuka pintunya.


" Tari," ucap Verro yang melihat kedatangan Tari. Tari pun langsung masuk dan langsung duduk di depan Verro tanpa di suruh.


" Ada apa kemari?" tanya Verro heran.


" Aku datang ingin mengantarkan obat ini padamu," ucap Tari tanpa basa-basi yang langsung mengeluarkan pelastik klip dari tasnya yang berisi 2 butir pil. Verry langsung mengambilnya.


" Ini vitamin yang di konsumsi Clara," lanjut Tari. Verro meneliti obat itu. Melihat dengan detail obat itu.


" Ini vitaminnya?" tanya Verro masih meneliti obat itu.


" Hmmm, iya itu vitaminnya," jawab Tari dengan tegas.


" Ini sangat langka. Aku tidak bisa langsung memastikan obat apa ini. Aku harus menguji lap dulu," ucap Verro yang memang asing dengan obat itu.


" Iya terserah kamu. Yang penting aku sudah menepati janjiku. Maaf ya, aku agak lama memberi tahumu. Soalnya aku banyak pekerjaan belakangan ini," ucap Tari yang merasa tidak enak.


" Tidak apa-apa, dengan kamu memberikan ini. Itu sudah cukup. Aku malah berpikir. Jika kamu tidak mengingat hal itu," sahut Verro.


" Mana mungkin aku tidak mengingatnya. Ya sudah Dokter. Aku harus buru-buru. Soalnya aku masih ada keperluan," ucap Tari yang berpamitan.


" Aku juga sangat penasaran dengan hasil lapnya. Karena ada sesuatu yang aneh dengan Clara dan juga Bayu yang sepertinya meneyebunyikan sesuatu. Dia bahkan mengatakan identitas Clara. Memang sangat membingungkan," batin Tari yang belum bisa menarik kesimpulan apa-apa.


" Iya, sekali lagi terima kasih sudah repot-repot. Aku akan memberikan hasil lapnya pada kamu," ucap Verro.


" Iya aku akan menunggunya," sahut Tari.


" Ya sudah aku pergi duku," ucap Tari pamit kembali. Verry mengangguk. Tari pun langsung keluar dari ruangan Verro.


*******,


Tari pun keluar dari ruangan Verro dengan hembusan napasnya yang panjang kedepan.


" Semoga saja hasilnya cepat keluar. Sekarang aku harus menemui Aldo dulu. Aku haru membicarakan ucapan Bayu yang sangat aneh mengenai Laudya," batin Tari.


Tari pun akhirnya pergi dari depan ruangan itu. Sementara Verro yang di ruangannya sudah membuka obat itu dari dalam plastiknya dan memegang isinya.


" Apa ini. Kenapa Vitamin ini sangat langka. Ini tidak termasuk dalam katagori Vitamin," ucap Verro yang terus memperhatikan obat itu dengan wajahnya yang penuh kecurigaan.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2