DETAK Love Story' School

DETAK Love Story' School
Episode 147


__ADS_3

Sasy memang bicara selalu benar dengan seenaknya mengatakan Varell yang salah dengan kandasnya hubungannya dengan Nadya.


" Sudah lah Sasy jangan nyalahin Varell terus. Mungkin itu sudah keputusan mereka berdua


Ucapan Sasy membuat Varell terdiam. Kata meninggalkan sebenarnya tidak cocok. Karena Varell pergi ke Amerika juga karena terpaksa. Selain kandasnya hubungannya dengan Nadya. Yang pasti karena desakan mamanya.


" Benarkan Varell?" ucap Sasy memastikan.


" Apaan sih. Udah lah Sasy. Kalau nggak tau apa-apa mending diam," sahut Varell. Yang adanya kepalanya akan semakin berat. Kalau Sasy memojokkannya.


" Sudahlah jangan di bahas lagi. Masalah Nadya dan juga Varell. Mungkin ada sesuatu yang Varell tidak harus ceritakan pada kalian," sahut Aldo dengan bijak.


" Tuh dengar," sahut Varell merasa tertolong dengan Aldo.


" Oh iya. Bagaimana dengan gadis yang bernama Cherry. Apa dia benar-benar mirip?" tanya Azizi yang juga sudah mendapat cerita.


" Kamu belum pernah bertemu dengannya?" tanya Raquel. Azizi menggelengkan kepalanya.


" Dia benar-benar mirip. Sangat mirip bahkan tidak ada bedanya," sahut Aldo.


" Aku bilang juga apa. Aku bertemu dengan wanita yang mirip Cherry. Tapi kalian tidak percaya dan malah mengira aku seakan ingin menggantikan Cherry. Dan sekarang kalian baru schock sendiri," sahut Toby mengaduk-aduk minumannya.


" Ya namanya juga tidak tau," sahut Raquel.


" Aneh sekali jika ada orang yang mirip dan benar-benar mirip. Jika tidak ada hubungan saudara," sahut Azizi menjadi kepikiran dan bahkan penasaran ingin melihat wanita itu.


" Tidak ada bedanya dan bahkan suaranya sama. Caranya bicara juga jelas sama. Itu bukan mirip lagi. Tapi itu memang jelas adalah Cherry," sahut Toby menyimpulkan.


Kesimpulan Toby langsung membuat semua yang ada di meja itu langsung melihat kearah Toby yang bicara tampak santai.


" Toby apaan sih," tegur Vandy.


" Kamu mau bilang kalau Cherry hidup lagi. Atau kamu mau bilang. Wanita yang bernama Clara itu adalah reinkarnasi dari Cherry. Cherry baru 7 tahun meninggal dan tidak mungkin ada reinkarnasi nya," sahut Sasy dengan nada kesal. Dia memang sangat marah jika mendengar hal itu.


" Aku tidak bilang Cherry hidup lagi. Tapi aku mengatakan jika Cherry belum meninggal," sahut Toby dengan wajah serius nya. Kata-kata Toby kembali membuat orang-orang kaget.


" Toby!" tegur Sasy menaikkan volume suaranya.


" Sasy. Kau jelas sangat mengenalnya. Verro juga jauh lebih mengenalnya. Dan kalian juga pasti sangat mengenalnya. Jika wajah mirip itu hal biasa. Tapi cara bicara yang mirip dan pergerakan tubuhnya. Itu tidak bisa di katakan orang yang berbeda," jelas Toby dengan tegas.


" Tapi tidak mungkin juga kan itu. Cherry. Jelas-jelas Cherry sudah meninggal dan kita sendiri mengantarkan jenazah," sahut Vandy.


" Apa kita melihat wajahnya saat dia tidak bernapas," sahut Toby.

__ADS_1


Semua terdiam dengan pertanyaan Toby. Seakan mulut mereka tidak bisa menjawab. Jika memang mereka tidak melihat Cherry saat meninggal.


" Cherry hanya di pulangkan dengan peti yang sama sekali tidak bisa di buka. Bahkan pemakamannya tidak di hadiri papanya. Bukankah Cherry putri satu-satunya. Sesedih-sedihnya seorang ayah. Bukannya harus mengantarkan anaknya ketempat terakhirnya. Tetapi tidak. Tidak ada papanya Cherry di sana. Bahkan kerabatnya juga," jelas Toby yang mengeluarkan pendapatnya sendiri.


Dia memang sudah memikirkan teka-teki itu sepanjang waktu. Semenjak bertemu dengan Clara. Dia memiliki keyakinan yang besar. Jika itu adalah sahabatnya.


" Bahkan sampai sekarang kita tidak pernah bertemu dengan om Laskarta," lanjut Toby.


" Tetapi tidak mungkin Cherry masih hidup," sahut Raquel.


" Jika memang itu Cherry kenapa dia tidak mengingat kita. Apa kamu mau bilang dia lupa ingatan juga," sahut Sasy.


" Benar kata Sasy. Jika itu Cherry tidak mungkin dia tidak mengingat kita," sambung Vandy.


" Begini. Oke kita sekarang sedang masa galau, dilema dengan wanita itu. Aku akan menyelidiki siapa dia sebenarnya. Kebetulan klienku adalah temannya. Jika banyak petunjuk yang menyamakan Cherry dengan Clara adalah orang yang sama. Oke kita bisa melanjutkan pemikiran kita yang mempercayai dia Cherry. Tetapi jika tidak ada satu pun petunjuk dan membuktikan dia orang yang berbeda. Kita harus stop untuk memikirkan wanita itu," ucap Aldo memberi penjelasan.


" Aku setuju dengan Aldo. Kita sebaiknya mencari tau dulu. Baru menyimpulkan sana sini," sahut Varell.


" Iya aku juga setuju. Karena ketahuilah. Jika kita membahas ini terus bahkan sampai Verro merasa. Ini hanya akan membuat kita terluka. Kita berharap banyak sementara tidak ada hasilnya," sahut Sasy.


" Aku rasa memang tidak ada salahnya. Jika kita mencari tau dulu. Aku juga belum pernah bertemu dengannya. Jadi aku juga tidak bisa berpendapat apa-apa," sahut Azizi mencoba netral.


" Baiklah jika begitu. Kalau Aldo ingin mencari petunjuk silahkan. Tetapi aku juga akan mencari petunjuk sendiri," sahut Toby yang benar-benar ingin membuktikan sendiri.


" Sudah kita jangan bahas lagi. Verro sudah datang," ucap Vandy pelan. Saat melihat Verro memasuki Restaurant. Semua langsung terdiam dan pura-pura sibuk untuk mengalihkan ketengan agar Verro tidak mencurigai mereka.


" Verro, baru sampai!" sapa Varell berdiri dan bersalaman dengan sahabatnya dan langsung memeluk.


" Apa kabar?" tanya Verro.


" Baik seperti yang kau lihat," sahut Varell yang sudah melepas pelukannya.


" kamu sendiri bagaiman?" tanya Varell.


" Sama pasti baik," jawab Verro.


" Ya sudah ayo duduk," ucap Varell mempersilahkan. Verro pun duduk.


" Mau pesan apa. Biar sekalian sama aku dan Azizi. Soalnya kita juga baru datang," sahut Sasy.


" Samain aja," sahut Verro.


" Oke," ucap Sasy langsung melihat menu bersama Azizi.

__ADS_1


Sementara Vandy curi-curi pandang dengan Azizi yang sama sekali tidak melihat Vandy. Azizi memang jauh lebih santai. Tidak dengan Vandy yang terlihat gelisah dan tidak tau juga karena apa.


**********


Rumah sakit


Seperti biasa Verro akan memulai paginya di rumah sakit. Memang begitulah jika seorang Dokter. Kesibukannya akan habis dengan pasien.


Saat melewati koridor-koridor rumah sakit dan ingin membelok. Verro harus menghentikan langkahnya ketika melihat Clara yang sedang jongkok di depan anak kecil.


" Ayo minum!" ucap Clara memberikan susu stauberry pada anak kecil yang ternyata sedari tadi menangis.


" Apa ini enak?" tanya anak laki-laki tersebut yang belum mengambil pemberian Clara.


" Ini sangat enak. Minumlah. Ini akan membuat kamu tidak akan sedih lagi," ucap Clara meyakinkan bocah tersebut. Kemudian anak kecil tersebut mengambilnya. Clara tersenyum melihatnya anak itu yang sudah mulai meminumnya.


" Bagaimana apa enak?" tanya Clara.


" Iya enak Tante. Sangat enak. Apa Tante menyukai minuman ini?" tanya bocah tersebut.


" Hmmm, Tante sangat suka," jawab Clara dengan tersenyum.


" Berarti Tante suka stauberry?" tanya anak tersebut.


" Kalau memakan stauberry langsung Tante tidak suka. Tante lebih suka susu stauberry," jawan Cherry mengkerutkan dahinya. Membayangkan buah stauberry yang sama sekali tidak ingin di makannya.


Verro mendengar hal itu sangat kaget. Apa yang di dengar dan di lihatnya benar-benar mengingatkannya pada Cherry. Cherry yang sangat menyukai minuman itu. Tetapi tidak menyukai buahnya sama sekali.


" Tidak mungkin. Jika hal ini juga adalah sebuah kebetulan," batin Verro merasakan ada yang aneh. Semakin lama hatinya semakin bergejolak ketika melihat Clara yang semakin lama menunjukkan banyak kesamaan dengan Clara.


" Kalau begitu kamu tidak perlu sedih lagi," ucap Clara mengusap pucuk kepala anak tersebut.


" Iya Tante. Makasih Rafa tidak akan sedih lagi," sahut anak tersebut dengan senyum lebarnya.


" Anak pintar," ucap Clara gemas memegang pipi anak itu.


" Ya sudah Rafa pergi dulu. Makasih Tante," ucap Rafa dengan gembiranya dan langsung pergi sebelum pergi Rafa melambaikan tangannya. Dan Clara juga ikut melambaikan tangannya.


" Dia sangat bahagia. Hanya karena meminum itu. Aku merasakan itu. Tidak tau kenapa aku juga sangat tenang ketika meminum minuman itu," batin Clara geleng-geleng.


Clara langsung berdiri dan membalikkan tubuhnya. Saat membalikkan tubuhnya. Clara harus melihat Verro yang berdiri di tempatnya. Sangking kaget melihat Clara. Verro tidak menyadari jika wanita yang di perhatikan ya sedang melihatnya.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2