
" Dokter senang Cherry bisa melihat kamu lagi," sahut Arif yang tersenyum bahagia.
" Sana Cherry juga Dok. Bahkan Cherry tidak percaya kita bisa bertemu," sahut Cherry.
" Hmmm, kakak sama Iqbal ngapain di sini?" sahut Vandy bertanya.
" Kakak sedang membelikan pesanan mama. Jadi sekalian bawa Iqbal jalan-jalan," jawab Arif.
" Oh, begitu rupanya," sahut Vandy.
" Oh, iya Vandy kamu pulang cepat ya. Kalau bisa jangan sampai sore. Kamu juga harus istirahat jangan keluyuran. Besok kamu mau menikah," ucap Arif menegaskan pada adiknya.
" Tuh, dengerin. Dokter Arif aja bilang gitu," sahut Sasy.
" Iya kak," sahut Vandy.
" Hmm, ya sudah, kalian lanjutkan saja sarapannya, saya mau mengambil pesanan dulu," sahut Arif.
" Dokter, lain kali, Dokter kalau ada waktu main Kerumah Cherry ya," sahut Cherry mengundang Dokternya tersebut.
" Untuk apa Cherry?" tanya Verro dengan pelan.
" Sayang, bukan cuma Dokter Arif aja, sama keluarganya juga kamu mah aneh," sahut Cherry menjelaskan dengan detail.
" Baik Cherry, nanti kalau ada waktu ya," sahut Arif yang tidak bisa berjanji banyak.
" Iya Dok, Cherry tunggu," sahut Cherry tersenyum yang mendapatkan harapan. Sementara Verro tampak kesal dengan Cherry yang kegatelan dengan Arif, Verro sampai harus mengusap dadanya.
" Hmmm, Dokter apa masih jomblo?" tanya Sasy tiba-tiba membuat semua orang melihat ke arahnya dengan mengkerutkan dahi dan menatap heran dengan pertanyaan Sasy.
" Hey, Sasy, kamu itu punya pacar," sahut Toby yang langsung posesif.
" Hanya bertanya saja, soalnya teman saya ada yang jomblo," sahut Sasy melempar pada Raquel.
" Apaan sih, pakai bawa-bawa namaku segala lagi," sahut Raquel langsung kesal. Arif geleng-geleng dengan teman-teman adiknya yang dari dulu tidak pernah berubah selalu seperti anak-anak.
" Emang kenyataan kok, kamu itu jomblo," sahut Sasy memperjelas.
" Nggak usah pakai promo kali," sahut Raquel kesal.
" Sudah-sudah kalian berdua apaan sih. Memang ada yang berharap jadi ipar aku hah!" sahut Vandy tampaknya harus pilih-pilih yang mau jadi saudara iparnya.
" Nggak ada yang minta pendapat mu," sahut Sasy kesal.
" Sudah-sudah, kalian malah ribut. Sudah ya saya permisi dulu. Kalian lanjutkan sarapannya," ucap Arif pamitan, " Ayo Iqbal," ajak Arif. Iqbal mengangguk.
" Dada semuanya," sahut Iqbal melambaikan tangannya.
" Dadada Iqbal," sahut semuanya serentak yang juga melambaikan tangan.
__ADS_1
" Ayo sayang duduk lagi," ucap Verro mengajak sang istri kembali ketempatnya.
" Iya sayang, kamu kenapa sih, ketus amat wajahnya," ucap Cherry bertanya tanpa merasa berdosa dia tidak tau saja suaminya seperti itu cemburu.
" Tidak apa-apa, kamu makan saja," sahut Verro tampak tidak bersemangat dan sepertinya Cherry begitu santai dan tetap melanjutkan makannya.
" Kamu ya Sasy, bikin malu aja," sahut Raquel dongkol.
" Ya nggak apa-apa kali, dari pada kosong. Mau datang ke nikahan Vandy tanpa gandengan," sahut Sasy mengedipkan matanya.
" Eh, kalau bukan karena aku. Kamu juga akan jomblo. Ingat siapa yang buat kamu sama Toby jadian," sahut Raquel kesal meminta pamrih.
" Iya deh aku ingat, langsung marah aja. Cantiknya hilang tau. Nanti nggak ada yang mau lagi," sahut Sasy yang terus menggoda Raquel.
" Ishhhh, kamu itu nyebelin banget sih," geram Raquel.
" Sasy, sudahlah kamu jangan buat Raquel marah. Mending kamu makan," sahut Toby.
" Iya," jawab Sasy tersenyum menatap Raquel membuat Raquel kegilauan sendiri sampai menggedikkan bahunya.
*********
Malam hari Azizi berada di kamarnya, sedari tadi Azizi mondar-mandir seperti setrikaan dengan tangannya yang saling bertautan di depannya. Terlihat Azizi tampak begitu gelisah. Entah apa yang di pikirkannya. Yang jelas dia beberapa kali membuang napasnya perlahan kedepan.
" Kenapa aku tidak tenang. Kenapa hari cepat sekali berlalu. Kenapa jadwal pernikahan itu semakin cepat," batin Azizi yang terus merasa gelisah dengan pernikahannya yang tinggal menghitung jam.
ketukan pintu mengangetkannya dan belum menjawab apa-apa. Pintu sudah terbuka dan ternya Lina yang masuk kekamarnya. Memang sejak 2 hari menjelang pernikahan Azizi memang tinggal di rumah Vandy bersama putranya.
Walau seperti itu dia dan Vandy sangat jarang berpapasan bahkan tidak pernah bicara sama sekali. Mungkin karena merasa canggung atau juga mungkin perasaan Azizi belum seutuhnya membuka pintu kesempatan untum Vandy ayah dari anaknya itu.
" Tante," lirih Azizi. Lina tersenyum dan menghampiri Azizi. Lina terlihat membawa kotak persegi yang berukuran sedang.
" Kamu sedang memikirkan apa?" tanya Lina.
" Tidak Tante, tidak apa-apa?" jawab Azizi bohong.
" Kemarilah!" ajak Lina membawa Azizi duduk di sisi ranjang dan Azizi pun mengikut duduk di depan calon mertuanya itu.
" Kenapa Tante Lina kemari apa ada yang ingin di bicarakannya," batin Azizi bingung.
" Apa kamu dek-dekan untuk besok?" tanya Lina memegang pipi Azizi yang tampak dingin.
" Iya Tante, bukannya grogi menjelang pernikahan itu wajar," jawab Azizi. Lina tersenyum mendengarnya.
" Benar sayang, menjelang pernikahan itu wajar jika harus grogi, Tante juga dulu seperti itu. Sangat grogi, tetapi begitu pernikahannya selesai Tante bernapas lega," ucap Lina.
" Tante jelas berbeda denganku. Aku tidak tau setelah pernikahan apa yang harus aku lakukan dengan Vandy. Karena tujuan menikah intinya hanya untuk mendapatkan donor tulang sumsum untuk Iqbal dan apa mungkin setelah menikah aku akan Vandy langsung melakukan hal yang berfokus pada intinya," batin Azizi yang ternyata mengkhawatirkan hal itu.
" Azizi kamu kenapa diam?" tanya Lina. Azizi tersentak kaget mendengar panggilan itu.
__ADS_1
" Hah, tidak Tante. Tidak apa-apa," sahut Azizi gugup.
" Sudahlah kamu jangan grogi terus. Itu tidak ada gunanya. Pernikahan kamu tinggal menunggu hitungan jam. Jadi kamu harus benar-benar siap dan yakin," ucap Lina menjelaskan.
" Iya Tante," sahut Azizi.
" Kamu jangan memikirkan apa-apa lagi ya," ucap Lina.
" Iya Tante," jawab Azizi hanya mengiyakan saja.
" Ya sudah Tante datang kemari ingin memberikan ini untuk kamu," ucap Lina menunjukkan apa yang di bawanya pada Azizi.
" Apa ini Tante?" tanya Azizi heran.
" Hmm, kaku buka saja," sahut Lina tersenyum bahagia dan Azizi pun langsung membukanya dengan perlahan yang ternyata isi kotak persegi itu adalah 1 set perhiasan.
Azizi melebarkan matanya terkejut melihat apa yang ada di dalam kotak itu dan Azizi melihat ke arah Lina.
" Tante, untuk apa ini?" tanya Azizi heran. Lina tersenyum mendengarnya.
" Jelas ini untuk kamu. Ini semuanya untuk kamu," jawab Lina.
" Tapi Tante untuk apa ini dan kenapa harus untuk Azizi?" tanya Azizi yang jelas kaget dengan pemberian Lina.
" Sayang, ini hadiah pernikahan kamu dan Vandy. Maaf Tante hanya bisa memberi ini," sahut Lina dengan merendah diri.
" Tante tapi ini berlebihan. Ini sangat berlebihan Tante dan Azizi rasa ini tidak perlu," sahut Azizi menolak. Karena merasa tidak enak.
" Jangan menolak Azizi. Ini tidak ada apa-apanya. Kamu adalah menantu kami dan tugas mertua adalah untuk membahagiakan menantunya. Jadi kamu tidak boleh menolak," ucap Lina.
" Tapi tetap saja Tante ini sangat berlebihan," sahut Azizi.
" Sayang, terima yah. Ini tidak berlebihan," sahut Lina memaksa.
" Tapi..."
" Sudah, kamu tidak boleh bilang tapi lagi. Sekarang ini jadi milik kamu. Dan kamu harus menjaga dengan baik. Ya sayang," tegas Lina dengan ketulusan hatinya dan Azizi pasti tidak bisa berkata apa-apa lagi. Kalau sudah Lina mengatakan hal itu.
" Wajah kamu jangan murung gitu Azizi. Masa iya di beri hadiah kamu menjadi sedih," ucap Lina memegang pipi Azizi, " Tersenyumlah!" ucap Lina lagi. Azizi mengangguk dan tersenyum tipis.
" Makasih Tante," sahut Azizi.
" Sama-sama sayang," sahut Lina yang langsung memeluk Azizi dengan penuh kasih sayang.
" Ya Allah. Kenapa Tante Lina begitu baik bahkan sangat tulus kepadaku dan juga Iqbal," batin Azizi yang merasa terharu dengan kebaikan Lina.
" Aku berharap, hubungan Vandy dan Azizi bisa selamanya terjalin dengan baik, dan Iqbal segera di angkat penyakitnya," batin Lina yang terus mendoakan yang terbaik untuk Vandy, Azizi dan Iqbal.
Bersambung.
__ADS_1