
" Apa aku yang pertama menciummu?" tanya Verro yang sepertinya ingin memancing Cherry.
" Hmm," sahut Cherry.
" Aku bertanya apa aku laki-laki yang pertama kali menciummu?" tanya Kevin dengan jelas. Cherry mengangguk cepat dengan mudahnya. Melihat anggukan Cherry membuatnya tertawa kecil
" Iya kau pertama melakukannya. Seharusnya jangan bertanya. Pasti kau juga tau jika kau yang pertama," ucap Cherry sedikit kesal merasa di kerjai karena Kevin yang tertawa.
" Aku tidak tau. Lagi pula kenapa aku harus tau," sahut Verro bingung.
" Memang kenyataan. Buktinya kau selalu mengawasiku. Bukannya kau selalu marah jika aku dekat dengan laki-laki lain. Jadi mana mungkin aku pacaran. Kau selalu mengekoriku," oceh Kiara dengan wajahnya yang merengut
" Bahkan saat aku ingin mencari pacar saja. Kau menggangguku, sehingga aku tidak bisa menemukan Pria yang sesuai kteria ku," lanjutnya lagi seakan menyesalkan targetnya yang tidak terjadi.
" Kapan aku melakukannya?" tanya Verro dengan lembut dengan membelai rambut Cherry sebentar.
" Tidak mau mengaku. Kau itu sangat gengsi. Jadi mana mungkin mengakuinya," sahut Cherry kesal, Verro hanya tersenyum dengan wajah Cherry yang menggemaskan.
" Kau mengatakan kau tidak bisa menemukan Pria yang sesuai kteriamu. Itu berarti aku bukan Pria yang sesuai yang kau harapkan," ucap Verro. Cherry langsung melihat wajah Verro yang tampak senduh seperti kecewa.
" Bukan! bukan seperti itu, kapan aku mengatakannya," sahut Cherry dengan cepat.
" Lalu!"
" Maksudku itu dulu. Sekarang kan sudah berbeda. Lagi pula masalah kteria kamu jauh lebih di atasnya. Karena bagiku kamu sangat sempurna," ucap Cherry yang terang-terangan memuji Verro.
" Bukannya kamu mengatakan jika aku Pria pemarah," sahut Verro menyindir dengan senyum.
" Itu juga termasuk kelebihanmu, kemarahan mu untuk kebaikanku dan aku tidak akan mendapatkan Omelan kecuali dari mu. Karena cuma kamu satu-satunya Pria yang mengkhawatirkan ku," jelas Cherry mengungkap kan isi hatinya.
" Benarkah!" tanya Verro. Cherry mengangguk.
" Cherry. Aku memang marah jika kamu dekat dengan Pria lain. Makanya aku selalu mengawasimu," ucap Verro yang akhirnya mengakui apa yang di tebak Cherry.
" Apa tandanya kamu cemburu?" tanya Cherry. Verro menggedikkan bahunya. Membuat Cherry menarik ujung bibirnya kesal kembali dengan Verro yang tidak mengakui hal itu.
" Sudahlah, jangan di bahas lagi. Ayo kita kembali ini sudah larut malam," ucap Verro berdiri sambil membersihkan pantatnya yang kotor karena duduk di tanah.
Cherry juga menyusul Verro berdiri dan melakukan hal yang sama membersihkan pantat yang kotor memukul-mukul dengan telapak tangan.
Verro melihat Cherry dan kembali berjongkok membelakangi Cherry.
" Apa aku akan naik lagi?" tanya Cherry bingung.
" Iya naiklah!" jawab Verro.
" Tapi aku sudah tidak lelah. Aku tidak apa-apa. Jika harus berjalan," ucap Cherry berusaha menolak. Dia tidak ingin Verro lelah karena mengendong nya.
" Tidak apa-apa! naiklah, aku akan menggendong mu sampai tenda," sahut Verro benar-benar yakin.
__ADS_1
Cherry yang benar-benar masih ragu, akhirnya menaiki punggung Verro kembali. Verro pun meletakan tangannya di belakang dan berdiri.
Cherry memiringkan kepalanya. Sehingga pipinya menempel dengan Verro.
" Terima kasih," ucap Cherry berbisik di telinga itu. Verro tersenyum dengan 1 anggukan kepala.
********
Akhirnya Verro dan Cherry jadian di tengah hutan. Sebenarnya pasangan itu sudah lama saling menyukai. Hanya saja pasangan itu tidak mau mengakui perasaan mereka.
Lain dengan Cherry dan Verro yang akhirnya jadian. Tidak dengan Nadya dan Verrell yang berjalan sedari tadi saling berdampingan.
Tetapi hutan yang sunyi menambah kesunyiannya dengan ke-2 manusia itu yang berjalan tanpa suara. Tidak Nadya maupun Varell ke-2 nya diam membisu.
" Varell benar-benar marah kepada ku, dia bahkan tidak bicara denganku," batin Nadya yang menoleh ke arah Varell yang juga sudah mendapatkan bendera.
" Kenapa lama sekali sampainya?" batin Varell yang merasa kurang nyaman dengan Nadya yang bersamanya.
" Apa yang harus aku lakukan. Aku merasa aku serba salah," batin Nadya lagi.
" Auhhh," pekik Nadya berjongkok saat kakinya terpatuk sesuatu. Varell langsung kaget.
" Ada apa Nadya?" tanya Varell bingung. Nadya menggeleng dengan memegang kakinya yang sakit.
Varell pun melihat kaki Nadya yang terlihat seperti Patukan ular. Dugaannya benar saat melihat ular yang menjalar pergi dari mereka.
" Kau tidak apa-apa?" tanya Varell panik. Nadya menggeleng dengan kesakitan dan bibirnya yang pucat juga wajahnya.
" Apa ular itu berbisa," gumam Varell yang seakan tidak bisa melakukan apa-apa saat melihat Nadya kesakitan.
Nadya kebanyakan melamun sampai akhirnya di patuk ular baru sadar.
Varell yang benar-benar panik spontan menundukkan kepalanya ke arah kaki Nadya yang terpatuk ular.
" Kamu mau ngapain?" tanya Nadya dengan suara lemas melihat Varell yang seperti yang seperti ingin melakukan sesuatu pada kakinya.
" Tidak ada pilihan lain, aku akan mengeluarkan racunnya. Jika tidak akan menjalar di tubuhmu," jawab Varell dengan yakin.
Verro kembali menundukkan kepalanya, tetapi Nadya kembali menahannya.
" Itu akan bahaya, jangan lakukan itu," cegah Nadya yang tidak ingin Varell kenapa-napa. Verro melihat wajah Nadya sebentar lalu kembali menunduk.
" Varell," cegah Nadya yang terus komplen Tetapi Varell tidak mempedulikannya dan langsung mengisap racun dari kaki Nadya yang terpatuk ular.
Sementara Nadya yang menahan sakit pada kakinya hanya melihat tindakan bodoh Varell.
" Kenapa dia selalu baik kepadaku," batin Nadya yang galau dengan hatinya. Dia merasa bersalah karena menggantungi Varell. Sementara Varell terus saja baik kepadanya dan membuat hatinya bimbang.
Setelah mengisap racun dari kaki Nadya, Varell langsung memudahkannya.
__ADS_1
" Kamu tidak apa-apa," tanya Nadya panik. Varell menggeleng. Pasal dia merasa ada yang aneh pada tubuhnya.
Varell melihat kaki kiri Nadya masih membiru. Varell berdiri dan pergi mengambil daun tumbuhan yang ada di sekitar mereka.
Nadya hanya melihat apa yang di lakukan Varell. Setelah mengambil beberapa lembar, Varell kembali menghampiri Nadya.
" Untuk apa itu?" tanya Nadya. Varell melihatnya sebentar mata Varell fokus pada kepala Nadya yang terdapat bandana kain yang di pakai Nadya.
Tidak menjawab pertanyaan Nadya. Varell langsung mengambilnya. Lalu Varell yang tidak banyak bicara, langsung mengunyah daun itu dan membuat hasil kunyahannya pada bekas gigitan ular.
Lalu Varell membalut bandana kain itu sebagai alat perekat pada kaki Nadya. Nadya hanya melihat apa yang di lakukan Varell yang pasti kembali membuatnya kagum dengan tindakan spontan itu.
" Aku tidak tau itu ber hasil atau tidak," ucap Varell melihat Nadya, " tetapi aku rasa itu bisa mencegah agar racunnya tidak menjalar ketubuhmu," lanjut Varell dengan bibir bergetar.
" Kenapa melakukan ini?" tanya Nadya melihat Varell dengan dalam.
" Aku hanya tidak ingin kau sampai kenapa-kenapa," jawab Varell.
" Lalu kenapa menyukaiku?" tanya Nadya.
" Kenapa menanyakannya?" tanya Varell tanpa menjawab pertanyaan Nadya.
" Jika begitu kenapa menolakku. Tidak kau belum menolakku. Tetapi memberiku harapan yang aku pikir kau ragu dengan perasaanku," ucap Varell Nadya mengalihkan pandangannya kebawah.
Dia kembali tidak punya jawaban dalam pertanyaan Varell. Karena memang benar. Seharusnya tidak ada alasan untuk menolak atau memberi harapan pada Varell.
Varell mendekatkan dirinya pada Nadya, mengangkat dagu Nadya agar wajah Nadya sejajar dengannya.
Hal itu membuat Nadya harus menatap Varell yang sekarang menatapnya dengan sorot mata banyak pertanyaan.
" Apa benar kau tidak memiliki perasaan kepadaku?" tanya Varell sekali lagi ingin memastikan Nadya.
" Varell, bukan begitu!" sahut Nadya bingung harus mengatakan apa.
" Lalu kenapa kau ragu denganku. Aku menyukaimu Nadya dan aku tidak tau kapan itu terjadi. Aku juga tidak tau kenapa harus kamu? Yanga aku tau, aku selalu ingin melindungimu.
" Aku tidak suka melihatmu di ganggu. Aku selalu ingin menjadi pahlawan untukmu dan aku tidak tau kenapa seperti itu. Aku hanya ingin memiliki hubungan yang jelas dengan mu. Aku ingin kau menjadi pacarku," Varell yang meski kecewa tetap kembali mengutarakan perasaannya.
" Nadya, apa kau menyukai orang lain sampai harus menolakku?" tanya Varell yang tidak ingin itu terjadi.
Varell mengusap pipi Nadya dengan lembut, menatap mata itu dalam-dalam. Jantung Nadya semakin tidak beraturan dengan tatapan Varell yang membuatnya hanyut.
Varell memang mengotak-atik hatinya. Sehingga dia semakin bingung. Pandangan Varell turun pada bibir Nadya yang memucat.
Bersambung...
Jangan lupa mampir ke sini ya. Ditunggu like Coment, Vote nya. Terima kasih.
Hay para readers yang baru bergabung. Bantu support ya novel aku yang baru.
__ADS_1
Tinggalkan jejak. Komentar, like, dan jangan lupa vote sebanyak-banyaknya. Agar aku semakin semangat melanjutkan ceritanya.