
Vandy dan Azizi mengantarkan Iqbal kesekolah. Iqbal memang sering ingin di antarkan oleh mama dan papanya agar terlihat romantis mereka pun mengantarkan Iqbal sampai gerbang dengan tangan Iqbal yang terus memegang tangan mama dan papanya.
" Ya sudah sayang, kamu sana langsung masuk kelas dan ingat rajin-rajin belajar. Jangan malas-malasan," ucap Azizi penuh penegasan pada anaknya.
" Iya mama, mama terus bilang kayak gitu padahalkan Iqbal dengar," ucap Iqbal dengan suara manjanya.
" Siapa taukan Iqbal tidak dengar," sahut Azizi mengusap-usap pucuk kepala anaknya.
" Dengar kok dan juga ingat," sahut Iqbal memastikan. Vandy hanya tersenyum mendengarnya.
" Pak Vandy Bu Azizi!" tegur Silvi. Guru Iqbal yang tiba-tiba menghampiri mereka.
" Bu Silvi," sahut Vandy.
" Saya senang kalau bapak terus mengantarkan Iqbal ke sekolah," ucap Silve dengan tersenyum lebar tampak cengengesan di depan Vandy dan membuat Azizi sedikit heran dengan wanita itu.
" Apa maksudnya kenapa dia mengatakan senang jika Vandy yang datang. Lalu dia tidak menyebut namaku," batin Azizi dengan dahinya mengkerut.
" Ya sebagai orang tua, bukannya itu adalah ke wajiban," ucap Vandy tersenyum.
" Ya Pak Vandy memang ayah idaman," sahut Silve yang tampak cari perhatian dan membuat Azizi terlihat tidak suka.
" Ehemmm," Azizi berdehem. Dan membuat Silve baru melihat Azizi.
" Bukannya murid-murid harus masuk kelas ya," ucap Azizi dengan tersenyum palsu.
" Oh, iya benar Bu, soalnya keasyikan ngobrol," sahut Silve.
" Ya sudah sana," sahut Azizi tampak kesal. Namun Vandy bisa menangkap exsperesi Azizi yang sangat berbeda yang tidak biasanya membuat Vandy tersenyum miring.
" Iya, ayo Iqbal," ucap Silve. Iqbal mengangguk.
" Hmmm, oh iya pak Vandy," ucap Silvi yang tidak jadi pergi dan membuat Azizi semakin kesal.
" Iya ada apa lagi?" tanya Vandy heran.
" Hmmm, boleh saya minta nomo, telpon bapak. Kalau ada apa-apa sama Iqbal saya bisa hubungi bapak," ucap Silvi yang membuat Azizi kesal dengan apa yang di lihatnya dan berani-beraninya guru anaknya itu sekarang meminta nomor Vandy.
" Hmmm, jelas boleh-boleh," sahut Vandy yang tampaknya sengaja untuk memanas-manasi Azizi yang dia tau Azizi begitu kesal dan Vandy malah terlihat dekat dengan wanita itu hanya perkara no telpon saja membuat Azizi cemburu.
" Save ya," ucap Vandy. Silve tersenyum mengangguk.
__ADS_1
" Makasih, ya pak," sahut Silvi. Vandy mengangguk. Namun wajah Azizi sudah sangat cemberut.
" Hmmm, ayo Iqbal kita masuk kekelas," ajak Silvi.
" Iya Bu guru!" sahut Iqbal, " Mama, Papa," Iqbal pergi dulu ya," ucap Iqbal pamitan degan orang tuanya.
" Iya sayang hati-hati, sana masuk kelas," sahut Azizi. Iqbal mengangguk dan melambaikan tangan pada orang tuanya Azizi membalasnya. Tetapi Silvi malah sibuk tersenyum pada Vandy.
" Ishhhh, dasar mata jelalatan," ucap Azizi pelan dengan kesal.
" Kamu bilang apa?" tanya Vandy yang samar-samar mendengarnya.
" Tidak apa-apa," sahut Azizi yang langsung pergi.
" Azizi, tunggu!" panggil Vandy namun Azizi tidak perduli.
" Hmmm, sepertinya dia sedang di landa api-api cemburu," batin Vandy yang tampak kepedean.
" Azizi, tunggu aku!" panggil Vandy lagi yang mengejar Azizi.
************
Verro bersama Azizi mendatangi Yayasan kanker, untuk penyuluhan rutin Verro untuk semua pasien yang ada di sana. Pasangan itu turun dari mobil dengan saling melihat tersenyum dan tangan saling menggenggam.
" Kenapa mereka tampak sangat dekat. Seharusnya Cherry menjauh dari Verro. Karena apa yang aku katakan kemarin," batin Fiona yang terlihat panik dan gelisah melihat kebahagian orang lain.
" Tidak, ini tidak bisa di biarkan. Aku sudah melangkah sejauh ini. Verro akan jadi milikku aku akan buat Verro lebih memperdulikan ku dari pada Cherry," batin Fiona mengepal tangannya dengan penuh rencana untuk pasangan suami istri yang saling berbahagia itu.
Verro dan Cherry pun akhirnya kembali melanjutkan langkah mereka. Di mana Verro sudah menjalankan tugasnya memberi penyuluhan pada anak-anak di sana.
Mereka berdua juga sudah melakukan banyak kegiatan di sana. Dan sekarang mereka sedang duduk di atas rumput beralaskan tikar kecil.
" Nih kamu minum dulu!" ucap Cherry memberikan Verro air putih.
" Makasih sayang," sahut Verro tersenyum. Cherry mengangguk dan mengambil tisu melap keringat Verro.
" Aku jadi ingin jadi suster," ucap Cherry.
" Kenapa?" tanya Verro heran.
" Supaya aku bisa terus melap keringatmu saat di ruang operasi," ucap Cherry.
__ADS_1
" Kamu ini ada-ada saja," sahut Verro geleng-geleng. Di tengah becandaan mereka tiba-tiba Fiona datang dengan wajah lemasnya.
" Fiona," ucap Verro yang melihat Fiona berada di belakang Cherry dan Cherry langsung berbalik dan melihat Fiona.
" Ada apa?" tanya Verro.
" Tidak, untung saja kamu datang, aku tiba-tiba pusing dan sedari tadi aku tidak bisa makan dan malah muntah-muntah, dan darah keluar," ucap Fiona mengeluhkan keadaanya.
" Kalau begitu ayo kami antar ke rumah sakit," ucap Cherry yang jika mendengar hal itu dia juga panik.
" Aku tidak tahan Cherry berada di rumah sakit. Lagian Verro adalah Dokter. Bukannya dia bisa memberiku saran," ucap Fiona dengan wajah lemasnya.
" Dia selalu ingin Verro yang menanganinya. Aku harus mencari Dokter lain untuknya," ucap Cherry yang seketika was-was.
Uhuk-uhuk-uhuk-uhuk. Fiona tiba-tiba batuk dengan menutup mulutnya dan memijat kepalanya. Fiona juga tampak ingin menjatuhkan diri. Namun Verro melihat ke adaan itu langsung sigap dan langsung berdiri menahan tubuh Fiona dan Cherry pun ikut berdiri.
" Kamu tidak apa-apa?" tanya Verro.
" Aku lemas Verro," sahut Fiona.
" Ya sudah kamu istirahat saja sebaiknya," sahut Cherry.
" Iya Cherry," sahut Fiona. " Verro bisa tolong bantu aku. Aku tidak bisa berjalan," ucap Fiona. Dan Cherry mendengarnya kaget. Verro juga melihat Cherry dan pasti dia tidak mungkin menggendong Fiona di depan istrinya.
" Aku akan ikut membantumu," sahut Cherry yang mencari jalan tengah untuk mengurangi rasa cemburunya.
" Tidak Cherry, kamu sedang hamil ini berbahaya untuk kandungan kamu," ucap Fiona yang ada saja alasannya agar bisa di gendong Verro.
Cherry terdiam dan tidak tau harus melakukan apa-apa. Dia tau dia hamil dan tidak mungkin bisa membantu Fiona. Tetapi hatinya pasti panas kalau melihat suaminya menggendong Fiona lagi di depannya.
" Ayo Verro aku sudah sangat lemas," ucap Fiona memaksa.
" Pak, bawa kemari!" tiba-tiba terdengar suara Sasy dan membuat mereka melihat kearah suara tersebut di mana ada Sasy, Raquel dan 4 orang Pria yang sepertinya orang-orang yang ada di Yayasan yang membawa tempat tidur dorong yang menghampiri Cherry dan membuat mereka bingung.
" Sasy, Raquel, ngapain mereka ada di sini," batin Fiona dengan perasaannya kebingungan.
" Kamu mau kekamrahan?" tanya Sasy.
" Iya," jawab Fiona.
" Ayo naik kemari, kamu rebahan biar bapak-bapak ini mengangkat kamu," ucap Sasy dengan santai.
__ADS_1
Fiona langsung kaget mendengarnya. Dia tidak percaya. Kalau Sasy dan Raquel datang untuk menggagalkan rencananya.
Bersambung