
Cherry yang di jemput papanya terus tersenyum di dalam mobil di jok belakang. Cherry terus memeluk lengan sang papa dengan kepalanya yang bersandar di bahu papanya ber manja dengan papanya.
Laskarta tersenyum, mengusap-usap pucuk kepala putrinya sesekali menciumnya. Dia memang harus menghabiskan banyak waktu untuk putrinya. Ini juga permintaan Puttrinya.
" Kita mau kemana sayang?" tanya Laskarta.
" Pertama kita harus tempat mama. Cherry kangen sama mama dan Cherry pengen ngobrol dengan mama," jawab Cherry melihat papanya.
" Baik sayang," sahut Laskarta tersenyum tanpa menolak permintaan putrinya.
" Pak, kita ke pemakaman ya! perintah Laskarta pada supirnya.
" Baik Pak," jawab supir.
" Papa memang tidak sibukkan hari ini?" tanya Cherry.
" Tidak sayang papa tidak sibuk, jadi kamu jangan khawatir," jawab Laskarta.
" Makasih pa," sahut Cherry yang terus memeluk erat.
" Aku sangat merindukan mama. Dan mungkin Tuhan sudah mengabulkan doaku. Kalau aku ingin bertemu mama. Walau bertemu mama akan kehilangan papa dan Verro," batin Cherry dengan matanya yang berkaca-kaca.
Tidak berapa lama akhirnya mobil Laskarta sampai di pemakaman elit. Di mana istrinya di makamkan. Supir membukakan pintu mobil untuk Cherry dan Laskarta.
" Pak beli kembang ya, tadi lupa beli!" suruh Laskarta pada supirnya.
" Baik pak," jawab supir langsung pergi.
" Sayang kamu tunggu sini ya papa mau ketoilet sebentar," ucap Laskarta.
" Iya pa," jawab Cherry mengangguk. Laskarta pun pergi.
" Verro sudah pulang belum ya," gumam Cherry kepikiran Verro.
Cherry mengambil ponselnya ingin menanyakan kekasihnya apa sudah pulang atau belum. Baru ingin mengetik pesan tiba-tiba dada Cherry mendadak sakit. Jantungnya sepertinya kumat.
__ADS_1
" Ahhhh," lirih Cherry saat meremas dadanya.
ting- ting-ting-ting. Alarm Cherry berbunyi. Jantungnya benar-benar kumat mendadak.
" Ahhhhh, Ahhhhh, sakit," napas Cherry mulai sesak. Cherry berusaha kuat. Cherry melihat papanya berjalan ke arahnya. Mata Cherry melihat ke arah pergelangan tangannya. Alarm jamnya terus berdering.
Cherry langsung membuka Alarm itu dan membuang asal kedalam mobil. Dia tidak ingin sang papa tau kalau jantungnya sedang kumat. Dia tidak ingin jantung itu merusak momennya bersama papanya.
Ketika papanya semakin dekat Cherry buru-buru melap keringatnya yang di dahinya. Dia tidak ingin papanya mencurigainya bahwa dia sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja.
" Pa," ucap Cherry tersenyum menahan rasa sakit di dadanya.
" Maaf sudah menunggu lama," sahut Laskarta merasa tidak enak.
" Tidak apa-apa pa," jawab Cherry.
" Ya sudah ayo," ajak Laskarta. Cherry mengangguk lalu menggandeng papanya menuju tempat mamanya.
Cherry dan Laskarta sudah berada di pemakaman. Mereka berjongkok di samping makam sang istri.
" Cherry datang sama papa. Mama kangen tidak sama Cherry dan papa. Kalau Cherry sangat merindukan mama. Oh iya ma. Sebentar lagi Cherry akan ketemu mama," ucap Cherry. Laskarta yang mendengarnya mengusap bahu putrinya. Dia juga punya firasat buruk terhadap putrinya. Sebagai seorang ayah dia juga harus berpura-pura kuat seperti sekarang ini menahan air mata itu agar tidak jatuh.
" Mama benar mama itu tidak ninggalin Cherry dan juga papa. Cherry juga kayak gitu. Cherry nggak pernah ninggalin papa," ucap Cherry melihat papanya yang tersenyum kepadanya.
" Pa mama bilang. Mama rindu sama Cherry dan ingin Cherry bersamanya. Mama juga menyampaikan. Kalau nanti mama sudah bawa Cherry. Bukan berarti Cherry dan mama tidak sayang papa. Cherry dan mama sayang sama papa. Kita akan tetap ada di hati papa. Jadi mama bilang papa tidak boleh sedih. Papa harus tetap seperti biasa. Bekerja dengan sibuk. Makan dengan lahap. Main golf bersama Verro. Pokoknya papa harus tetap seperti biasa. Mama bilang gitu sama Cherry," ucap Cherry yang akhirnya mengeluarkan air mata.
Selain takut meninggalkan papanya. Dia juga menahan sakit di dadanya. Karena tubuhnya yang semakin lemas.
" Papa mau melakukannya?" tanya Cherry memastikan.
" Iya sayang papa akan ingat apa kata kamu dan mama kamu. Kalian memang tidak akan pernah meninggalkan papa. Tidak akan sayang," jawab Laskarta tersenyum memegang pucuk kepala Cherry. Mata Cherry kembali melihat ke mesan mamanya.
" Mama dengarkan papa sudah bilang iya," ucap Cherry tersenyum dengan air matanya mengalir.
" Mama Cherry mungkin sudah waktunya ikut bersama mama. Cherry sudah tidak kuat dengan sakit ini. Tetapi Cherry masih ingin sebentar saja menghabiskan waktu bersama papa," batin Cherry yang terus menatap mesan itu.
__ADS_1
" Jika putri kita harus menyusulmu. Aku ikhlas seperti kamu yang dulu pergi terlebih dahulu. Maafkan aku jika aku sangat egois selama ini. Aku menurutinya untuk tidak operasi dan membiarkannya merasa sakit. Karena aku takut kehilangannya. Sama seperti mu. Aku sudah menjaganya selama 9 tahun tanpa kamu. Dan jika memang kamu ingin melanjutkan untuk menjaganya. Aku ikhlas. Asal kamu dan anak kita bahagia di sana,"
" Aku di sini tidak apa-apa. Aku akan tetap hidup. Aku akan melanjutkan hidupku dengan kamu dan Cherry yang tetap di hati ku. Jadi jangan khawatir aku tidak akan menahan Cherry lagi bersama ku. Kamu bisa sekarang bersama Putri kita," Laskarta berbicara di dalam hatinya dengan ALM istrinya dengan air matanya yang mengalir deras di pipinya.
Dia benar-benar ikhlas jika akhirnya Tuhan mengambil nyawa Cherry. Dia tidak ingin Cherry merasakan sakit lagi. Dia ikhlas dengan semuanya. Sama seperti dulu dia ikhlas kehilangan istrinya.
Laskarta juga berjuang mati-matian agar istrinya sembuh. Perbedaannya istrinya mau melakukan pengobatan apapun dan terus berobat ke Luar Negri.
Pada akhirnya sang istri harus menyerah dengan kondisinya. Begitu juga Laskarta yang pada akhirnya menyerahkan pada takdir dan butuh waktu lama untuk ikhlas. Tetapi Cherry membuatnya bertahan.
Laskarta ikhlas menerima semuanya. beberapa bulan kepergian istrinya. Laskarta kembali di timpa musibah dengan memvonis Cherry mengalami jantung yang rusak.
Trauma Cherry yang melihat mamanya meninggal di meja operasi. Membuatnya tidak mau melakukan operasi karena tidak mau meninggalkan sang papa.
Dan itu sampai Cherry berusia 17 tahun. Dan Cherry baru mau melakukan itu setelah kondisinya yang benar-benar drop. Laskarta juga pada akhirnya harus menerima kembali takdir dari Tuhan. Yang akan kehilangan istrinya.
Cherry menghadap papanya, mengusap air mata papanya dengan ke-2 tangannya.
" Jangan menangis pa, mama akan sedih," ucap Cherry tersenyum.
" Iya sayang, kamu juga jangan menangis," sahut Laskarta tersenyum.
" Ya sudah ayo kita pergi!" ajak Cherry. Laskarta menganggukkan kepalanya.
" Ma, Cherry sama papa pergi dulu ya," ucap Cherry berpamitan. Cherry tersenyum memeluk mesan itu. Lalu berdiri.
Laskarta juga melakukan hal yang sama seperti Cherry. Lalu berdiri di samping Cherry. Mereka berdua melambaikan tangan kepada makam itu. Lalu pergi dengan bergandengan tangan.
" Kita mau kemana lagi?" tanya Laskarta sambil berjalan
" Cherry mau makan. Perut Cherry lapar," jawab Cherry.
" Baik, sayang," jawab Laskarta.
Bersambung.....
__ADS_1
Jangan lupa Vote, like, Coment dan follow saya. Baca juga novel-novel aku yang lain. Terimakasih para readers.