
" Kamu kenapa diam. Bukannya tadi kamu bilang kamu lemah, ayo berbaring di sini biar para perawat itu membawa kamu masuk kedalam," ucap Sasy tampak ketus.
" Sial, mereka ber-2 benar-benar membuat rencanaku berantakan," batin Fiona.
" Fiona, apa perlu mereka menggendong kamu untuk kekamarmu," sahut Raquel dengan lembut.
" Tidak perlu," sahut Fiona masih dengan suara lemasnya berbicara.
" Ya sudah kalau tidak perlu ayo berbaringlah," ucap Sasy, menekankan.
" Fiona, kamu harus istirahat, jadi biarkan mereka membawa kamu," sahut Verro.
" Tapi tidak perlu ramai-ramai Verro. Apa lagi harus memakai alat seperti itu. Aku tidak sekarat Verro," ucap Fiona dengan wajah ingin di kasihani.
" Kalau kamu tidak mau memakai alat ini. Itu berarti kamu bisa pergi sendiri," sahut Raquel.
" Tapi aku sangat lemah berjalan," ucap Fiona yang masih berpura-pura lemah agar di kasihani.
" Lalu kamu ingin Verro menggendongmu," sahut Sasy ketus dan Verro, Cherry sama-sama melihat Fiona. " Fiona kamu sadar tidak Verro ada istrinya di depanmu. Dan kamu mengharap Pria beristri untuk menggendong. Apa kamu tidak punya pikiran," geram Sasy menekan suaranya.
" Aku tidak bermaksud seperti itu. Kalian jangan salah paham dulu," sahut Fiona mencari pembelaan.
" Dia tidak bermaksud. Tetapi dia mengatakan sendiri kepadaku jika dia mencintai Verro, apa yang sebenarnya yang ada di dalam pikiran kamu Fiona. Kamu sakit Farah. Tetapi kamu memaksakan sesuatu yang tidak mungkin kamu dapatkan. Aku tau kamu banyak keinginan di masa-masa terakhir. Tapi tidak mungkin untuk Verro Fiona. Verro suamiku," batin Cherry yang sangat bingung dengan sikap Fiona.
" Kalau kamu tidak bermaksud seperti. Lalu kenapa kamu tiba-tiba harus minta Verro untuk menggendongmu," sahut Sasy.
" Apa aku ada memintanya," sahut Fiona.
" Sudah-sudah, jangan ribut di sini," sahut Verro yang mencoba mencegah keributan.
" Fiona, kamu harus istrirahat dan biarkan mereka membawamu. Kamu tinggal naik dan mereka akan mengantarkan mu sampai kekamar mu dari pada kamu lama-lama di sini. Kondisi mu akan semakin buruk," ucap Verro menegaskan.
__ADS_1
" Baiklah! jika itu yang kalian mau, mungkin kalian tidak mengerti perasaan ku dan hanya menganggapku sekarat. Tidak apa-apa aku akan di bawa mereka layaknya orang yang sekarat," sahut Fiona dengan wajah tampak sedih yang ingin di kasihani. Namun Sasy dan Raquel semakin geram melihatnya dan ingin melempar Fiona secepatnya.
" Buruan nggak usah drama, lihat anak kecil aja bisa dorong sendiri kursi rodanya. Dia juga sakit kali," sahut Raquel sinis.
Fiona pun dengan terpaksa meniduri tempat tidur itu, agar tidak ada yang mencurigainya. Sasy dan Raquel tersenyum puas melihatnya. Bahkan ingin tertawa terbahak-bahak. Jika saja tidak ada Cherry dan Varell mereka pasti sudah tertawa terbahak-bahak.
" Verro!" panggil Fiona lagi yang ada-ada saja ulahnya.
" Apa lagi sih nih anak," geram Raquel di dalam hatinya.
" Ada apa?" tanya Verro.
" Kamu ikutlah kekamarku, aku membutuhkan bantuan mu untuk memberikan ku obat," ucap Fiona yang masih sempat-sempatnya meminta bantuan Verro lagi. Dan Verro melihat Cherry dan Cherry tampak gelisah. Yang pasti jika di tanya dia tidak akan mau memberi izin.
" Nih, anak Benar-benar banyak maunya. Cari kesempatan mulu," batin Raquel geram dengan ulah Fiona.
" Ya sudah, kami akan menemani kamu, ayo!" sahut Sasy yang lagi-lagi mengambil tindakan.
Cherry tampak lega dengan tindakan Sasy yang ingin ikut ambil alih.
" Ayo kita kekamarnya, untuk memberinya obat," ucap Raquel. Yang lainnya mengangguk dan akhirnya pergi bersama-sama kekamar Fiona
Tidak lama akhirnya mereka sampai di kamar Fiona. Kamar itu tidak terlalu besar dan tidak kecil juga. Cherry, Raquel dan Fiona berdiri di depan pintu dan Verro duduk di pinggir ranjang memberikan Fiona obat. Sementara 4 perawat tadi sudah keluar.
" Ini yang harus kamu minum," ucap Verro.
" Makasih ya, kamu sudah membantuku," ucap Fiona Verro menganggukkan matanya.
Uhuk-uhuk-uhuk-uhuk. Raquel langsung batuk-batuk. Dan Verro langsung memberinya air putih dan yang benar saja. Fiona masih bisa mengambil kesempatan dengan memegang tangan Verro yang memegang gelas dan minum dengan tangan mereka yang saling menumpuk.
Hal itu jelas membuat, Raquel, Fiona geram dan ingin buru-buru mengepal tangan itu yang ingin langsung menjambak Fiona. Sementara Cherry yang pasti cemburu seolah tidak tidak ingin melihatnya.
__ADS_1
" Makasih ya Verro," ucap Fiona. Verro hanya mengangguk dan langsung berdiri.
" Kami pergi dulu, kamu istirahatlah," ucap Verro. Fiona mengangguk.
" Kenapa obatnya tidak di minum. Kenapa hanya harus di taruh di tangan," sahut Raquel membuat Fiona kaget dan wajahnya panik seketika
" Tidak apa-apa," sahut Fiona dengan gugup.
" Kalau gitu di minum dong," sahut Sasy yang merasa ada yang tidak beres.
" Iya aku akan minumnya, kalian pergilah, bukannya kalian tidak suka melihatku," sahut Fiona.
" Yang disuruh lain yang di katakan lain. Kamu bukannya harus meminum obatnya. Apa gunanya kamu pergi kalau kamu belum meminum obatnya. Bukannya tujuannya sebenarnya kami datang kemari untuk obat ya," ucap Raquel.
" Sial, kenapa mereka malah memojokkan ku. Aku mana mungkin meminum obat ini," batin Fiona yang sudah keringat dingin.
" Fiona, minumlah obatnya agar kamu cepat sembuh," sahut Cherry dengan lembut.
Fiona mengangguk, dengan terpaksa dia memasukkan beberapa jenis obat itu kemulutnya agar tidak ada yang mencurigainya.
" Ya sudah ayo kita pergi," sahut Raquel yang lainnya mengangguk dan mereka langsung pergi.
Setelah mereka pergi. Fiona langsung menutup pintu dan langsung memuntahkan apa yang hampir telannya dan obat-obatan itu berjatuhan kelantai.
" Hampir saja, aku menelannya," ucapnya dengan penuh kemarahan.
" Mereka ber-2 benar-benar menjadi pengacau. Kamu Sasy kamu sangat sibuk mengurusi hubungan ku dengan Verro. Kamu lihat saja aku membuat perhitungan padamu. Aku akan membalas perbuatan mu," batin Fiona mengepal tangannya yang menyimpan dendam pada orang-orang yang berani ikut campur dengannya.
" Aku tidak akan membiarkan orang-orang itu mencurigaiku. Aku harus memikirkan cara lain. Tadi memastikan ku meminum obat dan bisa saja nanti Raquel atau Sasy akan memaksaku untuk periksa. Aku masih bisa mengelabui Verro dengan kata-kata sehingga Verro kasihan dengan ku. Tapi mereka ber-2 tampaknya tidak akan ada kaaih-kasihannya dan mungkin akan berbuat semaunya nanti," ucap Fiona yang tampak frustasi dengan beberapa kali mengusap kasar wajahnya yang tampak panik.
" Aku harus memikirkan cara, aku harus mendapatkan Verro secepatnya. Harus," ucapnya dengan tekat yang bulat yang benar-benar gila karena sangat mencintai Verro dan membuatnya gelap mata. Bahkan ingin merebut Verro yang sudah beristri.
__ADS_1
Namnya juga cinta buta. Akan melakukan segala cara tanpa memikirkan orang lain. Apa lagi Cherry yang tampak baik Hati dan Fiona tega menyakitinya.
Bersambung