
Cherry yang berada di dalam pelukan Sasy juga meneteskan air mata. Dia baru menyadari jika perbuatannya membuat orang-orang khawatir kepadanya.
" Aku takut kau sampai kenapa-kenapa, kau tidak memikirkan perasaanku" ucap Sasy yang terus menangis.
" Hmmm maaf Sasy membuatmu khawatir, aku janji tidak akan seperti itu lagi," sahut Cherry mengusap-usap pundak Sasy yang terus merengek di pelukannya.
" Sasy, bantu tarik Verro," teriak Azizi. Sasy dan Cherry melepas pelukan dan ikut membantu.
" Iya," sahut Sasy.
Sasy dan Cherry sama-sama telungkup dan menjulurkan tangan. Verro meraih tangan Sasy. Dan ditarik Sasy dan Cherry secara bersamaan sampai akhirnya Verro naik, dan langsung merebahkan dirinya dengan napasnya yang tersenggal-senggal.
Cherry langsung mendekati Verro dan melihat ke adaan Verro duduk di samping Verro.
" Kau tidak apa-apa?" tanya Cherry panik. Verro melihat Cherry dan menggeleng pelan.
" Syukurlah, aku akan bantu yang lain," ucap Cherry ingin pergi. Tetapi tangannya di cegah Verro.
" Mereka bisa sendiri, kau sangat lelah, jadi di sinilah, biar mereka naik sendiri," lirih Verro.
" Tapi!" bantah Cherry.
Verro menganggukkan matanya dan Cherry langsung menurut merebahkan diri di samping Verro melihat langit yang gelap. Sasy menarik Toby sampai Keatas.
" Buat susah aja, tarik tuh mereka," oceh Sasy yang tidak mau lagi dan rebahan di samping Cherry.
" Ishhh," desis Toby.
Sebenarnya sudah tidak perlu di tarik. Mereka sudah bisa naik sendiri. Akhirnya Meraka mengikuti Verro, Sasy, dan Cherry yang rebahan.
Toby merebahkan di samping Sasy dan Vandy merebahkan diri di samping Verro dengan Azizi di sampingnya. Varell di samping Toby dengan Nadya di sampingnya dan Aldo di samping Nadya.
Mata mereka sama-sama menatap langit yang mendung bahkan bulan sudah tidak terlihat lagi tertutup awan gelap. Napas mereka bahkan masih tersenggal-senggal.
" Terima kasih untuk semuanya, sudah mencari ku, maaf aku sudah merepotkan kalian, aku janji tidak akan melakukan itu lagi," ucap Cherry merasa bersalah dengan penuh penyesalan.
" Tidak perlu mengucapkan terima kasih memang itu sudah kewajiban kami," sahut Aldo.
" Ini semua gara-gara wanita penjilat itu," celetuk Sasy masih menyimpan kemarahan pada Fiona.
" Benar, mulutnya sangat tajam," sahut Azizi.
" Sudahlah, lupakan, sebenarnya yang di katakannya tidak salah, itu benar," sahut Cherry
" Tapi dia itu sok tau Cherry, tetap aja dia tidak bisa berbicara seperti itu yang bisa merusak mental orang," geram Sasy hanya menambah emosi jika terus membicarakan Fiona.
" Sasy, sudah ya jangan membahasnya, aku sungguh tidak apa-apa," ucap Cherry.
" Benar kata Cherry, yang penting kita sudah tau bagaimana Fiona sebenarnya," sahut Vandy.
" Oke, aku akan terus mengawasi wanita itu," sahut Sasy masih kesal.
" Tapi kau tidak apa-apa kan Cherry?" tanya Nadya tetap fokus melihat ke atas langit.
" Tidak aku tidak apa-apa, tetapi Verro sepertinya yang terluka parah," jawab Cherry menoleh ke arah Verro.
" Kau terluka Verro?" tanya Varell.
" Hmmm, bagaimana tidak aku dipukuli tanpa ampun," sahut Verro menyindir Vandy yang berada di sampingnya. Vandy menoleh ke arah Verro, dia merasa tersindir dengan kata-kata Verro.
" Maaf, aku tidak bermaksud, aku hanya terbawa emosi," ucap Vandy dengan mudahnya minta maaf. Verro diam tanpa mengeluarkan suara. Memang itu salahnya makanya Vandy sampai menukulnya.
" Verro Vandy minta maaf," ucap Cherry melihat ke arah Verro yang tampak cuek.
" Tidak perlu aku yang minta maaf, karena berpikir yang aneh-aneh kepadamu, aku yang salah," sahut Verro yang justru mengakui kesalahannya.
__ADS_1
Membuat semuanya tersenyum dengan kebesaran hati Verro yang mengakui kesalahannya.
" Hmmm, aku tau mungkin sikapku berlebihan terhadap Cherry, aku tidak memikirkan perasaanmu sehingga kau salah paham. Dan membuat mu cemburu berlebihan," sahut Vandy.
" Siapa yang cemburu," sangga Verro tidak mengakui.
Membuat, Varell, Nadya, Sasy, Toby, Azizi, mendengus tersenyum, melihat Verro masih aja gengsian.
" Sudah lah, Verro akui saja kalau kau memang cemburu," sahut Sasy.
" Benar, lagian kalau tidak cemburu apa namanya, marah-marah tidak jelas. Kau juga dulu mencumburi Aldo," sambung Toby yang ikut-ikutan dan malah melempar ke Aldo.
" Kenapa aku?" sahut Aldo.
" Memang kenyataan kedekatanmu dengan Cherry membuat Verro cemburu," jelas Toby.
" Kapan aku bilang," sahut Verro yang terus menyanggah.
" Verro memiliki tingkat gengsi terlalu tinggi sih, makanya tidak mengakui," sahut Azizi.
" Benar, selalu mengelak," sambung Sasy lagi.
" Apa sih kalian," sahut Verro kesal mendengar godaan teman-teman yang membuat telinganya panas.
Sementara Cherry tertawa kecil menikmati wajah Verro yang memerah. Tentu tawanya mengundang Verro untuk menoleh ke arahnya.
" Apa ada yang lucu?" tanya Verro ketus.
Cherry menggeleng cepat menahan tawanya. Namun Verro malah menyembunyikan senyumnya.
" Benarkah selama ini dia cemburu kepadaku," batin Cherry masih dengan senyumnya.
" Ya sudah, ayo kita kembali, lukamu juga harus di obati," ucap Varell.
" Tunggu deh!" sahut Toby dengan serius matanya fokus ke langit.
" Sepertinya ada sesuatu," sahut Toby dengan nadanya benar-benar serius membuat semuanya menoleh ke arahnya.
" Jangan becanda apaan sih," sahut Sasy kesal menggoyang lengan Toby. Sasy mulai merasa merinding.
" Kalian lihat ke atas deh!" suruh Toby. Dengan pelan kepala manusia itu serentak melihat ke atas langit.
" Ada apa?" tanya Aldo yang tidak melihat apa-apa.
" Terjadi sesuatu," sahut Toby membuat penasaran.
" Serius Toby, apaan, apa kamu melihat sesuatu yang aneh gitu?" tanya Azizi. Toby mengangguk.
" Apa," sahut Varell lama-lama kesal.
" 1, 2," Toby malah berhitung.
" 3, Byurrrr," saat hitungan ke-3 hujan langsung deras langsung turun.
" Toby," pekik mereka dengan serentak kesal dengan Toby.
Bagaimana tidak mereka sudah serius dan berpikir yang aneh-aneh tapi ternyata hujan yang di maksud Toby.
" Ishhhh," Sasy langsung mencubit lengan Toby, " dasar nyebelin, ayo buruan pergi," ajak Sasy masih kesal dengan Toby.
" Sudah tanggung basah, kita tunggu aja reda, lagi pula masih capek," sahut Vandy.
" Iya sih, seru juga mandi hujan," sahut Varell.
" Kamu belum pernah mandi hujan?" tanya Nadya. Varell menggeleng.
__ADS_1
" Ini yang pertama, tidur di guyur hujan dan rasanya sangat indah," jawab Varell menengok ke arah Nadya dan Nadya juga melakukan hal yang sama.
" Kamu benar sangat indah," sahut Nadya menatap Varell tanpa berkedip.
" Dan itu semua karena ada kamu di sampingku, pertama kali aku merasakan hal yang berbeda dan merasakan kebahagian yang sederhana tapi tidak mungkin di lupakan," ucap Varell dengan lembut menatap dalam-dalam Nadya.
Nadya merespon dengan senyuman walau dia bingung dengan kata-kata Varell yang tidak bisa diresponnya.
" Apa kamu bahagia?" tanya Varell. Nadya menganggukan kepalanya. Varell tersenyum.
" Nadya," tegur Varell.
" Hmmm," jawab Nadya.
" Aku menyukaimu," ucap Varell tiba-tiba menyatakan perasaannya. Sontak membuat Nadya kaget.
Varell menembaknya di hutan di bawah air hujan dengan kata simpel dan pelan yang hanya dia yang dapat mendengarnya. Meski ada yang lain yang berbaring berbaris. Tetapi mereka tidak dapat mendengar pembicaraan Nadya dan Varell.
" Kenapa kamu diam, apa aku salah menyukaimu, aku ingin kamu menjadi pacarku," lanjut Varell melihat wajah schok Nadya.
" Kenapa harus aku?" tanya Nadya.
" Kerena memang harus kamu, kamu maukan jadi pacarku?" tanya Varell menunggu jawaban Nadya. Sementara Nadya masih bingung harus menjawab apa.
Nadya sebelumnya tidak pernah pacaran. Tetapi bukan itu yang menjadi masalahnya. Nadya juga tidak percaya diri menjadi pacar Varell. Varell dan dia sangat berbeda bagai langit dan bumi.
" Nadya, apa kamu tidak mendengarku," ucap Varell masih setia menunggu jawaban Nadya.
" Varell aku tidak tau harus menjawab apa, aku butuh waktu untuk itu dan momen ini tidak tepat untuk menjelaskannya," sahut Nadya dengan kebingungan.
" Varell bukannya kamu bilang, ini hari paling bahagia kamu. Jadi aku tidak ingin merusaknya," lanjut Nadya menatap ke-2 bola mata Varell yang terlihat jelas kekecewaan.
" Kapan kamu akan menjawabnya?" tanya Varell meminta kepastian.
" Aku akan menjawabnya jika sudah waktunya," jawab Nadya yang tidak bisa memberi kepastian. Varell mengangguk-angguk dengan penuh kekecewaan.
" Baiklah aku akan menunggunya," sahut Varell meluruskan kepalanya kembali menatap langit yang bercucuran air hujan.
" Maaf Varell sudah membuatmu kecewa. Aku merasa tidak cocok untukmu, kita sangat berbeda," batin Nadya yang masih setia melihat wajah Varell yang tampak sendu.
Varell bahkan meletakkan lengan tangannya di matanya dan memejamkan matanya.
Sementara di sisi lain Verro dan Cherry masih fokus melihat keatas langit. Kedinginan pasti. Tetapi kebersamaan membuat rasa dingin hilang. Verro menoleh kearah Cherry sebentar dan kembali melihat ke langit.
Tangan Verro bergerak mendekati tangan Cherry yang lurus dengan tubuhnya. Verro meraihnya dan menggenggam erat. Sontak hal itu membuat Cherry kaget dan menoleh ke arah Verro.
Verro malah memejamkan matanya seperti tidak terjadi apa-apa. Cherry tersenyum melihatnya dan malah mempererat genggaman tangan itu. Hal itu di rasakan Verro sehingga Verro tersenyum.
Mereka masih setia rebahan dengan berbaris, diguyur air hujan tanpa mencari tempat berteduh. Percuma mau di mana juga. Toh mereka sudah basah juga.
Jadi mereka tetap setia pada apa yang mereka lakukan.
Sementara di perkemahan. Raquel berada di dalam tenda bersama, Selina dan Mitha. Raquel sangat gelisah dan bentar-bentar membuka res tenda melihat apakah Aldo dan yang lainnya datang atau tidak.
" Lo mau keluar?" tanya Mitha heran dengan Raquel gelisah ingin pergi di saat hujan deras.
" Iya kami senang bisa menemukan kalian," sahut Nadya.
" Tidak!" jawab Raquel mengelak dan langsung rebahan dengan memiringkan tubuhnya dan menutup diri dengan selimuti.
" Kenapa sih nih anak aneh banget," batin Mitha yang terus mencurigai Raquel.
" Kenapa Aldo belum pulang, apa mereka kesasar. Di mana ya Aldo berteduh, padahal dia baru juga minum obat flu," batin Raquel yang benar-benar mencemaskan Aldo.
💝💝Bersambung
__ADS_1
Hay para readers yang baru bergabung. Bantu support ya novel aku yang baru.
Tinggalkan jejak. Komentar, like, dan jangan lupa vote sebanyak-banyaknya. Agar aku semakin semangat melanjutkan ceritanya.