
Verro memasuki kamar dan melihat istrinya yang masih tertidur di pagi hari. Padahal jelas sudah pagi. Tetapi Cherry masih menikmati tidurnya. Verro memasuki kamar dengan membawa nampan yang berisi makanan yang mungkin menyiapkan sarapan untuk sang istri.
Nampan yang berisi segelas susu dan juga piring yang sepertinya berisi makanan yang di siapkan Verro untuknya.
Verro meletakkan nampan itu di atas nakas dan menaiki ranjang mendekati sang istri. Dan duduk di samping istrinya dengan mengusap-usap pucuk kepala istrinya, sesekali mencium kening istrinya yang masih tertidur lelap dengan wajah cantiknya itu.
" Sayang bangun!" ucap Verro membangunkan istrinya dengan lembut. Tangannya tidak henti-hentinya mengusap wajah
Verro mengecup kening Cherry dengan lembut. Kecupan hangat itu langsung membuat mata istrinya terbuka perlahan dan Verro tersenyum melihat suaminya yang tampan yang sudah berada di depannya. Aroma parfum Verro yang sangat harum.
Verro memang sudah siap untuk kerumah sakit. Jadi sangat wajah jika dia sudah rapi dan bahkan sangat harum.
" Morning," ucap Verro.
" Morning," sahut Felly mengalungkan tangannya di leher Verro dan langsung mengecup bibir Verro dan langsung memeluk Verro.
" Kamu sangat wangi. Nanti pasienmu yang wanita akan dekat-dekat dengan kamu. Jika kamu sewangi ini," ucap Cherry yang menunjukkan rasa cemburunya.
Verro tersenyum mendengar kecemburuan sang istri. Cherry melepas pelukan manja itu dan mencium pipi Verro.
" Kamu kenapa tersenyum. Apa kamu sengaja wangi-wangi seperti ini untuk memikat pasien?" tanya Cherry dengan wajahnya yang cemberut. Verro semakin tersenyum mendengarnya. Mungkin, karena hamil Cherry jadi cemburuan.
" Kamu benar dan salah satu pasienku sudah terpikat," sahut Verro. Cherry mengkerutkan dahinya mendengarnya.
" Siapa?" tanya Cherry dengan wajah kesalnya.
" Clara, dulu aku mempunyai pasien yang namanya Clara. Aku tidak menyangka jika Clara itu bisa jatuh cinta kepadaku dan sepertinya dia mengejar-ngejar ku," ucap Verro menjelaskan membuat Felly menaikkan 1 alisnya. Wanita yang di katakan Verro adalah dirinya.
" Kamu kepedean. Sok tau jika dia menyukaimu," sahut Cherry dengan kesal.
" Itu kenyataan, bahkan dia juga mengakuinya," ucap Verro.
" Iya deh, kamu menang. Clara memang menyukai kamu," sahut Cherry mengalah. Verro tersenyum mendengarnya.
" Ya sudah sekarang kamu sarapan," ucap Verro. Felly menoleh kearah nakas melihat sarapan yang di bawakan suaminya yang ternyata sandwich.
" Aku tidak mau makan itu," ucap Cherry menolak. Bahkan wajahnya tidak selera melihat makanan yang di bawakan suaminya.
" Lalu kamu mau apa?" tanya Verro.
" Aku mau telur mata sapi," jawab Cherry.
" Baiklah, aku akan membuatkannya untukmu," ucap Verro yang tidak masalah untuk membuatkan istrinya sarapan yang di inginkan istrinya.
" Kamu tunggu di sini. aku akan menyiapkannya untukmu," ucap Verro.
__ADS_1
" Baiklah! aku akan menunggunya," sahut Cherry. Verro ingin bergerak. Cherry menahan tangannya membuat Aditya menaikkan 1 alisnya.
" Ada apa?" tanya Verro. Cherry menunjuk pipinya. Yang memberi kode ingin di cium. Verro.
Verro mendengus melihat manjanya sang istri. Verro pun memegang pipi Cherry dengan ke-2 tangannya dan mencium pipi kiri dan kanan Cherry, menciumi wajah Felly berkali-kali. Dan Felly tersenyum lebar mendapatkan kecupan hangat dari sang suami.
" Mau lagi?" tanya Verro.
" Sudah cukup," jawab Cherry.
" Ya sudah, aku kedapur dulu," ucap Verro. Cherry mengangguk.
" Aku juga mau mandi dulu," sahut Cherry. Verro mengangguk dan langsung ke luar dari kamar menyiapkan sang istri sarapan.
Cherry memang tidak ingin memakan sarapan yang tadi di buatkan suaminya. Tetapi dia meminum susu yang di buatkan Verro. Susu itu habis di minum sampai habis. Lalu Cherry langsung bangkit dari ranjang untuk mandi. Walau dia masih mengantuk.
*********
Tidak lama Verro sudah menyiapkan apa yang di inginkan istrinya dan Verro juga sudah kembali kekamar mengantarkan telor mata sapi dengan sedikit nasi.
Cherry ternyata sudah selesai mandi dan tersenyum lebar.
" Ayo makan," ucap Verro mengajak Cherry untuk makan dan sudah duduk di tempat tidur dan Cherry pun menyusul duduk di samping suaminya.
Tidak di suruh Cherry. Verro langsung menyuapi sang istri. Dan Cherry dengan lahap langsung mengunyah makanan dari suaminya itu.
" Sangat enak," jawab Cherry dengan tersenyum lebar.
" Kalau begitu makan yang banyak agar kamu dan bayi kita gemuk," ucap Verro.
" Iya sayang, sip," sahut Cherry dengan mengajukan jempolnya. Verro kembali menyuapinya.
" Kamu ikut Kerumah sakit atau di rumah saja?" tanya Verro.
" Aku ingin di rumah saja. Nanti waktu makan siang aku akan kembali menyusul Kerumah sakit, aku ingin menyiapkanmu makan siang," ucap Cherry.
" Baiklah kalau begitu aku akan menunggu masakan istriku nanti," sahut Verro.
" Baiklah," sahut Cherry yang kembali melahap makanan yang sangat lejat itu.
***********
Sasy dan Azizi pergi kerumah sakit dan Sasy dan Azizi berada di dalam mobil menunggu macet yang panjang. Hari ini Azizi ingin menjemput Iqbal dari rumah sakit.
Sasy menoleh ke arah Azizi di sampingnya yang tampak resah.
__ADS_1
" Kamu baik-baik saja Azizi?" tanya Sasy.
" Hmmm, aku baik-baik saja," jawab Azizi.
" Kamu yakin akan?" tanya Verro.
" Hmmm, aku yakin," jawab Azizi.
" Kasian Azizi masalah ini memang sangat besar. Azizi harus menanggung semuanya," batin Sasy.
Ting.
Tiba-tiba notif pesan di hp Sasy masuk dan Sasy langsung mengambil ponselnya dan melihat pesan yang masuk.
..." Mari bertemu sebentar aku ingin bicara," ucap Vandy....
..." Di mana?" tanya Sasy....
..." Cafe, depan rumah sakit," jawab Vandy....
..." Baiklah! kamu tunggu saja di sana aku lagi perjalanan ke rumah sakit," jawab Sasy....
..." Baiklah! aku akan menunggumu," jawab Vandy....
Sasy meletakkan kembali ponselnya di tempatnya, menoleh kembali ke arah Azizi.
" Aku memang harus bicara dengan Vandy. Aku harus menyelesaikan semuanya. Masalah Vandy dan Azizi tidak main-main. Aku juga tidak bisa tinggal diam seperti ini. Mereka harus bisa menjauhkan ego mereka demi Iqbal," batin Sasy yang memang punya rencana untuk bicara dengan Vandy.
" Sasy!" tegur Azizi.
" Hmmm, kenapa?" tanya Sasy.
" Tidak apa-apa kan, kalau Iqbal akan tinggal di rumah kamu?" tanya Azizi yang tidak enakan.
" Kamu ini apa-apaan sih, ya nggak apa-apa lah. Justru aku senang dan aku juga bisa memantau kesehatannya. Jadi jelas tidak apa-apa," sahut Sasy tersenyum lebar yang memang tidak masalah.
Walaupun dia minta imbalan dari Vandy. Tetapi dari hatinya paling dalam dia pasti ikhlas menolong Azizi dan juga anak Azizi. Imbalan itu terkadang hanya bercandaan saja.
Sasy memegang tangan Azizi dengan menggenggamnya erat.
" Kamu jangan khawatir. Tidak akan ada masalah. Azizi, Iqbal pasti akan sembuh dan aku akan jamin hal itu. Masalah tempat tinggal dan yang lainnya. Kamu jangan memikirkan apa-apa. Kamu adalah sahabatku dan sudah menjadi tanggung jawabku untuk kalian ber-2. Jadi tidak akan ada masalah apa-apa," ucap Sasy berbicara dengan tulus pada Azizi yang memang berniat ingin membantu Azizi.
" Makasih ya. Kamu sudah banyak membantuku," ucap Azizi yang terus merasa tidak enak.
" Iya. Sama-sama. Dalam persahabatan tidak ada ucapan terima kasih. Jadi jangan berterima kasih," ucap Sasy. Azizi mengangguk dan tersenyum kepada Sasy. Sasy juga begitu sama-sama tersenyum.
__ADS_1
Bersambung.