DETAK Love Story' School

DETAK Love Story' School
Episode 395 Saling memaafkan.


__ADS_3

Kondisi Helena masih tetap berada di rumah sakit. Dan Nadya terus setia untuk menjaga mertuanya itu. Di mana malam ini Nadya dan suaminya tetap menjaga Helena yang terbaring lemah. Terlihat Nadya yang sekarang menarik selimut sampai ke dada Helena yang mana Helena sudah tertidur setelah selesai makan dan juga minum obat.


Tidak terlihat Varell ada di ruangan itu dan entah kemana Varell juga tidak ada yang tau. Mungkin saja keluar sebentar hanya Nadya yang ada di sana yang menjaga Helena dan sekarang Nadya membersihkan ruangan itu dengan mengambil sampah-sampah tisu yang ada di lantai dan juga di meja di samping Helena.


Dia melakukannya dengan ikhlas yang ingin berbakti pada mertuanya dan walaupun Helena tidak menerimanya sebagai menantu. Tetapi itu bukan alasan untuk Nadya untuk tidak merawat mertuanya itu.


Uhuk-uhuk-uhuk-uhuk. Tiba-tiba Helena terbatuk, Nadya langsung berlari mendekati ranjang.


" Mama," lirih Nadya panik melihat Helena yang bangun dan terbatuk-batuk.


" Mama minum dulu," ucap Nadya mengambil air di dalam gelas memegang kepala Helena mengangkatnya sedikit agar mudah untuk minum dan Helena pun meminumnya.


" Mama sudah tidak apa-apa?" tanya Nadya. Helena tidak menjawab memiringkan tubuhnya dan membelakangi Nadya yang tidak ingin bicara dengan Nadya. Namun Nadya memabalas semua itu dengan senyuman yang baginya tidak masalah jika mertuanya bersikap ketus kepadanya.


Nadya kembali merapikan selimut Helena dan melanjutkan pekerjaannya.


" Ngapain dia di sini," batin Helena yang masih terlihat tidak suka dengan Nadya.


Helena pun memejamkan paksa matanya dan menganggap Nadya tidak ada di ruangan itu. Padahal Nadya memang akan tetap di sana. Suka atau tidak sukanya Helena.


Malam semakin larut dan Nadya selalu terjaga yang tertidur di sofa. Kondisi Helena yang tidak baik dan bentar-bentar terbangun pun untuk minum tidak masalah untuk Nadya yang membantu Helena. Walau tidurnya terganggu.


Dan Helena tetap ketus padanya. Walau sudah banyak merepotkan Nadya yang membantunya kalau butuh sesuatu dan apa lagi kalau mau minum.


" Mama mau makan buah?" tanya Nadya.


" Nggak usah," jawab Helena ketus.


" Mana Varell?" tanya Helena.


" Tadi katanya pergi sebentar," jawab Nadya.


" Dari tadi pergi nggak balik-balik," sahut Helena ketus.


" Kalau begitu biar Nadya telpon saja," sahut Nadya yang buru-buru mengambil handphonenya.


" Nggak usah. Kamu tidur aja," sahut Helena ketus yang kembali memiringkan tubuhnya membelakangi Nadya.


Nadya tersenyum saat di suruh mertuanya untuk tidur dan Melody pun langsung menuju sofa untuk membaringkan dirinya kembali. Namun matanya tetap melihat ke arah Helena walau masih membelakangi dirinya.


" Semoga mama cepat sembuh," ucap Nadya tersenyum lebar dengan harapan doanya dan perlahan mata itu terpejam.


Ternyata Varell melihat dari depan pintu yang terbuka sedikit. Dia tampaknya sedari tadi mengawasi istrinya dan mamanya yang sengaja memberikan banyak ruang untuk mamanya dan juga istrinya.


" Mama harus bisa melihat wanita yang sama ini mama sakiti, adalah wanita kuat yang tidak membenci mama. Dia baik dan tidak peduli dengan apa yang mama lakukan dan bertahan untuk mama. Itu alasannya ma. Kenapa Varell memilih Nadya sebagai istri Varell," batin Varell yang tersenyum dengan mamanya yang ada tanda-tanda mulai menerima istrinya. Ya dua juga hanya bisa berdoa dan berharap banyak.


************


Mentari pagi kembali tiba. Helena sudah bangun dan sedikit bersandar pada kepala ranjang.


" Mama sarapan dulu ya," ucap Nadya yang sudah menyiapkan sarapan untuk Helena. Tidak ada respon dari Helena menerima atau tidak sarapan itu dan Nadya pun langsung duduk di samping Helena dengan memegang mangkok bubur.


" Mana Varell?" tanya Helena.


" Lagi pulang sebentar. Katanya mau mengambil pakaian," jawab Nadya lembut dan meniup bubur yang di sendokkannya lalu memberikan pada mertuanya. Helena belum membuka mulutnya ketika sendokan itu di depan mulutnya.


" Ayo ma di makan!" ucap Melody lembut. Helena yang tampak terpaksa membuka mulutnya dan Nadya tersenyum dengan Helena yang mau menerima suapannya.


Nadya, juga tidak banyak bicara. Karena takut mood Helena akan buruk. Dan dia lebih baik banyak mengalah dan terus menyuapi mertuanya dengan penuh ke ikhlasan. Selesai menyuapi Helena dan bubur itu habis tanpa banyak protes. Nadya memberikan Helena minum dengan lembut dan setelah itu memberi obat.


Nadya mengambil tisu dan melap bekas air di mulut Helena. Helena tidak bicara apa-apa dan membiarkannya saja.


" Mama ganti baju dulu ya," ucap Nadya yang yang langsung mengambil pakaian ganti. Nadya juga bahkan melap-lap tubuh Helena dengan handuk yang di basahi. Agar tubuh

__ADS_1


Helena tidak lengket dengan lembut Nadya melakukannya dan tumben-tumbennya Helena diam tanpa protes dan banyak penolakan dengan perlakuan menantunya yang baik itu.


Helena mungkin sudah mulai luluh sedikit demi sedikit dengan perlakuan lembut, sabar Nadya, yang awalnya dia banyak protes dan komplen dan sekarang dia tidak protes lagi dan diam saja mau tubuhnya di buat seperti apapun oleh Nadya.


Ternyata di luar kamar, Sasy, Vandy, Verro, dan Raquel mengintip apa ke dalam melihat Nadya yang melayani mertuanya itu dengan baik. Mereka mengintip dari bagian pintu yang ada kacanya.


" Ya ampun Nadya baik banget ya. Kalau aku kayak gitu sudah tidak akan sabar," ucap Sasy.


" Sama aku juga. Lihat Nadya sekarang sungguh baik yang benar-benar tidak percaya bisa sesabar itu. Padahal muka Tante Helena sudah seperti monster," sahut Raquel.


" Itulah dia bedanya dengan kalian. Azizi juga sebaik itu. Tidak seperti kalian berdua," sahut Vandy.


" Cherry juga jauh lebih baik, tidak kayak kalian," sahut Verro yang memuji Istrinya.


" Isssss," desis Sasy dan Raquel yang kesal.


" Makanya kalian ber- 2 juga sama mertua yang baik-baik. Walau di hati harus baik. Jadi wanita harus sabar," sahut Vandy.


" Hey, aku sabar kali. Lihat aku jadi menantu kesangannya mama Aldo," sahut Raquel menyombongkan diri.


" Ya namnya cuma satu-satu mu menantu ya kesayanganlah," sahut Verro.


" Ehemm," tiba-tiba suara deheman membuat ke-4 orang yang tukang itu kaget dan sama-sama serentak membalikkan tubuh mereka melihat kebelakang.dan kaget melihat kedatangan Varell.


" Kalian ngapain sih?" tanya Varell.


" Nggak, nggak apa-apa. Cuma lihat kedalam," sahut Sasy.


" Ya, kenapa nggak masuk aja. Kenapa harus ngintip-ngintip di sini?" tanya Varell heran.


" Lagi nggak mau nganggu momen Nadya sama Tante Helena," sahut Raquel.


" Memang mereka ngapain?" tanya Varell heran.


" Ya, aku memang sengaja membuat ruang lebih banyak untuk mama dan Nadya," ucap Varell.


" Ya, cocok sih, dengan begitu Tante Helena benar-benar akan menerima Nadya apa adanya," sahut Verro.


" Kalian doakan saja. Semoga dengan sakitnya mama ada hikmahnya dan mama bisa menerima Nadya dengan baik," ucap Varell yang penuh dengan doa dan harapannya.


" Kamu tenang aja Varell. Kamu pasti mendoakan yang terbaik untuk Nadya dan juga Tante Helena dan pasti Nadya terus di beri kesabaran yang banyak," sahut Raquel.


" Amin," jawab Sasy, " pasti setelah ini Tante Helena akan sadar dan menerima Nadya," ucap Sasy.


" Amin," ucap mereka serentak.


*************


Nadya sekarang sedang bersama Helena di mana Nadya mendorong kursi roda Helena mengajak Helena untuk berjalan-jalan di taman agar tidak bosan dan untungnya Helena mau dan tidak menolak lagi.


Dan suaminya terus memantau dari kejauhan yang pasti senyum-senyum melihat istri dan mertuanya itu.


" Hmmm, mama tunggu sebentar ya," ucap Nadya.


" Mau kemana kamu?" tanya Helena ketus.


" Nadya lupa, tadi ibu Nadya membawakan soto kemari. Dan sangat enak kalau di makan di sini. Jadi Nadya ambil sebentar ya," ucap Nadya yang langsung pergi dengan berlari cepat.


" Aku belum bilang apa-apa, dia sudah pergi. Apa gunanya bertanya," gerutu Helena yang kesal dengan Nadya. Helena menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan kedepan.


Tidak lama akhirnya Nadya pun kembali membawa makanan yang di katakannya tadi pada mertuanya itu. Nadya duduk di salah satu kursi di depan mertuanya yang tetap di atas kursi roda.


" Ini soto Lamongan khas dari tempat kelahiran Nadya, jadi mama makan ya," ucap Nadya yang langsung menyuapi mamanya.

__ADS_1


" Sudah dingin belum?" tanya Helena yang takut kepanasan.


" Sudah mah, cobalah," jawab Nadya yang menyuapi Helena dan Helena pun langsung membuka mulutnya mencicipi soto tersebut.


" Enak ma?" tanya Nadya. Helena mengangguk pelan. Antara mengangguk sama tidak. Nadya tersenyum dan kembali menyuapi mertuanya itu lagi.


" Ibu kamu membuat ini?" tanya Helena. Nadya mengangguk.


" Untuk siapa?" tanya Helena.


" Ya untuk mama lah. Kalau untuk Nadya kenapa di bawa kerumah sakit," jawab Nadya santai.


" Kenapa membuatkannya untukku. Bukannya dia tidak menyukaiku," sahut Helena. Nadya tersenyum mendengarnya.


" Siapa yang mengatakan bahawa ibu tidak menyukai mama, memang mama pernah dengar apa. Ibu tidak pernah membenci mama sama sekali. Bukannya mama dan ibu adalah besanan," sahut Nadya.


" Kalau begitu kenapa dia tidak datang menjengukku. Kalau menganggapku besan," sahut Helena yang membuat Nadya terharu mendengarnya.


" Memang boleh?" tanya Nadya dengan matanya yang berkaca-kaca.


" Aku juga tidak menyuruhmu datang. Tapi kau di sini," sahut Helena. Nadya hanya tersenyum yang menahan rasa haru.


" Nanti Nadya akan telpon ibu dan menyuruh ibu datang kesini," sahut Nadya yang kesenangan.


" Kalau terpaksa tidak usah," sahut Helena.


" Tidak ma, tidak ada yang terpaksa. Ibu pasti senang bisa datang kemari dan menemui mama," ucap Nadya yang begitu bahagianya.


" Ya sudah," sahut Helena.


" Mama makam lagi," ucap Nadya yang menyupai mertuanya itu.


" Sekarang aku tau kenapa Varell lebih memilihmu di bandingkan aku," ucap Helena tiba-tiba.


" Kau seperti ini dan aku baru menyadari, jika kau pantas menjadi istrinya dan aku tidak pantas mendapatkan menantu sepertimu," ucap Helena yang membuat Nadya kaget dengan air matanya yang menetes mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Helena.


" Maafkan aku. Aku sudah menghina mu, membuat hidupmu sulit, memisahkan mu dari Varell. Aku sudah tidak pernah memikirkan perasaan Varell selama bertahun-tahun. Aku egois yang merebut kebahagiannya dan aku bertindak bodoh untuk berusaha memisahkan mu dengan putraku yang begitu mencintaiku," ucap Helena yang mengakui kesalahannya.


" Maafkan aku Nadya, maafkan mama yang banyak menyakitimu. Kamu seharusnya membenciku dan tidak mempedulikan ku. Tetapi apa kamu malah ada di sini dan melakukan sesuatu yang tidak seharusnya kamu lakukan. Hati kamu itu sebenarnya terbuat dari apa. Bertahun-tahun aku menyakitimu. Tetapi kamu sekarang bukan membalasnya tapi malah baik kepadaku. Seharunya kamu meracunku sekalian," ucap Helena yang menagis mengakui kesalahannya.


Nadya mendengarnya panik dan meletakkan mangkok yang di pegangnya di atas bangku dan langsung meraih ke-2 tangan mertuanya itu dan memegangnya dengan erat.


" Apa yang mama bicarakan. Nadya tidak punya alasan untuk membenci mama. Karena seorang ibu hanya menginginkan yang terbaik untuk putranya. Justru Nadya yang meminta maaf karena telah mengambil Varell dari mama. Nadya yang egois yang memisahkan seorang ibu dari anaknya," sahut Nadya yang tidak kalah dengan meneteskan air matanya.


" Tidak Nadya. Ini bukan salah kamu. Kamu tidak salah. Mama yang salah," sahut Helena.


" Maafkan mama ya," ucap Helena yang memegang pipi Nadya yang penuh dengan air mata.


" Kamu maukan memaafkan mama?" tanya Helena lagi dengan tulus meminta maaf pada menantunya itu.


" Iya ma, Nadya sudah memaafkan mama. Nadya juga minta maaf ya," ucap Nadya. Helena mengangguk dan langsung memeluk Nadya dengan erat.


" Kamu jangan benci mama lagi ya. Mama tidak akan menentang hubungan kalian lagi. Mama janji akan memperbaiki semuanya. Mama janji akan berubah dan menerima kamu sebagai menantu mama," ucap Helena yang benar-benar sudah bertaubat dan menerima Nadya apa adanya.


" Terima kasih mah, untuk kebaikan. Nadya janji akan menjadi menantu yang baik yang taat pada mama dan terus merawat mama. Nadya janji," ucap Nadya yang memeluk erat terus mertuanya itu.


Menantu dan mertua itu saling berpelukan dengan air mata yang terus menetes tanpa hentinya yang sama-sama meminta maaf dan Helena berbesar hati menerima Nadya, menerima kenyataan bahwa Nadya adalah wanita yang di cintai putranya dan tidak seharusnya memisahkan putranya dari wanita yang di cintainya. Helena benar-benar sudah mendapatkan hidayah dari semua yang terjadi dan semua berkat kesabaran Nadya.


Varell meneteskan air matanya saat dari kejauhan melihat momen manis itu. Meski tidak mendengar apa yang di bicarakan mamanya dan juga istrinya. Tetapi apa yang dilihatnya membuatnya meneteskan air mata yang intinya pasti mamanya sudah menerima istrinya.


" Terima kasih mah, mama sudah menerima Nadya dalam kehidupan mama. Terima kasih Nadya untuk kelembutan, ketulusan hati kamu yang selalu sabar menghadapi mama. Terima kasih Nadya kamu hadir dalam hidupku memberiku cinta yang besar. Terima kasih istriku. Aku benar-benar beruntung bisa menikah dan memiliki wanita sepertimu," batin Varell yang tidak tahan untuk tidak menagis.


Ya mereka sama-sama sabar selama ini dan sekarang tinggal menuai apa yang mereka tanam dan tidak ada yang sia-sia dalam sabar mereka selama ini.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2