
Dengan penuh rasa kecewa. Akhirnya Azizi harus menerima semuanya. Bayi yang ada di dalam kandungannya sama sekali tidak di akui oleh Vandy. Berani berbuat tidak berani bertanggung jawab.
Azizi mengambil tasnya dari dalam kelas. Dengan wajahnya yang sendu dan pasti air matanya kembali menetes. Hatinya pasti sakit dengan kata-kata Vandy yang menghinanya.
" Mungkin ini yang terbaik," batin Azizi menyeka air matanya. Kepala Azizi berkeliling melihat seisi ruangan. Sangat berat rasanya jika Azizi harus meninggal kelas itu.
Azizi mengusap mejanya dengan tersenyum tipis. Dia harus berlapang dada ketika di keluarkan dari sekolah.
Dia memang harus ikhlas dengan semua ini. Meninggalkan tempat duduknya dan pasti sekolahnya dan sahabat-sabatnya.
" Huhhhhhhhhh," hembusan napas panjang itu membuatnya yakin dan menerima semua ini.
Azizi menyandang tas ranselnya di punggungnya. Melangkah pelan kakinya meninggalkan ruang kelas itu dengan berat hati. Saat sampai pintu Azizi berpapasan dengan Fiona yang ingin masuk kedalam kelas.
Ke-2 nya sama-sama menghentikan langkah mereka. Azizi tersenyum tipis saat melihat Fiona yang di depannya yang seperti biasa yang terlihat jutek dengan ke-2 tangan di lipat di dadanya.
" Kau sudah melakukan yang kau inginkan," ucap Azizi dengan suara datar.
Fiona diam tanpa berkata apapun. Azizi tau semua ini pasti Fiona yang ada di baliknya. Karena Fiona memang orang yang belakangan mengancam dirinya dan pasti berani mengancamnya karena sudah mengetahui siapa dirinya sebenarnya.
" Semoga suatu saat nanti kita bertemu dalam keadaan yang berbeda," ucap Azizi, " buka jalannya aku mau lewat. Kau menghalangi jalanku," ucap Azizi.
Fiona pun menggeser tubuhnya. Azizi langsung lewat tanpa banyak bicara. Karena dia tidak punya waktu untuk berbicara banyak-banyak dengan Fiona. Yang jelas dia sudah tau. Kalau Fiona yang telah membongkar identitas nya.
Azizi kembali melanjutkan langkahnya. Melewati koridor-Koridor sekolah. Pasti jika berpapasan dengan beberapa murid-murid akan mencibir Azizi, menatap dengan sinis. Seperti Azizi sudah sangat hina dan para murid-murid yang merasa sok suci.
Terkadang memang kita akan merasa sok suci kalau ada yang sangat rendah.
Tetapi Azizi menanggapi hal itu dengan senyuman. Dia tidak peduli lagi karena dia juga tidak sekolah di sana lagi. Jadi untuk apa peduli dengan hal itu.
Azizi dengan senyumnya tetap melanjutkan langkahnya sampai menuju gerbang sekolah.
" Azizi semangat," teriakan suara yang tidak asing itu membuat Azizi menghentikan langkahnya. Azizi membalikkan badannya dan mencari suara itu.
" Kita sayang sama lo," teriakan itu lagi terdengar dan berhasil ditemukan Azizi.
Ternyata sahabat-sabatnya. Nadya Varell Cherry, Verro, Sasy, Toby dan Aldo yang meneriakinya dari lantai atas memberinya semangat.
Mereka berdiri dengan di pagar lantai atas dengan membentangkan spanduk dengan tulisan besar yang pasti jelas teraba.
..." Hari-hari mu selanjutnya akan jauh lebih bahagia. Azizi sahabat terbaik kami,"...
__ADS_1
" Semangat," teriak Toby mengeluarkan semua tenangnya. Azizi yang mendapatkan hal itu tersenyum lebar dan mengacungkan jempolnya. Memberi isyarat bahwa dia benar-benar baik-baik saja.
" Terima kasih," teriak Azizi dengan sekeras-kerasnya. Saat dia ingin meninggalkan sekolah saja. Sahabat-sabatnya masih mendukungnya.
" Aku beruntung memiliki kalian, Nadya, Cherry, Sasy, dan kalian semuanya aku sangat bahagia," batin Azizi tersenyum menahan keharuan.
Azizi melambaikan tangannya kepada teman-temannya sebagai salam perpisahan. Para sahabat yang berada di atas itu pun ikut melambaikan tangan dengan wajah mereka yang penuh senyum.
Azizi mundur-mundur perlahan dengan melambaikan tangannya terus menerus. Sampai Azizi kembali membalikkan tubuhnya dan melanjutkan langkahnya keluar dari sekolah yang banyak memberinya pelajaran dan sekolah yang pastinya tidak akan pernah di kunjunginya lagi.
" Semoga Azizi bisa mendapat sekolah yang lebih baik," ucap Cherry menyimpan kesedihan dengan tersenyum. Menyandarkan kepalanya di bahu Verro.
" Dia pasti akan mendapatkannya," sahut Verro mengusap pucuk kepala Cherry.
" Amin," sahut semuanya serentak.
" Sayang banget padahal. Kalau saja kita tau lebih awal. Mungkin Azizi tidak akan sampai dikeluarkan," sahut Nadya yang belum bisa kehilangan Azizi.
" Azizi punya masalahnya sendiri dan mungkin itu privasi yang tidak harus di ketahui siapapun. Dan itu juga sudah jalannya. Jadi tidak ada yang perlu di sesalkan," sahut Varell berbicara bijak.
" Kita pasti akan bertemu kembali dengannya," sahut Sasy penuh harapan.
" Kita doakan yang terbaik apapun yang di alaminya semoga dia kuat dan bisa menyelesaikannya," sahut Aldo.
" Amin," sahut mereka serentak. Pandangan mereka tidak lepas dari menatap punggung Azizi yang semakin lama semakin jauh.
Ternyata Vandy juga ada di belakang mereka entah sudah berapa lama Vandy di sana yang jelas Vandy juga melihat kepergian Azizi yang tanpa ada perpisahan untuknya.
Tidak lama Vandy pun akhirnya pergi dari tempat itu. Tetapi tidak sengaja Sasy membalikkan tubuhnya dan melihat Vandy yang pergi. Sasy baru menyadari jika sedari tadi Vandy tidak bersama mereka.
" Aneh sekali. Kenapa aku merasa Vandy seperti tidak respek dengan masalah Azizi kali ini. Seperti ada sesuatu," batin Sasy merasakan ada hal yang aneh.
***********
Bel sekolah berbunyi pertanda murid-murid pulang sekolah. Cherry dan Varell semenjak dari kelas sampai menuju gerbang sekolah mereka tetap bergandengan dengan mesra.
" Kamu baik-baik saja?" tanya Verro.
" Hmmmmm, aku baik-baik saja, masalah Azizi memang menguras air mata. Padahal aku masih ingin mengajak yang lainnya untuk jalan dan juga kamu. Tetapi Azizi malah pergi," ucap Cherry dengan wajah sedihnya.
Verro menghentikan langkahnya dan menghadap Cherry. Mengacak pucuk kepala Cherry.
__ADS_1
" Bukannya kita sudah membahas tadi. Kita tidak boleh sedih dengan berhentinya Azizi dari sekolah. Jika ingin bertemu bukannya masih bisa komunikasi," jelas Verro.
" Iya kamu benar, ini bukan waktunya untuk sedih-sedihan, aku tidak mau," sahut Cherry.
" Ya sudah ayo kita pulang!" ajak Verro.
" Tapi aku pulang sama papa," sahut Cherry yang memang sudah berjanji dengan papanya ingin jalan-jalan.
" Memang Om Laskarta di mana?" tanya Verro.
" Kayaknya bentar lagi datang. Nggak apa-apa kan kita tidak jalan hari ini?" tanya Cherry.
" Tidak apa-apa. Aku juga ada urusan dengan Varell. Jadi kamu jalan aja sama Om Laskarta," jawab Verro tersenyum.
" Makasih," sahut Cherry.
" Tapi dengan satu syarat," sahut Verro.
" Apa?" tanya Cherry.
" Kamu jangan kecapean. Kalau ada apa-apa. Telpon aku. Aku tidak ingin kamu kenapa-napa," jelas Verro yang pasti mengkhawatirkan Cherry.
" Siap Bos," sahut Cherry dengan cepat memberi hormat seperti penaikan upacara bendera. Verro pun memeluknya dan mengusap-usap punggungnya.
" Semoga harimu bahagia," ucap Verry dengan pelukan yang erat itu.
" Kamu juga. Semoga bahagia selamanya ada dan tanpa adanya aku," sahut Cherry. Kata-6 itu pasti sangat sesak. Tetapi Verro tidak mau menanggapinya.
tin-tin-tin bunyi klakson mobil membuat pasangan itu saling melepas pelukan dan melihat ke arah mobil.
" Itu papa sudah datang," sahut Cherry melihat mobil papanya.
" Ya sudah sana," sahut Verro.
" Daaa," ucap Cherry pamit melambaikan tangannya. Verro juga ikut melambaikan tangannya. Cherry memasuki mobil papanya. Laskarta menurunkan kaca mobilnya.
" Om pergi Verro," ucap Laskarta agak keras. Verro mengangguk. Verro terus melihat mobil itu berjalan dan sampai sudah tidak terlihat lagi.
" Hhhhhhh," Verro membuang napasnya kedepan lalu pergi dari tempatnya berdiri.
Bersambung.....
__ADS_1