
Raquel yang kesintingan gara-gara Tari langsung pergi dari toilet dan kembali ke mejanya yang di sana Arif masih saja makan
" Sudah selesai?" tanya Arif.
" Hmmm, jawab, Raquel.
" Oh, iya kak, bagaimana kalau kita pulang saja," sahut Raquel. Membuat Arif heran.
" Pulang," sahut Arif. Raquel mengangguk.
" Kenapa kok tiba-tiba?" tanya Arif heran.
" Lagi nggak mood aja di sini. Lagian saya juga sudah kenyang," sahut Raquel.
" Hmmmm, begitu rupanya. Ya sudah kalau begitu," sahut Arif. Raquel mengangguk tersenyum dan Tari juga keluar dari kamar mandi. Lalu langsung menghampiri meja Aldo yang juga masih dengan makan dan Raquel hanya melirik saja dan Tari tampak membawa Aldo langsung pergi.
" Ishhhh, ada ya pelakor takut gebetannya di ambil," batin Raquel kesal.
" Ayo Raquel," ajak Arif yang sudah berdiri dan Raquel tidak menyadarinya.
" Raquel!" tegur Arif.
" Ha, iya Kak," sahut Raquel.
" Ayo," sahut Arif mengajaknya kembali.
" Oh, iya ayo," sahut Raquel yang terlihat bengong. Lalu dia dan Arif pun akhirnya memutuskan pulang saat moodnya benar-benar hilang. Karena Tari yang ada tiba-tiba.
***********
Aldo menyetir, tetapi tampaknya dia murung dan mungkin saja pikirannya tadi telah terbagi pada Raquel yang tiba-tiba di lihatnya di sana.
" Apa hubungan Raquel dengan dokter Arif," batin Aldo yabg ternyata masih memikirkan Raquel.
" Kamu kenapa Aldo?" tanya Tari yang melihat Aldo tidak fokus.
" Tidak, memang aku kenapa," jawab Aldo.
" Ya mana aku tau, kamu jelas-jelas tidak fokus. Jangan bilang ya, kamu kepikiran sama Raquel," sahut Tari langsung posesif.
" Kamu itu apa-apaan sih, bisa nggak, jangan apa-apa namanya di bawa-bawa," ucap Aldo mulai emosi.
" Kamu yang bawa-bawa dia, bisa-bisanya saat kita ber-2 an kamu memikirkan dia," sahut Tari kesal.
" Sudah ya Tari, aku nggak mau ribut sama kamu. Jadi sudah jangan memperpanjang masalah," sahut Aldo yang tidak mau mendengarkan Tari dan Tari hanya kesal dengan Aldo yang benar-benar tidak mempedulikannya. Belum lagi tadi dia habis di maki-maki oleh Raquel. Bagaimana coba dia tidak dongkol.
__ADS_1
***********
Sama dengan Tari. Ternyata Raquel juga di samping Arif yang fokus menyetir juga ternyata masih kesal dan geram dengan Tari.
" Kenapa tidak menegur Aldo tadi?" tanya Arif menoleh sebentar ke arah Raquel.
" Nggak penting," sahut Raquel dengan ketus.
" Ada masalah dengannya?" tanya Arif.
" Nggak, dia aja yang cari masalah," jawab Raquel dengan kesal.
" Bukannya Aldo itu pacar kamu?" tanya Arif.
" Sudah putus," jawab Raquel simple.
" Kalian sudah putus?" tanya Arif.
" Hmmm," jawab Raquel.
" Kamu tampaknya kes dengan Aldo, sampai harus berhenti makan," ucap Arif.
" Nggak, kok, sudah lah, jangan membahasnya aku pusing mendengar namanya beberapa kali harus di sebut. Nggak penting banget tau," sahut Raquel dengan rada kesal.
" Maaf, jika membuat kamu tidak nyaman," sahut Arif.
" Jangan galau, kalau putus cari yang baru bukannya itu slogan wanita," sahut Arif membuat Raquel langsung melihat kearah Arif.
" Hmmm, kakak benar, itu yang penting," sahut Raquel tersenyum lebar. Yang mulai merasa tenang karena di ajak mengobrol oleh Arif. Paling tidak dia merasa nyaman dan tidak memikirkan Tari lagi yang merusak moodnya.
*********
Mentari pagi kembali tiba Verro dan Cherry sarapan bersama. Ternya apa yang terjadi tadi malam. Tidak membuat Cherry semangat seperti biasanya. Dia malah tidak tidur hanya karena melihat suaminya menggendong wanita lain.
Sama seperti hari ini dia sarapan dengan melamun. Bahkan tidak memakan sarapannya dan membuat Verro heran melihat istrinya yang tidak seperti biasanya.
" Sayang!" tegur Verro memegang tangan Cherry.
" Kamu kenapa?" tanya Verro. Cherry menggeleng.
" Mana mungkin tidak ada apa-apa, jika kamu dari kemarin dingin seperti ini," ucap Verro yang ternyata menyadari perubahan sikap Verro.
" Kamu kenapa, ayo cerita padaku," ucap Verro yang menatap dalam-dalam istrinya yang ingin tau istrinya kenapa. Bukan masalah peka atau tidak peka. Karena dia memang tidak tau istrinya kenapa.
" Sayang, kamu kenapa diam aja, ayo cerita," ucap Verro lagi dan Cherry melihat suaminya.
__ADS_1
" Aku mau tanya sama kamu," sahut Cherry..
" Katakan ada apa?" tanya Verro
" Kalau misalnya ada nenek yang tidak bisa jalan. Apa kamu akan menggendongnya?" tanya Cherry membuat Verro heran dengan pertanyaan itu.
" Ya, kalau dia membutuhkan bantuan, kenapa tidak?" sahut Verro.
" Kalau itu, tante-tante?" tanya Cherry lagi.
" Kalau dia sakit ya memang harus di bantu bukan," sahut Verro lagi.
" Kalau itu wanita cantik, apa kamu juga akan menggendongnya?" tanya Cherry.
" Sayang, kamu sebenarnya kenapa. Kenapa tiba-tiba bicara seperti itu," ucap Verro heran.
" Aku melihat mu menggendong Fiona," sahut Cherry jujur dengan menundukkan kepalanya yang menyatakan dengan jujur kalau dia cemburu.
" Jadi kamu ada di sana tadi malam?" tanya Verro. Cherry mengangguk masih dengan menunduk. Verro mendekatkan dirinya dan memegang dagu istrinya, mengangkat wajah itu. Agar istrinya melihat dirinya.
" Kenapa tidak memanggilku tanya Verro.
" Kamu terlalu serius dengannya, sampai tidak melihatku," sahut Verro.
" Dan itu yang membuatmu diam seperti ini?" tanya Verro.
" Aku tidak tau. Aku merasa ada sesuatu di hatiku. Saat kamu bersamanya," sahut Cherry yang benar-benar cemburu dan Verro tersenyum mendengarnya.
" Bukannya tadi malam aku sudah mengatakan. Fiona tiba-tiba mimisan dan dia juga lemah saat berjalan dan hampir pingsan. Tidak ada orang di sana makanya aku menggendongnya kekamarnya," jelas Verro agar istrinya tidak salah paham.
" Cherry, aku adalah Dokter. Apa yang kamu lihat itu hal yang biasa. Aku hanya profesional dalam bekerja. Bukan hanya pada Fiona. Pada siapapun sama," ucap Verro yang menjelaskan lagi.
" Kamu mengertikan?" tanya Verro. Cherry menganggukan matanya..
" Aku hanya kaget saja. Jika itu salah satu tugasmu. Soalnya selama aku menemanimu di rumah sakit, aku belum pernah melihat hal itu. Jadi aku hanya kaget," ucap Cherry.
" Aku mengerti perasaan kamu. Tetapi aku adalah Dokter dan itu tugas Dokter. Cherry, jangan salah paham. Jika hanya berhubungan dengan pekerjaan. Karena percayalah, aku tidak mungkin macam-macam. Karena kamu adalah segalanya untukku," ucap Verro meyakinkan istrinya. Cherry tersenyum tipis dengan menarik panjang napasnya dan membuangnya perlahan.
" Maafkan aku, jika aku cemburu berlebihan, aku tidak terbiasa dengan semua itu," sahut Cherry. Verro tersenyum dengan mengusap pipi Cherry.
" Aku mengerti, tapi aku senang. Karena kamu cemburuan," sahut Verry.
" Ishhhh, kamu," geram Cherry.
" Ya sudah kamu makan lagi, kamu belum memakannya sama sekali," ucap Verro. Cherry mengangguk.
__ADS_1
" Kamu juga," sahut Cherry. Verro mengangguk dengan tersenyum.
Bersambung