
Verro dan Cherry pergi kerumah sakit melihat Siska untuk yang terakhir kalinya. Verro dan Cherry juga mengantarkan Siska ketempat peristirahatannya terakhirnya.
Keluarga Siska dan orang-orang yang mengantarkan Siska sudah pergi. Hanya ada Cherry dan Verro yang berada di pemakaman itu.
Cherry mengenakan dress hitam dengan pasmina hitam menutup kepalanya. Verro juga memakai kemeja hitam senada dengan Cherry. Cherry berjongkok di samping makam itu dengan terus mengusap foto Siska dengan air matanya yang terus jatuh.
Sementara Verro berada di sampingnya dengan kedua tangannya berada di pundak Cherry mengusap-usap pundak itu menguatkan Cherry atas kehilangan sahabatnya itu.
Foto tersenyum itu mengingatkan Cherry pada saat pertama kali bertemu Siska. Siska banyak memberinya pengalaman hidup. Membuat Cherry semakin semangat. Membuat Cherry memiliki teman bercerita.
Meski baru berteman kurang lebih 6 bulan. Tetapi Mereka sudah sangat dekat. Seperti sudah bersabar lama sampai hati mereka sudah sangat menyatu.
Begitu juga dengan kanker hati yang diderita Siska mengantarkan Siska pada kematian. Siska memang menderita kanker hati sampai stadium 4.
Kanker itu juga membuat ada beberapa tumor yang bersarang. Komplikasi semakin banyak membuatnya akhirnya menyerah. Sering operasi untuk mengangkat ini. Memperbaiki ini itu dengan rasa sakit yang pasti sudah tidak bisa di katakan lagi seperti apa.
Tetapi sekarang Siska sudah tidak merasakan sakit lagi. Siska sudah benar-benar sembuh dan tidak akan menderita lagi. Dia sudah bisa beristirahat dengan tenang.
" Bukannya kita masih mau makan bareng. Lalu kenapa pergi secepat itu, kita juga mau ngedate bareng," ucap Cherry yang menangis terus menerus.
" Cherry sudah ya. Sekarang Siska sudah tenang. Kamu tidak boleh menangisinya dia sudah beristirahat dengan tenang, dia akan sedih jika kamu menagisinya," ucap Verro yang hanya bisa menguatkan Cherry yang begitu terpukul.
Cherry mengangguk. Dia memang tidak boleh menangis terus menerus. Cherry meletakkan Boucket bunga di atas pusaran makam itu. Mawar putih permintaan Siska kemarin.
" Aku sudah membawanya untukmu, terima kasih kamu sudah datang kedalam hidupku. Aku sangat bahagia di beri kesempatan untuk bertemu dan menjadi temanmu. Aku sangat menyayangimu Siska," ucap Cherry mengusap makam itu.
" Selamat jalan," ucap Cherry.
" Kita pulang," ucap Verro dengan lembut. Cherry mengangguk. Verro mengusap air mata di pipi Cherry dengan tersenyum tipis.
" Ayo!" ajak Verro membantu Cherry berdiri. Mata Cherry masih terus melihat pusaran makam itu. Cherry melambaikan tangannya seakan berpamitan pulang dengan senyum tipis di wajah Cherry.
__ADS_1
Siska juga pasti tersenyum melihat kedatangan Cherry ke makam itu. Dia pasti sangat bahagia dengan sahabatnya yang mengantarkan dirinya ketempat peristirahatan terakhir kalinya.
Walau Siska tidak sempat menepati janjinya untuk double date bersama Cherry. Ya memang kondisinya yang semakin menurun tidak memungkinkan untuk keluar.
Dia juga memaksakan diri bisa bertemu Cherry malam itu yang ternyata pertemuan terakhirnya bersama Cherry.
*************
Di malam yang gelap Cherry dan Verro tidak pulang. Mereka duduk di taman di salah satu bangku.
Cherry duduk di samping Verro dengan bersandar di bahu Verro. Dengan tangan Cherry memegang erat tangan Verro.
Sementara satu tangan Verro berada di pundak Cherry memeluk dengan erat memberi kekuatan kepada Cherry yang pasti sangat sedih atas kehilangan Siska. Dia saja yang belum mengenal Siska lebih dalam ikut berduka dan pasti juga sangat sedih.
Cherry memang sangat membutuhkan bahu itu. Agar dia nyaman tenang dan tidak sedih lagi. Mata Cherry terus melihat ke atas langit. Menatap indahnya bintang-bintang.
" Siska sudah di sana," ucap Cherry tersenyum menahan kesedihannya.
" Verro!" tegur Cherry melihat ke arah Verro.
" Ada apa?" tanya Verro.
" Kamu tadi bilang. Aku tidak boleh menangis. Karena Siska pasti sedih di atas sana," ucap Cherry.
" Iya kamu tidak boleh menangis," sahut Verro membenarkan ucapannya.
" Kalau begitu kamu juga," ucap Cherry.
" Maksudnya?" tanya Verro.
" Minta lah aku untuk operasi. Aku akan menurutinya," ucap Cherry tiba-tiba.
__ADS_1
" Kamu mungkin sudah tau kalau Siska mendonorkan jantungnya kepada ku," ucap Cherry.
Cherry memang mendengar sewaktu orang tua Siska berbicara pada Verro saat di rumah sakit. Bahwa amanah terakhir Siska ingin mendonorkan jantungnya kepada Cherry jika memang itu cocok.
" Cherry!" lirih Verro.
" Jika kamu memang ingin meminta ku untuk operasi. Maka aku akan lakukan. Tapi kamu harus janji kepadaku. Saat aku sudah tidak ada. Kamu tidak boleh menangis seperti apa yang aku lakukan tadi. Aku akan operasi kalau kamu mau berjanji kepadaku," ucap Cherry dengan berlinang air mata. Begitupun dengan Verro.
" Aku sangat mencintaimu Verro. Aku tidak ingin pergi meninggalkan kamu dalam kesedihan. Aku akan merasa bersalah. Jika pergi dan membuat luka di hati mu. Aku tidak ingin itu terjadi," ucap Cherry yang memang punya firasat akan pergi jauh.
Dia memang akan sama seperti Siska. Siska saja yang berjuang mati-matian di meja operasi akhirnya tiada. Apalagi dirinya. Bahkan Cherry sudah merasakan beberapa hari ini kondisinya semakin menurun dia juga bahkan semakin lemah dan mungkin juga akan menyusul Siska.
" Apa yang kamu bicarakan. Aku sudah mengatakan jika kamu akan tetap bersamaku. Kamu tidak akan pernah pergi," ucap Verro dengan memegang ke-2 pipi Cherry. Cherry tersenyum.
" Verro banyak transplantasi jantung yang gagal. Dan banyak yang berakhir di meja operasi. Sama seperti Siska dan mungkin juga aku," ucap Cherry dengan terus tersenyum.
" Itu orang lain bukan kamu Cherry," sahut Verro.
" Aku tau tetapi banyak kemungkinan jika aku juga. Tetapi meski aku pergi. Bukannya aku akan tetap di hati kamu," ucap Cherry meletakkan telapak tangannya di dada Verro.
" Hanya ragaku yang pergi. Tetapi hatiku tetap ada bersamamu. Jadi kamu tidak akan merindukanku. Tetapi jika kamu ingin melihatku aku aku di sana," tunjuk Cherry melihat keatas langit.
" Aku akan terus melihatmu dari atas sana. Jadi jangan pernah menangis atau sedih. Karena aku akan jauh lebih sedih lagi," ucap Cherry lagi seakan memberi salam perpisahan.
Verro langsung memeluknya. Tidak tahan mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Cherry.
" Kamu akan tetap bersama ku Cherry. Kamu tidak pernah pergi. Mau kamu operasi atau tidak. Kamu pasti akan terus di sisiku. Jadi jangan mengatakan hal itu lagi. Aku sudah katakan aku tidak ingin mendengarnya," ucap Verro memeluk erat.
" Apa ini adil untukku Tuhan. Kenapa aku harus mengalami semua ini. Apa aku tidak bisa tetap bersama Verro. Apa aku tidak bisa hidup dengannya lebih lama," batin Cherry dengan cucuran air matanya.
" Jangan ambil dia dariku. Aku mohon. Aku belum bisa memberinya banyak kebahagian. Jadi aku mohon jangan ambil dia secepat itu," batin Verro yang tidak siap jika harus kehilangan Verro.
__ADS_1
Bersambung.....