
Cherry dan Verro masih saja berada di dalam hutan. Verro dan Cherry berusaha naik keatas, walau kondisi Verro yang sebenarnya sangat sakit.
Satu tangan Verro memegang Cherry dan satunya lagi memegang pohon dan akar-akar kayu bahan untuk naik ke atas.
" Apa tidak ada yang mencari kita," oceh Cherry sudah kelelahan.
Sudah lah gelap banyak nyamuk dingin. Bagaimana dia tidak mengoceh. Untuk rembulan menemani merak.
" Sabarlah sebentar lagi kita akan sampai, makanya kalau di kasih tau mendengar," sahut Verro membuat Cherry merengut.
" Barusan tadi bicara baik-baik, katanya bukan salahku, sekarang malah mengatakan salahku, memang kalau sudah terbiasa menyalahkan tidak akan pernah berubah," oceh Cherry bergerutu membuat Verro melihatnya.
" Jangan marah-marah, kita tidak akan sampai," ucap Verro.
" Iya," sahut Cherry tidak ikhlas.
Verro meraih pinggang Cherry agar lebih dekat dengannya, Sehingga Cherry menoleh kearah Verro.
" Pegang kuat, kau bisa tergelincir," ucap Verro.
Cherry mengangguk dan juga memegang punggung Verro dengan erat. Namun Cherry tersenyum tipis dengan perlakukan manis Verro.
Sementara di sisi lain, Vandy, Azizi, Varell, Nadya, Sasy, Toby, dan Aldo mencari Verro dan Cherry menggunakan senter sebagai alat penerang dan berteriak memanggil nama temannya itu.
" Cherry, Verro, Cherry, Verro," mereka terus memanggil nama itu berulang kali.
" Kemana ya mereka, kenapa tidak ada jejak?" ucap Vandy yang kelelahan dan langsung terduduk bersandar di pohon dengan napasnya yang naik turun, mengipas-ngipas dengan tangannya.
" Benar aku sudah sangat lelah, kenapa Cherry tidak kelihatan juga," sambung Toby yang sudah duduk lemas di tanah yang di ikuti yang lainnya.
" Apa Cherry dan Verro di makan binatang buas," celetuk Toby dengan suara serak.
" Sembarangan kalau bicara," sambar Sasy langsung menggeplak kepala Toby.
" Tau nih," sahut Vandy menjulurkan kakinya menendang Toby.
" Sakit," protes Toby.
" Makanya Toby jangan bicara sembarangan," sahut Azizi ikut kesal.
" Iya, maaf," sahut Toby masih mengusap-usap kepalanya.
Varell menyenter ke arah jurang yang 12 meter dari mereka. Seakan merasa jika ada petunjuk di sana.
" Kenapa Varell?" tanya Nadya.
" Entahlah mereka juga tidak mungkin masuk sana," jawab Varell merasa kan firasat jika temannya ada di sana.
" Itu kan jurang," sahut Azizi.
" Hmmm, iya," jawab Varell terus menyenter.
Aldo melihat kelangit dan melihat awan yang gelap semakin gelap dengan mendung.
" Sepertinya akan turun hujan," sahut Aldo terus melihat ke atas.
" Benarkah, terus bagaiman," sahut Sasy khawatir.
" Apa kita kembali saja, mengantarkan mereka, lalu kita kembali mencari dengan memakai jas hujan," sahut Vandy memberi saran.
" Tidak aku ingin tetap mencari," tolak Sasy dengan kelelahan yang tetap ingin mencari sahabatnya.
" Lagi pula pulang juga tidak ada gunanya, sudah tanggung, kita sudah terlalu jauh memasuki hutan," sahut Azizi.
" Benar kata Azizi, kita cari saja, Verro dan Cherry, walau hujan yang penting kita sudah berusaha," sambung Nadya.
" Hmmm, aku setuju, kita lanjutkan saja mencari mereka," sambung Aldo. Varell melihat ke arah Aldo. Varell sangat tidak suka jika Aldo menyambar-nyambar ucapan Nadya.
" Ada yang salah?" tanya Aldo melihat tatapan sinis Varell.
Varell diam dan mengalihkan pandangannya kembali menyenter di sekelilingnya.
__ADS_1
Sementara di sisi lain Verro dan Cherry terus berusaha naik. Cherry reflex memejamkan matanya saat merasa silau. Bahkan Cherry mengucek matanya dengan 1 tangannya dan melihat ke atas.
" Verro apa bulannya memantul cahaya,"ucap Cherry tiba-tiba.
" Kenapa?" tanya Verro bingung.
" Seperti ada cahaya yang menyoroti mata ku, aku sampai ke silauan. Mungkin bulanya memantul ke sungai," jawab Cherry menerka-nerka.
" Mana mungkin," sahut Verro. Tetapi Verro kaget. Benar kata Cherry ada pantulan cahaya yang menyoroti wajah Cherry.
" Apa ada orang di atas," tebak Verro.
" Ha! masa iya," sahut Cherry tidak percaya.
" Iya ada orang di atas," sahut Verro yakin.
" Woy, ada orang di atas, di sini ada orang," teriak Verro dengan sisa suaranya. Cherry kaget mendengar teriakan Verro di sampingnya.
" Tolong, di bawah ada orang!" teriak Verro lagi.
" Tolong! tolong!" sambung Cherry yang juga berteriak.
Di atas Vandy dan yang lainnya masih beristirahat sambil memikirkan cara agar menemukan Cherry dan Verro.
Tiba-tiba Nadya yang memiliki tajam pendengaran seperti mendengar teriakan.
" Kalian dengar sesuatu tidak," sahut Nadya tiba-tiba.
" Apaan sih, Nadya nggak usah nakut-nakutin, ini bukan waktunya," sambar Sasy yang malah merinding sampai menghapus leher belakangnya.
" Tau nih, buat merinding aja," sahut Toby lagi.
" Ishhhh, bukan, aku kayak dengar suara minta tolong," sahut Nadya.
" Tolong! tolong!" teriakan itu semakin dekat.
" Dengar kan," ucap Nadya yang semakin jelas mendengar.
Aldo memberi isyarat untuk diam agar bisa mendengarkan suara yang di maksud Nadya.
" Iya benar ada suara minta tolong," ucap Azizi yang sudah bisa mendengarnya.
" Iya suaranya tidak jauh," sahut Vandy.
" Apa dari sana," tebak Varell langsung menyenter ke arah jurang. Semua orang yang ada di situ saling melihat. Varell langsung mendekati jurang setelah merasa suara tersebut berasal dari sana.
" Varell tunggu!" ucap Sasy yang langsung berdiri mengikuti Varell yang di ikuti semuanya.
Sementara di bawah sana Cherry dan Verro sudah kelelahan berteriak.
" Jangan berteriak lagi, kau akan kecapean," ucap Verro yang mengkhawatirkan Cherry. Melihat Cherry yang keringat dingin dan bahkan memegang dadanya yang mungkin Cherry merasa sesak.
" Kita sebaiknya turun lagi, kau haru minum," ucap Verro tidak tega melihat Cherry yang benar-benar kecapean. Cherry menggeleng cepat.
" Jangan, aku tidak apa-apa, kita sudah separuh jalan," tolak Cherry dengan napas yang sesak.
" Tapi," sahut Verro yang begitu khawatir. Melihat Cherry yang di penuhi keringat.
" Cherry, Verro apa kalian ada di bawah," terdengar suara teriakan membuat Cherry dan Verro saling melihat.
" Ada yang memanggil kita," sahut Cherry kesenangan.
" Iya ada yang memanggil kita," sahut Verro membenarkan. Cherry ingin berteriak langsung di tahan Verro.
" Biar aku saja, tenaga mu akan semakin habis," cegah Verro. Cherry mengangguk.
" Iya kami ada di bawah tolong!" teriak Verro dengan sisa tenaganya.
" Suara Verro," celetuk Sasy mendengar jelas.
" Iya benar," sahut Vandy langsung menyenter dan agak turun sedikit.
__ADS_1
" Hati-hati, nanti bisa jatuh," cegah Azizi.
" Azizi, Nadya, Sasy, kalian tunggu di sini. Biar kita para cowok yang turun kebawah," ucap Aldo memberi saran.
" Benar, ini terlalu bahaya kalau kalian ikut," sambung Vandy.
" Iya turunlah," sahut Sasy langsung setuju.
Vandy, Varell, Toby, dan Aldo perlahan turun dan sambil berteriak memanggil Cherry dan Aldo. Dengan menyenter.
" Semoga mereka cepat membawa Verro dan Cherry naik keatas," ucap Sasy penuh harapan.
" Iya semoga," sahut Azizi.
Varell menyenter dan melihat Verro dan Cherry yang berusaha naik.
" Itu mereka?" tunjuk Varell.
" Cherry!" teriak Toby melihat Cherry. Cherry kaget melihat teman-temannya sudah dekat dengannya.
" Toby," teriak Cherry dengan semangat kesenangan.
" Tunggu aku," teriak Toby yang semangat dan berjalan cepat. Tetapi Toby tidak bisa mengontrol dirinya dan akhirnya terpelintir.
" A-a-aaaaa," teriak Toby berjalan kecepatan tanpa rem. Membuat yang lain geleng-geleng, sementara Cherry menutup matanya saat Toby akan menabraknya.
" Tahan Cherry!" teriak Toby.
" Menyusahkan," desis Verro kesal dengan sigap menggeser Cherry kesebelahnya dan menarik Toby.
" Ah-Ah-ah ha-ha-ha-ha-ha," napas Toby tersenggal-senggal saat sudah berada tubuhnya tertahan.
Aldo, Varell, dan Vandy, membuang napas serentak ketika melihat Toby tidak jadi jatuh.
" Dasar bikin onar," lirih Varell.
" Untung aku selamat, Verro tetap pegang kuat," ucap Toby melihat kebawah merasa negeri. Apa lagi 1 tangannya yang memegang senter malah menyenter kebawah sana.
" Toby, kamu hampir saja jatuh kebawah," ucap Sasy.
" Iya hampir," sahut Toby.
Vandy, Varell, dan Aldo, sudah semakin dekat, Vandy paling bawah mengulurkan tangan agar di sambut. Sementara diaatas Vandy ada Aldo dan Varell yang menahan Vandy dan menyambut orang yang di tarik Vandy agar bisa naik. Strategi mereka sudah sangat pas.
" Verro, sambut tanganku," ucap Vandy mengulurkan tangannya.
" Pake apa, apa nggak liat," sahut Verro ketus. Bagaimana menyambut tangan Varell. 1 tangannya memegang pinggang Cherry. Yang satunya di tarik Toby yang hampir terguling kebawah.
" Benar juga," lirih Vandy.
" Cherry kau saja, cepat!" suruh Vandy. Cherry melihat ke arah Verro dan Verro yang sudah kelelahan mengangguk. Cherry menyambut tangan Vandy. Vandy pun menariknya. Verro juga ikut mendorong tubuh Cherry. Setelah berhasil. Aldo langsung menarik tangan Cherry. Dan di sambut Varell.
" Tarik Cherry!" teriak Varell pada wanita-wanita yang di atas sana.
" Cherry," teriak Sasy saat melihat temannya dan langsung membuat strategi seperti yang di lakukan para lelaki.
Nadya berada paling bawah. Nadya mengulurkan tangannya pada Cherry dan Cherry berusaha payah meraih tangan itu. Tetapi dengan usahanya akhirnya berhasil. Dan Cherry naik lagi menyambut tangan Azizi sampai akhirnya tangan Sasy.
" Cherry pegang yang kuat!" ucap Sasy dengan semangat. Cherry mengangguk. Sasy bersusah payah menarik dan akhirnya Cherry sampai kedaratan dan langsung jatuh kepelukan Sasy.
" Kenapa pergi! kamu tau kan aku sangat khawatir, bagaimana jika ada binatang buas, kamu bisa dimakan," oceh Sasy yang menangis di pelukan Cherry.
" Maaf Sasy," ucap Cherry dengan napasnya yang sesak. Sasy melepas pelukannya dan memeriksa tubuh Cherry apa kah ada yang lecet atau tidak.
" Kau tidak apa-apa kan?" tanya Sasy khawatir. Cherry menggeleng dan menghapus air mata Sasy.
" Aku tidak apa-apa, maaf membuatmu khawatir," ucap Cherry merasa bersalah. Sasy kembali memeluknya.
" Jangan melakukan itu lagi berjanjilah," ucap Sasy yang benar-benar takut kehilangan Cherry.
💝💝Bersambung
__ADS_1
Hay para readers yang baru bergabung. Bantu support ya novel aku yang baru.
Tinggalkan jejak. Komentar, like, dan jangan lupa vote sebanyak-banyaknya. Agar aku semakin semangat melanjutkan ceritanya.