
Mobil Sasy berhenti di depan Bandara. Dia memang harus menjemput Toby. karena Toby memang menelponnya menyuruhnya untuk menjemputnya. Maklumlah pacarnya seorang pilot jadi harus terbang sana sini.
Setelah memarkirkan dengan tepat. Sasy langsung keluar dari mobilnya.
" Semoga saja, aku tidak telat," batin Says yang buru-buru memasuki Bandara untuk mencari pacarnya itu.
Sementara Toby sedang menunggunya di salah satu bangku yang ada di sana. Toby duduk dengan koper yang berada di sampingnya.
" Di mana Sasy," gumamnya yang melihat-lihat di sekelilingnya yang mencari-cari kekasihnya yang tak kunjung datang. Padahal dia sudah menunggu 10 menit. Tapi Sasy tidak juga datang. Maklumlah kalau telat-telat sedikit itu masih biasa. Jadi mohon di maklumi.
" Kapten!" tegur seorang pramugari yang seksi yang berdiri di depan Toby dengan memegang kopernya.
" Ha, iya Rimar," sahut Toby yang ternyata nama wanita itu adalah Rimar.
" Kapten belum pulang?" tanya Rimar dengan wajahnya yang tersenyum dan tampaknya Rimar seperti cari-cari perhatian Toby.
" Belum, masih menunggu di jemput," jawab Toby yang membuka ponselnya.
" Kalau tidak di jemput. Bagaimana jika pulang bersama saya?" sahut Rimar menawarkan.
" Tidak usah, kamu duluan saja," sahut Toby yang langsung menolak.
" Ishhh, kenapa sih, kapten Toby sangat jutek, masa iya dia tidak meliriku yang sangat cantik ini," batin Rimar yang sepertinya ingin menggoda Toby.
Toby memang jutek dan fokus pada ponselnya yang sepertinya menghubungi kekasihnya. Tiba-tiba Rimar tersenyum miring penuh rencana. Matanya turun pada kancing baju Toby yang terlepas.
" Maaf, kapten," sahut Rimar dengan cepat menunduk memperbaiki kancing baju itu.
" Kamu ngapain," sahut Toby heran dengan memegang tangan Rimar yang mengkancing bajunya.
" biar saya rapikan soalnya terbuka," sahut Rimar.
" Tidak perlu, saya bisa sendiri," ucap Toby.
__ADS_1
" Tidak apa-apa, tuan," sahut Rimar yang tetap memaksa.
Saat adegan yang sangat intim dan dekat itu terjadi. Sasy akhirnya muncul. Matanya mencari-cari pacarnya dengan ponselnya di telinganya yang ingin menelpon. Namun tiba-tiba tidak jadi.
Mata Sasy fokus pada sesuatu dan perlahan tangannya turun dari telinganya yang memegang ponselnya dan mata itu langsung melotot yang ternyata melihat Toby yang duduk dan wanita di depannya yang menunduk yang membuka kancing bajunya.
" Kurang ajar," geram Sasy dengan mengepal tangannya yang melihat pemandangan yang membuat matanya sakit.
" Eh, pelakor," teriak Sasy dengan suaranya menggelegar.
Toby dan Rimar sama-sama melihat kerah suara itu. Pria dan wanita itu sama-sama kaget dengan Sasy yang melangkah cepat dengan mengepal tangannya dan sorot matanya yang tajam yang seolah ingin langsung menerkam.
" Tammat," batin Toby pasrah dengan apa yang di depannya.
" Pelakor, tidak tau diri," geram Sasy yang menarik tangan Rimar dari baju Toby dan langsung menghempas kan kasar Rimar. Rimar yang memakai heels mau tidak mau akhirnya terjatuh dan terduduk dan hal itu mengundang orang-orang untuk menonton pertunjukan itu.
" Kurang ajar kamu ya!" teriak Sasy menunjuk Rimar.
Dunia ini memang penuh dengan pelakor, tidak hanya ada di Indosiar. Di dunia nyata penuh pelakor, tidak Tari, Fiona, dan kamu semuanya pelakor yang turun temurun yang suka mengusik hubungan orang lain," cerocos Sasy marah-marah yang tidak peduli dia di mana.
Sementara Rimar pasti sudah malu yang menjadi tontonan dan Toby terlihat pasrah.
" Kamu ngapain hah! menggoda pacar orang. Gaji kamu tidak cukup hah! makanya kegatelan sama pacar orang. Heh kamu pikir kamu itu di lirik sama pacarku hah! kamu itu tidak selevel denganku. Kamu itu Pramugari gatal dan sementara aku seorang Dokter jadi jangan banyak bermimpi kamu jadi orang," gertak Sasy dengan penuh emosi yang marah-marah. Toby pun akhirnya berdiri.
" Sasy, sudah kamu jangan marah-marah seperti ini," ucap Toby menenangkan pacaranya.
" Apa yang tidak marah-marah hah! kamu mau hubungan kita berantakan gara-gara hadirnya pelakor. Kamu tidak bisa hah! belajar dari yang lainnya. Lihat Cherry dan Verro, Raquel dan Aldo dan sekarang Vandy dan Azizi. Hubungan mereka itu pecah karena ada pelakor-pelakor turun temurun itu dan itu semua gara-gara prianya yang membuka kesempatan," tegas Sasy.
" Oke, Sasy dia yang menggodaku aku tidak melakukan apa-apa," sahut Toby yang apa adanya. Ya dari pada dia juga menjadi amukan. Jadi tidak berniat juga membela pramugari itu.
" Hah, tuh kan, kamu yang jadi masalahnya, benar-benar ya dasar wanita ******," geram Sasy yang ingin mencabik-cabik wajah wanita itu.
" Sasy sudah, kamu bisa di pidanakan jika main kekerasan di sini. Jadi jangan mencari masalah, ayo kita pergi," cegah Toby.
__ADS_1
" Eh kamu dengar ya wanita tidak tau malu. Aku sudah memberimu ampunan sekali. Jika sampai kamu berani-beraninya mengganggu pacarku lagi. Kamu selesai denganku!" ancam Sasy dengan jarinya yang menyayat lehernya membuat ancaman untuk Rimar dan jelas Rimar sangat takut mendengarnya.
" Awas kamu," kecam Sasy, yang akhirnya pergi bersama Toby.
" Huhhhhhh, jadi itu pacar kapten Toby. Ya ampun kenapa galak sekali. Untuk saja dia tidak menjambak rambutku di sini. Jika sampai iya, aku bisa berakhir," batin Rimar yang yang panik.
Dia juga harus menahan malu. Karena orang-orang yang sudah menontonnya dan pasti kata-kata pelakor itu membuat cap jelek di dalam dirinya. Salah sendiri sih ngapain ganggu-ganggu pacar orang.
**********
Tari masih berada di dalam mobil dan mengingat kronologi kejadian itu.
" Argggghhh," teriak Tari mengacak rambutnya frustasi.
" Semuanya semakin berantakan. Fiona bahkan dia tidak membantuku sama sekali. Dia yang sudah menghasutku untuk menyebar Vidio itu dan sekarang dia sama sekali tidak kelihatan. Arggghhhh apa lagi yang harus aku lakukan," Tari pusing sendiri dengan memukul-mukulkan kepalanya ke stir mobil.
************
Raquel yang menyelesaikan semua pekerjaannya di rumah sakit langsung pergi ketempat salah satu temannya yang memang ahli dalam teknologi. Dan sekarang Raquel sedang duduk di sofa yang sedang menunggu temannya itu.
" Maaf ya Raquel sudah menunggu lama," sahut seorang Pria yang menunjukkan dirinya dan duduk di depan Raquel.
" Hmm, tidak apa-apa santai saja. Oh iya ini," sahut Raquel yang langsung memberikan ponselnya pada Pria itu.
" Kamu tolong ya cek vidionya. Aku butuh banget bantuan kamu. soalnya kalau tidak sama kamu. Aku nggak tau harus minta tolong sama siapa lagi," ucap Raquel yang sangat mengharapkan temannya itu.
" Iya, kamu santai saja. Aku mencoba untuk menelitinya, nanti aku akan kabari kamu," ucap Pria itu.
" Hmm, thanks ya. Ya sudah kalau begitu, aku balik dulu," ucap Raquel yang langsung pamitan.
" Oke," sahut pria itu. Mereka bersalaman dan Raquel langsung pergi. Dia cukup merasa lega. Karena temannya itu benar-benar sangat membantunya.
Bersambung
__ADS_1