
Cherry menoleh kebelakang melihat Verro yang duduk yang juga melihat dirinya. Namun pandangannya langsung di alihkannya ke depan.
Sementara di bangku Fiona masih tetap di kerumuni teman-teman sekelasnya yang sangat kepo dengan Fiona.
Raquel, Mitha dan Selina memasuki kelas. Melihat ke -3 orang itu membuat Cherry takut-takut, karena di dalam mimpinya di mulai dari semua itu.
" Apa semuanya sudah di mulai," batin Cherry merasa was-was.
" Kayaknya ada yang kesenangan nih," ucap Raquel yang berjalan menghampiri bangku Fiona.
" Dugaan ku benar, Mak lampir itu sudah memulai aksinya," batin Cherry geram namun dia pasrah dengan ke adaannya.
" Minggir lo semua!" usir Raquel pada orang-orang yang mengerumuni bangku Fiona dan Raquel langsung duduk di meja Raquel dengan menyilangkan ke-2 tangannya di dadanya.
" Turun lo!" usir Fiona kesal. Membuat Raquel tersenyum miring.
" Baru aja dapat rezeki nomplok nyium Verro sudah merasa hebat," ucap Raquel dengan sinis. Mengundang senyum Mitha dan Selina.
" Jadi cewek kok suka main belakang," sambung Selina yang langsung mendapat tatapan sinis dari Fiona.
" Apa maksud mu?" tanya Fiona.
" Pakai nanyak lagi," sahut Mitha sinis.
" Hey Cherry lo nggak ada rencana buat Jambak ni pelakor," sahut Raquel dengan keras melihat ke arah Cherry.
Cherry terdiam tanpa melihat sedikit pun kearah Raquel.
" Apaan sih si Raquel, nggak penting banget," desis Sasy yang ikut kesal.
Sementara Varell dan Vandy sama-sama melihat ke arah Verro yang sepertinya juga menahan kesal. Harus di akuinya kupingnya sangat panas mendengar hal itu.
" Kalau gue sih, sudah habisi nih pelakor," Tambah Mitha lagi memanas-manasi.
" Memang kata-katanya berbeda sedikit, tapi ini akan menjadi awal semuanya," batin Cherry merasa sudah waktunya.
" Benar, pelakor nggak bisa di biarin terus menerus," sahut Selina lagi.
Fiona mengepal tangannya dan menggebrak meja dengan kedua tangannya lalu berdiri. Gebrakan meja membuat 1 kelas kaget dan langsung melihat ke arah Fiona.
" Sudah di mulai," batin Cherry yang pasrah.
" Turun lo dari sini!" bentak Fiona.
" Lo, marah?" tanya Raquel dengan sinis.
" Gue bilang turun, lo ber-3 pergi, sebelum gue laporin sama kepala sekolah," ancam Fiona.
__ADS_1
" Lo ngancam kita," ucap Raquel yang tidak takut sama sekali.
" Apa mencium Verro membuat lo banyak bicara, dan gue lihat beberapa hari ini. Kayaknya lo berusaha dapat perhatian dari Verro, atau jangan-jangan lo menyukainya," tebak Raquel membuat Fiona mengepal ke-2 tangannya.
" Emang lo nggak sadar, Verro sudah punya pacar," sahut Selina.
" Oh iya, terus apa urusannya sama gue," sahut Fiona yang semakin kesal.
" Lihatlah semuanya semakin dekat," batin Cherry sudah keringat dingin.
" Apa sih maunya si Raquel," desis Sasy.
" Cherry kenapa kamu diam saja, tidak ingin mengatakan apapun kepadanya," sahut Raquel lagi.
Cherry menarik napasnya dengan dalam dan membuangnya perlahan lalu berdiri. Berdirinya Cherry langsung di lihat oleh Verro, Vandy, Varell dan murid-murid yang lainnya.
" Apa akan terjadi keributan," batin Vandy yang merasa was-was. Mengingat Cherry juga sangat cemburu dengan kejadian kemarin terlihat dengan gaya bicara Cherry.
" Apa yang ingin kalian dengarkan?" tanya Cherry dengan suara keras.
" Cherry aku hanya ingin tau apa tanggapan kamu dengan perbuatan Fiona semalam. Kamu kan tunangannya Verro, bukannya seharusnya kamu merasa kesal atau marah, bahkan seharusnya kamu melabarknya," ucap Raquel yang sudah berdiri.
Cherry kembali menarik napasnya seakan ingin mencegah hal-hal yang terjadi. Dia tidak ingin pada akhirnya Fiona menghinanya.
Vandy yang melihat Cherry semakin merasa was-was, Vandy langsung membalikkan badannya menghadap Verro.
" Apa maksudmu?" tanya Verro yang masih kesal dengan Vandy karena insiden tadi pagi.
" Dengar ya Verro, jujur Cherry sangat cemburu dengan apa yang terjadi dengan kau sama Fiona kemarin, dan dia bahkan memikirkan hal itu sampai tidak bisa tidur, sebaiknya, lo tenangin Cherry dulu, kasian dia," ucap Vandy menjelaskan.
Verro langsung melihat ke arah Cherry yang tampak kebingungan. Verro pun berdiri dan langsung berjalan menuju tempat duduk Cherry. Tanpa berbicara panjang lebar. Verro meraih tangan Cherry membuat Cherry kaget dan juga semua 1 kelas.
" Iku denganku!" ucap Verro.
" Hah!" pekik Cherry bingung. Tanpa mendengar jawaban dari Cherry Verro membawa Cherry ke luar dari dalam kelas dan membiarkan kegaduhan.
Sontak hal itu mendapat godaan manis dari teman 1 kelas yang melihat hal itu sangat romantis.
Sasy tersenyum melihatnya lalu berdiri.
" Eh, Raquel lo nggak usah buat kegaduhan dengan memanfaatkan suasana, lo urus aja diri lo sendiri, dan elo Fiona, nggak usah kegeeran yang nyium Verro itu lo, bukan Verro, jadi lo nggak usah baper jadi cewek," oceh Sasy menegaskan.
Sontak hal itu mendapat sorakan dari teman-teman satu kelasnya.
" Bubar lo semuanya," ucap Fiona yang kesal dengan kerumunan di sekitarnya.
***********
__ADS_1
Bel istirahat sudah berbunyi, setelah dari ruangan V3 Cherry pun menuju kantin mengambil makan siang.
Sebelumnya Verro membawanya keruangan pribadi V3. Tidak ada pembicaraan mereka hanya diam tanpa berbicara satu katapun. Tidak Verro maupun Cherry hanya tertidur di sofa.
Sampai bel istrirahat terdengar barulah mereka bangun dari tidurnya. Kebetulan Cherry memang sangat mengantuk karena yang tidak tidur semalam.
Memang sekolah sepertinya punya ke-2 sampai suka bolos-bolosan.
Cherry dan Sasy juga Toby berjejer mengambil makan siang menurut antrian.
Setelah mengambilnya mereka bertiga berjalan sambil melihat-lihat bangku yang kosong. Langkah Sasy berhenti ke Tika berada di samping tempat duduk V3.
Sasy langsung mendorong Cherry duduk di samping Verro. Membuat Cherry kaget, lalu Sasy langsung duduk di samping Cherry.
" Sudah tidak ada tempat," ucap Sasy menekankan.
Toby, langsung duduk di samping Varell.
Cherry dan Verro yang duduk bersebelahan saling melihat dan kembali fokus pada makanan.
" Apa kalian sudah baikan," celetuk Vandy sambil mengunyah makanannya yang langsung mendapat tatapan horor dari Cherry dan Verro membuat Vandy lumayan takut.
" Aisss, sudahlah lupakan masalah itu. Memang si biang keroknya itu si Toby," sahut Sasy menyalahkan Toby.
" Kok gue," sahut Toby tidak terima.
" Emang elo," timpal Sasy, " kalau lo nggak iseng fotoin dan nyebar di Mading, ini nggak akan berlanjut," lanjut Sasy dengan geram.
" Apa Toby benar-benar cetak foto itu, tapi kok aku nggak liat sama sekali ya," batin Cherry yang kebingungan.
" Ya tapi tetap aja, bukan salah ku," sahut Toby tetap tidak ingin di salahkan.
" Kalian mau makan atau berantam, kalau mau berantam, silahkan pergi dari sini," ucap Varell menegaskan.
" Tidak Varell jangan langsung marah ya," sahut Sasy langsung tersenyum yang tidak ingin di usir Varell.
" Hmmmm, begini mengingat sebentar lagi kita akan berangkat study tour, bagaiman jika kita berbelanja bersama. Sekedar jalan-jalan atau apa gitu kek," ucap Sasy dengan idenya tiba-tiba.
" Bukannya kau setiap malam keluyuran," sahut Toby.
" Issshhh, jangan ikut-ikutan," sahut Sasy kesal.
" Setuju sih, lumayan juga idenya," sahut Vandy yang langsung menyetujui mengingat akhir-akhir ini dia lumayan jenuh dan butuh reflesing.
💝💝Bersambung
Hay para readers yang baru bergabung. Bantu support ya novel aku yang baru.
__ADS_1
Tinggalkan jejak. Komentar, like, dan jangan lupa vote sebanyak-banyaknya. Agar aku semakin semangat melanjutkan ceritanya