
Mobil Arif berhenti di depan rumahnya. Arif menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan kedepan. Melihat ke dalam rumahnya. Sepertinya pikiran Arif tidak tenang. Makanya beberapa kali dia membuang napas kasar kedepan.
Arif kembali menghela napas. Mengambil tas kerjanya. Lalu keluar dari mobilnya dan langsung memasuki rumahnya. Di meja makan. Ada mama, papa, Iqbal, Azizi dan juga Vandy.
" Arif makan malam dulu sekalian," sahut Lina memanggil putranya itu. Arif hanya fokus melihat ke arah Vandy yang terlihat santai. Namun Azizi yang malah melihat Vandy yang seperti mengintimidasi.
" Arif, kenapa diam. Ayo makan, jangan berdiri aja di sana?" panggil Rudi sang papa.
" Iya pah," jawab Arif yang langsung menghampiri meja makan yang duduk di hadapan Azizi dan Vandy.
" Om Arif baru pulang?" tanya Iqbal yang makan dengan lahap di samping Iqbal.
" Iya sayang," sahut Arif.
" Ayo isi piring kamu. Kamu mau makan apa?" tanya Lina.
" Iya mah, biar Arif ambil sendiri saja," ucap Arif. Mengambil piring yang mulai mengisinya piringnya itu.
" Hmmmm, aku tidak tau apa Vandy menceritakan kepada mama tentang semuanya," batin Arif yang terlihat begitu kepikiran tentang masalah itu.
" Iqbal makannya pelan-pelan sayang," ucap Azizi menegur putranya itu.
" Iya mah," sahut Iqbal yang tersenyum lebar.
" Kak Arif terlihat begitu canggung. Apa dia kepikiran dengan Selina ya," batin Azizi yang terus memperhatikan kakak iparnya itu.
" Sayang kamu kenapa?" tanya Vandy menegur pelan istrinya.
" Tidak apa-apa," jawab Azizi.
" Ehemmm," Arif tiba-tiba berdehem membuat Azizi dan Vandy melihat kearah Arif.
" Ada apa Arif?" tanya Rudi.
" Hmmm, pah mah, ada yang ingin Arif bicarakan," ucap Arif terlihat gugup. Antara yakin dan tidak dengan apa yang ingin di bicarakannya. Rudi dan Lina saling melihat.
" Apa itu penting?" tanya Lina. Arif mengangguk.
__ADS_1
" Ya sudah katakan Arif apa yang ingin kaku bicarakan," sahut Rudi.
" Apa kak Arif akan mengatakan hal itu," batin Vandy yang menebak-nebak.
Azizi juga terlihat menunggu dengan kira-kira apa yang akan di bicarakan kakak iparnya itu.
" Mungkin memang ini saatnya. Aku tidak bisa diam terus," batin Arif yang masih mencoba menyakinkan dirinya.
" Arif, malah bengong. Katanya ingin bicara," sahut Lina.
" Iya mah. Begini ma, pah, aku ingin menikah," ucap Arif to the point. Lina dan Rudi kaget mendengar hal itu. Sementara Azizi dan Vandy saling melihat yang pasti mereka tidak percaya jika kakaknya akan langsung jujur dengan hubungannya dengan Selina.
" Menikah," sahut Rudi dengan wajah kagetnya. Arif mengangguk memperjelas semuanya.
" Arif mama jelas kaget mendengar apa yang kamu katakan dan kamu juga tidak pernah mengenalkan pacar kamu pada kami. Setau kami kamu itu sibuk kerja. Dan wajar banget kalau misalnya kami sampai tidak bisa bicara apa-apa," sahut Lina yang beberapa kali menguak air putih. Karena masih tidak percaya dengan Vandy yang sudah menikah-nika aja.
" Arif mengerti dengan kagetnya mama dan papa. Tetapi ini memang serius," sahut Arif.
" Hmmm, baiklah Arif, memang siapa pacar kamu. Apa kami mengenalnya," sahut Rudi.
" Arif!" tegur Lina.
" Teman Azizi dan juga Vandy," jawab Arif. Lina langsung melihat ke arah pasangan suami istri itu.
" Kalian mengenalnya?" tanya Lina.
" Hmmm. Jika itu Selina ya jelas kami mengenalnya," jawab Vandy dengan santai.
" Ohhhh, jadi namanya Selina. Teman kalian apa mama mengenalnya atau pernah bertemu sebelumnya?" tanya Lina.
" Hmmmm, mama pernah bertemu dengannya," sahut Vandy. Secara tidak langsung Vandy memang sering membawa Selina sebenarnya. Bahkan sudah memperkenalkan Selina saat Vandy menikah. Namun tidak mengatakan Selina adalah pacarnya dan pasti itu karena Selina.
" Hmmnmm, benarkan begitu. Siapa ya dia. Ya sudah kalau begitu bawa saja kemari," ucap Lina dengan santai.
" Benar kak Arif bawa aja Selina. Mama dan papa ingin mengenalnya. Lagian kalau menikah kan harus saling mengenal," sahut Vandy menambahi.
" Apa yang namanya Selina itu teman dekat kalian?" tanya Lina.
__ADS_1
" Iya mah," jawab Azizi serentak dengan Vandy.
" Ya sudah Arif kapan kamu memperkenalkan calon istri kamu kepada kami?" tanya Rudi.
" Itu yang menjadi masalahnya mah. Selina tidak siap untuk di perkenalkan," sahut Arif. Mendengar hal itu membuat Lina heran dengan kata-kata Arif.
" Apa masalahnya Arif. Apa kalian baru pacaran. Makanya Selina tidak siap untuk di perkenalkan?" tanya Lina.
" Kami pacaran 4 tahun ma," sahut Arif.
" 4 tahun," pekik Lina yang begitu kaget. Arif mengangguk.
" Dan selama 4 tahun itu. Kamu dan Selina merahasiakan hubungan kamu dari kamu semua. Apa masalahnya Arif. Kenapa harus di rahasiakan," sahut Rudi yang benar-benar penuh dengan kebingungan.
" Masalah finansial," jawab Arif yang jujur langsung. Jika kendala hubungan mereka karena hal itu.
" Aku tidak tau pikiran Selina mengarah pada mana. Dia selalu merasa tidak cocok denganku. Hanya karena aku seorang Dokter dan dia gadis biasa. Aku sama sekali tidak pernah melihat ke arah sana. Tetapi justru itu yang menjadi alasan Selina. Selian semakin minder karena Vandy adikku dan teman-teman Vandy juga di kenalnya. Itu alasannya yang tidak ingin hubungan kami di publish," jelas Arif yang berterus terang pada keluarganya.
Vandy dan Azizi saling melihat. Untuk Azizi sendiri. Pasti sangat mengerti apa yang di rasakan Selina. Dia dan Selina sama-sama gadis biasa. Walau secara pekerjaan Azizi lebih tinggi.
" Kalau bukan Vandy yang mengetahui hubungan kami. Mungkin sampai sekarang aku dan Selina akan terus merahasiakannya. Dan ini keputusanku untuk memberitahunya. Karena aku memang ingin menikah dengan Selina," lanjut Arif yang benar-benar serius dengan kata-katanya.
Dia bahkan tidak membahas masalah ini sebelumnya dengan Selina. Tapi akhirnya memutuskan mengatakannya pada ke-2 orang tuanya.
" Kenapa seperti itu ya. Padahal kalian sudah berpacaran lama," Rudi heran.
" Arif coba kamu bawa saja Selina kerumah dulu. Alangkah baiknya kita semua bicara dulu dengannya," sahut Lina yang sepertinya sangat membuka jalan untuk kedatangan menantunya.
" Benar kak. Tidak apa-apa jika Selina di bawa dulu," sahut Vandy yang setuju dengan usulan sang mama.
" Aku akan mencoba bicara padanya nanti. Aku akan mencoba membuatnya mengerti dengan semuanya," sahut Arif.
" Iya mama dan papa akan menunggunya. Semoga saja dia mau menemui kami," sahut Lina. Arif hanya mengangguk saja.
" Maaf Selina aku tidak bisa menepati janji ku untuk tidak memberitahu semua ini. Maaf Selina mungkin ini yang terbaik untuk kita," batin Arif.
Bersambung
__ADS_1