
Verro pun akhirnya mengejar Cherry, Cherry yang berlari di dengan beberapa kali menyeka air matanya merasa sangat sakit dengan perbuatan suaminya kepadanya. Verro yang berlari lebih cepat akhirnya bisa mengejar Verro dan menarik tangan Cherry.
" Cherry, dengarkan aku," ucap Verro. Cherry langsung menepis tangan itu.
" Jangan menyentuhku!" tunjuk Cherry tepat di wajah Verro, " aku sangat membencimu!" bentak Cherry.
" Cherry apa yang kamu lihat tidak seperti yang kamu pikirkan. Aku hanya...."
" Hanya apa," sahut Cherry memotong pembicaraan Verro, " kamu ingin tidur dengannya. Atau kamu sangat menyayangkan aku datang sampai semuanya berantakan. Kamu ingin tidur di ranjangnya. Karena aku tidak memberimu tempat. Hanya itu iya!" teriak Verro.
" Jangan bicara sembarangan Cherry, aku tidak sehina itu," sahut Verro dengan suara rendahnya.
" Lalu apa Verro, kamu pikir aku buta. Aku jelas melihat sendiri. Bagaimana tangan kamu membuka kancing baju wanita itu. Kamu memeluknya!" teriak Cherry dengan isak tangisnya yang semakin sakit jika haru mengucapkan kata-kata itu.
" Cherry, Fiona sesak napas dan aku hanya ingin..."
" Ingin memberinya napas buatan, atau ingin apa lagi," sahut Cherry yang terus memotong pembicaraan Verro.
" Stop Cherry, aku Dokter dan apa yang aku lakukan tadi adalah hal spontanitas untuk menangani pasien darurat. Aku tidak berpikir apa-apa Cherry," jelas Verro dengan suara rendah yang mencoba memberikan istrinya penjelasan.
Saat itu juga Fiona datang bersama dengan Nadya yang tidak tau apa lagi tujuan Fiona.
" Benar kata Verro Cherry," sahut Fiona dengan tubuhnya di lemas-lemaskan membuat Cherry mendengarnya semakin naik pitam.
" Fiona, mending kamu jangan ikut campur," tegur Nadya pelan.
" Aku hanya ingin Cherry tidak salah paham," sahut Fiona.
" Diam kamu Fiona!" bentak Cherry, " kamu jangan bersandiwara di depanku. Kamu yang menyuruhku kemari. Kamu yang memulai semua ini," teriak Cherry yang kehilangan kendalinya.
" Apa yang kamu katakan Cherry?" sahut Fiona berlaga bego. Membuat Cherry mendekatinya mendorong Fiona sampai Fiona bergeser dan Verro seakan panik dengan apa yang di lakukannya.
" Kamu mencintai Verro bukan dan kamu menginginkan semua ini bukan. Kamu ingin tidur dengan suami orang," teriak Cherry tepat di wajah Fiona.
" Tidak Cherry kamu salah paham," sahut Fiona.
Plakkkkkkk. Cherry kembali menampar Fiona membuat Verro kaget dan menghampiri Fiona.
" Cherry cukup!" ucap Verro memegang tangan Cherry mencoba menghentikan Cherry.
__ADS_1
" Lepaskan aku!" teriak Cherry.
" Hubungan kita berantakan Verro dan kamu lebih memilih datang ketempat ini. Kamu tidak pernah mendengarkan ku dan lebih memilih Fiona. Kamu ingin menjadi Dokter dan sekalian kamu ingin menjadi obat untuk dia. Kamu melakukan semuanya. Kenyamanan pasien yang selalu kamu terapkan. Kamu akan melakukan semua cara untuk wanita itu. Termasuk jika dia menyuruhmu untuk menidurinya," teriak Cherry yang tidak bisa mengontrol kata-katanya.
" Cukup Cherry!" bentak Verro dengan suara menggelegar dia tidak tahan dengan semua tuduhan Cherry yang merendahkannya. Mendapat bentakan dari Verro membuat Cherry diam.
" Aku sudah mengatakan kepadamu. Aku tidak melakukan apa-apa," sahut Verro lagi.
" Kamu membentakku Verro di depan dia!" tunjuk Cherry pada Fiona dan Verro menjadi serba salah. Dan Fiona tersenyum miring ketika mendengar Verro membentak Cherry. Dan senyum itu di dapati oleh Cherry membuat Cherry semakin naik darah.
" Kamu, kamu benar-benar Fiona," geram Cherry dan wajah Fiona kembali di lemas- lemaskan.
Uhuk-uhuk-uhuk-uhuk uhuk.
Fiona tiba-tiba batuk dengan menutup mulutnya. Cherry yang emosi langsung menarik tangan Fiona.
" Apa yang kamu inginkan Fiona," ucap Cherry menatap tajam Fiona.
" Suamimu," ucap Fiona tanpa suara membuat Cherry naik darah. Perkataan Fiona tidak di lihat Verro.
" Kurang ajar kamu!" teriak Cherry kehilangan kendali yang memukul-mukul Fiona dan Fiona batuk-batuk.
" Perempuan sialan," Cherry mendorong Fiona sampai Fiona tersinggir kelantai dan Verro kaget melihat Fiona yang sudah keluar darah.
" Kamu memang pantas mati biadap," geram Cherry yang tidak peduli dan terus ingin memukul wanita itu.
" Ya Allah bagaimana ini," batin Nadya yang panik.
" Cherry cukup!" teriak Verro menarik tangan Cherry dan sedikit mendorong Cherry sampai Cherry terhempas ke dingding.
" Cherry," teriak Nadya yang kaget dan langsung menghampiri Cherry menolong Cherry.
" Cherry maafkan aku," ucap Verro merasa bersalah. Di sisi lain dia melihat Fiona berlumur darah dan sampai dia tidak sadar telah kasar pada istrinya.
" Kamu mendorongku Verro hanya demi dia," ucap Cherry dengan air matanya yang mengalir tidak percaya akan mendapatkan hal itu dari suaminya.
" Cherry aku tidak sengaja," ucap Verro mencoba mendekati istrinya.
" Jangan mendekat," ucap Cherry mengangkat tangannya dengan tatapannya yang sudah kosong.
__ADS_1
" Seharusnya aku tidak perlu datang kemari. Seharusnya aku tidak perlu marah-marah. Cukup tau kamu berada di mana seharusnya itu sudah menjadi jawaban untukku. Aku tidak perlu seperti orang gila menyetir sendiri kehotel mondar-mandir untuk memastikan kenyataan yang sudah ada. Seharunya aku tidak perlu melakukan itu. Jadi aku tidak perlu sesakit ini menerima bentakan kamu di depan dia, dan kamu mendorongku hanya karena membelanya. Iya ini adalah jawabannya. Jika memang seharunya aku tidak pernah kembali," ucap Cherry yang merasa sesak di dadanya..
" Cherry apa yang kamu bicarakan!" ucap Verro yang dengan suara lemah.
" Kamu memilihnya Verro. Ini sangat sakit Verro, sangat sakit. Aku sangat membencimu," teriak Cherry dengan kekecewaannya dan langsung pergi.
" Cherry tunggu!" panggil Nadya. Nadya melihat Fiona, melihat Verro dan tidak bisa bicara apa-apa dan akhirnya Fiona pun memilih untuk mengejar Cherry.
" Cherry!" lirih Verry yang juga ingin mengejar Cherry. Namun baru selangkah tiba-tiba Verro memegang kepalanya dan pandangannya mendadak rabun dan akhirnya Verro pingsan di tempat dan membuat Fiona kaget.
" Verro!" teriak Fiona yang langsung mendekati Verro yang terbaring dan Fiona panik mencoba membangunkan Verro yang tidak sadarkan diri.
**********
Setelah kejadian itu. Ternyata Nadya kehilangan Cherry dan tidak tau Cherry di mana dan Nadya terlihat bingung di depan yayasan dan tiba-tiba mobil berhenti di depannya yang ternyata Varrell dan Vandy.
" Nadya apa yang terjadi?" tanya Varell yang melihat Nadya sudah panik bahkan air matanya keluar.
" Nadya kamu tenang dulu," ucap Varell.
" Cherry dan Verro ribut besar. Dan aku tidak tau di mana Cherry?" ucap Nadya dengan bibirnya yang bergetar.
" Lalu Verro mana?" tanya Vandy.
" Dia ada di dalam. Verro tadi pingsan. Aku juga tidak tau kenapa dia pingsan," jelas Nadya singkat.
" Nadya, kamu tenang dulu. Sekarang sebaiknya kita cari Cherry kerumahnya mungkin dia pulang," ucap Varell.
" Tidak Varell, aku menghubungi kerumahnya. Dia tidak ada di rumah," sahut Nadya.
" Ya sudah kamu jangan panik kita cari Cherry, dia tidak akan pergi jauh," ucap Varell menenangkan Nadya.
" Ya sudah kalian pergilah cari Cherry. Aku akan melihat Verro, aku akan bawa Verro pulang. Semoga dia juga tidak apa-apa," ucap Vandy.
" Ya sudah kamu pergilah, bawa Verro jangan sampai terjadi sesuatu yang semakin memperkeruh suasana," sahut Varell. Vandy mengangguk dan langsung berlari memasuki Yayasan tersebut.
" Ayo Nadya. Kita cari Cherry!" ajak Varell. Nadya mengangguk dan memasuki mobil yang pintunya sudah di bukakan oleh Varell.
Mereka memang membagi tugas untuk membawa Verro dan juga mencari Nadya dan mungkin teman-teman yang lain juga sudah mulai bergerak dan pasti schock mendengar kabar dari Nadya.
__ADS_1
Bersambung