DETAK Love Story' School

DETAK Love Story' School
Episode 139 Pertemuan


__ADS_3

" Maksudnya?" tanya mereka dengan serentak.


" Apa ada kemiripan di dunia ini kenapa mereka sangat mirip," sahut Toby semakin membingungkan orang-orang yang ada di sana.


" Toby kamu ngomongin apaan sih, nggak jelas banget," sahut Raquel.


" Tau nih, orang ngebahas apa. Kamunya ngebahas apa," ucap Aldo.


" Memang ada apa Toby. Siapa yang kamu maksud. Mirip siapa. Kami tidak mengerti dengan kata-kata kamu," ucap Vandy yang juga bingung dengan Toby.


" Apa ada yang benar-benar mirip di dunia ini. Aku jelas melihat mereka sangat mirip," ucap. Toby lagi.


" Iya. Tapi siapa yang mirip," sahut Sasy yang pada akhirnya kesal juga dengan Toby yang benar-benar tidak jelas.


" Cherry," jawab Toby.


" Cherry," sahut mereka serius. Wajah mereka semakin serius. Ketika mendengar nama Cherry yang tiba-tiba di ucapkan.


" Apa maksud kamu. Cherry yang kamu katakan?" tanya Sasy benar-benar penasaran dengan Toby.


" Aku melihatnya di Bandara," ucap Toby yang benar-benar jujur yang melihat Cherry di Bandara. Wanita yang bernama Clara.


" Kamu yakin?" tanya Raquel tidak percaya.


" Iya dia mirip sekali dengan Cherry. Tetapi namanya bukan Cherry. Namanya Clara dan dia juga tidak mengenaliku," ucap Toby yang menceritakan dengan wajahnya yang sedih.


" Clara," gumam Vandy. Toby mengangguk.


" Toby. Mungkin kamu hanya merindukan Cherry. Makanya kamu sampai mengatakan. Jika ada wanita yang mirip dengannya," sahut Aldo yang beranggapan biasa.


" Iya Toby. Lagian mana mungkin orang yang sudah meninggal hidup lagi. Dan masalah kemiripan. Bukannya memang itu biasa. Kita tinggal di dunia ini dan pasti kita banyak memiliki kemiripan dengan orang lain yang juga bukan saudara kita," tambah Vandy yang menurutnya tidak masuk akal. Jika Vandy mengatakan Cherry yang tiba-tiba muncul.


" Iya Toby. Kita tau kita memang tidak bisa melupakan Cherry. Tetapi bukan berarti kita harus beranggapan. Jika ada orang lain itu adalah Cherry. Karena mana mungkin Cherry hidup lagi," tambah Raquel lagi.


" Cherry sudah tenang. Jika kita merindukannya kita berkunjung saja ke makamnya. Agar kita tidak menghalu. Melihat orang lain adalah Cherry. Karena sampai kapanpun Cherry tidak akan pernah tergantikan," sahut Sasy yang menjadi sedih.

__ADS_1


" Iya, aku mengerti. Mungkin kalian berpikir. Aku hanya menghalu saja. Karena kalian tidak melihat langsung. Benar kata kalian mungkin hanya mirip. Maaf jika apa yang aku tuturkan membuat kalian menjadi sedih. Aku tidak bermaksud untuk mengatakan orang lain adalah Cherry. Maaf sekali lagi," ucap Toby yang merasa bersalah pada teman-temannya.


Karena perkataannya. Teman-temannya menjadi sedih. Memang pasti tidak ada yang percaya kepadanya. Walau seyakin apapun dia. Tetapi kalau teman-temanmya tidak melihat itu sama saja.


" Hmmmmm sudahlah. Kita jangan membahas yang lain. Kita sedang makan. Bukannya kita seharusnya senang-senang," sahut Raquel.


" Benar. Jadi lupakan saja masalah apa yang di katakan Toby. Kita harus enjoy," tambah Aldo.


" Bye the Verro mana ya. Kok belum datang," sahut Sasy melihat arloji di tangannya.


" Mungkin masih di jalan. Kan tau sendiri. Ini waktunya macet," ucap Vandy.


" Oh iya. Kayaknya kita tidak perlu cerita kepada Verro tentang apa yang di katakan Toby. Aku tidak mau. Verro menjadi sedih. Karena jelas. Kalau kita sampai mengatakan ada orang yang mirip Cherry. Itu hanya akan mendapat luka di hatinya," ucap Sasy pelan.


" Hmmm, iya benar. Cerita itu tidak perlu sampai sama Verro," sambung Vandy yang benar-benar setuju.


" Hmmm, ya sudah. Sekarang kita sebaiknya makan," sahut Raquel. Mereka mengangguk dan kembali menikmati makanan mereka.


" Apa salah jika aku. Benar-benar berharap. Kalau wanita itu adalah Cherry. Mungkin wajah iya bisa mirip. Tetapi apa suara juga. Kenapa semakin aku memikirkannya. Aku semakin merasa. Jika memang benar itu adalah Cherry," batin Tony malah semakin yakin.


Verro berada di dalam mobilnya. Benar kata Vandy Verro sedang terjebak macet.


" Mereka pasti sudah menunggu-nunggu," ucap Verro yang gelisah sambil melihat jam tangannya. Sudah setengah jam ternyata dia terjebak macet.


Tiba-tiba Verro melihat banyak orang berlarian. Membuat Verro benar-benar bingung. Sampai dia harus menurunkan kaca mobilnya melihat apa yang terjadi.


" Ada apa ini. Kenapa mereka lari-lari," gumam Verro benar-benar heran. Karena penasaran Verro harus menghentikan seorang bapak-bapak yang berlari.


" Maaf ada apa di sana?" tanya Verro.


" Ada wanita yang mau bunuh diri. Di dekat jembatan," jawab Pria itu dengan cepat.


" Bunuh diri," gumam Verro.


" Benar nak, ya sudah ya nak," ucap bapak tersebut dan langsung pergi.

__ADS_1


" Apa yang membuatnya sampai harus bunuh diri," gumam Verro dengan wajah penasaran. Karena penasaran akhirnya Verro pun turun dari mobilnya dan melihat orang yang di maksud bapak tersebut.


Sementara di sisi lain ternyata Tari dan Clara yang pulang dari shopping juga sedang terjebak macet.


" Ada apa ya, kenapa mereka lari-lari?" tanya Tari yang sangat bingung.


" Aku juga tidak tau. Mungkin ada kecelakaan," jawab Clara yang juga bingung.


" Mungkin saja," sahut Tari.


" Bagaimana kalau kita lihat saja. Siapa tau ada yang butuh bantuan kita," sahut Clara memiliki ide.


" Boleh," sahut Tari yang setuju dan akhirnya mereka turun dari mobil.


Mereka langsung menghampiri kerumunan dengan rasa penasaran mereka yang melihat orang-orang mengatakan jangan-jangan. Sangat aneh. Sampai akhirnya mereka memasuki kerumunan dan mereka melihat seorang wanita yang sekitar berusia 30 tahunan yang ingin melompat.


" Astaga ternyata dia ingin bunuh diri," ucap Clara yang kaget. Mata Clara berpindah pada pria yang mencuri perhatiannya. Yang ternyata Verro yang sedang membujuk wanita itu untuk turun.


" Mbak tolong turun. Tidak ada gunanya kamu melompat," ucap Verro yang terus menerus membujuk.


" Apa gunanya aku hidup. Aku sudah kehilangan suamiku. Dia sudah meninggal. Lalu untuk apa aku hidup sendirian," sahut wanita itu yang menjadi alasannya untuk melakukan percobaan bunuh diri.


" Masih banyak gunanya. Hidup kamu masih panjang. Apa kamu pikir dengan kamu bunuh diri. Kamu akan bertemu dengannya. Yang ada dia akan sedih. Kamu sebaiknya turun," ucap Verro lagi yang membujuknya terus menerus.


" Benar mbak-bemar, sebaiknya turun saja," sahut warga yang terus menyuruh untuk turun.


" Diam. Kalian semuanya diam," bentak Wanita itu, " Kalian tidak apa yang saya rasakan. Saya yang merasakannya. Saya yang tau bagaimana sakitnya kehilangan orang yang saya cintai," lanjutnya yang mengungkapkan perasaannya.


" Kami tau rasanya. Kami di sini juga pernah kehilangan orang yang kami cintai bukan cuma kamu. Kami juga berpikir lebih baik mati dari pada hidup tanpanya. Tapi kami masih mengingat orang-orang di sekeliling kami. Orang-orang yang menyayangi kami yang sangat takut jika kami melakukan hal nekat seperti yang kamu lakukan. Kami harus tetap menjalankan hidup," ucap Verro yang memberikan arahan agar wanita itu mengundurkan niatnya. Karena dia jelas tau rasanya kehilangan.


" Kenapa dia berbicara sangat tulus. Sia sangat peduli dengan keselamatan orang. Bahkan kata-katanya seperti dari hatinya," batin Clara yang ternyata sedari tadi melihat Verro.


Seperti ada sesuatu di hatinya sehingga matanya hanya fokus pada Verro dan bukan wanita yang melakukan percobaan bunuh diri.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2