
Mereka melanjutkan makan bersama sambil mengobrol. Walau di antara mereka ada beberapa yang canggung. Tetapi itu sangat wajar. Sangat wajar jika mereka pada akhirnya canggung-cangungan.
Vandy yang ingin mengambil lauk dengan menggunakan sumpit tiba-tiba Azizi juga melakukan hal yang sama di piring yang sama dan akhirnya mereka saling melihat. Tidak ada yang tau jika mereka saling beradu pandang karena yang lainnya sibuk berbicara.
Ke-2nya pun sama-sama sadar dan akhirnya menjauhkan sumpit masing-masing dari tangan itu dan malah terlihat salah tingkah. Bukannya mengambil. Tetapi ke-2nya tidak jadi mengambilnya dan memilih diam-diamman dan pasti dengan debaran jantung yang tidak menentu.
" Kamu mau ini?" tanya Verro pada istrinya. Cherry mengangguk.
" Oh, iya Raquel. Kamu sejak kapan pacaran dengan Aldo?" tanya Cherry tiba-tiba.
" Sudah lama dong, sejak masih SMA," sahut Raquel yang seperti menyombongkan dirinya sendiri. Karena di antara yang lainnya hubungannya dan Aldo yang awet. Sementara yang lainnya betah menjomblo.
" Alah, bangga amat, beberapa kali putus aja, langsung bangga," sahut Sasy yang langsung sewot.
" Biarin yang penting awet," sahut Raquel menjulurkan lidahnya. Yang lain hanya geleng-geleng sudah biasa melihat 2 wanita itu yang sering bertengkar dan saling menjahili.
" Cherry, seharunya kamu tanya kenapa mereka berdua. Nggak pernah akrab, dan kerjanya ribut mulu," sahut Varell rada kesal. Membuat yang lainnya tertawa kecil.
" Lalu kamu bagaimana Varell. Hubungan kamu dengan Nadya?" tanya Cherry tiba-tiba. Membuat Nadya yang tadinya minum jadi tersedak.
" Nah, lo kenak," sahut Sasy yang kesenangan. Nadya dan Varell. Malah menjadi canggung dan diam tanpa bicara apa-apa. Sementara Cherry masih menunggu jawaban itu.
" Ada apa dengan kalian. Aku mengingat bukannya kalian dulu jadian," sahut Cherry lagi yang tidak melupakan hal itu.
" Hmmm, Cherry, sebaiknya jangan membahas itu," sahut Nadya yang merasa tidak nyaman untuk pembahasan itu.
" Memang ada apa?" tanya Cherry semakin penasaran.
" Cherry, sudahlah. Kita makan saja dan jangan membicarakan hubungan mereka," ucap Verro yang mencoba mengalihkan. Karena dia tau Nadya dan Varell pasti tidak nyaman. Lagian Cherry juga tidak tau apa-apa. Jadi wajar bertanya.
" Nanti ada waktu. Kita membahas masalah ini. Kalau memang perlu," sahut Varell yang mencoba tenang.
" Hmmm, baiklah," sahut Cherry yang mengangguk-angguk saja.
" Ya sudah, sekarang kita sebaiknya lanjutin makan aja lagi," sahut Raquel yang lainnya mengangguk.
" Hmmm, Verro aku boleh minta sesuatu tidak?" tanya Cherry yang tampak serius dan yang lainnya pasti penasaran dengan apa yang di katakan Cherry. Seakan menyiratkan sesuatu.
" Hmmm, katakan ada apa?" tanya Verro yang melihat istrinya dengan serius.
" Hmmm, sekarangkan Toby sudah menjadi Pilot. Dia bisa menerbangkan pesawat. Boleh tidak, aku, Sasy dan Toby naik helikopter hanya bertiga. Karena dulu kami pernah berkhayal sewaktu SMA bersama," ucap Cherry menjelaskan apa yang di inginkannya.
Mendengarnya Toby tersenyum. Tidak percaya jika Cherry mengingat hal itu. Tetapi Sasy malah sudah berkaca-kaca dan air matanya langsung menetes dan cepat-cepat menyekanya. Dia pasti sangat haru. Jika sahabatnya mengingat hal itu.
" Boleh kan Verro?" tanya Cherry memastikan. Verro tersenyum dan mengusap rambut Cherry lembut.
__ADS_1
" Pasti boleh. Tetapi kamu harus tanya sama mereka juga," ucap Verro mengarahkan kepalanya pada Sasy dan Toby.
" Toby, kamu mau kan?" tanya Cherry dengan pelan. Toby tersenyum dan mengangguk.
" Aku menjadi pilot. Salah satunya itu karena kamu. Karena aku masih berharap jika apa yang kita inginkan akan kenyataan dan sekarang menjadi kenyataan. Kita bertiga bisa menaiki helikopter bersama," ucap Toby matanya berkaca-kaca. Dia pasti bahagia mendengar permintaan Cherry.
" Kamu juga mau kan Sasy?" tanya Cherry memastikan sahabatnya itu. Sasy mengangguk-angguk tanpa berbicara. Karena takut. Jika dia berbicara yang adannya dia akan mewek dan pasti tidak ingin hal itu terjadi.
" Makasih ya, kalian memang baik tidak pernah berubah," ucap Cherry tersenyum. Yang lainnya juga tersenyum mendengarnya.
" Ehemm, jadi cuma mereka aja nih yang di ajak kita tidak," sahut Raquel yang tampaknya cemburu.
" Nanti gantian," sahut Cherry.
" Sudah lupakan, lagian hanya bercanda kok," sahut Raquel yang tertawa-tawa. Yang lain pun ikutan tertawa.
" Aku tidak percaya jika Cherry sekarang benar-benar ada di hadapanku," batin Verro yang masih tidak percaya dengan kehadiran Cherry yang kembali. Melihat wanita yang di cintainya itu tersenyum lebar.
" Semoga saja ingatan Cherry bisa terus membaik," batin Nadya yang mendoakan baik-baik pada Cherry.
" Cherry dan Verro memang pasangan yang serasi dan memang mereka sudah di takdirkan untuk bersama. Sebanyak apapun rintangan yang mereka lalui. Mereka tetap bersama dan kesetiaan Verro kepada Cherry benar-benar luar biasa," batin Azizi yang salut dengan hubungan Verro dan Cherry.
" Seandainya hubunganku dan Nadya bisa seperti ini. Pasti sekarang aku dan Nadya akan bersama seperti ini," batin Varell melihat kearah Nadya yang melihat Cherry.
Mereka semuanya kembali menikmati makan malam mereka dengan beberapa becandaan dan lagi dan lagi Cherry akan mengingat masa lalunya tanpa merasakan sakit di kepalanya. Karena mereka melakukannya memang benar-benar pelan-pelan. Karena tidak mau Cherry sampai terluka.
Akhirnya makan malam mereka selesai dengan kebahagian dan berbagai cerita. Makan malam yang lengkap tanpa ada yang kurang.
Sekarang Mera sudah berada di luar menuju parkiran yang pasti akan pulang masing-masing. Datang dengan siapa dan pulang juga sama.
" Ya sudah, kami duluan ya?" ucap Raquel yang pamitan duluan bersama Aldo pacarnya.
" Benar, soalnya sudah malam juga," sahut Aldo sambil melihat arloji di tangannya.
" Ya sudah, kita juga sudah mau pulang," sahut Varell.
" Ya sudah, kami balik dulu," ucap Aldo yang kembali pamitan dan yang lainnya mengangguk.
" Daaaaa," sahut Raquel melambaikan tangan saat menuju mobilnya. Yang lain juga melambaikan tangan dan melihat ke pergian Aldo dan juga Raquel.
" Hmm, kalau begitu aku juga harus balik," sahut Varell yang memang sedang buru-buru.
" Ya sudah," sahut Vandy.
" Oke duluan," ucap Varell yang langsung pergi tanpa menawarkan siapa-siapa yang mau ikut. Yang lainnya mengangguk dan Varell langsung pergi.
__ADS_1
" Hmm, kalau begitu kami juga pulang dulu," ucap Azizi yang juga pamitan.
" Kalian naik apa?" tanya Sasy.
" Aku bawa mobil kok," jawab Azizi.
" Ya, sudah kalian hati-hati," ucap Toby. Azizi dan Nadya mengangguk.
" Cherry, aku pamit dulu," ucap Nadya.
" Iya hati-hati. Lain kali kita jalan bareng ya," sahut Cherry.
" Hmmm, pastilah," sahut Nadya.
" Ya sudah mari semuanya," sahut Azizi. Yang lainnya mengangguk dan mereka langsung pergi menuju parkiran tempat mobil Azizi.
" Hmm, Cherry, Verro, aku juga balik ya," ucap Sasy pamit.
" Kamu pulang sama siapa?" tanya Toby.
" Sama Vandy, satu arah kebetulan," jawab Sasy yang tadi berangkat juga sama Vandy.
" Oh, begitu," sahut Toby tampak tidak suka.
" Hmm, ya sudah kita balik dulu," sahut Vandy. Toby mengangguk-angguk dengan biasa saja seperti sudah tidak bersemangat.
" Daaa Cherry," ucap Sasy dengan ceria.
" Daaaaa," sahut Cherry melambaikan tangannya. Sasy dan Vandy pun pergi menuju mobil. Toby hanya melihat dengan perasaan yang pasti tidak enak.
" Hmmm, ya sudah aku balik dulu," ucap Toby pada Cherry dan Verro.
" Iya hati-hati," jawab Verro. Toby mengangguk dan langsung pergi menuju mobilnya. Sepertinya harapannya tidak sesuai dengan keinginannya.
Sekarang hanya tinggal ada Cherry dan Verro di depan Restauran.
" Ya sudah, kita juga balik," ucap Verro.
" Kita pulang kemana. Kerumahku atau rumah kamu?" tanya Cherry.
" Kamu maunya kemana?" tanya Verro yang menyerahkan semua pada Cherry.
" Aku mau kita jalan-jalan lagi," jawab Cherry. Verro tersenyum mendengarnya.
" Baiklah kalau begitu. Jadi kita akan jalan-jalan," ucap Verro. Cherry tersenyum dan memeluk Verro. Verro mengusap-usap lembut rambutnya.
__ADS_1
Bersambung....