DETAK Love Story' School

DETAK Love Story' School
Episode 203 penjelasan.


__ADS_3

Verro dan Cherry menghabiskan waktu bersama, mereka memang bukan hanya makan malam saja. Tetapi mereka jalan-jalan sambil bercerita. Layaknya memang pasangan yang berpacaran.


Apa lagi jika tidak itu yang di lakukan pasangan itu. Karena memang tidak ada yang bisa di lakukan pasangan itu selain menikmati hari-hari mereka berduaan. Mereka hanya sebentar bersama dan mereka sudah kembali pulang.


Kali ini mereka pulang ke rumah Verro. Cherry berada di dalam kamar mandi mungkin sedang bersih-bersih karena ingin tidur. Sementara Verro sudah membaringkan dirinya di atas ranjang dengan bersandar sambil melihat layar ponselnya.


Dan tidak berapa lama Cherry ke luar dari kamar mandi menggunakan kimono merah mencolok yang hanya sepanjang pahanya.


Verro melihatnya tersenyum. Dan meletakkan ponselnya di atas nakas. Verro menepuk ranjang di sebelahnya. Seakan menyuruh Cherry untuk berbaring di sampingnya. Cherry tersenyum dan akhirnya merangkak keranjang dan langsung masuk ke dalam dekapan Verro.


Tangan Verro yang di jadikannya bantal dan tangannya memeluk pinggang suaminya. Verro juga beberapa kali mencium pucuk kepala Cherry.


" Kamu mengantuk?" tanya Verro. Cherry mengangkat kepalanya dan melihat ke arah suaminya.


" Tidak aku tidak mengantuk, aku tidak bisa tidur," jawab Cherry.


" Aku akan mengusap-usap rambutmu, agar kamu bisa tidur," ucap Verro.


" Hmmm, baiklah," sahut Cherry. Verro pun mengusap-usap rambut istrinya, dan pasti sekali-kali menciumnya dengan lembut.


" Verro!" tegur Cherry.


" Iya, kenapa?" tanya Verro.


" Kamu memang hidup sendiri dari dulu?" tanya Cherry penasaran.


" Hmmm, aku hidup dengan bibi, selama ini," jawab Verro.


" Lalu Tante, Farah dan Om Hariyanto di mana?" tanya Cherry. Verro melihat ke arah Cherry.


" Kamu mengingat mereka?" tanya Verro tidak percaya jika Cherry mengingat papa dan juga ibu tirinya.


" Hmmm, aku mengingat, terakhir kamu meninggalkan rumah dan tinggal bersama Varell," ucap Cherry yang pasti apa di katakan Cherry memang benar.


" Hmmm, kamu benar. Ingatan kamu memang benar. Aku terakhir tinggal bersama Varell. Kamu benar-benar ingat hal itu. Ingatan kamu benar-benar sangat sempurna," sahut Verro.


" Lalu kemana mereka?" tanya Cherry.


" Aku tidak tau," jawab Verro. Cherry mendengarnya mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Verro dengan dahinya yang mengkerut.


" Kamu tidak tau?" tanya Cherry heran.


" Hmmm, aku tidak tau. Aku tidak tau kemana mereka. Aku memang benar-benar tidak tau kabarnya. Karena hubunganku dengan papa memang tidak baik," jelas Verro.


" Jadi setelah selesai SMA. Kamu bagaimana hidup?" tanya Cherry. Verro tersenyum.


" Kamu memberi pesan kepada Varell dan Vandy. Untuk selalu ada di sampingku dan juga menjagaku. Jadi aku memanfaatkan hal itu. Aku memeras mereka berdua. Jadi mereka memberikan aku tempat tinggal dan juga pekerjaan agar aku bisa masuk fakultas kedokteran," jelas Verro.


" Kamu kerja apa?" tanya Cherry penasaran.


" Selesai SMA, aku menggunakan waktu liburan untuk bekerja di perusahaan keluarga Varell dan kamu tau tidak aku meminta posisi yang bagus dan gaji 3 kali lipat," jelas Verro. Cherry mendengarnya mengkerutkan wajahnya.


" Kok bisa gitu. Memang boleh seperti itu. Kamu juga kan baru selesai SMA," sahut Cherry yang merasa tidak masuk akal dengan perkataan Verro.


" Boleh. Karena kamu. Kamu menyuruh mereka untuk ada di sisiku. Jadi mau tidak mau. Varell memaksa orang tuanya untuk pilih kasih kepada karyawan magang seperti ku," ucap Verro dengan tersenyum tanpa dosa.

__ADS_1


" Kamu ini. Jahat sekali," ucap Cherry.


" Aku harus melakukannya, dan Varell tidak keberatan," sahut Varell.


" Lalu apa peran Vandy?" tanya Cherry.


" Hmmm, Vandy hidupnya sangat enak. Jadi aku menyuruhnya membagi uang bulanannya untukku," ucap Verro.


" Maksudnya?" tanya Cherry heran.


" Kalau dia dapat jatah bulanan dari keluarganya. Dia harus berbagi 2 untukku. Jadi aku punya tambahan uang," jawab Verro.


" Dan Vandy setuju," sahut Cherry. Verro mengangguk.


" Aku yakin dia tidak ikhlas. Tetapi mau tidak mau dia harus melakukannya. Karena memang dia tidak punya pilihan lain. Karena dia menuruti pernintaanmu," ucap Verro.


" Kamu benar-benar jahat. Pasti mereka tersiksa dengan ulah kamu," ucap Cherry.


" Hmmm, kamu benar. Tetapi kamu tenang saja. Karena aku sudah membayar semua hutangku kepada mereka. Tapi hutang kebaikan dan kepedulian mereka. Tidak mungkin terbayar dengan nilai uang," ucap Verro berbicara dengan tulus.


2 sahabatnya itu memang tidak pernah meninggalkannya. Dan bahkan rela berbagi uang jajan dengan Verro. Selagi berbagi materi. Mereka juga berbagi perhatian. Makanya Verro tidak akan pernah bisa membalas 2 kebaikan sahabatnya itu.


" Kamu benar mereka memang sangat baik," sahut Cherry yang juga mengakui hal itu. " Oh iya Verro, memang hubungan Nadya dan Varell sekarang seperti apa. Kenapa aku merasa saat makan malam. Mereka seperti ada sesuatu," ucap Cherry yang ternyata hal itu masih mengganjal di pikirannya.


" Hubungan mereka sudah berakhir," jawab Verro. Cherry sampai kaget mendengarnya.


" Berakhir," sahut Cherry tidak percaya.


" Hmmm, hubungan mereka berakhir 5 tahun lalu," sahut Verro.


" Mamanya Varell. Tidak merestui hubungan itu," jawab Verro.


" Kenapa?" tanya Cherry penasaran.


" Entahlah, yang aku tau masalah materi, makanya mamanya Varell tidak merestuinya. Karena perbedaan sosial," jelas Verro. Cherry mendengarnya langsung sedih. Seakan sangat simpatik pada Nadya.


Memang dia mengingat jika Nadya memang dari keluarga yang kurang mampu.


" Jadi karena perbedaan status sosial yang membuat hubungan mereka harus selesai?" tanya Cherry memastikan kembali.


" Kamu benar, hanya karena perbedaan status sosial," jawab Verro.


" Lalu apa Varell tidak mau berusaha?" tanya Cherry.


" Sudah. Tetapi mamanya benar-benar menentang dan terakhirnya akan membuat Nadya kesulitan. Jadi mereka memutuskan hubungan mereka 5 tahun lalu. Varell keluar Negri. Menyelesaikan pendidikan dan juga sekolah bisnis yang pasti atas perintah Tante Ratih


" Tetapi saat dia pulang. Dia masih ingin memperbaiki semuanya. Memperbaiki hubungannya dengan Nadya. Tetapi Nadya tidak membuka pintu hatinya untuk hal itu," jelas Verro yang selengkap-lengkapnya.


" Kasihan mereka," sahut Cherry dengan wajah lesunya.


" Kamu benar. Mereka orang yang juga saling mencintai. Tetapi mereka harus berpisah. Karena suatu keadaan," jelas Verro.


" Aku berharap. Tante Ratih bisa luluh dan memberikan kesempatan untuk Nadya masuk kedalam keluarhanya," sahut Cherry dengan harapan yang banyak.


" Iya, aku juga berharap seperti itu," sahut Verro. Mencium pucuk kepala Cherry.

__ADS_1


" Lalu Azizi, kapan kembali. Aku belum sempat berbicara kepadanya. Aku tidak tau kapan dia kembali?" tanya Cherry yang pasti juga akan mengingat Azizi.


" Dia kembali tidak lama setelah kamu. Aku juga tidak percaya jika bisa bertemu dengannya setelah bertahun-tahun. Dan kamu tau tidak. Kalau Azizi sekarang sudah menikah," ujar Verro. Pernyataan Verro membuat Cherry kaget.


" Menikah!" sahut Cherry kaget.


" Iya. Dia sudah menikah dan sudah mempunyai putra berusia," jawab Verro.


" Ya ampun, aku benar-benar terkejut mendengarnya. Aku tidak percaya. Jika dia akan menikah," ucap Cherry dengan wajahnya yang tiba-tiba tersenyum.


" Tetapi sangat di sayangkan," sahut Verro membuat Cherry mengkerutkan dahinya.


" Apa, yang di sayangkan?" tanya Cherry penasaran.


" Anaknya Iqbal. Menderita kanker tulang sumsum belakang dan kondisinya sekarang juga tidak membaik," jawab Verro membuat wajah Cherry kembali sendu.


" Ya ampun, jadi anak Azizi, terkena kanker," sahut Cherry yang benar-benar terkejut.


" Kamu benar," jawab Verro.


" Pantes saja. Aku tidak melihat Azizi semangat. Memang jelas seperti ada beban yang tersembunyi di dalam dirinya," ucap Cherry yang tadi sudah merasa curiga.


" Lalu di mana suaminya?" tanya Cherry penasaran.


" Suaminya sudah meninggal. Dan itulah kesulitannya. Tulang sumsum belakang Azizi tidak cocok untuk Iqbal dan pasti cocok dengan suaminya. Tetapi suaminya sudah meninggal. Jadi pihak rumah sakit. Hanya akan menunggu donor saja," jelas Verro.


" Ya ampun. Kasihan sekali Azizi," ucap Cherry yabg tidak habis pikir dengan apa yang di alami sahabatnya.


" Seperti itu lah kehidupan manusia," ujar Verro.


" Tapi akan sembuhkan?" tanya Cherry. Verro melihatnya dalam-dalam.


" Akan sembuh. Karena aku sebagai Dokter akan melakukan semuanya untuk kesembuhannya," ucap Verro. Cherry tersenyum tipis.


" Aku berharap benar-benar ada hal baik. Agar Azizi bisa membesarkan putranya dengan baik," ucap Cherry dengan penuh harapan.


" Aminnn," sahut Verro.


" Lalu kamu, apa tidak niat untuk mencari papamu?" tanya Cherry. Verro mendengus mendengar pertanyaan Cherry.


" Verro. Aku tau kamu sakit hati sama Om Hariyanto. Tetapi apapun itu. Itu adalah orang tua kamu. Sangat tidak baik. Jika kamu menghindar terus darinya," ucap Cherry memberi saran suaminya. Verro tersenyum mendengarnya.


" Baiklah, Cherry, aku akan mencoba mencarinya. Jika memang kamu menginginkan itu," sahut Verro yang sepertinya sangat menerima masukan sang istri. Cherry tersenyum mendengarnya.


" Memang hal itu yang harus di lakukan," sahut Cherry.


" Iya kamu benar," sahut Verro kembali mengecup pucuk kepala Cherry.


" Lalu, Verro di mana papaku?" tanya Cherry tiba-tiba. Verro mendengarnya langsung kaget.


Verro melihat ke arah Cherry yang melihatnya dengan penuh jawaban. Jantung Verro berdebar tidak menentu saat pertanyaan yang di takutkannya selama ini. Akhirnya di tanyakan oleh Cherry.


Cherry memang mengingat semuanya. Sampai papa dan ibu tirinya, jadi sangat mustahil jika Cherry tidak mengingat orang tua kandungnya. Laskarta yang pasti Cherry sudah bertanya-tanya dengan pria yang di sayangnya itu.


" Verro kamu kenapa diam. Papa ku ada di mana?" tanya Cherry lagi yang semakin penasaran.

__ADS_1


Bersambung..........


__ADS_2