DETAK Love Story' School

DETAK Love Story' School
Episode 229 Berdiskusi.


__ADS_3

Azizi melepas tangannya dari genggaman Sasy dengan air matanya yang menetes dan langsung menyekanya.


" Azizi, aku tau itu tidak mudah. Tapi berilah kesempatan untuknya. Semua yang kamu lakukan hanya karena Iqbal. Kamu melakukan semua itu hanya untuk kesembuhan Iqbal. Azizi hilangkan egomu untuk keselamatan putramu, kamu adalah ibunya dan Iqbal jelas berharap banyak untukmu," ucap Sasy yang terus mengingatkan Azizi dan berusaha membujuk Azizi.


" Aku tau perbuatan Vandy membuat luka yang sangat dalam. Tetapi aku juga melihat bagaimana Vandy menyesali semua yang di lakukannya. Aku melihat sendiri dia benar-benar tulus ingin menebus kesalahannya. Jadi berilah dia kesempatan dan juga Iqbal kesempatan untuk sembuh. Karena hanya kamu dan Vandy yang menjadi dorongan kuat untuk anak kecil yang tidak tau apa-apa," lanjut Sasy meneteskan air mata yang terus menyakinkan Azizi.


Air mata Azizi mengalir semakin deras dengan meletakkan menutup wajahnya dengan ke-2 tangannya.


" Kenapa, kenapa dia harus datang sekarang kenapa?" ucap Azizi menangis terisak-terisak dengan menundukkan wajahnya yang benar-benar sangat terpukul saat di haruskan untuk memilih. Sasy mendekatkan dirinya pada Azizi dan meraih Azizi kedalam pelukannya. Memeluk Azizi dengan erat serta memberikan Azizi kekuatan.


" Aku tau, tapi percayalah Azizi. Jika ini memang takdir. Takdir yang di berikan untukmu dan juga Vandy. Di mana Vandy yang walau hidup tenang. Tetapi akan terus di hantui rasa bersalah. Karena semua yang sudah di lakukannya padamu dan ini takdir, awal pertemuan kamu dan juga Vandy yang harus bertanggung jawab dengan semua perbuatannya," ucap Sasy.


" Tapi aku tidak tau Azizi. Apa aku bisa menghadapi semuanya. Aku tidak tau apa aku akan iklas untuk semua ini," sahut Azizi yang tidak bisa berpikiran jernih.


" Aku tau perasaan kamu sangat dilema. Kamu bisa memikirkan semuanya dulu. Kamu tenangkan pikiran kamu dulu. Aku tidak akan memaksamu. Aku hanya memberikanmu saran yang pasti untuk kebaikan semuanya," ucap Sasy yang terus memberikan kekuatan pada Azizi.


" Semoga saja, Azizi Benar-benar memberikan kesempatan untuk Vandy. Semoga saja," batin Sasy yang tidak henti-hentinya berdoa.


**********


Cherry berada di dalam kamar dengan menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang. Tangannya dengan lembut mengusap-usap perut rampingnya yang terdapat bayinya di dalam sana.


Tidak lama Verro keluar dari kamar mandi. Dengan handuk di lilit di pinggangnya dengan telanjang dada. Melihat sang istri yang begitu bahagia membuat Verro langsung menghampiri ranjang dan langsung telungkup di kaki panjang Cherry yang di luruskan mencium perut istrinya membuat Felly kaget sedikit. Namun langsung tersenyum.


" Sayang, kamu sedang apa di dalam sana?" tanya Verro mulai bicara pada anaknya. Cherry tersenyum mendengarnya dan mengusap-usap rambut suaminya.


Verro membalikkan tubuhnya dengan telentang dan paha istrinya di jadikan bantal.


" Apa dia membuatmu repot?" tanya Verro. Belly yang menunduk langsung menggelengkan kepalanya.


" Tidak sama sekali, aku tidak repot. Justru aku sangat bahagia dengan kehadirannya dan pasti tidak akan membuatku repot," jawab Cherry tersenyum mengusap-usap kening suaminya.


" Kenapa hari lama sekali berlalu. Aku ingin dia cepat-cepat lahir ke dunia ini. Aku ingin berbicara dengannya," ucap Verro yang tidak sabaran.

__ADS_1


" Sayang kamu harus bersabar. Aku juga sudah tidak sabar untuk anak kita yang akan segera datang. Aku sangat tidak bersabar," sahut Cherry yang pasti juga tidak sabaran.


" Baiklah, kalau begitu kita akan menunggunya hadir ke dunia ini," ucap Verro. Cherry menganggukan matanya.


" Hmmm, ya sudah sekarang kamu bangkit. Pakai baju. Karena aku mau ke dapur, aku mau menyiapkan makan malam," ucap Felly.


" Tapi aku tidak mau makan malam," jawab Aditya.


" Lalu?" tanya Cherry.


" Aku sudah kenyang. Jadi jangan membuatkan ku makan. Kamu juga pasti lelah dengan seharian bersamaku. Jadi kita istirahat saja," ucap Verro mengusap-usap pipi Cherry.


" Memang kamu lapar?" tanya Verro.


" Nggak, aku juga tidak lapar," sahut Cherry, " aku juga sudah kenyang sebenarnya. Karena makanan yang banyak tadi sudah masuk semuanya," sahut Cherry.


" Hmmm, baiklah, jika begitu. Kita istirahat saja," sahut Verro. Cherry menganggukan matanya.


" Ada sesuatu di rambutmu!" ucap Verro tiba-tiba. Membuat Felly mengusap-usap rambutnya.


" Sini biar aku singgirkan," ucap Verro dengan wajah seriusnya. Cherry mengangguk dan menunduk. Saat kepala istrinya menunduk Verro mengangkat sedikit wajahnya dan mengecup bibir Cherry membuat Cherry kaget.


" Bukan di rambutmu tapi di bibirmu," ucap Verro yang ternyata modus. Cherry geram langsung memukul dada suaminya.


" Dasar, modus," kesal Cherry. Verro tertawa kecil melihat wajah kesal istrinya.


" Apa tidak boleh modus pada istrinya sendiri?" tanya Verry dengan menatap dalam Cherry.


" Nggak boleh," jawab Cherry dengan ketus.


" Kalau tidak boleh. Berarti menuruti permintaan suami boleh," sahut Verro dengan seriangi nakal.


" Boleh, kecuali masalah itu," sahut Cherry yang langsung memberikan syarat.

__ADS_1


" Issss, kamu ini benar-benar, aku belum mengatakan apa-apa. Sudah ada syarat-syarat, segala," sahut Verro. Geleng-geleng.


" Ishhh, sudahlah, sekarang kita sebaiknya tidur," ucap Cherry tegas.


" Baiklah sayang," sahut Verro menegaskan.


*************


Vandy dan Azizi duduk di salah satu bangku yang ada di taman. Tidak tau sudah berapa lama mereka duduk ber-2 an di sana. Tetapi mereka hanya diam dan memang iya Azizi yang mengajak Vandy untuk bertemu.


" Vandy, aku masih sangat terluka dengan semua yang kamu lakukan dan walaupun pada akhirnya kamu menebus kesalahanmu. Kebencianku padamu tidak akan pernah hilang. Aku akan tetap membencimu," ucap Azizi.


" Aku tau," sahut Vandy.


" Baiklah, aku akan melakukannya, dan semua itu hanya demi Iqbal, aku akan memberimu kesempatan untuk menebus kesalahanmu. Yang apapun yang kau ingin lakukan tidak mengubah keputusanku untuk mengubah kebencian ku kepadamu," ucap Azizi lagi.


" Iya. Aku tau ini tidak mudah untuk mu. Dan kita hanya mencoba untuk memulai semuanya," sahut Vandy. Azizi menoleh ke arahnya.


" Tidak ada yang di mulai. Aku tidak berencana untuk memulai semuanya dari awal. Jadi jangan berpikiran panjang jika aku akan memulai semuanya," tegas Azizi.


" Iya aku tidak mengharapkan banyak untuk hal itu. Aku tidak akan berharap banyak," sahut Vandy yang memang menyadari semuanya.


" Mungkin memang aku harus menghilangkan egoku demi Iqbal. Aku tidak boleh menjadi orang tua yang egois. Semua demi anakku," batin Azizi.


" Aku akan berusaha Azizi memperbaiki semuanya. Aku akan berusaha," batin Vandy.


" Ikutlah denganku," ucap Vandy di tengah obrolan yang hening itu.


" Kemana?" tanya Azizi heran.


" Sudah ikutlah," sahut Vandy yang berdiri. Azizi yang masih heran bingung, kemana Vandy mengajaknya dan Vandy pun sudah melangkah yang membuat Azizi juga mengikut tanpa mengetahui dia akan di bawa kemana.


Azizi dan Vandy sudah berada di dalam mobil dan mereka hanya diam saja di dalam mobil. Hening tanpa ada pembicaraan. Vandy juga diam dengan fokus menyetir tanpa ada obrolan sedikitpun. Dia benar-benar diam tanpa ada bicara sama sekali.

__ADS_1


" Kemana dia membawaku. Kenapa dia diam saja," batin Azizi yang kebingungan.


Bersambung


__ADS_2