
Arif berjalan di koridor rumah sakit yang terlihat gelisah dengan memegang handphonenya di telinganya yang sepertinya sedang menelpon.
" Selina kenapa sih? kenapa dia tidak mengangkat telponku, apa coba maksudnya. Dia tidak mungkin kan menghindariku karena masalah itu," gerutu Arif yang terlihat stres dengan masalahnya yang sekarang di liput oleh percintaan.
" Aku harus menemuinya. Mana mungkin masalah ini akan di biarkan seperti ini yang ada hubungan dan dia bisa menjadi taruhannya. Keputusan yang aku ambil sudah sangat tepat dan itu semua untuk kebaikan aku dan Selina. Aku harus menemui Selina," ucap Arif yang mematikan handphonenya.
" Dokter!" panggil Fiona. Dokter Arif langsung mengehentikan langkahnya dan membalikkan tubuhnya menghadap Fiona.
" Fiona!" lirih Dokter Arif.
" Dokter bukannya hari ini kita ada janji untuk melakukan pemeriksaan pada jantung saya," ucap Fiona mengingatkan Dokter Arif.
" Astaga saya sampai lupa," sahut Dokter Arif dengan memijat kepalanya.
" Apa Dokter sedang ada masalah. Makanya kurang fokus?" tanya Fiona.
" Tidak ada Fiona. Baiklah kita lakukan pemeriksaan sekarang ya," sahut Dokter Arif.
" Baiklah Dokter, biar saya juga lega," sahut Fiona. Arif tersenyum dan mengangguk.
" Mungkin nanti saja aku menemui Selina. Aku periksa Fiona dulu," batin Arif mengubah keputusannya.
" Ayo Fiona," ajak Dokter Arif. Fiona mengangguk. Terlihat Fiona begitu semangat untuk memeriksakan jantungnya yang pasti dengan harapan jantungnya baik-baik saja.
**********
Raquel dan Aldo berada di dalam mobil menuju rumah sakit untuk menjenguk Toby. Raquel duduk di sebelah Aldo yang menyetir dengan fokus.
" Sayang kamu nggak bawa apa-apa untuk Toby nanti?" tanya Aldo.
" Nanti aja di beli di depan rumah sakit," sahut Raquel.
" Hmmm, begitu rupanya," sahut Aldo.
" Kamu langsung kekantor hari ini?" tanya Raquel.
" Iya sayang," jawab Aldo yang memberhentikan mobilnya di depan lampu merah.
" Nggak mampir dulu untuk besuk Toby?" tanya Raquel.
" Mampir hanya sebentar saja," jawab Aldo.
" Hmmmm, baiklah," sahut Raquel. Tiba-tiba Raquel melihat ke pinggir jalan di mana ada Selina yang duduk termenung.
" Sayang bukannya itu Selina," sahut Raquel yang minat jelas Selina. Aldo langsung melihat ke arah mana istrinya melihat.
" Iya benar, itu Selina," sahut Aldo membenarkan.
" Ngapain dia di sana?" tanya Raquel bingung.
" Aku mana tau," jawab Aldo.
" Kayaknya dia tidak bersemangat begitu. Apa jangan-jangan dia kepikiran ya masalah hubungannya dengan Dokter Arif," tebak Raquel.
" Mungkin saja. Apa lagi mendengar cerita dari Azizi dan Vandy. Selina pasti kepikiran masalah hubungan itu," sahut Aldo.
" Padahalkan Tante Lina dan Om Rudi menerima hubungan mereka. Tapi Selina langsung tidak percaya diri begitu saja," ucap Raquel yang terus melihat sahabatnya.
" Bukannya kamu temannya, kamu seharunya memberikan dia arahan. Walau dulu waktu sekolah kalian itu bertengkar dan persahabatan selesai. Itu kan hanya masa lalu. Sekarang semuanya sudah berbeda," ucap Aldo.
" Sayang aku itu nggak bermusuhan dengannya. Aku juga tidak menganggap persahabatan kami selesai. Lagian kalau aku tidak sengaja bertemu dengannya, kita selalu bertegur sapa kok. Aku juga biasa-biasa aja selama ini dengannya. Mana pernah aku menganggap persahabatan kami selesai," jelas Raquel.
" Iya sayang aku tau. Walaupun seperti itu dalam masa seperti ini. Kamu cobalah untuk mendekatinya dan bicara padanya. Kamu harus membuat dia percaya diri. Agar hubungannya dan Dokter Arif tidak selesai begitu saja. Kamu berikan dia semangat yang banyak," ucap Aldo memberi saran.
" Ya sudah sekarang aku coba bicara padanya," sahut Raquel yang ingin turun dari mobil.
__ADS_1
" Jangan sekarang juga," cegah Aldo menghentikan kekasihnya itu.
" Lalu?" tanya Raquel.
" Kamu lihat wajahnya, jika dia melihatmu yang ada dia kabur. Biarkan aja dulu dia seperti itu. Biarkan dia sendiri dulu, kita tunggu beberapa hari ini. Baru kamu dan anak-anak yang lainnya coba bicara padanya," ucap Aldo memberi saran.
" Baiklah sayang kalau memang itu yang kamu inginkan. Aku menurutimu yang jelas yang terbaik untuk Selina dan juga Dokter Arif," ucap Raquel. Aldo mengangguk.
" Tapi aneh sekali ya. Mereka pacaran 4 tahun. Tetapi kenapa waktu itu Dokter Arif malah mengajakku untuk menikah," batin Raquel yang tiba-tiba kepikiran sesuatu.
" Kamu malah bengong lagi mikirin apa?" tanya Aldo heran.
" Hmmm, aku hanya kepikiran tiba-tiba waktu kita putus dulu. Saat itu kan Dokter Arif mendekatiku. Tapi bukannya dia pacaran dengan Selina. Aku hanya tiba-tiba memikirkan itu," ucap Raquel.
" Ya mungkin saja mereka lagi break saat itu dan kamu saat itu hanya di jadikan pelarian," ucap Aldo yang sembarangan bicara.
" Isssss, enak aja bilang aku pelarian," sahut Raquel kesal.
" Ya kalau tidak pelarian namanya apa. Mereka pacaran 4 tahun. Tiba-tiba dia mendekatimu ya pasti kamu hanya di jadikan pelarian semata saja," sahut Aldo lagi yang mengejek istrinya.
" Issssh, kamu ini. Itu nggak mungkin," sahut Raquel kesal dengan memukul tangan suaminya.
" Sudahlah terima aja kenyataannya. Jika kamu memang hanya pelarian," ucap Aldo lagi.
" Berisik, udah ah. Tuh lampunya sudah hijau, ayo jalan," ucap Raquel kesal.
" Cantik-cantik kok hanya jadi pelarian saja," goda Arif lagi yang membuat Raquel tambah kesal.
" Diam!" teriak Raquel yang begitu kesalnya dengan suaminya itu.
Aldo hanya tertawa cengengesan yang mengejek istrinya. Wajah Raquel sudah mengkerut. Sebenarnya Raquel kesal pasti karena kata-kata Aldo benar jika dia hanya di jadikan pelarian saja pada saat itu.
" Kamu ya kelewatan masih ketawa aja. Kamu itu seharusnya bersyukur aku menolaknya kemarin. Kalau aku menerimanya kita tidak akan menikah sekarang," kesal Raquel.
" Ya kalau Dokter Arif kembali sadar. Kamu juga akan di tinggalin," sahut Aldo.
" Iya sayang maaf, sudah ah jangan marah-marah lagi," ucap Aldo.
" Kamu yang mencari masalah. Jahat banget jadi suami," sahut Raquel dengan mengerucutkan bibirnya.
" Maaf sayang," sahut Aldo mengusap-usap bahu Raquel. Namun Raquel langsung menggeserkan tubuhnya yang benar-benar ngambek dengan suaminya itu.
" Tapi memang iya sih pasti Dokter Arif kemari itu menjadikan ku pelarian, ternyata dia sudah pacaran dengan Selina. Ya percintaan hanya berputar di situ-situ aja," batin Raquel geleng-geleng.
**********
Selina memang kelihatan begitu murung yang duduk di bangku. Wajahnya yang terlihat di tekuk dan seperti banyak pikiran. Yang memegang handphone dan mengangguri panggilan masuk dari Dokter Arif.
" Bagaimana ini. Hubungan ku dan Arif sudah di ketahui keluarganya dan pasti Vandy dan yang lainnya akan menertawakanku. Apa lagi Sasy dia pasti akan semakin menjadi-jadi untuk menertawakanku. Aku harus melakukan apa," gumamnya mengusap wajahnya dengan ke-2 tangannya. Hembusan napas kasar itu mempertandakan dia yang memang tidak baik-baik saja.
" Aku tidak mungkin melanjutkan hubungan seperti ini. Apa aku putus aja ya dengan Arif," batinnya yang tiba-tiba kepikiran hal buruk.
" Tapi masa iya aku harus putus dengannya. Itu kan tidak mungkin. Aku sangat mencintainya dan mana mungkin harus mengakhiri hubungan kami. Tetapi bagaimana kalau keluarganya tidak menerima ku. Oke keluarganya menerimaku tapi Vandy dan yang lainnya pasti aneh-aneh berpikiran kepadaku. Apa lagi Sasy bisa Sasy menganggap lagi. Aku pacaran dengan Arif karena ingin menaikkan derajat ingin mengubah takdir, mereka semua bisa berpikiran jika aku hanya ingin harta dan tahta Arif saja," Selina bergerutu sendiri dengan pendapatnya terhadap Vandy dan teman-temannya. Entahlah kenapa Selina harus berpikiran seperti itu.
" Arggghhhh," teriak Selina mengacak-acak kasar rambutnya. Wajahnya sungguh frustasi mengahadapi masalah yang seharusnya tidak di hadapinya sama sekali.
" Selina!" tegur seseorang tiba-tiba membuat Selina langsung melihat kesampingnya.
" Nadya," lirih Selina yang tidak percaya melihat kehadiran Nadya yang tiba-tiba. Dengan cepat Selina Merapi-rapikan rambutnya yang terlihat berantakan.
" Kamu ngapain di sini," tanya Nadya heran.
" Hmmmm, tidak apa-apa. Mau buka mini market tapi masih jam segini, jadi nungguin yang lain datang," jawab Selina.
" Memang mini marketnya di mana?" tanya Nadya.
__ADS_1
" Tuh di depan," tunjuk Selina, Nadya langsung melihat ke arah yang di tunjuk Selina.
" Kamu sendiri kok bisa ada di sini?" tanya Selina.
" Tadi habis dari apotik, cari obat," jawab Nadya.
" Hmmm, begitu rupanya," sahut Selina yang tampak biasa saja.
" Selina kelihatan begitu bingung dan seperti orang banyak berpikir apa dia sedang memikirkan masalah hubungannya dengan Dokter Arif ya," batin Nadya yang menebak-nebak.
" Nadya kok lihatin aku kayak gitu amat ya apa jangan-jangan Nadya memang tau lagi hubunganku dan Dokter Arif dan sekarang dia pasti sedang mengejekku. Ya secarakan aku bukan apa-apa. Bahkan dia lebih hebat dari pada aku. Dia bekerja di kantoran dan aku tidak. Hmmmm pasti dia sedang mengataiku di dalam hatinya," batin Selina yang pikirannya terus saja buruk.
" Hmmm, Selina kamu baik-baik saja kan," ucap Nadya yang tiba-tiba bertanya.
" Kenapa kamu bicara seperti itu. Apa aku terlihat tidak baik-baik saja," sahut Selina.
" Tidak bukan seperti itu," sahut Nadya tersenyum.
" Aku baik-baik saja kok. Kamu tidak perlu mengejekku atau mengataiku, menertawaiku dan segala-galanya. Ya aku tau aku memang tidak pantas untuk mendapatkannya. Ya aku hanya wanita biasa dan dia seorang Dokter, keluarga terpandang, berpendidikan dan sangat hebat. Ya memang iya kami bagai langit dan bumi. Tapi mau gimana lagi. Kalau kamu tidak suka ya kamu bilang saja," ucap Selina yang bicara panjang lebar yang membuat Nadya bingung.
" Apa maksud kamu, siapa yang mengejekmu, siapa yang menertawakanmu. Aku tidak melakukan apa-apa. Aku bahkan tidak bicara apa-apa dan berpikiran apa-apa," sahut Nadya heran.
" Tapi kamu tau kan aku pacaran dengan Dokter Arif," sahut Azizi yang langsung menanyakan hal itu. Nadya menganggukkan pelan kepalanya.
" Ya kamu pasti berpikiran yang lain kepadaku kan. Yang tidak pantas dan lainnya," sahut Selina yang berpikiran buruk.
" Astagfirullah Al Azdim Selina sumpah demi Allah aku tidak berpikiran seperti itu," sahut Nadya sampai-sampai mengangkat ke-2 jarinya.
" Ya kalau tidak berpikiran seperti itu. Lalu apa. Bukannya kamu tiba-tiba berada di sini. Pasti karena masalah itu kan," sahut Selina.
" Selina aku tidak berpikiran apa-apa. Aku memang tau kamu dan Dokter Arif berpacaran, aku mengetahui semuanya dari Azizi. Tapi sungguh Selina aku tidak mengejekmu dan lagian kenapa aku mengejekmu memang kamu tidak pantas apa dengannya. Kamu cantik, baik dan ya pasti cocok dengan Dokter Arif. Lalu alasan apa aku harus mengomentari hubungan orang lain dan terlebih lagi aku tidak punya hak untuk hal itu," jelas Nadya.
" Selina, kamu jauh lebih baik di bandingkan aku. Aku ini gadis biasa dan kamu juga tau bagaimana kehidupanku dari dulu dan sampai sekarang. Aku juga wanita yang mencintai Pria yang tidak setara denganku. Bahkan kamu juga taukan pernikahan ku tanpa restu. Jadi untuk apa aku harus menertawakan mu. Yang kamu jauh lebih baik dan beruntung dari pada aku," ucap Nadya.
" Beruntung dari mananya. Kamu lah yang jauh lebih beruntung. Aku itu bukan Selina yang dulu yang punya orang tua kaya dan bisa beli ini itu, aku sudah jatuh miskin. Tinggal di rumah kecil dan kerja hanya sebagai pelayan mini market. Aku juga tidak kuliah. Kamu jauh lebih beruntunglah. Kamu kuliah kerja di perusahan, punya teman banyak yang kaya-raya. Sementara aku saat aku susah aku tidak punya teman sampai saat ini. Jadi kamu yang lebih beruntung dari pada aku," ucap Selina yang sekarang malah curhat pada Nadya.
Ini memang pertama kali untuknya mengeluarkan isi hatinya selama ini. Karena memang dia tidak ada teman dan Nadya memancingnya. Jadi apa yang di pendamnya selama ini pun akhirnya terkeluarkan.
" Kamu yang jauh lebih beruntung Selina. Meski kamu mengatakan tentang dirimu yang tadi. Tapi hubungan mu dengan Dokter Arif sangat lancar dan bahkan keluarganya sangat menerimamu. Sementara aku sama sekali tidak. Orang tua Varell sangat membenciku dan mungkin seumur hidupmu belum pernah mendapat kan cacian dan juga hinaan. Tapi aku mendapatkan semuanya bahkan sampai detik ini. Jadi kamu yang beruntung dari pada aku," sahut Nadya dengan wajah sendunya.
" Kenapa kamu sangat yakin jika keluarga Arif menerimaku?" tanya Nadya.
" Azizi sendiri yang berkata kepadaku. Mereka menginginkan kamu datang untuk memperkenalkan diri kamu," sahut Nadya.
" Ya mungkin iya mama dan papa Dokter Arif menerima ku. Lalu bagaimana dengan Vandy, Azizi dan kalian semua termasuk Sasy. Mereka pasti tidak menerimaku," sahut Selina yang terus mengkhawatirkan hal itu.
" Selina kenapa kamu berpikiran seperti itu. Memang kamu lihat aku seperti apa. Kamu belum mengenal bagaimana pertemanan Vandy dan yang lainnya. Mereka itu sangat baik dan kamu seharusnya bisa mengambil contoh dari aku. Aku bukan siapa-siapa dan lihat mereka menerimaku dengan baik. Bahkan aku berteman dengan Cherry, Sasy dan Toby itu sebelum menjalin hubungan dengan Varell," jelas Nadya.
" Tapikan aku dulu jahat," sahut Selina yang begitu tidak percaya diri.
" Selina jika kamu hanya memikirkan apa yang terjadi dulu. Nggak akan selesainya. Selina kamu bersyukur dengan keadaanmu yang sekarang. Jangan merasa kamu itu bukan apa-apa. Kamu harus percaya diri. Jika kamu dan Dokter Arif saling mencintai. Jadi perjuangkan hubungan itu. Jangan melihat orang-orang lain," ucap Nadya yang memberikan saran pada Selina.
Selina tampak berpikir-pikir dengan perkataan Nadya yang mungkin ada beberapa yang bisa di resapi Selina.
" Hmmmm, aku terlalu banyak bicara. Aku harus pulang. Varell pasti sudah menunggu. Aku harap kamu terus ya menjalin hubungan dengan Dokter Arif," ucap Nadya. Selina hanya mengangguk.
" Ya sudah. Kalau begitu aku pergi dulu," sahut Nadya yang pamitan.
" Iya, makasih untuk saran kamu," sahut Selina. Nadya mengangguk.
" Mari!" sapa Nadya yang langsung pergi. Selina hanya mengangguk saja.
" Kayaknya aku harus mencoba. Aku tidak mungkin seperti pengecut terus," batin Selina yang kelihatan memikirkan masukan dari Nadya.
" Huhhhhhhhh," Selina membuang napasnya panjang kedepan mengusap wajahnya dengan ke-2 tangannya. Selina sudah merasa jauh lebih tenang sekarang. Karena mendapat masukan yang banyak dari Nadya.
__ADS_1
Bersambung