DETAK Love Story' School

DETAK Love Story' School
Episode 26 Menemani kerumah sakit


__ADS_3

Verro dan Cherry terus saling kejar-kejaran saling melempar bola. Mungkin hal yang sudah lama tidak di lakukan Cherry Kevin. Kalau dulu mereka pasti sering melakukannya.


Kerena memang mereka selalu bersama sedari kecil, jadi hal itu sudah biasa mereka lakukan.


Di sisi lain Fiona melihat ke jadian itu. Dia meninggalkan tempat itu karena tidak suka melihat kedekatan Cherry dan Verro.


Cherry terdiam sejenak. Ternyata Cherry melihat kepergian Fiona. Yang terlihat tidak nyaman melihatnya bersama Verro.


" Apa dia marah melihat aku dan Verro, sampai dia harus pergi," batin Cherry. Lamunannya terhenti ketika lemparan bola mengenai betisnya.


" Lempar!" ucap Verro berkacak pinggang. Cherry yang tidak mempedulikan Fiona mengambil bola yang ada di bawah kakinya dan melempar kembali ke arah Verro.


Mereka kembali saling kejar-kejaran dan saling melempar dengan penuh kecerian. Seakan Cherry mendapat dunianya sendiri. Hal itu jelas dirindukan.


*********


Malam hari tiba. Verro menemani Cherry kerumah sakit untuk mengambil obat yang baru. Karena Cherry sudah membuang semua obatnya sewaktu di sekolah.


Cherry dan Verro duduk berdampingan dan di depan mereka sudah ada Dokter Arif.


" Cherry jangan lakukan itu lagi ya," sahut Dokter Arif menuliskan beberapa resep. Verro menoleh kesamping melihat ke arah Cherry.


" Jika kamu membuang obatmu, mereka akan marah ke padamu, ingat di luar sana banyak yang membutuhkan obat itu," lanjut Dokter Arif berbicara dengan serius.


" Iya Dokter maaf, Cherry tidak akan melakukannya lagi," jawab Cherry menunduk.


" Baiklah, ini resepnya kalian tebuslah," Verro mengambilnya, melihat sebentar.


" Ayo!" Verro berdiri. Cherry mengangguk.


" Cherry pergi dulu , selamat malam!" ucap Cherry pamit.


" Iya hati-hati," sahut Dokter tersenyum.


Setelah menebus resep yang di berikan Dokter Arif. Cherry dan Verro berjalan dengan langkah yang pelan.


Cherry maupun Verro masih memakai seragam sekolah. Hanya saja keduanya memakai sweater.


Cherry memakai sweater pink. Sementara Verro memakai sweater hitam. Dengan ke-2 tangannya di masukkan ke dalam saku sweater nya.


" Jangan membuangnya lagi, dengarkan kata Dokter," ucap Verro mengingatkan Cherry kembali.


" Iya, aku tidak akan melakukannya, maaf membuatmu marah," jawab Cherry melihat ke arah Verro.


" Apa kau tidak bisa tidak meminta maaf sekali saja," ucap Verro yang kesal jika Cherry terus minta maaf.


" Jika salah, maka harus minta maaf, jadi bagaimana mungkin aku tidak minta maaf," sahut Cherry dengan santai.


" Kalau begitu, jangan membuat kesalahan," ucap Verro dengan tegas.


" Lalu bagaimana dengan dirimu, apa kau tidak pernah membuat kesalahan. Bukannya kau juga sering bersalah denganku, tapi kau tidak pernah minta maaf," sahut Cherry melihat ke arah Verro. Membuat Verro mendengus.


" Kapan aku berbuat salah kepadamu?" tanya Verro yang selalu merasa benar.


" Itulah kesalahanmu, tidak pernah mengakui kesalanmu," sahut Cherry menyindir.


" Aku perhatikan kau bicara semakin lama semakin pintar dan berani," sahut Verro menatap Cherry dengan tajam.


" Kenapa juga aku harus takut padamu," sahut Cherry yang dengan santai.


Verro mendengarnya menarik ujung bibirnya kesamping dengan kepala mengangguk-angguk.

__ADS_1


" Oke, iya kau memang tidak perlu takut. Tapi aku penasaran apa salahku kepadamu?" tanya Verro.


" Pikirkan saja sendiri, kau bahkan tidak pernah minta maaf, atau kau tidak tau cara meminta maaf," sahut Cherry dengan asal-asalan.


" Aku tidak minta maaf, karena aku tidak bersalah dan kau minta maaf karena terus membuat kesalahan," sahut Kevin sinis membuat Cherry berdecak kesal.


" Terserahmu," sahut Cherry tidak ingin memperpanjang karena Verro akan menang.


Drett-Drett- Drett. ponsel Cherry berdering dan melihat panggilan masuk yang ternyata dari Sasy.


" Siapa?" tanya Verro.


"Sasy," jawab Cherry.


" Kenapa tidak di angkat?" tanya Verro yang melihat Cherry tidak kunjung mengangkat telpon yang terus berdering itu.


" Aku lupa tadi siang ada janji dengan Sasy menemaninya ke Mall. Aku tidak bisa menemaninya dan aku mengabarinya lewat chat. Pasti dia marah sampai harus menelponku, jadi aku malas mendengar ocehannya, lebih baik tidak di jawab," jelas Cherry.


" Kalau begitu kenapa tidak jadi pergi bersamanya?" tanya Verro heran. Sepengetahuannya ke Mall adalah hobi Cherry.


" Aku malas. Hal itu hanya akan membuatku iri saja," sahut Cherry membuat Verro bingung.


" Kenapa iri?" tanya Verro bingung.


" Sasy akan berbelanja keperluan untuk Study tour. Sementara aku hanya akan melihat dia belanja. Jadi malas jika harus berada di posisi itu, lebih baik tidak usah ikut," jelas Cherry dengan lemas.


" Kenapa tidak ikut belanja. Apa kau tidak punya uang," sahut Verro heran. Mereka tetap berjalan sambil berbicara.


" Buat apa belanja. Dia belanja karena membeli kebutuhan untuk pergi sementara aku tidak pergi. Jadi untuk apa belanja," sahut Cherry denagn wajah tidak bersemangat.


" Kau tidak ikut study tour?" tanya Verro menebak.


" Hmmmm, mana mungkin aku ikut. Papa tidak akan mengijinkanku, mengikuti Study tour. Aku hanya akan tidur di rumah malas-malasan selama 1 bulan dan tidak akan pernah mengikuti acara itu," jawab Cherry dengan lemas.


" Tidak perlu minta izin. Tetapi papa pasti sudah tau akan ada penyelenggaraan itu. Guru pasti sudah melapor dan pasti papa sudah mengatakan kepada pihak sekolah kalau aku tidak bisa ikut," jelas Cherry menarik kesimpulan dengan wajahnya yang tidak bersemangat.


" Ahhhhhh sudahlah, bukannya lebih baik jika aku tidak ikut. Paling tidak kau memiliki hari kebebasan selama 1 bulan," sahut Cherry mengubah wajahnya menjadi tersenyum lebar sekaan menutupi kesedihannya.


Verro bisa melihat Cherry mempunyai keingan yang besar untuk mengikuti Study tour. Karena terlihat Cherry begitu sedih tidak bisa mengikuti kegiatan yang hanya ada selama SMA.


" Seandainya aku terlahir seperti orang biasa mungkin aku bisa merasakan semua yang di rasakan orang-orang," ucap Cherry menatap lagit yang di penuhi bintang-bintang, dia kembali merenunginya.


" Kenapa belakangan ini. Kau suka mengeluh tentang ke adaanmu. Sedikit-sedikit iri. Sedikit-sedikit marah. Ada apa denganmu. Apa kau lelah?" tanya Verro dengan wajah serius menghentikan langkahnya menghadap Cherry.


Cherry terdiam. Perkataan Verro memang benar. Dia memang sering mengeluh belakangan ini. Dan mungkin memang benar jika dia lelah.


" Iya aku lelah," jawab Cherry dengan suara pelan.


Verro melihat Cherry seperti orang putus asa. Cherry tidak pernah seperti itu. Bahkan kata itu tidak pernah di dengarnya sebelumnya.


" Cherry," lirih Verro menatap Cherry dengan mengamati.


" Aku tidak tau kapan semuanya selesai," lanjut Cherry.


" Apa yang kamu bicarakan?" tanya Verro.


" Ada apa dengannya?" batin Verro terus melihat wajah Cherry.


" Kevin mungkin aku tidak akan pernah berpikir seperti ini. Jika kamu tidak dikaitkan dalam hidupku. Aku tau kamu juga lelah dengan ku. Kamu juga ingin berakhir. Karena jika aku berakhir kamu akan menemukan kehidupan kamu yang normal. Kehidupan yang selama ini yang tanpa aku sadari telah aku ambil," batin Cherry menahan air matanya.


" Cherry, jangan berpikir yang aneh-aneh. Semuanya bukan ada di tanganmu. Jadi jauhkan semua pikiran buruk itu dari dalam pikiranmu. Kau harus tetap sehat," ucap Verro berusaha memberi semangat pada Cherry. Cherry tersenyum mendengarnya dan mengangguk.

__ADS_1


" Iya aku tau. Aku hanya becanda," sahut Cherry tersenyum simpul.


" Ya sudah pergilah ke mobil terlebih dahulu, aku ke toilet sebentar," ucap Verro


" Oh, baiklah, aku akan menunggu di mobil," sahut Cherry.


Verro pun melangkahkan kakinya menuju toilet. Cherry melirikkan matanya ke ujung jalan. Cherry menyadari sedari tadi dia di ikuti oleh Pria suruhan Hariyanto.


Cherry tidak ambil pusing dan melanjutkan langkahnya menuju mobil menunggu Verro di sana.


" Cherry," suara wanita yang khas memanggil namanya membuat Cherry berbalik badan. Yang ternyata wanita itu adalah Siska.


" Siska," sahut Cherry senang. Siska berlari menghampiri Cherry dan memeluk Cherry.


" Apa kabar?" tanya Siska.


" Baik seharusnya aku yang bertanya, kamu dari mana saja tidak pernah mengabariku?" tanya Cherry melepas pelukannya melihat tubuh Siska seperti mengamati.


" Aku habis operasi ke Singapura dan baru kembali kemarin. Jadi Sorry belum sempat mengabarimu," jawab Siska degan santai.


" Ya sudah tidak apa-apa. Bagaimana Operasi mu apa lancar?" tanya Cherry.


" Biasalah, Dokter hanya bilang lancar-lancar saja. Ahhhhh tapi sama saja paling juga hasilnya sama," sahut Siska yang terlihat santai dan tanpa beban.


Cherry tersenyum mendengarnya. Siska memang orang seperti itu tidak peduli dengan penyakitnya. Sebenarnya Siska sama dengan Cherry sama-sama santai dengan gangguan organ tubuh mereka.


Hanya saja belakangan ini Cherry tidak bersemangat. Apa lagi melihat Verro dan Fiona seakan Cherry takut jika Verro benar-benar akan meninggalkannya.


" Kau sendiri ngapain di sini?" tanya Siska membuyarkan lamunan Cherry.


" Ini," jawab Cherry menunjukkan kantung putih plastik obat-obatan miliknya.


" Mengambil obat," lanjut Cherry.


" Ohhhh, by the way. Bagaimana misimu apa sudah berhasil?" tanya Siska penasaran. Cherry menggeleng lemas.


Verro sudah kembali dari kamar mandi. Verro melihat Cherry berbicara dengan seorang wanita yang tidak dikenalnya.


Dia juga tidak dapat melihat wanita itu. Karena Siska membelakinginya. Verro yang penasaran pun langsung menghampiri Cherry dan wanita tersebut.


" Ayolah Cherry, cari cepat," desak Siska. Cherry tersenyum tipis. Saat melihat Verro yang berjalan ke arahnya.


" Kamu harus segera mencari pacar agar kamu mendapatkan ciuman pertamamu," lanjut Siska membuat Cherry menganga.


Karena menyadari Verro sudah berada di belakang Siska dan mungkin mendengar ucapan Siska. Siska terus mengoceh sementara Cherry gelisah.


" Karena ciuman itu...."


Dengan cepat Cherry menutup mulut Siska agar berhenti mengoceh.


" Emppppp," Siska kesulitan bernapas akibat perbuatan Cherry. Sementara Cherry sangat gugup takut jika Verro mendengar ucapan itu.


" Shuttt," geram Cherry m


" Ada apa sih," sahut Siska kesal.


" Ehmemmm," Verro berdehem dengan suara dingin. Membuat Siska perlahan membalikkan badannya. Sementara Cherry sangat cemas dengan ke hadiran Verro yang tiba-tiba.


💝💝💝Bersambung


Hay para readers yang baru bergabung. Bantu support ya novel aku yang baru.

__ADS_1


Tinggalkan jejak. Komentar, like, dan jangan lupa vote sebanyak-banyaknya. Agar aku semakin semangat melanjutkan ceritanya


__ADS_2