
Verro memberhentikan mobilnya di depan rumahnya. Verro membuka seat beltnya dengan membuang napasnya perlahan kedepan. Kemudian dia keluar dari mobilnya dan langsung memasuki rumahnya.
Saat memasuki area ruang tamu. Ternyata papa dan ibu tirinya sudah ada di sana. Verro melihat sinis sebentar dan melanjutkan langkahnya.
" Verro!" tegur Hariyanto membuat langkah Verro terhenti.
Hariyanto bangkit dari duduknya dan menghampiri Verro. Hariyanto menepuk bahu Verro membuat Verro bingung. Pasti ada sesuatu.
" Papa bangga sama kamu," ucap Hariyanto membuat Verro kaget. Apa lagi maksud papanya.
" Seperti ini yang papa inginkan. Kamu memang harus terus seperti ini. Lengket dengan Cherry dan selalu bersamanya. Dengan begitu kerja sama papa akan akan berjalan dengan lancar," ucap Hariyanto menyampaikan maksudnya bangga atas karena apa.
Verro mendengus kasar dengan mengepal tangannya. Dugaannya benar papanya bahagia karena kedekatannya dengan Cherry. Dengan geram Verro menepis tangan papanya dari pundaknya.
" Aku dekat sama Cherry sama sekali tidak ada hubungannya dengan papa," ucap Verro menekankan suaranya. Hariyanto tersenyum mendengarnya.
" Terserah kamu. Yang penting ini lah yang papa inginkan selama ini, kamu dekat dengan dengannya yang jelas sangat menguntungkan papa," sahut Hariyanto mengangkat ke-2 bahunya dengan wajahnya senyum tanpa dosa.
" Farah!" panggil Hariyanto.
" Iya mas," jawab Farah dengan senyum.
" Berikan dia hadiahnya," ucap Hariyanto. Farah mengangguk tersenyum dan menghampiri suami dan anak tirinya.
" Ini Verro untuk kamu," ucap Farah memberikan amplop kecil yang sangat tebal. Verro dengan geram penuh kemarahan menatap amplop itu.
" Ayo ambil. Itu hadiah karena kamu membuat papa senang," ucap Hariyanto yang memang tidak punya perasaan.
Verro mengambil kasar amplop itu dan membuka isinya dan menghamburkan isi semua uang itu kepada ibu tirinya dan papanya. Membuat Farah dan Hariyanto melotot menatap uang-uang itu yang berhamburan di atas kepala mereka dan jatuh di lantai.
" Verro!" bentak Hariyanto.
" Gunakan saja uang itu untuk kebutuhan kalian. Kalian akan membutuhkannya. Karena kalian akan miskin sebentar lagi," desis Verro dengan menekan suaranya.
" Anak kurang ajar," Hariyanto ingin melayangkan tangannya seperti biasa kepada Verro. Tetapi kali ini Verro menangkisnya dan mencengkram kuat tangan papanya.
__ADS_1
" Jangan suka-suka melakukan kekerasan, aku bisa melapor kan pada polisi," desis Verro menatap tajam papanya dan menjatuhkan kasar tangan itu sampai Hariyanto bergeser sedikit.
" Mas," Farah langsung menghampiri suaminya, memegang suaminya yang hampir jatuh.
" Kalau kalian ber-2 tidak bisa menggunakan hati. Gunakan otak kalian," ucap Verro menunjuk kepalanya dengan jarinya.
" Cherry sedang masa-masa kritisnya, kesehatannya sangat menurun dan kalian sibuk dengan kekuasaan kerjasama dan lain sebagainya. Aku bukan alat untuk memperkaya kalian. Hewan lebih baik dari pada suami istri seperti kalian berdua," ucap Verro yang benar-benar melawan kepada papanya bicara tanpa ampunan.
" Apa kata mu," sahut Hariyanto menekan suaranya, ingin rasanya membunuh Verro yang berbicara sangat lancang.
" Aku sangat menyesal memiliki orang tua seperti mu," ucap Verro menegaskan. Lalu Verro langsung menaiki anak tangga pergi dari tempat itu.
" Anak kurang ajar. Seharusnya kau bersyukur. Kalau bukan karena ku. Kau tidak akan bisa hidup enak, kau akan menyesal. Aku akan menyita semua fasilitas yang kuberikan. Agar tau kesalahanmu, anak tidak tau diri dan meminta maaf," Hariyanto berteriak-teriak kepada Verro yang tetap melanjutkan langkahnya.
Hariyanto tidak menyangka jika Verro benar-benar melawannya dan tadi bicara yang sangat kasar kepadanya membuat darah tingginya semakin naik dan ingin membunuh anaknya itu.
Verro membanting pintu kamarnya. Mengambil kopernya yang ada di atas lemari dan membuka, memasukkan asal-asalan pakainya. Dia benar-benar tidak tahan untuk tetap tinggal di rumah itu dan lebih baik pergi dari pada tinggal di neraka.
Dia sedang masa-masa sedihnya bersama Cherry. Ketakutannya kehilangan Cherry. Tetapi papanya sama sekali tidak punya hati. Papanya terus memanfaatkan situasi dengan kondisi Cherry yang semakin parah.
Verro selesai Meres kopernya. Membawa beberapa barang-barang yang memang pasti dibutuhkannya. Setelah itu Verro langsung keluar dari kamarnya.
Saat membuka pintu Verro menoleh kebelakang seperti ada yang ketinggalan. Verro kembali masuk. Membuka lacinya memasukkan album foto kedalam tasnya dan beberapa bingkai foto-foto Cherry yang berada di dalam laci itu.
Setelah aset berharganya ikut di bawanya Verro mengangkat kopernya dan keluar dari kamar. Verro kembali menuruni anak tangga. Pasangan suami istri itu masih ada di sana. Farah kaget melihat Verro yang membawa koper.
" Mau kemana kamu?" tanya Hariyanto dengan suara mengeras.
Verro tidak menjawab dan tetap melanjutkan langkahnya.
" Jika keluar dari pintu itu jangan berharap masuk lagi," ucap Hariyanto membuat langkah Verro terhenti.
" Dan kalau kamu pergi jangan bawa fasilitas yang kuberikan," ucap Hariyanto. Verro mendengus kasar meletakkan kopernya dan menghampiri pria itu.
Verro mengeluarkan dompetnya dari sakunya meletakkan di atas meja.
__ADS_1
" Aku rasa hanya itu fasilitas yang anda berikan," ucap Verro dengan sinis.
" Kunci mobilmu," ucap Hariyanto.
" Maaf itu mobil milik ibuku. Sebelum menikah denganmu dia sudah kaya. Jadi itu adalah miliknya bukan milikmu," sahut Verro sinis dan kembali melangkahkan kakinya.
Hariyanto mengepal tangannya benar-benar tidak bisa berbicara apa-apa lagi. Verro kembali menghentikan langkahnya. Tanpa berbalik badan kearah pasangan suami istri itu.
" Sebelum aku pergi aku ingin memberi tahu. Jika Cherry sudah tau semuanya. Dia sudah mengetahui sangat lama. Bahkan dia yang memberitahuku. Jika ada orang yang memata-matai kami di sekolah dia juga tau jika aku menjadi alat untuk kerjasama. Jadi kutiplah uang-uang itu. Karena anda akan semakin miskin," ucap Verro dengan tersenyum miring.
Verro tidak peduli dan kembali melangkah keluar dari rumah itu. Sementara Hariyanto dan istrinya kaget mendengar kata-kata Verro jika Cherry mengetahui semuanya dan itu berarti kerjasamanya akan gagal dan semua proyek yang direncanakannya akan berantakan.
***********
Verro yang sudah tidak tinggal di rumahnya akhirnya kerumah Varell. Verro duduk di pinggir ranjang dengan pikirannya yang bercabang-cabang.
" Nih," Varrell memberinya minuman kaleng dan Varell duduk di depan PS nya.
" Nyokap gue sudah urus sekolah lo. Jadi lo jangan khawatir. Meski bokap lo cabut semua biaya pendidikan lo di sekolah. Itu tidak akan pengaruh. Karena nyokap gue sudah urus samapi lo lulus," ucap Varell yang dengan gercep langsung membantu sahabatnya.
Padahal Verro baru datang sejam yang lalu dan menceritakan semuanya. Sebagai sahabat Varell harus menyelamatkan pendidikan sahabatnya dulu.
" Makasih," sahut Verro.
" Lalu apa rencana lo?" tanya Vandy.
" Tidak ada, aku hanya ingin menghabiskan banyak waktu bersama Cherry. Jadi aku tidak punya rencana lain selain membahagiakannya," sahut Verro.
" Iya terserah lo. Memang seharusnya lo harus banyakin waktu untuk Cherry. Dan masalah lainnya lo jangan khawatir gue akan bantu. Lo nggak usah sungkan. Lo anggap ini rumah lo kayak biasa," ucap Varell yang benar-benar menjadi sahabat yang ada di kalah susah.
" Makasih, gue akan balas suatu saat nanti," ucap Verro.
" Santai aja. Tapi tetap gue tagih," sahut Varell nada bercanda.
Verro pun ikut tersenyum sedikit dengan hiburan dari Varell walau sedikit yang penting dia lega.
__ADS_1
Bersambung....