
Vandy memang sangat ramah dan membiarkan siapapun duduk di sebelahnya.
" Tadinya aku mau duduk di sebelah Fiona, tetapi pasti sangat membosankan," ucap Azizi jujur.
Vandy sampai mendengus tersenyum bahkan menoleh ke arah Fiona yang memakai earphone dan sudah memejamkan mata.
" Dia memang membosankan," sahut Vandy yang langsung setuju.
Sekarang giliran geng Raquel yang memasuki bus. Selina melihat Vandy duduk bersama Azizi langsung menghampiri.
" Minggir lo, gue mau di sini," usir Selina dengan mengipas-ngipas wajahnya dengan kipas mininya.
" Aku?" tanya Azizi menunjuk dirinya.
" Jadi maksud lo siapa, apa ada orang selain lo di sini," sahut Selina menegaskan.
" Tapi kan aku yang duluan di sini," ucap Azizi.
" Sudah minggir gue bilang," tegas Selina yang tidak peduli dengan omongan Azizi.
" Apaan maksud lo, jangan buat kegaduhan, dia yang duluan di sini," sahut Vandy yang langsung pasang badan dan malas dengan suara Selina yang di buat-buat dan malah membuat rusuh di tempatnya.
" Lo yakin mau duduk sama dia?" tanya Selina dengan sinis.
" Memang ada masalah dari pada duduk sama lo," jawab Vandy sinis.
" Maksud lo apaan, lo duduk sama si cupu kayak gini," ucap Selina menatap Azizi tajam.
" Diam lo, sana lo, nggak usah ganggu kenyamanan orang, lebih baik duduk sama dia dari pada orang resek kayak lo," kecam Vandy yang tidak tanggung-tanggung bicara.
" Ishhhh," desis Selina merapatkan giginya semakin kesal.
" Sana lo!" usir Vandy yang kesekian kalinya.
Selina menghentakkan telapak kakinya dari pada di permalukan Vandy Selina memilih mencari tempat duduk lain.
" Sini!" ajak Mitha menepuk kursi di sebelahnya.
Selina pun langsung duduk di dan mengambil posisi duduk di samping Mitha.
" Sialan gue di kalahin sama si cupu itu," desis Selina yang tidak habis pikir.
" Pake pelet kali dia," ucap Mitha.
" Liat aja gue bakalan balas perbuatannya," ucap Selina yang tidak terima dan sudah mulai merencanakan, sesuatu yang buruk pada Azizi.
" Iya tenang aja, kita akan kasih pelajaran orang-orang yang menyebalkan itu," sahut Mitha.
__ADS_1
Sementara Raquel melihat sudah tidak ada bangku kosong hanya tinggal Aldo dan Fiona yang masih tidak memiliki tempat duduk.
" Sialan, gue mau duduk di mana," desisinya terus melihat-lihat.
" Raquel kenapa tidak duduk?" tanya Pak Sony yang memasuki Bis dan sudah berdiri di belakang Raquel.
" Tidak ada tempat untuk duduk pak," jawab Raquel menyilangkan tangannya di dadanya dengan wajah kesalnya.
" Makanya jangan lama-lama masuk Bus, kebanyakan bertingkah sih," sambar Sasy.
" Gue nggak nanyak pendapat lo," sahut Raquel semakin kesal.
" Lo merusak pemandangan," sahut Sasy.
Cherry menengok kebelakang dan mengelengkan kepalanya ke pada Sasy.
" Bisa diam nggak Sasy, bisa nggak, nggak usah ikut campur, urusan orang sekali aja," ucap Cherry dengan tegas.
" Kamu juga nggak usah ikut-ikutan," desis Verro. Cherry langsung merapatkan giginya dan memilih diam.
" Itu Aldo kosong, Fiona juga," ucap pak Sony. Raquel melihat sinis ke arah Fiona yang paling pojok dan bergantian ke arah Aldo yang berada di sampingnya.
" Pak suruh mereka aja duduk berdua, saya malas satu tempat dengan mereka," ucap Raquel banyak maunya.
" Emang lo pikir lo siapa?" sahut Aldo yang mendengarkan hal itu.
" Kalian lebih cocok berdua, sana lo pindah!" usir Raquel.
" Aldo," pekik Raquel.
" Sudah-sudah, kamu duduk saja, kita sudah mau berangkat, jangan malah bertengkar, kalau kamu tidak mau duduk, terserah kamu," jelas pak Sony yang tidak mau ambil pusing dengan Raquel yang banyak bicara.
" Tapi Pak," sahut Raquel yang tetap memprotes.
" Cepatan Raquel," tegas Pak Sony lagi.
Requel masih berdiri tegak. Melihat Fiona kelas amit-amit duduk di sampingnya. Apa lagi sama Aldo. Tetapi dia benar-benar tidak punya banyak pilihan.
" Geser Lo," ucap Raquel memilih duduk di samping Aldo.
" Sudah numpang, nyolot lagi," sahut Aldo.
" Sudah jangan banyak cerita, geser buruan!" desak Raquel yang benar-benar tidak punya pilihan.
" Iya, dasar bikin susah, numpang tidak tau diri," oceh Aldo bergeser.
" Emang bis ini, punya bapak lo," ketus Raquel.
__ADS_1
" Dengar ya, gue mau duduk di sini, karena teman gue, dekat sama gue, gue amit-amit dekat sama lo," ucap Raquel memperjelas. Membuat Aldo mendengus dan masa bodo,dia juga tidak mempedulikan ocehan Raquel.
Memang pilihan Raquel lumayan tepat karena Mita dan Selina yang duduk di sampingnya jadi mereka bisa sambil ngerumpi.
" Anak-anaknya mohon perhatiannya sebentar!" ucap pak Sony yang sudah berdiri di tengah-tengah dan Pak Lucky dan Bu Asri sudah berjejer di belakangnya.
3 Guru itu memang akan membina dan mengawasi murid-murid yang mengikuti kegiatan Study tour.
" Sebelum kita berangkat mari kita berdoa menurut kepercayaan kita masing," ucap Pak Sony menuntun doa. Semua murid-murid pun mulai berdoa dengan kepercayaan masing-masing dengan khususk.
" Doa selesai," sahut Pak Sony mengangkat kepala.
" Baik kita mulai jalan," ucap Pak Sony pada supir.
" Yeeeee, let's go," sahut murid-murid dengan penuh keceriaan.
" Apa jika berada dalam kegiatan Study tour, orang yang di suruh om Hariyanto buat awasi Verro apakah ada juga," batin Cherry yang tiba-tiba kepikiran.
" Semoga saja tidak agar, aku bisa tenang, begitu juga dengan Verro," batin Cherry lagi tersenyum melihat ke arah Verro yang sudah memejamkan matanya.
Bus sudah mulai berjalan. Mereka mulai melakukan aktivitas di dalam bus agar tidak membosankan.
Bernyanyi bersama-sama dengan gitar yang di mainkan oleh Vandy. Vandy memang sangat mahir bermain gitar, jadi dia bermain gitar sambil bernyanyi-nyayi.
Sementara Toby sibuk mengambil foto-foto teman-temannya. Pastinya foto-foto yang di ambil Toby foto-foto asal-asalan. Namanya juga Toby kebanyakan usilnya.
" Ahhhhhh, bosan lagu Selow, yang agak keren supaya bisa disko, yang rock gitu," sahut Beben.
" Setuju," sahut Sasy yang tidak boleh ketinggalan.
" Oke kita pasang," sahut Yogi yang langsung membuat musik DJ. Para murid-murid mulai melompat-lompat sesuai alunan musik.
" Ayo Cherry berdiri!" ajak Sasy yang sudah heboh sendiri. Cherry juga sudah tidak tahan sedari tadi dia hanya menepuk-nepuk tangannya.
Cherry pun berdiri namun langsung mendapat tatapan horor dari Verro membuat tangannya jadi turun kembali.
" Kau masih mau berdiri," tanya Verro yang melihat Cherry mulai pecicilan.
Cherry merapatkan giginya dan duduk dengan kesal. Wajanya di tekuknya dengan bibirnya yang kerucut kesal dengan Verro yang mengurungnya dan tidak memberinya kebebesan.
Karena berisik dan mengganggu kenyamanan untuk Verro. Verro mengambil headsed nya mencolok keponselnya setelah menyetel lagu. Verro melihat Cherry dengan wajah cemberut.
Verro memasangkan 1 headset ketelinga Cherry.
" Lebih baik kau tidur," tegas Verro memasang sebelah heatsed ketelinganya dan memejamkan matanya. Setelah headset berada di telinganya dan Cherry.
💝💝Bersambung
__ADS_1
Hay para readers yang baru bergabung. Bantu support ya novel aku yang baru.
Tinggalkan jejak. Komentar, like, dan jangan lupa vote sebanyak-banyaknya. Agar aku semakin semangat melanjutkan ceritanya