DETAK Love Story' School

DETAK Love Story' School
Episode 303 Dukungan sahabat.


__ADS_3

Setelah mengurus Fiona. Cherry berjalan sendirian menunggu suaminya. Karena Verro masih bicara dengan pengurus yayasan yang mungkin memang ada hal penting yang ingin di bicarakan dan Raquel sudah berada di mobil.


" Cherry!" panggil Sasy. Cherry menoleh kebelakang dan melihat temannya Sasy tersenyum. Dan Sasy melangkah mendekatinya langsung memeluknya.


" Memang menjadi orang baik tidak mudah. Aku tau perasaan kamu. Kamu takutkan Verro akan perlahan pergi," ucap Sasy memeluk temannya itu dengan mengusap-usap bahu Cherry. Cherry tidak bisa memungkiri jika apa yang di katakan temannya memang benar. Dia sangat takut kehilangan suaminya.


Sasy pun melepas pelukan itu dan melihat temannya yang terlihat murung. Sedih. Namun penuh kebingungan yang tidak tau apa yang harus di lakukannya.


" Aku mengerti posisi kamu. Di sisi lain kamu sangat simpatik dengan keadaan Fiona. Karena kamu tau apa yang di rasakan Fiona. Karena kamu menganggap Fiona sama dengan kamu yang dulu. Dan aku tau di satu sisi melihat kedekatan Fiona dan Verro membuat hati kamu di dalam sana tidak tenang," ucap Sasy yang bisa membaca isi pikiran sahabatnya itu.


" Kamu benar Sasy, aku tidak banyak bicara karena aku tidak mau membuat Fiona semakin sakit. Aku takut dia kenapa-kenapa. Tetapi aku juga takut jika perhatian Verro akan terus bertambah kepadanya. Aku tau Verro dokter dan itu adalah kewajibannya. Semua hanya sebatas profesional. Tetapi walau aku menerima semua itu hanya sebatas pekerjaan. Tetapi hatiku. Tidak bisa sesabar itu," ucap Cherry yang sangat terbuka kepada temannya.


" Iya, aku tau, aku tau itu. Maka dari itu kamu harus lebih dekat dengan Verro. Kamu harus lebih hati-hati. Jangan karena perkara kelembutan hati kamu yang membuat Fiona memanfaatkannya dan akhirnya hubungan kamu dengan Verro berantakan. Jangan sampai semua itu terjadi," ucap Sasy mengingatkan temannya itu.


" Iya Sasy, kamu benar, aku akan lebih mengerti sesuatu. Walau Fiona sakit dan Verro melakukan itu hanya kewajiban, karena pekerjaan. Tetapi aku tidak akan membiarkan hal sekecilpun yang membuat Verro, atau Fiona. Memiliki kesempatan yang lebih," ucap Cherry. Sasy mendengarnya tersenyum.


" Itu baru sahabatku. Kamu tenang saja aku membantu kamu," ucap Sasy tersenyum lebar yang membuat Cherry juga tersenyum.


" Makasih ya Sasy, kamu sudah banyak membantuku," ucap Cherry. Sasy mengangguk mendengarnya.


" Kita adalah teman, dan memang kita harus saling membantu. Kamu jangan khawatir. Verro tidak mungkin lari dari mu," ucap Sasy memberikan dukungan pada temannya itu.


" Hmmm, kamu benar, dia tidak mungkin lari dari ku," sahut Cherry percaya diri.


" Ya sudah, sekarang ayo kita pergi, kita nungguin Verro," ucap Sasy. Cherry mengangguk dan akhirnya mereka pergi dengan tangan Sasy berada di pundak Cherry. Cherry memang merasa lega dengan temannya yang sudah datang dan mengubah suasana. Dia jauh lebih merasa lega.


**********


Malam hari. Azizi memasuki kamarnya setelah selesai mengurus Iqbal untuk tidur. Iqbal memang harus di temani sampai tidur dan setelah memastikan Iqbal tertidur Azizi baru kekamarnya.

__ADS_1


Terdengar suara air di kamar mandi yang sepertinya Vandy sedang mandi. Azizi melangkah mendekati tempat tidur dan Merapi-rapikan tempat tidur.


Darattt- Dratttt Dratttt Dratttt Dratttt Dratttt


Handphone Vandy berdering yang letaknya berada di atas nakas. Azizi pun langsung melihat handphone tersebut dan melihat panggilan masuk dari Silvi yang tak lain adalah guru anaknya yang membuatnya kesal beberapa hari ini.


" Ngapain dia nelpon malam-malam begini?" tanya Azizi tampak kesal mendengar suara panggilan itu.


" Ini bukan jam pelajaran sekolah. Nggak ada kerjaan banget sih. Bisa-bisanya menelpon, sudah tau malam. Apa tidak punya jam apa di rumahnya," oceh Azizi yang tensian dengan panggilan masuk itu.


Ceklek.


Vandy keluar dari kamar mandi dengan pakaian santai. Celana treninig panjang dan kaos putih dengan tangannya yang melap rambut Vandy yang masih basah.


" Siapa yang menelpon?" tanya Vandy.


" Mana aku tau," sahut Azizi jutek dan langsung melangkah menuju lemari. Vandy hanya melihatnya heran lalu mendekati nakas dan mengambil handphonenya dan melihat siapa yang menelpon.


" Hallo Bu," ucap Vandy menjawab telpon itu dan Azizi yang mengambil pakaian di lemari tampak kaget mendengar Vandy mengangkat telpon dari Bu guru yang gatal itu.


" Dia mengangkatnya dan bahkan bicara semanis itu," batin Azizi yang tampak kepanasan.


" Oh, Iqbal sudah tidur, saya juga sudah mau tidur," ucap Vandy menguatkan volume suaranya dan melihat ke arah Azizi yang membelakanginya.


" Makasih Bu! iya tidak mengganggu. Saya justru senang bisa di telpon," sahut Vandy yang sepertinya semakin mengada-ada cerita yang membuat Azizi semakin panas.


" Iya Bu, selamat malam. Ibu juga jangan lupa untuk istirahat," ucap Vandy dengan begitu manisnya.


Brakk.

__ADS_1


Azizi tidak tahan untuk tidak membanting pintu lemari dan dengan kesal berjalan menuju kamar mandi tanpa melihat Vandy namun Vandy yang sudah selesai menelpon menahan Azizi dan menarik pinggangnya. Sehingga berada di dekapan Vandy.


" Apa yang kamu lakukan, lepaskan aku!" berontak Azizi tampak kesal dengan Vandy.


" Kamu cemburu?" tanya Vandy dengan tersenyum miring.


" Apa yang kau katakan. Cemburu dengan siapa aku cemburu," sahut Azizi yang tampak gugup dengan terus mencoba melepaskan diri dari Vandy.


" Jelas kamu cemburu. Dari kemarin kamu tampak tidak suka melihat guru anak kita," ucap Vandy. Azizi melepaskan diri dari Vandy.


" Jangan mengada-ada kamu. Aku tidak cemburu sama sekali. Justru kamu yang berlebihan. Bagaimana mungkin kamu telponan dengan guru itu. Siapa tau dia sudah mempunyai keluarga. Apa kamu tidak memikirkan suaminya," ucap Azizi marah-marah dengan mencari alasan.


" Dia masih single, dia tidak memiliki keluarga," ucap Vandy dengan santai membuat Azizi mengkerutkan dahinya.


" Kamu mengetahuinya sampai begitu dalam?" tanya Azizi. Vandy mengangguk.


" Kamu benar-benar ya sama saja dengan guru itu. Ishhhh, dasar menyebalkan," geram Azizi yang langsung pergi dari hadapan Vandy.


" Kamu kenapa pergi Azizi!" panggil Vandy melihat Azizi memasuki kamar mandi.


" Kamu mengaku saja. Kalau kamu cemburu," teriak Vandy.


" Tidak sama sekali," sahut Azizi dari dalam kamar mandi yang tidak kalah berteriaknya yang gengsi mengakui jika dia memang cemburu.


" Hmmmm, kamu pikir bisa bohong dari ku. Aku jelas melihat sendiri jika kamu sangat cemburu," batin Vandy dengan wajahnya yang terus tersenyum.


Sementara Azizi yang memasuki kamarnya wajahnya tampak begitu kesal dengan Vandy yang menggodanya.


" Ishhhh, apa yang dipikirkannya. Bagaimana mungkin aku cemburu itu jelas tidak mungkin. Dia nya saja yang tidak sadar sudah menikah dan masih saja ganjen," ucapnya dengan kesal.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2