
Vandy berada di dalam mobilnya menunggu macet di pagi hari. Biasalah kota Jakarta pagi hari pasti sudah macet dan kita harus mempunyai kesabaran yang banyak.
Begitu juga dengan Vandy yang Kesabarannya sedang di uji dan hari ini dia terlihat murung dan banyak berpikir di dalam mobil. Wajahnya memang tidak bisa bohong jika dia memang sedang banyak pikiran.
" Kalian ini adalah pasangan suami istri. Jelas untuk memiliki seorang anak lagi tidak akan masalah. Apa lagi kalian juga masih muda. Cara ini juga sering di gunakan oleh pasangan yang mengalami apa yang kalian alami,"
Kata-kata Dokter teriangat di benak Vandy. Di mana Dokter menyarankan kepadanya cara agar bisa menyelamatkan putranya. Tetapi jelas cara itu tidak masuk tidak bisa di lakukan.
Karena dia dan Azizi bukan pasangan suami istri. Dan paling parah hubungannya dengan Azizi juga tidak baik-baik saja. Jadi apa yang di sarankan Dokter pasti tidak bisa di lakukan untuk menyelamatkan Iqbal.
Hal yang paling membuat Vandy stress adalah dengan Donor yang tak kunjung ada. Dan dia benar-benar frustasi dan tidak tau harus melakukan apa lagi. Ingin menebus kesalahannya kepada Azizi dan juga anaknya. Tetapi ternyata Tuhan tidak merestui hal itu.
Mungkin saja. Tuhan lebih ingin dia berusaha. Karena memang menebus kesalahan pasti tidak semudah itu dan tidak akan sebanding dengan ala yang di alami Azizi selama ini dan tanpa ada meminta bantuan sedikitpun darinya.
" Apa lagi yang harus aku lakukan. Apapun itu. Aku harus bisa membantu Iqbal. Iqbal harus sembuh. Aku tidak akan membuatkan dia mengalami kesakitan seperti ini," batin Vandy yang kebingungan.
" Aku benar-benar tidak berguna. Aku sangat tidak bertanggung jawab. Sekarang semuanya berantakan dan ala yang di katakan Dokter. Pasti tidak mungkin ku lakukan. Itu sangat mustahil," ucapnya di dalam hatinya. Vandy terus bergerutu di dalam hatinya yang berusaha mencari jalan keluar.
tin-tin-tin-tin.
Suara klakson mengagetkan Vandy. Karena melamun dengan pemikirannya yang tidak tenang. Sampai tidak menyadari. Jika mobil di depannya sudah berjalan dan sekarang para pengemudi di belakangnya sudah mulai mengamuk.
Vandy yang melihat dari kaca spionnya langsung melajukan mobilnya. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat. Untuk kembali fokus menyetir.
Vandy terus melajukan mobilnya dengan kecepatan santai dan sekarang benar-benar sudah keluar dari tengah kota dan berjalan di jalanan yang tidak terlalu ramai.
Seketika mata Vandy melihat ke arah kirinya. Saat melihat seseorang yang mencuri perhatiannya yang tak lain adalah Azizi yang duduk di salah satu bangku di area taman yang dekat dengan jalanan.
Azizi duduk dengan sedikit menunduk dan kedua tangannya menutup wajahnya. Vandy juga melihat Azizi yang mengusap air matanya. Wajah Azizi juga tampak murung dan Vandy sudah bisa menebak jika Azizi pasti memikirkan Iqbal.
Vandy memberhentikan mobilnya sehingga lebih jelas melihat ke arah Azizi. Melihat jelas tangisan seorang ibu yang seakan pasrah dengan kondisi putranya yang mungkin hanya itu yang di milikinya.
" Aku, tau Azizi. Kamu pasti kecewa dengan semua ini. Aku minta maaf. Karena aku benar-benar tidak berguna. Aku tidak bisa melakukan apapun padamu dan juga Ikbal. Aku memang tidak berguna untuk kalian ber-2. Aku sudah membuatmu benar-benar menderita," batin Vandy yang merasa bersalah pada Azizi.
__ADS_1
Azizi kembali menyeka air matanya dengan menarik isakan tangisnya. Menangis mungkin bisa sedikit membuatnya lebih leluasa.
" Maafkan mama sayang, mama tidak bisa melakukan apapun. Mama sudah berusaha. Tetapi tetap saja apa yang mama lakukan tidak bisa membuat kamu sembuh. Maafkan mama sayang," batin Azizi dengan derain air matanya.
Tiba-tiba sebuah tisu berada di depannya, membuatnya mengangkat kepalanya dan melihat siapa yang memberikan tisu itu yang ternyata adalah Vandy.
Vandy benar-benar jelas. Melihat air mata di wajah Azizi. Wajahnya yang sangat penuh kesedihan. Wajah yang pasrah.
" Hapus air matamu," ucap Vandy dengan lembut.
" Untuk apa?" tanya Azizi memalingkan wajahnya. Vandy pun duduk di samping Azizi.
" Menangis tidak akan menyelesaikan masalah," ucap Vandy yang sudah duduk di samping Azizi.
" Kamu tidak tau apa yang aku rasakan. Makanya kamu berbicara seperti itu," ucap Azizi.
Vandy terdiam tanpa bisa berbicara apa-apa lagi. Apapun yang di katakan Azizi memang benar. Apa yang di rasakan Azizi. Pasti tidak akan pernah di rasakannya.
Dia tidak bicara lagi dan memang membiarkan Azizi menangis dengan suka-sukanya.
**********
Di sisi lain. Verro dan Cherry sudah tiba di rumah sakit dan sekarang Verro benar-benar memeriksa kondisi istrinya yang pasti semakin membaik.
Usaha yang di lakukannya memang tidak sia-sia berhasil membuat istrinya benar-benar sembuh. Walau kesembuhan itu akan membuat luka pada Cherry dan dia tinggal menyiapkan mental Cherry saja.
Cherry yang berbaring. Langsung di bantu Verro duduk. Saat Verro sudah selesai memeriksanya. Verro tersenyum pada Cherry dan mengusap-usap lembut rambut Cherry.
" Aku sudah sembuh?" tanya Cherry. Verro mengangguk.
" Iya kamu sudah sembuh. Apa lagi ingatan kamu benar-benar pulih. Kamu mengingat semuanya dan juga tidak melupakan kehidupan baru kamu. Jadi kamu sudah sembuh," ucap Verro dengan lembut. Cherry yang kesenangan langsung memeluk Verro dengan erat.
" Kalau begitu ayo. Kita temui papa. Kita berikan kejutan padanya. Dia pasti tidak percaya juga. Kalau aku sudah sembuh," ucap Cherry yang semakin semangat yang ingin menemui sang papa secepatnya.
__ADS_1
Verro terdiam dia pasrah dengan apa yang selanjutnya. Ini memang akan terjadi dan tidak mungkin akan menutupinya lagi. Karena Cherry memang harus tau jika papanya sudah tiada. Jika jantung yang di gunakannya adalah jantung dari papanya yang diberikan padanya agar bisa melanjutkan kehidupannya.
Verro melepas pelukan dari Cherry. Lalu Verro berjongkok di depan Cherry yang masih terduduk. Verro memegang pipi Cherry dan mencium lembut kening Cherry.
" Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Jadi jangan pernah berpikir jika kamu akan sendirian. Kamu tidak akan pernah sendirian. Selagi aku masih hidup. Aku pasti akan menamnimu dan tidak akan meninggalkan kamu," ucap Verro, membuat Cherry benar-benar heran maksud dari Verro apa.
" Hmmm, aku tau. Kamu tidak mungkin meninggalkanku. Lalu ada apa kamu berbicara seperti itu. Seperti ada sesuatu saja," ucap Cherry merasakan hal yang aneh.
" Tidak ada sesuatu. Semuanya benar-benar baik-baik saja. Aku hanya ingin mengatakan kepada istriku. Jika memang benar. Jika aku akan selalu ada di sisinya," ucap Verro tersenyum menahan kesedihannya.
" Hmmm, ya sudah, ayo kita pergi. Aku sudah tidak sabar ingin bertemu papa," ucap Cherry lagi.
" Iya. Mari kita pergi," sahut Verro kembali memeluk Cherry. Dia ingin memberikan kekuatan mental dulu untuk Cherry.
" Kamu pasti kuat Cherry. Aku yakin kamu pasti akan kuat," batin Verro memeluk istrinya dengan erat.
Di sisi lain ternyata di depan pintu ruangan itu Sasy dan Raquel berada di sana dan mendengarkan pembicaraan Verro dan Cherry.
" Jadi Cherry sudah ingat semuanya?" tanya Raquel.
" Iya. Kita seharusnya senang. Tetapi tidak. Karena dia akan terluka sebentar lagi," sahut Sasy.
" Verro akan mengatakan semuanya?" tanya Raquel.
" Iya. Dia benar-benar yakin akan mengatakan semuanya tanpa menutupi apapun. Karena dia merasa tidak ada gunanya menutupi lagi," jawab Sasy.
" Aku berharap Cherry benar-benar bisa menerima kenyataan ini dan Verro benar-benar bisa memberikannya kekuatan. Aku berharap mereka bisa saling menguatkan," ucap Raquel yang penuh harapan.
" Aku juga berharap seperti itu. Kita doakan saja apa yang terbaik untuk mereka. Kita doakan. Semoga semuanya benar-benar baik-baik saja dan Cherry benar-benar bisa ceria. Walau kehilangan Om Laskarta," sahut Sasy yang juga punya harapan yang sama.
" Amin," sahut Raquel.
Bersambung......
__ADS_1