DETAK Love Story' School

DETAK Love Story' School
Episode 122 Sekolah terakhir


__ADS_3

Karena mereka besok kembali ke sekolah jadi Verro dan Cherry sudah kembali pulang. Cherry sedang berdiri di depan cermin dengan pakaian seragam sekolahnya.


" Akhirnya aku bisa sekolah kembali. Aku akan ikut ujian hari ini," gumamnya dengan wajah cerianya menyisir rambutnya dan tidak lupa memberi pita rambut agar dia semakin cantik.


Di tengah keceriaannya. Tiba-tiba saja Cherry merasa sakit di dadanya. Sampai dia memegang dadanya, meremas dengan kuat.


" Ha-ha-ha, ah- ah," deru napas Cherry mulai terasa sesak sampai Cherry menunduk dengan 1 tangannya yang sudah menopang meja. Memegang dadanya yang semakin sakit.


Tidak sanggup akhirnya Cherry terduduk di lantai dengan 1 tangannya berada di atas meja mencari-cari obatnya. Keringat di dahinya membasahi tubuhnya dengan wajahnya yang semakin pucat.


Benda-benda yang berada di atas meja berjatuhan. Dengan tangannya karena mencari obatnya yang tak kunjung di dapatkannya.


" Hah-ah-ah-ah-ah-ah, suara napas itu semakin terdengar kuat.


" Cherry kamu sudah selesai?" tanya Verro yang mendatangi Cherry kekamar.


Saat di depan pintu. Verro harus di kejutkan dengan Cherry buang sudah tergelepar menahan sakit dengan benda-benda yang berserakan di atas meja.


" Cherry," teriak Verro langsung menghampiri Cherry.


" Cherry apa yang terjadi?" tanya Verro dengan kepanikannya yang melihat istrinya sudah sangat pucat dan suara napas yang terdengar sesak.


" O_ o_ obat," ucap Cherry dengan gagap meminta obat. Verro langsung melihat kemeja rias menemukan obat Cherry langsung membukanya dengan tangan yang bergetar.


" Sayang, ayo minum," ucap Verro memberikan kemulut Cherry, Cherry membuka mulutnya dan menelan obat itu. Verro langsung mengambil air putih dan memberikannya pada Cherry. Cherry meneguknya sampai habis dengan napasnya yang masih belum teratur.


Verro meletakkan gelas ke atas meja dan langsung meraih Cherry kedalam pelukannya.


" Maafkan aku, ayo kita kerumah sakit," ucap Verro memeluk erat.


" Aku sudah enakan Verro, kita harus kesekolah, sebentar lagi akan terlambat," ucap Cherry yang kesulitan bicara.


" Tidak Cherry, kita harus kerumah sakit, kamu harus segera ditangani," ucap Verro melepas pelukannya dan ingin menggendong Cherry. Tetapi Cherry menghentikan tangannya.


" Aku masih kuat Verro. Please aku mohon. Aku ingin kesekolah. Aku mohon," Cherry tetap kekeh ingin kesekolah.


" Cherry," lirih Verro sudah dengan matanya memerah.


" Please," Cherry menyatukan ke-2 tangannya memohon pada Verro. Verro akhirnya mengangguk dengan terpaksa. Sangat tidak memungkinkan kondisi Cherry untuk kesekolah.


" Ayo kita kesekolah," ucap Verro membantu Cherry berdiri. Dia harus mengalah untuk permintaan Cherry yang benar-benar kekeh.


*********


Verro dan Cherry sudah berada di dalam mobil duduk di kursi belakang dengan supir pribadi Cherry yang mengantar mereka. Kepala Cherry berada di bahu Verro dengan dengan tangan mereka yang saling menggenggam erat.


Verro bisa merasakan tangan Cherry yang dingin. Seperti sedang menahan rasa sakit.


" Cherry kalau sakit katakan, jangan di tahan," ucap Verro.


" Tidak sakit," jawab Cherry bohong. Padahal sangat sakit. Dia hanya ingin cepat sampai kesekolah.


" Aku ingin seharian bersamamu. Jangan bilang papa. Kejadian tadi. Karena besok aku sudah tidak bertemu denganmu lagi," ucap Cherry.


" Iya," jawab Verro meneteskan air matanya mencium pucuk kepala Cherry.


Supir yang menyetiri mereka melihat dari kaca spion. Merasa ikut sedih dengan kata-kata majikannya yang setiap hari selalu di antaranya.

__ADS_1


**********


Cherry dan Verro sudah tiba di sekolah. Teman-temannya benar-benar menunggunya di depan parkiran. Saat mobil itu berhenti. Verro langsung keluar dan membantu Cherry dengan tangan mereka yang tetap menggenggam.


" Cherry!" panggil Sasy langsung menghampiri.


" Are you oke?" tanya Sasy dengan matanya bergenang melihat Cherry yang benar-benar pucat.


" Hmmm, aku baik-baik saja, sangat baik," sahut Cherry yang terus berbohong.


" Kamu benar tidak apa-apa?" tanya Nadya.


" Iya aku tidak apa-apa, ayo masuk," ajak Cherry. Cherry melepas genggaman tangannya dari Verro dengan tersenyum dan pergi bersama, Nadya dan Sasy dan Toby.


Sementara Varell dan Vandy langsung menghampiri Verro, menepuk pundak Verro.


" Aku sudah membujuknya. Tapi dia tetap ingin sekolah," ucap Verro.


" Kita tau, lo selalu berusaha untuk Cherry," sahut Vandy.


" Lo harus kuat," sahut Varell yang hanya bisa memberi semangat untuk sahabatnya.


Cherry, Sasy, Nadya, dan Toby berjalan melewati koridor- koridor sekolah. Dan mereka berpapasan dengan Raquel dan Aldo.


" Cherry, kamu sekolah?" tanya Raquel.


" Iya," jawab Cherry.


" Tapi kamu benar baik-baik saja?" tanya Aldo. Walau tidak bertanya. Pasti tau kalau Cherry sedang tidak baik-baik saja.


" Iya aku baik-baik saja," jawab Cherry tetap kuat.


Tiba-tiba Cherry melihat Fiona yang berjalan melewati mereka. Fiona melihat sebentar lalu pergi.


" Fiona?" panggil Cherry dengan suara lembutnya. Fiona menghentikan langkahnya dan Cherry ingin menghampirinya. Namun di cegah langsung Sasy.


" Tidak apa-apa hanya sebentar," ucap Cherry tersenyum melepas lembut tangan sahabatnya. Dan Cherry melangkah mendekati Fiona. Fiona membalikkan tubuhnya.


" Ada apa?" tanya Fiona datar.


" Aku minta maaf," ucap Cherry.


Nadya, Sasy, Raquel, Aldo, dan Toby saling melihat bisa-bisanya Cherry meminta maaf kepada Fiona.


" Cherry kau tidak salah apa-apa, kau tidak perlu meminta maaf kepadanya," sahut Sasy.


" Maafkan aku. Jika aku membuatmu kesal. Aku tidak bermaksud apapun. Aku benar-benar minta maaf," ucap Cherry lagi. Fiona terdiam tanpa bisa menjawab apa-apa.


" Aku berharap kau bisa memaafkanku dan tidak mengingatku sebagai musuh mu. Jangan anggap aku musuh mu. Kenang lah aku sebagai teman 1 kelas mu. Bukan sebagai musuhmu," ucap Cherry dengan suaranya yang serak.


" Cherry, cukup," Toby mendekati Cherry.


" Kamu tidak perlu seperti ini. Ayo pergi," ajak Toby yang tidak ingin temannya mengemis maaf.


" Semoga kau memaafkanku," ucap Cherry lagi yang langsung pergi di bawa Toby.


" Kau merasa bangga dia meminta maaf kepadamu. Seharusnya kau malu Fiona. Kau adalah orang yang paling jahat. Kau satu-satunya wanita yang kejam," ketus Sasy.

__ADS_1


" Sasy sudah ayo pergi!" ajak Nadya yang tidak ingin Sasy ribut dengan Fiona. Nadya pun menarik paksa temannya.


" Kau memang penuh misteri," ucap Raquel.


" Sudah ayo Raquel," ajak Aldo yang juga tidak ingin Raquel memperburuk suasana.


*******


Akhirnya kelas ujian sudah tiba. Aldo sudah mulai membagikan soal-soal ke meja teman-temannya. Sementara Cherry terus melap keringatnya dengan tisu. Sakit di dadanya semakin parah.


" Kamu benar tidak apa-apa?" tanya Sasy yang membalikkan tubuhnya melihat Cherry yang semakin parah. Cherry hanya menggeleng tanpa bisa bicara lagi.


Sementara Verro di belakang sana sudah semakin panik. Pandangan matanya tidak lepas dari Cherry.


" Baik anak-anak kita mulai ujiannya, kalian kerjakan dengan benar," ucap Pengawas memberi arahan.


Semua murid-murid mulai mengerjakan ujiannya begitu juga dengan Cherry yang mulai mengerjakan dengan sisa kekuatan yang dia miliki.


Dia terus menahan sakitnya agar soal-soal itu bisa selesai dengan cepat. Cherry yang terus menahan sakit. Sementara teman-temannya tidak fokus ujian. Beberapa kali mata mereka menoleh ke arah Cherry.


Begitu juga dengan Sasy yang terus berbalik badan seakan ingin mengecek keadaan temannya. Verro juga di belakang sana terus panik.


Bahkan beberapa kali dia berdiri. Karena melihat Cherry yang hampir jatuh.


" Aku mohon berikan dia kekuatan untuk keinginannya," batin Verro yang sudah meneteskan air matanya. Saat jelas melihat Cherry memegang dadanya sambil mengerjakan ujiannya.


" Kasihan dia, seharusnya kondisinya yang seperti itu harus mendapat perawatan," batin Raquel yang menoleh ke arah Cherry.


" Kenapa waktunya lama sekali berputar," batin Sasy yang cemas. Dia tidak tahan melihat temannya yang sekarat.


" Cherry kamu harus kuat, aku tau semangatmu sangat besar," batin Nadya yang meneteskan air mata melihat tubuh Cherry yang bergetar.


" Kenapa harus Cherry ya Tuhan, kasihan dia, dia orang baik," ucap Toby di dalam hatinya yang bercucuran air mata.


Fiona juga melihat ke arah bangku Cherry dan melihat wanita yang tadi meminta maaf kepadanya. Sedang sekarat. Memaksakan sesuatu dan mengorbankan kesehatannya. Ujian memang kurang fokus.


Selina dan Mitha saling melihat ketika melihat Cherry yang benar-benar sakit parah. Selama ini mereka tidak memiliki masalah apapun dengan Cherry. Jadi pasti ada rasa kasihan di hati mereka paling dalam.


Bukan hanya teman-teman dekat Cherry yang tidak fokus. Teman 1 kelas itu pun tidak fokus dengan pandangan mereka kepada Cherry yang mereka tau Cherry sedang tidak baik-baik saja.


Pengawas juga sangat gelisah. Dia ingin waktu di percepat agar Cherry bisa langsung di bawa kerumah sakit.


" Anak itu memang memiliki semangat tinggi," batin pengawas yang merasa ikut harum


Tetapi Cherry sama sekali tidak mengeluhkan bahkan tetap dengan pertahannya yang ingin menyelesaikan ujian. Walau sakit yang di alami ya semakin sakit. Bahkan air matanya terus menetes menajamkan rasa sakit itu.


Ting-ting-Ting.


Akhirnya bel berbunyi. Cherry menghela napasnya panjang Setelah berhasil menyelesaikan ujiannya.


" Silahkan Aldo kumpul ujian teman-temanmu! perintah pengawas. Aldo mengangguk.


Verro langsung berdiri berlari kebangku Cherry Verro berjongkok di samping Cherry dan langsung memeluk Cherry. Cherry juga memeluknya erat dengan dengan rasa sakit di tubuhnya mendapat pelukan dari Verro membuat rasa sakit itu seakan berkurang.


Napas Cherry masih berseru kencang. Sampai dia tidak bisa berucap apapun. Dia mencoba bicara. Tetapi sangat sulit. Verro juga tidak sanggup bicara dan hanya memeluk erat. Seakan pelukan terakhir kalinya.


Ternyata teman-temannya sudah berkeliling mengelilingi Verro dan Cherry yang berpelukan. Melihat pemandangan itu. Air mata mereka menetes dan mewek satu sama lain.

__ADS_1


Sasy mengusap pundak Cherry. Dia tidak tau apakah masih bisa bicara dengan Cherry setelah ini. Rasa haru menyelimuti ruangan kelas dengan keadaan Cherry yang semakin parah. Tetapi Cherry terus menahannya demi mewujudkan keinginannya yang ingin menyelesaikan ujiannya


Bersambung....


__ADS_2