
Cherry berada di kamarnya yang menurunkan ponsel dari telinganya yang habis menerima telpon dari Raquel.
" Syukurlah jika akhirnya Aldo sudah di temukan. Ini pasti berat untuk Aldo. Tetapi semoga dengan adanya Raquel di sampingnya Aldo bisa tenang," ucap Cherry dengan berharap penuh.
" Cherry!" tegur Verro tiba-tiba membuat Cherry tersentak kaget. Melihat Verro berdiri di depan pintu dan mungkin tidak berani masuk. Karena dia dan Cherry memang masih perang dingin.
" Ada apa?" tanya Cherry tampak ketus.
" Kamu habis telponan sama siapa?" tanya Verro.
" Cowok lain," jawab Cherry asal yang langsung beralih menuju lemari mencari kesibukan.
" Cowok lain bagaimana?" tanya Verro lembut.
" Ya cowok lain lah, memang kenapa? kamu juga sering telponan sama wanita lain. Jadi kenapa," jawab Cherry dengan wajahnya yang jutek. Verro membuang napasnya perlahan dan melangkah masuk.
" Jangan masuk!" gertak Cherry membuat kaki Verro tidak jadi menginjak lantai dan kembali mundur.
" Aku tidak mengijinkan masuk, kekamar. Aku mau tidur sendiri," ucap Cherry. Dan Verro kembali menarik napasnya dalam dan membuangnya perlahan.
" Aku akan tidur di mana?" tanya Verro.
" Mana aku tau," sahut Cherry yang masa bodo.
" Ya sudah, aku akan tidur di sofa. Kalau kamu tidak ingin tidur denganku. Tapi aku ingin bertemu dengan anakku. Aku merindukannya," ucap Verro.
" Ya sudah aku yang kesana. Kamu jangan masuk," ucap Cherry. Verro pasrah dan menganggukkan matanya. Dan Cherry pun melangkah mendekati Verro dan berdiri di depan Verro tetapi wajahnya tidak mau melihat Verro.
Verro berlutut didepan Cherry. Lalu mengusap-usap perut Cherry.
" Maafkan papa ya. Papa tidak bisa memeluk kamu. Maafkan papa tidak bisa menemani kamu tidur. Kamu jangan bandal ya di dalam sana," ucap Verro yang mengajak anaknya bicara. Namun Cherry terlihat cuek dan bahkan tidak mau melihat Verro.
" Sekarang aja minta maaf, kemarin aja enak-enak bentak-bentak," batin Cherry yang masih kesal dan tidak terima dengan perlakuan Verro kemarin kepadanya dan mungkin tidak mudah untuk di maafkan Cherry.
" Kamu tidur ya sayang," ucap Verro mencium perut yang mulai terlihat berbeda itu. Verro mengangkat kepalanya dan melihat Cherry yang sama sekali tidak melihatnya. Verro hanya menarik napas dalam-dalam dan membuangnya perlahan lagi. Lalu berdiri menghadap sang istri.
Verro memegang pundak Cherry. Namun Cherry langsung menepis tangan itu. Tidak ingin di sentuh sama sekali.
__ADS_1
" Aku minta maaf dengan kejadian tadi malam. Aku tidak bermaksud memarahimu dan juga menuduhmu yang tidak-tidak. Aku minta maaf," ucap Verro dengan lembut.
" Kau berubah," sahut Cherry melihat wajah Verro.
" Aku tidak berubah Cherry. Aku Verro yang sama," sahut Verro. Cherry menggeleng-gelengkan.
" Tidak, kau bukan Verro yang sama. Kau Verro yang berbeda. Ketika seorang pria sudah mulai membagi hati dengan wanita lain dia akan berubah dengan tingkah dan cara bicara hal yang sama terjadi pada Aldo sebelumnya," ucap Cherry.
" Cherry, aku tidak sama dengan Aldo. Aku tidak pernah membagi hati. Aku hanya profesional Cherry untuk pekerjaanku," ucap Verro yang berusaha menjelaskan.
" Tidak. Bagiku itu sama saja. Karena aku juga merasakan perubahan dirimu. Jika kamu berubah seperti ini. Aku jadi kepikiran untuk menjadi Clara saja yang tidak pernah mengingatmu yang lupa dengan dirimu bahkan aku sangat menyesal kembali menjadi Cherry. Karena jika Cherry mati. Dia tidak akan pernah merasakan hal sesakit ini," ucap Cherry menekankan.
" Cherry apa yang kamu katakan. Kenapa kamu mengatakan seperti itu. Tidak Cherry. Kamu adalah Cherry. Bukan Clara," sahut Verro yang terlihat panik. Jelas banyak ketakutan di dalam dirinya saat Cherry akan pergi.
" Tapi aku sakit Verro, apa yang kamu lakukan kemarin membuat sangat sakit dan aku rasanya ingin melupakan. Jika aku pernah mencintaimu," ucap Cherry dengan matanya bergenang.
" Cherry!" lirih Verro memegang tangan Cherry dan Cherry langsung melepasnya.
" Aku mau tidur," sahut Cherry.
" Kita belum selesai bicara," sahut Verro.
" Semua ada di tangan mu. Kau yang menentukannya," ucap Cherry dan langsung menutup pintu kamar.
" Cherry," panggil Verro.
Namun Cherry di dalam kamar yang bersandar pada pintu. Membuang napasnya perlahan. Dengan air matanya menetes.
" Aku mengatakan ini. Karena aku siap kehilangan mu. Aku hanya memberi 1 kesempatan. Jika kamu tidak menggunakannya. Maka aku yang akan mundur," batin Cherry yang sudah menyiapkan mental untuk kehilangan pria yang di cintainya.
Dia tau itu tidak akan mudah. Tetapi dia tidak punya pilihan apapun. Dia hanya ingin Verro bisa tegas dan mengambil keputusan yang bijak.
************
Lain Verro dan Cherry yang masih rumit dalam rumah tangga mereka. Di sisi lain Raquel sedang menyuapi Aldo makan. Aldo pasti tidak makan seharian dan dia menyuapi Aldo dengan lembut. Di mana Aldo yang bersandar di kepala ranjang.
" Raquel!" tegur Aldo. Raquel melihat ke arah Aldo.
__ADS_1
" Ada apa?" tanya Raquel.
" Kenapa menolongku?" tanya Aldo.
" Aku tidak harus menjawab pertanyaan itu. Bukan hanya aku yang akan menolongmu. Tetapi yang lain juga," jawab Raquel.
" Bukannya seharunya kalian membenciku. Kalian, Kalian jelas tau apa yang terjadi kepadaku," ucap Aldo.
" Tidak ada yang membencimu dan mungkin aku iya. Tapi bukan berarti semua orang harus meninggalkan mu. Terlepas apa kesalahan yang kamu lakukan," ucap Raquel.
" Aldo, kamu tidak seperti ini. Apa yang kamu lakukan. Hanya memperbesar masalah. Kamu harus menghadapinya apapun itu," ucap Aldo.
" Tapi aku sudah hancur Raquel. Semuanya sudah sia-sia," sahut Aldo yang terlihat putus asa.
" Dan kamu tidak seharusnya menolongku," sahut Aldo.
" Kenapa aku tidak harus menolongmu?" tanya Raquel.
" Aku sudah menyakitimu dan ini adalah karma dari perbuatan ku kepadaku," ucap Aldo dengan penuh penyesalan.
" Aku ingin bertanya 1 hal padamu," ucap Raquel.
" Apa?" tanya Aldo.
" Jawablah jujur apa kamu adalah Pria yang di Vidio itu?" tanya Raquel. Walau jelas itu wajah Aldo. Tetapi Raquel masih membutuhkan jawaban Aldo. Aldo menatapnya lama.
" Kamu kenapa diam, apa itu memang kamu?" tanya Raquel.
" Raquel, kamu bertanya kepadaku. Padahal jelas di vidio itu adalah aku. Tetapi kenapa kamu bertanya lagi," sahut Aldo.
" Aku ingin mengenalmu Aldo. Dan aku harus mendengar pernyataan mu juga tidak ingin menyimpulkan dengan Vidio itu," tegas ucap Raquel.
" Apa kamu sama Tari pernah tidur bersama?" tanya Raquel lagi. Walau hatinya sakit mendengarnya.
" Aku tidak pernah melakukannya. Aku sadar dan semua sudah seperti itu. Tetapi aku merasa tidak pernah melakukannya," jawab Aldo dengan keyakinan.
" Tetapi rekaman video itu adalah aku apa yang aku rasakan tidak berpengaruh dengan rekaman itu. Karena video itu bukti yang jelas," ucap Aldo yang bicara menatap Raquel dalam-dalam.
__ADS_1
" Tapi Aldo. Aku lebih percaya kata-kata mu. Di bandingkan rekaman itu," sahut Raquel membuat air mata Aldo menetes mendengarnya.
Bersambung