
Cherry dan Verro juga menghabiskan waktu berduan. Cherry yang memakai mantel berbahan baldu berwarna coklat memanjang kebawah yang sama dengan Verro.
Mereka couple menikmati liburan di musim dingin itu dengan tangan mereka yang saling menggenggam erat. Wajah yang penuh dengan kebahagian. Ini juga bisa di katakan liburan pertama mereka. Jadi wajar jika mereka sangat bahagia melebihi pengantin baru Vandy dan Azizi.
" Sayang, aku mau makan," ucap Cherry degan suara manjanya.
" Baiklah, kamu mau makan apa?" tanya Verro menghadap sang istri. Cherry melihat-lihat di sekitarnya. Kira-kira makanan apa yang ingin di nikmatinya. Banyak penjual makan dan membuatnya bingung harus memakan apa.
" Kamu tanya anak kita deh, kayaknya dia yang ingin makan," sahut Cherry. Verro mendengus tersenyum. Lalu mencubit gemes pipi Cherry.
" Sakit tau," keluh Nayra menepis tangan suaminya.
" Maaf, kamu sih, sangat menggemaskan," sahut Verro geram melihat wajah cemberut Cherry.
" Tapi nggak usah pakai, cubit- cubit juga," sahut Cherry cemberut. Verro tersenyum. Lalu mencium pipi Cherry.
" Apa masih sakit?" tanya Verro. Cherry langsung tersenyum dan menggeleng cepat. Lalu Verro langsung berjongkok di depan Cherry dan langsung mengusap perut istrinya.
" Sayang, kamu mau makan apa?" tanya Verro mengusap-usap lembut perut Cherry.
" Apa!" sahut Verro meletakkan telinganya di perut Cherry.
" Hmmm, baiklah sayang, papa akan membelikannya," sahut Verro berbicara sendiri dan menjawab sendiri. Cherry hanya tersenyum melihat kerandoman suaminya dan Verro kembali berdiri di depan istrinya.
" Ayo!" ajak Verro.
" Anak kita mau makan apa?" tanya Cherry.
" Anak kita bilang. Kamu tidak boleh di kasih tau," sahut Verro tersenyum. Cherry langsung mengkerutkan dahinya mendengarnya.
" Ishhhh, mana bisa seperti itu," sahut Cherry kesal.
" Tetapi itu yang dikatakannya. Sudah ayok, kita cari makan yang di inginkan anak kita," sahut Verro yang mengajak istrinya pergi dengan terus menggenggam tangan istrinya.
__ADS_1
Cherry dan Verro pun langsung mencari makanan yang ingin di makan mereka. Mereka duduk di salah satu bangku yang ada di sana dan menikmati banyak jenis makanan yang di belikan Verro dan Cherry dengan lahap menikmatinya. Sementara Verro suaminya hanya melihatnya yang makan dengan lahap.
" Aaakkk," ucap Cherry yang langsung menyuapi suaminya. Verro mengangguk dan menerima suapan itu.
" Enak?" tanya Cherry. Verro mengangguk. Verro mengusap ujung bibir Cherry yang terdapat noda.
" Kamu makan sangat belepotan," ucap Verro. Cherry hanya tersenyum dan seperti tidak peduli dan tetap melanjutkan makannya.
" Cherry, Verro," terdengar suara sapaan di tengah-tengah keromantisan mereka dan mereka sama-sama melihat orang tersebut yang ternyata adalah Fiona.
" Fiona," sahut Cherry menghentikan makannya dan sedikit kaget dengan kehadiran Fiona yang tiba-tiba. Verro dan Cherry saling melihat.
" Maaf menggangu kalian. Aku sedang menikmati suasana di tempat ini dan tidak sengaja melihat kalian. Aku tidak bermaksud untuk mengganggu kalian. Aku hanya menyapa saja," sahut Fiona menjelaskan dengan lembut agar Cherry tidak salah paham.
" Oh, tidak kok, siapa yang merasa di ganggu. Orang kita ber-2 biasa aja kok, jadi tidak ada yang terganggu," sahut Cherry langsung berdiri dan menghentikan makannya dan Verro hanya terlihat datar yang juga terlihat memang tidak peduli dengan Fiona.
" Kamu sendiri di sini?" tanya Cherry ramah.
" Iya jawab Fiona.
" Hmmm, bagaimana keadaan kamu?" tanya Cherry basa-basi.
" Hmm, aku baik-baik saja," jawab Fiona.
" Oh, syukurlah kalau begitu. Aku berdoa semoga kamu cepat sembuh," sahut Cherry dengan tersenyum memberikan doanya pada Fiona.
" Terima kasih Cherry," ujar Fiona. Fiona meraih tangan Cherry.
" Cherry maaf kan aku ya. Aku dulu pernah jahat sama kamu. Sekarang aku baru mendapatkan karma dari perbuatan ku. Maafkan aku ya Cherry," sahut Fiona yang meminta maaf dengan tulus. Cherry tersenyum mendengarnya.
" Fiona tidak ada yang perlu di maafkan. Semuanya masa lalu. Apa yang terjadi dulu. Kita lupakan saja dan sekarang semuanya sudah banyak yang berubah. Jadi aku dan kamu tidak perlu saling meminta maaf. Karena pada dasarnya. Kita tidak tidak ada masalah. Dulu kita masih SMA dan pemikiran kita masih kanak-kanak. Sekarang kita sudah dewasa dan masalah kita. Kita simpan saja," sahut Cherry dengan bijak berbicara pada Fiona.
Fiona menundukkan kepalanya dengan matanya yang berkaca-kaca. Bahkan air matanya menetes. Cherry memegang pundaknya dan mensejajarkan wajah wanita itu padanya di mana Cherry melihat Fiona yang sedang menangis.
__ADS_1
" Kamu kenapa menangis. Apa perkataanku ada yang salah?" tanya Cherry.
" Cherry, kamu wanita yang sangat baik. Aku sangat menyesal pernah jahat kepadamu. Aku gelap mata karena menyukai Verro. Aku tidak tau diri dan sampai tega berbicara yang tidak-tidak pada mu. Aku sangat jahat Cherry," ucap Fiona mengakui kesalahannya dengan menangis. Cherry mengusap-usap pundaknya.
" Kamu tidak jahat Fiona. Seperti yang aku katakan tadi. Tidak ada manusia yang bersalah. Semua manusia pernah melakukan kesalahan. Jadi jangan mengatakan kamu yang jahat. Karena bagiku kamu tidak jahat sama sekali," sahut Cherry dengan tersenyum.
" Aku menyesal Cherry, aku menyesal seperti itu kepadamu. Dan sekarang aku merasakan apa yang kamu rasakan dulu. Kata-kata ku telah membetikan karma kepadaku," sahut Fiona.
" Itu bukan karma Fiona. Tetapi itu adalah pembelajaran. Jangan menyalahkan diri mu sendiri. Karena itu tidak ada gunanya. Kamu jangan menangis lagi. Kita sama-sama berdoa untuk kesembuhan kamu," ucap Cherry. Mengusap air mata itu. Fiona mengangguk pelan.
" Terima kasih Cherry, kamu benar-benar wanita yang sangat baik," sahut Fiona. Cherry hanya mengangguk-angguk.
" Hmmm, ya sudah kalau begitu aku pergi dulu. Aku minta doa kamu ya untuk kesembuhanku," sahut Fiona.
" Pasti, aku akan mendoakan kamu terus," jawab Cherry.
" Terima kasih untuk ketulusan kamu. Aku pergi dulu. Verro aku permisi dulu," ucap Fiona yang pamit dengan Cherry.
" Hmmm, iya silahkan," sahut Verro mengangguk-angguk saja. Dan Fiona mengusap air matanya dan langsung pergi dari hadapan Verro dan Cherry. Setelah kepergian Fiona Verro langsung berdiri dan memeluk istrinya dengan erat.
" Kamu melupakan keslaaha nya di masa lalu. Sekarang katakan kepadaku. Apa kamu melupakan kesalahan ku juga," sahut Verro memeluk erat membuat Cherry heran dengan mengangkat kepalanya melihat suaminya.
" Kesalahan! kesalahan apa?" tanya Cherry.
" Bukannya dulu. Aku suka memarah- marahi mu. Aku dulu suka membuatmu menangis dan pasti kamu sangat kesal dulu kepadaku. Katakan apa kamu melupakannya?" tanya Verro. Wajah Cherry tampak seperti orang berpikir.
" Tidak aku tidak mudah untuk melupakan kesalahan mu," sahut Cherry dengan mudahnya dan membuat Verro menaikkan 1 alisnya.
" Apa katamu," sahut Verro.
" Aku tidak mudah untuk melupakan itu," sahutnya lagi memperjelas.
" Kamu benar-benar ya. Kamu sangat jahat," geram Verro yang memeluknya lebih erat. Cherry di pelukan itu hanya tersenyum.
__ADS_1
" Anak kita akan bangga. Karena memiliki ibu seperti kamu," ucap Verro. Cherry hanya mengangguk tersenyum mendengar perkataan itu dari suaminya.
Bersambung