
Verro masih diam. Seakan benar-benar tidak berani menjawab pertanyaan Cherry. Tetapi Cherry sudah menunggu jawaban itu. Di mana papa kesayangannya.
" Verro!" tegur Cherry dengan lembut.
Verro tersentak kaget dengan wajahnya yang panik dan Verro langsung memeluk erat Cherry, menenggelamkan kepala Cherry di ceruk lehernya dengan mencium pucuk kepala Cherry dengan lembut.
" Kamu tidurlah, ini sudah malam," ucap Verro yang menjawab pertanyaan itu dengan suara tertahan.
" Tapi kamu belum menjawab pertanyaanku," ucap Cherry yang masih sangat penasaran keberadaan papanya.
" Aku juga penasaran, kenapa aku bisa bersama mama Karina dan juga Bayu. Aku operasi jantung dan sembuh dari kanker itu. Lalu kenapa semuanya berubah dan aku juga tidak melihat papa," ucap Cherry yang benar-benar sudah menyadari semuanya dan mungkin ingatannya benar-benar kembali 90%.
Verro mendengarnya semakin kaget. Bahkan tidak tau mau menjawab apa. Matanya sudah berkaca-kaca. Yang pasti. Jika Cherry mengetahui kebenarannya. Istrinya itu akan terluka dan dia tidak dapat membayangkan kehancuran hati istrinya.
" Verro, aku juga bertanya sebelumnya pada Sasy. Aku juga menanyakan siapa yang ada di makamku. Tapi dia juga tidak menjawab dan aku rasa kamu pasti tau," ucap Cherry kembali mengangkat wajahnya dan melihat Verro.
Verro juga melihatnya dan sangat jelas. Cherry seperti penasaran dan benar-benar ingin tau dan sangat penasaran.
" Apa ada yang salah?" tanya Cherry.
" Hmmm... Kamu benar, ada yang salah. Waktunya yang salah. Aku sedang mengantuk. Besok pagi aku ada operasi dan aku harus tidur cepat. Kamu juga harus banyak istirahat dan pertanyaan itu aku akan jawab saat waktunya tepat," ucap Verro dengan tersenyum bersama untuk membuat Cherry benar-benar melupakan pertanyaan itu.
" Kita tidur ya," ucap Verro membujuk dengan lembut. Sampai akhirnya Cherry mengangguk. Verro tersenyum dan semakin mempererat pelukannya.
" Selamat malam," ucap Verro lembut.
" Selamat malam," sahut Cherry tersenyumlah manis. Verro semakin memeluknya erat dan Cherry yang pasti masih penasaran akhirnya memejamkan matanya perlahan.
Rasa penasarannya pasti semakin tinggi. Ketika Verro tidak menjawab dan terkesan menghindar. Perasaannya juga tidak enak seperti merasa ada sesuatu yang di sembunyikan suaminya.
__ADS_1
Sementara Verro pasti tidak bisa tidur dengan pertanyaan Cherry yang belum di jawabnya sama sekali dan pasti tidak tau apa yang harus di jawabnya. Pertanyaan itu juga pasti akan di tanyakan lagi.
" Maafkan aku Cherry. Kamu belum waktunya untuk mengetahui kebenaran ini. Kamu pasti belum siap. Jadi maafkan aku Cherry," batin Verro merasa bersalah pada Cherry.
Menutupi kebenaran adalah suatu hal yang salah dan pasti akan terbongkar juga. Tetapi Verro merasa istrinya belum siap untuk hal itu dan mungkin dia akan mencari waktu yang tepat untuk menjelaskan semuanya kepada Cherry.
*************
Pagi hari kembali tiba. Azizi dan Vandy Kerumah sakit untuk mengambil hasil tes tulang sumsum Vandy. Mobil Vandy sudah berhenti di depan rumah sakit, tempat mereka periksa.
Sementara Azizi memang sudah datang terlebih dahulu dan sedang menunggu Vandy. Dia memang tidak mau 1 mobil dengan Vandy dan memilih untuk jalan masing-masing.
Vandy keluar dari mobilnya. Setelah memarkirkan tepat di samping mobil Azizi. Vandy melihat Azizi sudah menunggu dan langsung menghampiri Azizi.
" Maaf ,aku telat," ucap Vandy yang merasa bersalah.
" Tidak apa-apa, aku juga baru sampai," jawab Azizi.
Setelah bertanya pada suster. Akhirnya Vandy dan Azizi menemui Dokter yang menangani Vandy. Dokter juga sudah menyuruh mereka masuk dan mempersilahkan untuk duduk dan Dokter juga sudah duduk.
" Ini, pak Vandy, hasil tesnya," ucap Dokter Pria tersebut mengeluarkan amplop putih dari dalam lacinya dan memberikan pada Vandy.
Vandy mengambil amplop itu, sebelum membukakanya, Vandy melihat ke arah Azizi. Yang pasti Azizi sangat grogi dan juga penasaran dengan hasil tes dari Vandy.
Dengan perlahan dan pasti gemetaran. Vandy pun membuka hasil tes itu. Wajah Vandy terlihat menegangkan dan bahkan seperti ada sesuatu yang salah.
" Ada apa Vandy?" tanya Azizi merasa ada yang tidak beres dengan hasil pemeriksaan tersebut.
" Apa maksudnya ini Dok?" tanya Vandy pada Dokter.
__ADS_1
" Seperti yang bapak lihat hasilnya sudah cocok. Tetapi ada sesuatu di tulang sumsum Pak Vandy. Dan itu pasti tidak bisa di donorkan untuk anak ibu dan bapak. Karena takutnya hanya akan sia-sia saja," jelas Dokter. Azizi dan Vandy yang mendengarnya kaget.
Harapan Azizi semakin tidak ada. Berharap dari Vandy. Namun terpatahkan kembali.
" Tapi apa tidak bisa di paksakan Dok?" tanya Vandy dengan desakan. Sementara Azizi benar-benar sudah pasrah dan bahkan air matanya sudah keluar. Vandy tau Azizi pasti kecewa dengan hasil tes itu. Tetapi dia juga tidak menduga akan seperti itu.
" Seperti yang saya katakan tadi. Semuanya hanya akan sia-sia. Jadi tidak ada gunanya. Bapak juga bisa tanya pada Dokter specialis dan pasti akan menjawab seperti itu," jelas Dokter.
" Astaga, kenapa ada saja masalah," ucap Vandy dengan mengusap wajahnya kasar dengan ke-2 tangannya. Dia benar-benar frustasi saat mendapat kesempatan untuk menebus kesalahannya kepada anaknya. Malah sekarang semuanya benar-benar berakhir.
Belum lagi Vandy yang melihat Azizi yang sudah mewek membuat Vandy benar-benar merasa bersalah pada Azizi.
" Aku hanya ingin Iqbal kembali sembuh. Tetapi kenapa sangat sulit. Kenapa sesulit itu," batin Vandy yang seakan tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
" Tapi jelas masih ada cara lain," sahut Dokter tiba-tiba yang memberikan secercah harapan yang membuat Azizi dan Vandy langsung terlihat semangat.
" Apa Dok?" tanya Azizi yang dengan wajah semangatnya.
" Kalian adalah suami istri. Jelas itu tidak sulit. Bu Azizi bisa mengandung lagi, karena untuk hal semacam ini. Banyak pasangan yang melakukan cara ini untuk anak mereka yang membutuhkan tulang sumsum belakang," jelas Dokter.
" Maksud Dokter?" tanya Vandy tidak mengerti dengan apa yang di katakan Dokter.
" Jika Bu Azizi hamil kembali dan kalian mempunyai anak lagi. Jelas sangat bisa membantu anak pertama kalian," jelas Dokter. Azizi dan Vandy saling melihat.
Jelas apa yang di pikirkan Dokter tidak seperti kenyataannya. Yang mungkin Dokter berpikiran. Mereka adalah pasangan suami istri. Tetapi semuanya benar-benar lari dari kenyataan.
Azizi dan Vandy terdiam mendengar saran Dokter tersebut. Meraka tidak berani berpendapat apapun.
" Semuanya jelas ada di tangan kalian berdua. Saya hanya memberikan saran saja. Karena apapun itu. Semua pasti untuk kesembuhan putra kalian," ucap Dokter lagi yang memberikan masukan.
__ADS_1
" Iya Dok," sahut Vandy dengan suara beratnya.
Bersambung....