
Azizi dan Vandy beristirahat sebentar karena merasa lelah. Mereka sudah mendapatkan bendera. Mereka hanya tinggal kembali ke lokasi tenda untuk menyerahkan bendera itu.
Azizi dan Vandy duduk di bawah pohon besar. Mereka duduk berdekatan sampai bahu mereka saling menempel.
" Kau lelah?" tanya Vandy melihat Ke arah Azizi.
Azizi mengangguk meluruskan kakinya kedepan sambil memijat kakinya yang masih di balut celana jeans.
Kakinya memang sangat pegal. Karena terlalu banyak berjalan. Dia bahkan sudah tidak tau berapa jam mereka berjalan.
" Lumayan lah, betis ku sampai sakit sepertinya tidak lumayan. Tetapi memang benar-benar lelah," jawab Azizi jujur dengan keadaannya.
" Andai saja kita tidak kesasar. Pasti tidak akan berjalan sampai sejauh itu, dan kakiku tidak akan tersiksa seperti ini," sahut Azizi menyesalkan hal itu.
Mereka memang awalnya kesasar saat mencari bendera. Karena keasikan mengobrol mereka tidak melihat tanda panah yang seharusnya kekanan. Tetapi mereka malah berjalan lurus.
Akhirnya mereka tersadar setelah memasuki hutan lebih 1 jam. Mereka harus mundur kebelakang lagi dan mengikuti alur perjalanan. Dan syukur mereka bisa menemukan jalan yang normal dan bisa mendapatkan bendera.
Mereka juga sudah pasrah menjadi orang yang terakhir membawa bendera. Tetapi tidak apa-apa dari pada pulang dengan tangan kosong. Karena nila yang tinggi hanya untuk untuk 5 tercepat saja.
" Maaf ya Vandy, itu salahku. Gara-gara aku kamu juga kesulitan," sahut Azizi merasa bersalah dengan insiden kesasarnya mereka.
" Kenapa harus minta maaf, aku yang memandu jalan. Jadi kalau pun salah aku yang salah," sahut Vandy menoleh ke arah Azizi.
" Tapi aku terlalu banyak bicara. Jadi kita tidak fokus berjalan dan kita pasti menjadi yang terakhir dan kamu tidak mendapat nilai sempurna. Karena aku," sahut Azizi wajah itu terlihat penuh penyesalan.
" Sudahlah! Azizi jangan dibahas lagi masalah siapa yang salah dan masalah nilai. Yang penting kita mendapatkan. Itu juga sudah hal yang paling bagus dari pada tidak mendapatkannya pulang tanpa membawa apa-apa. Itu yang tidak ada gunanya,"
" Tim itu kerja sama. Kalau ada kesalahan di tanggung bersama. Jadi jangan merasa bersalah itu tidak adil untukku," jelas Vandy dengan bijaksana yang tidak ingin membuat Azizi merasa bersalah.
Mendengar kata-kata lembut itu wajah Azizi terus tersenyum dengan matanya yang tidak mengedip melihat pria tampan yang belakangan ini dekat dengannya. Pria yang tidak banyak tingkah dan tidak pemilih dalam teman.
" Kamu baik," kalimat itu terucap dari mulut Azizi 2 kata yang menggambar kan hati Vandy yang memang sangat baik.
" Aku," tunjuk Vandy mengarahkan jarinya ke dadanya heran dengan perkataan Azizi.
" Hmmm, Kamu sangat baik," ucap Azizi menganggukkan kepalanya. Vandy mendengus mendengarnya sambil tersenyum
" Kau seperti tidak pernah bertemu orang baik, sehingga orang yang tidak melakukan apapun kau anggap baik," sahut Vandy heran dengan Azizi.
Azizi hanya melihat bibir yang berbicara itu. Mata Vandy mengarah kembali ke arah Azizi sehingga mata mereka bertemu. Azizi mengalihkan pandangannya lurus kedepan.
" Kau benar, aku tidak pernah bertemu dengan orang baik," jawab Azizi membenarkan Vandy.
Vandy menedengarnya menaikkan alisnya. Merasa tidak mungkin dengan apa yang di katakan Azizi.
" Benarkah, masa iya," sahut Vandy yang memang tidak percaya.
" Semua orang yang ku temui selalu memandangku remeh. Bahkan dari wajah mereka sangat terlihat tidak menyukaiku. Aku memiliki beberapa teman. Tetapi mereka mendekatiku hanya karena ingin sesuatu dan akan meninggalkanku saat sudah tidak membutuhkanku. Makanya aku tidak ingin berteman dengan orang yang banyak," jelas Azizi seakan mengeluarkan curahan hatinya pada Vandy.
" Jadi bisa di katakan, kamu adalah orang baik," lanjut Azizi menatap Vandy.
" Lalu bagaimana dengan Cherry bukannya kalian sudah berteman?" tanya Vandy.
" Ya kamu benar, saat aku pindah sekolah. Aku mulai mendapatkan teman-teman yang baik. Yang menurutku berbeda dari teman-teman ku sebelumnya. Selain kamu pasti juga ada Cherry dan yang lainnya,"
__ADS_1
" Dan aku bisa merasakan perbedaan itu. Aku melihat ketulusan dari mereka. Yang berteman bermodalkan kasih sayang. Itu terlihat sangat hangat. Aku melihat kalian semua menyayangi Cherry jadi jelas kalian adalah orang-orang yang tulus," ucap Azizi yang merasa beruntung di kelilingi orang-orang yang sekarang dekatnya.
" Tunggu dulu, aku terus berbicara. Tetapi Bagaimana dengan kau?" sahut Azizi.
" Aku, ada apa denganku?" tanya Vandy heran.
" Kamu menganggapku sebagai teman. Atau hanya sekedar kenal saja. Jangan-jangan aku hanya kepedean di anggap sebagai teman," ucap Azizi yang kepikiran hal itu. Vandy tersenyum mendengarnya.
" Iya kamu temanku. Karena kamu teman Cherry berarti kamu juga temanku dan bukan hanya teman 1 kelas tetapi kamu juga sahabatku," jelas Vandy dengan wajahnya yang tulus.
" Syukurlah jadi aku tidak terlalu malu," sahut Azizi merasa lega.
" Lalu kalau aku tidak berteman dengan Cherry, kamu tidak akan berteman denganku?" tanya Azizi dengan hati-hati.
" Kalau kamu tidak berteman dengan Cherry kamu juga tidak akan menegurku. Kamu baru menegurku ketika sudah berteman dengan Cherry," sahut Vandy.
" Mana berani aku menegur mu duluan. Kamu sangat populer di sekolah. Saat berkenalan dengan Fiona saja aku sudah di cuekin. Apa lagi aku sok-sok-an mau berkenalan dengan mu dan teman-teman mu mungkin aku akan di tertawa kan," jelas Azizi yang kurang percaya diri.
" Kau belum mencoba. Tetapi sudah berbicara seperti itu," ucap Vandy.
" Aku sudah bisa menebaknya, kalian murid-murid populer di sekolah. Jadi pasti akan memilih dalam berteman. Tetapi kembali lagi. Tebakanku salah," jawab Azizi. Vandy tertawa kecil mendengarnya.
" Makanya jangan suka menebak-nebak," sahut Vandy mengacak-acak lembut pucuk kepala Azizi. Sontak membuat Azizi kaget menerima perlakuan itu.
Bahkan jantungnya berdebar tidak beraturan. Debaran semakin kuat yang mungkin jika dia memakai jam tangan Cherry bisa berbunyi dengan kencang.
" Iya aku memang salah," sahut Azizi gugup dengan wajahnya yang memerah.
" Kenapa aku jadi canggung seperti ini. Tatapan Vandy benar-benar sangat dalam, aku tidak tau apa artinya itu," batin Azizi merasakan perasaan yang aneh.
Tetapi mendengar pertanyaan itu Azizi yang tadi tersenyum dengan perasaannya yang aneh. sudah tidak tersenyum lagi. Seakan tidak menyukai pertanyaan itu.
" Kenapa dia harus menanyakan hal itu," batin Azizi dengan wajah panik.
" Azizi," tegur Vandy yang melihat Azizi bengong.
" Oh, itu.. Biasalah, masalah pekerjaan orang tua. Papa di pindah tugas. Jadi mau tidak mau aku harus ikut pindah," jawab Azizi gugup. Tetapi Azizi terlihat membuang napas perlahan seakan lega.
" Memang awalnya kamu sekolah di mana?" tanya Vandy Azizi kembali diam seakan tidak ingin memberitahunya.
" Apa yang harus aku jawab," batin Azizi semakin panik.
" Soalnya kalau tidak salah. Sewaktu kamu memperkenalkan diri saat menjadi murid baru. Kamu tidak menyebutkan asal sekolahmu," ucap Vandy lagi mengingat hal itu.
" Oh benarkah, aku tidak menyebutkannya. Karena mungkin pasti tidak ada yang tau, sekolahku terlalu jauh. Di daerah perkampungan yang sangat jauh. Jadi pasti tidak ada yang tau," jelas Azizi dengan lancar. Dia hanya berusaha tenang.
" Di mana?" tanya Vandy penasaran.
" Yang jelas tidak di Jakarta," jawab Azizi cepat Tetap tidak memberi tahu nama sekolahnya.
" Oke, di...."
" Vandy," Azizi memotong pembicaraan Vandy yang pasti ingin menanyakan lebih banyak lagi.
" Bagaimana kalau kita kembali ke tenda," lanjut Azizi yang sepertinya tidak ingin Vandy membahas terlalu banyak tentang sekolahnya.
__ADS_1
" Ini sudah sangat malam," Azizi menunjukkan arloji di tangannya.
" Oh iya, ini memang sudah larut malam," sahut Vandy setuju.
Walau sebenarnya dia masih penasaran dengan Azizi yang dia sama sekali tidak mendapat jawaban apa-apa. Tetapi Vandy bisa melihat Azizi sangat tidak nyaman jika membicarakan sekolah nya yang dulu.
" Kaki kamu bagaimana masih pegal?" tanya Vandy.
" Lumayan sih. Tetapi sudah tidak apa-apa.
kok nanti di tenda aku minta tolong buat di pijat," sahut Azizi yang ingin cepat-cepat kembali ke tenda.
" Biar aku lihat sebentar," sahut Vandy bergerak cepat kedepan Azizi.
" Kamu mau ngapain?" tanya Azizi heran
" Biar aku urut sebelum pergi," jawab Vandy.
Azizi sontak kaget, saat Pria itu di depannya dan kakinya di letakkan di atas pahanya.
" Kamu yakin ?" tanya Azizi dek-dekan dengan tindakan Vandy. Vandy mengangguk.
" Aku akan mengurutnya," ujarnya menaikkan celana panjang Azizi ke atas sedikit.
" Memang kau bisa?" tanya Azizi meragukan kemampuan Vandy.
" Kau hanya tinggal melihat hasil akhirnya," sahut Vandy dengan singkat.
Tanpa basa-basi Vandy langsung mengurut lembut kaki Azizi. Azizi hanya melihat saja. Bagaimana Vandy memperlakukannya dengan baik.
Vandy mengangkat kepalanya melihat ke arah Azizi yang sedari tadi tersenyum.
" Bagaimana enak?" tanya Vandy. Azizi mengangguk. Harus di akuinya jika Vandy sangat ahli dalam hal itu.
" kenapa dia harus melakukan hal itu," batin Azizi semakin gugup dengan Vandy.
" Vandy," tegur Azizi.
" Kenapa?" tanya Vandy.
" Terima kasih sudah melakukan itu," ucap Azizi. Vandy mengangguk dan melanjutkan kembali pekerjaannya.
" Sudah selesai, bagaimana apa sudah enakan?" tanya Vandy.
" Iya jauh lebih enakan," jawab Azizi.
" Ya sudah ayo kita kembali!" ajak Vandy yang sudah berdiri. Vandy mengulurkan tangannya kepada Azizi. Azizi tersenyum dan menyambut uluran tangan itu.
Bersambung...
Jangan lupa mampir ke sini ya. Ditunggu like Coment, Vote nya. Terima kasih.
Hay para readers yang baru bergabung. Bantu support ya novel aku yang baru.
Tinggalkan jejak. Komentar, like, dan jangan lupa vote sebanyak-banyaknya. Agar aku semakin semangat melanjutkan ceritanya.
__ADS_1