
Cherry, Sasy, Nadya dan Azizi memasuki kamar mereka.
" Akhirnya bisa istirahat di sini," ucap Azizi yang langsung menaiki tempat tidur. Sementara Cherry yang menyeret koper masih melihat-lihat isi kamar.
Terdapat 4 tempat tidur kecil yang berbaris, berseprai putih dengan bantal yang berwarna putih. Terdapat juga lemari 4 Pintu yang menempel di dingding. Yang mungkin lemari pakaian mereka.
Ada 1 meja lengkap dengan cermin seperti meja rias. Dan disamping tempat tidur terdapat 1 meja masing-masing dengan 3 laci ke bawah dan lengkap dengan lampu tidur.
Nuansa kamar lumayan nyaman dengan warna putih dan lantai marmer berwarna coklat. Langit-langit kamar dengan warnah putih.
Cherry langsung mengambil tempat tidur bagian pinggir dekat dengan jendela yang sangat luas yang tertutup tirai putih.
Reflex Cherry langsung membuka, meski gelap Cherry bisa melihat ke indahan alam. Melihat pegunungan yang di terangi rembulan.
" Ini peraturannya," ucap Azizi yang minat buku peraturan yang ada di salah satu tempat tidur.
susun semua pakaian ke dalam lemari. 1 pintu satu orang.
Barang-barang lainnya juga di susun dengan rapi dengan tempat seadanya.
Jam 7 pagi semua harus sudah siapa. Jadi usahakan bangun lebih cepat. Karena kamar mandi di dalam hanya satu.
Selalu bersihkan kamar. Karena akan mendapatkan nilai tambahan jika kamar besar.
Azizi membaca peraturan tersebut. Cherry, Nadya hanya mendengar sementara Sasy sudah rebahan di tempat tidur di dekat Cherry.
" Besok saja menyusun yang lainnya, aku mau tidur, aku sangat mengantuk," sahut Sasy yang sudah memejamkan matanya.
" Sasy cuci muka dulu sebelum tidur," ucap Cherry.
" Besok pagi saja," jawab Sasy dengan malas dan menarik selimut. Dia benar-benar mengantuk. Cherry hanya geleng-geleng.
__ADS_1
Cherry membuka kopernya dan mengambil alat cuci mukanya. Cherry juga tidak berniat untuk menyusun pakaiannya ke dalam lemari. Mungkin Cherry akan melakukannya besok pagi.
Karena Cherry takut kelelahan. Jadi dia memutuskan untuk sekedar cuci muka dan mengganti pakaian saja. Lalu menyusul untuk istirahat.
Lain halnya dengan Nadya yang langsung membuka kopernya dan menyusun semua pakaian ke dalam lemari.
" Kamu berkemas sekarang?" tanya Azizi yang melihat Nadya menyibukkan diri.
" Iya, supaya besok tidak ribet," jawab Nadya terus melanjutkan pekerjaannya.
" Oh, begitu, aku besok saja, soalnya mengantuk," jawab Azizi.
Nadya tersenyum mengangguk. Azizi membuka ikatan kelabang rambutnya, karena mau tidur rambut Azizi harus di lepas.
Tidak berapa lama Cherry ke luar dari kamar mandi sudah menggunakan baju tidur boneka Stitch.
" Sudah selesai Cherry?" tanya Azizi.
" Hmmmm.. iya," jawab Cherry. Azizi mengangguk dan langsung memasuki kamar mandi.
" Aku baru melihatnya seperti itu," gumam Cherry melihat rambut panjang Azizi yang terurai indah.
Cherry harus mengakui jika rambut Azizi seperti itu sangat terlihat cantik dan seperti gadis remaja moderan yang tidak cupu seperti sekarang.
Cherry yang sebum tidur, wajib minum obat. Langsung membuka tasnya, mengambil obatnya. Tetapi botol minum Cherry sudah kosong.
" Habis lagi, di mana harus mengambil air," gumam Cherry melihat botol kecil itu. Nadya yang melihat Cherry kesulitan langsung berdiri dan memberi botol minumnya yang masih penuh.
" Hmmm, makasih," Cherry langsung meraihnya dan membukanya. Nadya melihat Cherry menelan tumpukan obat itu sekali semua.
" Kamu pintar minum obat," ucap Nadya. Membuat Cherry mendengus tersenyum.
" Dari kecil jadi terbiasa sampai sekarang, obatnya juga tidak pernah berubah dan tidak pernah juga berhenti minum obat," jawab Cherry menutup satu-satu botol obat.
" Kamu tidak pernah minum obat sebanyak itu?" tanya Cherry melihat ke arah Nadya. Nadya menggeleng.
" Tetapi ibu ku sering," jawab Nadya.
" Memang ibu mu sakit apa?" tanya Cherry.
" Kanker paru-paru," jawab Nadya, " jadi obat seperti itu sudah sangat biasa di minum Ibu," jelas Nadya.
" Berarti ibu kamu sering cek kerumah sakit?" tanya Cherry. Nadya menggeleng.
" Kalau Ibu merasa sakit berlebih baru. Karena kalau rutin cek kerumah sakit mana ada uangnya," jawab Nadya jujur. Jika menceritakan keadaannya Nadya berusaha kuat dan tidak sedih.
" Oh, begitu," sahut Cherry yang kasihan dengan Nadya.
Cherry memang tidak mengenal Nadya terlalu jauh. Yang dia tau Nadya salah satu anak beasiswa di sekolahnya. Nadya juga selalu berpenampilan sederhana dan ala kadarnya. Makanya Raquel dan yang lainnya sering menghina Nadya.
Tetapi hari ini Cherry bahkan mendapat informasi dari mulut Nadya sendiri. Bahwa ibunya mengidap kanker.
__ADS_1
Sebagai seorang pasien Cherry sangat tau betapa mahalnya biaya untuk pasien rawat seperti dia. Hanya saja Cherry yang berasal dari keluarga kolong merat. Jadi biaya seperti tidak terpikirkan oleh Cherry.
Tetapi Cherry mengetahui biaya itu mahal. Karena papanya sering membiayai orang-orang penyakit kanker dan Cherry pasti tau semua itu.
" Ya sudah aku kembali melanjutkan pekerjaan ku lagi," ucap Nadya menunjuk kopernya. Cherry mengangguk.
" Memang ibunya Nadya kerja apa, tapi masa iya harus aku tanya," batin Cherry yang merasa simpatik. Tetapi tidak sopan jika harus menanyakan hal itu.
Cherry mengurungkan niatnya dan memilih tidur, dia juga harus istirahat tepat waktu. Agar kondisinya tidak memburuk. Karena dia sudah janji sama papanya akan baik-baik saja.
***************
Sinar mentari pagi kembali muncul. Kota yang mereka kunjungi sungguh dingin. Membuat tidur nyenyak. Untungnya hari ini peraturan belum berlaku.
Karena murid-murid masih di beri kebebasan beristirahat dan membereskan pakaian mereka. Karena jika besok kegiatan Study tour yang sebenarnya akan di mulai.
Meski matahari yang memancar terang dan jendela yang sudah di buka. Hal itu sama sekali tidak mengganggu tidur nyenyak Sasy yang seperti kebo di dalam ringkupan selimut.
Sementara, Cherry, Azizi dan Nadya sudah bangun. Azizi dan Cherry juga sudah mengeluarkan barang-barang mereka dari dalam koper, menyusun pakaian ke dalam lemari.
Buku-buku kedalam laci dan beberapa peralatan riasan yang memang tidak di keluarkan dari pouch nya. Karena percuma akan berserakan dan tidak mungkin di gabungkan di meja rias.
" Sasy bangun dong, pakaian kamu belum di sini," oceh Cherry sedari tadi sambil membereskan kopernya. Juga membangunkan Sasy yang tak kunjung bangun.
" Benar Sasy, kamu juga belum sarapan," sahut Azizi.
" Mungkin dia kelelahan," sahut Nadya yang merapikan kamar. Karena masalah barang-barangnya sudah selesai di bereskan.
" Kelelahan dari mana, semua orang juga lelah," jawab Cherry kesal. Cherry waktunya membongkar tas jajanan yang di siapkan pelayannya. Apa lagi jika yang paling banyak susu stauberry.
Cherry bahkan menyusun di dalam box putih. Cherry mengambil 2 botol dan memberi pada Azizi dan Nadya.
" Terimakasih," jawab Nadya.
" Lama-lama, aku bisa menyukai ini Cherry," sahut Azizi.
" Bagus dong, jadi aku ada temannya," jawab Cherry yang sudah mulai menyeruput dengan sedotan.
Sementara di kamar lain. Raquel, Mitha, dan Selina masih tidur dan tidak ada yang membangunkan mereka. Mereka ber-3 1 kamar dan 1 lagi teman mereka Siapa lagi jika bukan Fiona.
Tetapi Fiona sudah bangun dan pasti Fiona tidak peduli dengan orang-orang tersebut. Karena sejak kapan pula dia berbicara pada Raquel dan gengnya.
Cherry yang selesai membereskan semua peralatannya berdiri menghampiri jendela. Tetapi mata Cherry langsung melihat ke arah ujung di mana Cherry melihat Verro yang berdiri dan berhadapan dengan Fiona dan seperti berbicara.
" Apa yang mereka bicarakan," batin Cherry penasaran.
💝💝Bersambung
Hay para readers yang baru bergabung. Bantu support ya novel aku yang baru.
Tinggalkan jejak. Komentar, like, dan jangan lupa vote sebanyak-banyaknya. Agar aku semakin semangat melanjutkan ceritanya
__ADS_1