
Mereka tetap asyik mendengarkan apa yang dikatakan Selina. Dan Selina memang menceritakan ala adanya, tanpa ada yang di tutup-tutupi sama sekali.
" Jadi kalian di rumah itu jadiannya," sahut Cherry. Selina mengangguk.
" Kamu tau Cherry rumahnya?" tanya Sasy.
" Hmmm, aku pernah kesana, sewaktu aku hilang ingatan,"'sahut Cherry.
" Jadi kalian sudah pacaran selama itu," sahut Nadya.
" Iya dan aku yang meminta Dokter Arif untuk tidak memberitahu yang lain. Termasuk pada kalian. Aku tidak mau saja berurusan dengan kalian. Makanya selama ini aku menyembunyikan hubunganku dengan Dokter Arif," sahut Selina yang jujur apa adanya.
" Berarti selama kamu sering kerumah sakit. Itu karena ingin menemui Dokter Arif diam-diam," tebak Sasy. Selina menganggukkan kepalanya.
" Lalu kenapa bilang mau melihat temanmu," sahut Sasy.
" Ya kan kalau aku bilang. Kamu jadi tau. Dan yang adanya kita akan berdebat di tempat itu," sahut Selina.
" Iya juga sih," sahut Sasy.
" Hmmm, jadi selama ini aku jodoh-jodihin Dokter Arif sama Raquel. Itu kalian masih pacaran?" tanya Sasy.
" Memang kamu kapan jodohinya?" tanya Nadya.
" Waktu dia putus sama Aldo," jawab Sasy.
" Iya aku juga penasaran. Apa waktu itu kamu sama Dokter Arif masih pacaran. Karena nembak aku juga saat itu," sahut Raquel.
" Dokter Arif sempat nembak kamu?" tanya Nadya yang terlihat kaget.
" Hmmmm, tapi aku tolak dan untung aku tolak kan," sahut Raquel yang merasa bangga yang sudah menolak orang.
" Selina apa kamu sempat break dengan Dokter Arif?" tanya Cherry.
" Iya aku sempat marahan dengan Dokter Arif dan permasalahannya karena Dokter Arif ingin status yang lebih jelas. Dia ingin menikah saat itu. Dia ingin serius dalam hubungan kami dan aku belum siap dalam hal itu," jawab Selina.
" Dokter Arif persis Sasy, Versi prianya," sindir Raquel
" Isssh, mulai julid deh," sahut Sasy kesal.
" Karena aku merasa tertekan dan tidak mungkin untuk menikah dengan Dokter Arif. Aku pun memilih untuk mengakhirinya dan kami sama-sama emosi dan Dokter Arif pun seperti lelah dan akhirnya mengakhiri segalanya. Aku melihat dia memang tampak cepat move on dari ku. Aku melihat dia dekat dengan Raquel terbang ke Jerman untuk menemani Fiona berobat dan ke Jepang liburan bersama kalian dan aku juga melihat beberapa kali dia dan Raquel sangat dekat. Bahkan saat-saat Aldo bebas. Beberapa kali aku melihat Dokter Arif kencan dengan Raquel," jelas Selina sambil membayangkan apa yang di lihatnya.
Dari beberapa kali melihat Raquel dan Arif makan. Bahkan saat Arif ingin menciumnya saat itu.
" Apa itu artinya Dokter Arif menjadikan Raquel pelarian," celetuk Cherry yang asal bicara. Sasy langsung tertawa mendengarnya.
" Ya iyalah apa lagi namanya," sahut Sasy yang kesenangan.
" Isss, kalian apa-apaan sih. Sama aja kayak Aldo," sahut Raquel kesal.
" Tapi memang iya kok. Dokter Arif sendiri bilang. Kalau dia mendekati Raquel untuk mencari ketenangan," sahut Selina.
" Jangan di perjelas juga kali," sahut Raquel kesal.
" Lalu kenapa kalian bisa balikan lagi?" tanya Nadya.
" Kami bicara kembali dari hati ke hati dan Dokter Arif tidak ingin mengakhiri hubungan itu dan berjanji tidak akan mengungkit pernikahan lagi sampai akhirnya aku benar-benar siap," jawab Selina.
" Hmmm, begitu toh ceritanya," sahut Azizi.
" Tetapi Toby malah mencari masalah dengan menjodoh-jodohkan Sasy dan Dokter Arif dan itu membuat konflik baru yang pada akhirnya hubungan kami di kembali di terpa masalah. Tetapi pada akhirnya. Kami berhasil melewati semuanya," jelas Selina.
" Tapi ya Selina walau Dokter Arif mendekatiku saat itu. Tetapi aku tidak menyukainya sama sekali," sahut Sasy membela diri.
" Aku juga tidak menyukainya waktu itu. Makanya aku menolaknya," sahut Raquel yang tidak mau kalah dengan Sasy.
" Benar, sih," sahut Sasy.
__ADS_1
" Tapi dulu kamu ngejar-ngejar Dokter Arif. Tapi dia malah kecantol sama Selina," sahut Raquel.
" Itu kan dulu namanya juga masih SMA. Yang penting sekarang aku tidak menyukainya," sahut Sasy menegaskan.
" Iya- iya kalian berdua tidak ada yang kecantol dengan Dokter Arif. Karena memang ada hati yang di jaga. Sudah jangan berantam," sahut Cherry mencegah keributan di antara ke-2 temannya itu.
" Benar kata Cherry, ngapain sih kalian ributin Pria yang ada pacarnya di sini," sahut Azizi dengan sedikit menggoda. Selina hanya menunduk malu.
" Lalu Selina bagaimana hubungan kamu dengan Dokter Arif sekarang. Apa kalian lagi bermasalah?" tanya Nadya. Selina menganggukkan kepalanya.
" Jangan bilang masalahnya karena kami," sahut Sasy menebak.
" Bukannya memang iya. Jika kalian mengetahui hal itu. Kalian pasti menganggap Dokter Arif Pria yang bodoh yang mau aja pacaran dengan wanita bodoh dan tidak berkelas seperti aku yang tidak sebanding dengan keluarganya yang terpandang dan circle yang setara. Jika kalian tau aku pacaran, aku pasti akan di ejek di katai yang tidak-tidak," ucap Selina.
" Selina apa yang kamu bicarakan. Kok bisa bicara seperti itu," sahut Cherry yang tidak habis pikir.
" Itu memang kenyataannya. Makanya kalian sekarang menemuiku dan pasti ingin menyuruhku untuk mengakhiri hubungan ku dengan Dokter Arif," sahut Selina yang menduga-duga.
" Astagfirullah Al Azdim," ucap mereka dengan serentak dengan geleng-geleng kepala.
" Kamu itu ya pikirannya pendek amat," sahut Cherry.
" Benar, kamu pikir kita perempuan apaan yang harus ikut campur dengan masalah percintaan orang lain dan nyuruh-nyuruh orang lain untuk putus," sahut Raquel.
" Eh, Selina kami itu nggak pernah ya ada niat seperti itu. Justru kami ingin menemui kamu untuk mendengar cerita kebenarannya dan syukur-syukur kamu mau jujur. Jadi jangan mikir yang aneh-aneh," ucap Sasy menegaskan.
" Dan iya Selina satu hal yang harus kamu ingat kita itu juga datang untuk mengubah pikiran kamu yang tidak percaya diri itu," sahut Cherry.
" Jika Dokter Arif dan keluarganya menerima kamu dengan baik. Lalu apa hak kami yang harus komplen atau protes," sahut Azizi.
" Seperti yang aku bilang kemarin Selina. Kamu seharusnya bersyukur yang mendapatkan hal yang lebih baik dari pada aku dan tujuan kami datang untuk kebaikan kamu," sahut Nadya yang menambahi.
" Maksud kalian apa?" tanya Selina.
" Selina kak Arif sudah menceritakan semuanya kepada mama dan papa. Mereka juga menceritakan alsan kamu tidak ingin di perkenalkan. Dia menceritakan semuanya dan mama dan papa ingin bertemu dengan kamu. Aku rasa kak Arif juga sudah menyampaikan itu kepadamu," jelas Azizi.
" Walau seperti itu. Tetapi aku sadar diri. Aku tau siapa aku dan di mana tempat ku berada. Aku sangat sadar untuk semuanya. Aku bukan siapa-siapa," ucap Selina yang merendahkan dirinya.
" Memang kamu pikir aku seperti apa lagi. Aku juga hanya wanita biasa yang di terima di keluarga Vandy," sahut Azizi menambahi.
" Benar Selina, sudah deh. Kamu itu jangan mikir yang aneh-aneh. Kalau keluarga Dokter Arif bisa menerima kamu. Ya sudah ngapain sih mikirin orang lain. Nggak penting banget tau," sahut Raquel.
" Tau nih, kecuali keluarganya Dokter Arif banyak protes baru minder kayak gini," sahut Sasy menambahi.
" Jika mereka menerima ku. Lalu kalian bagaimana apa kalian tidak keberatan aku bergabung dengan kalian," sahut Selina dengan gugup.
" Ya keberatan lah," sahut Sasy.
" Sasy," desis Cherry dengan melebarkan matanya.
" Ya kalau kamu tetap jadi pecundang seperti ini. Siapa yang tidak keberatan coba. Yang menjalin hubungan itu Dokter Arif bukan kita. Jadi memang untuk Dokter Arif penting apa kita suka apa tidak," sahut Sasy dengan kesal.
" Selina kamu jangan memikirkan kami. Kami semua sudah mengenal Dokter Arif dengan baik dan siapapun yang menjadi pendampingnya kami pasti bahagia dan akan mendoakan yang terbaik dan tidak di sangka kamu ternyata wanita yang di cintainya. Jadi jelas kami lebih bahagia. Karena tau siapa wanita itu dan tidak khawatir dengan Dokter Arif," sahut Cherry yang memberikan arahan dengan lembut.
" Benar Cherry, jadi jangan memikirkan kami. Kami juga duku sahabatku dan sampai sekarang kita juga tidak pernah selesai bersahabat. Jadi jangan memikirkan yang aneh-aneh. Kita itu berteman tidak melihat hartanya atau tahtanya. Tapi kebaikannya dan kepribadiannya," sahut Raquel menambahi.
" Jangan banyak berpikir. Sekarang kamu bilang sama kita. Kapan kamu siap menemui keluarga Dokter Arif," sahut Cherry bertanya.
" Jangan sampai sebulan yang jelas harus dalam Minggu ini," sahut Sasy tidak mau tawar-tawar.
" Secepat itu," sahut Selina. Mereka serentak mengangguk.
" Pokoknya kamu bilang kapan kamu siap dan jangan jadi pengecut," sahut Raquel mengaskan. Selina pun hanya bisa mengangguk saja.
" Jangan hanya mengangguk-angguk. Pokoknya kamu harus menemui keluarga Dokter Arif," sahut Raquel mengaskan.
" Orang tua kak Arif sangat menunggu kamu Selina," sahut Azizi.
__ADS_1
" Apa iya?" tanya Selina tidak percaya.
" Jadi temui mereka agar masalah ini benar-benar selesai," sahut Cherry. Selina hanya mengangguk.
Akhirnya tidak ada lagi yang di sembunyikannya dan semua teman-teman Vandy pun akhirnya mengetahui semua hubungan rahasia itu dan para wanita-wanita itu sudah memberikan arahan pada Selina yang berharap benar-benar akan masuk kedalam otak Selina.
***********
Terlihat Azizi dan Lina sibuk di dapur pagi-pagi begini. Dapur juga terlihat begitu berantakan.
" Azizi yang bubur sum-sumnya sudah di beri gula?" tanya Lina dengan tangannya yang penuh dengan tepung.
" Sudah maha," jawab Azizi.
" Daun pandanya juga sudah di beri?" tanya Lina.
" Sudah mah," jawab Azizi.
" Seharunya kita bangun lebih awal. Jadi tidak memburu seperti ini," ucap Lina yang tampak tergesa-gesa.
" Mama tenang dong, kak Arif juga baru pergi jemput Selina. Pasti masih lama datangnya, jadi jangan di buru-buru," ucap Azizi.
" Mama mana bisa tenang. Calon mantu itu tidak boleh mencicipi makanan mama yang tidak enak. Nanti dia mundur lagi jadi calon menantu," ucap Lina Azizi hanya tersenyum mendengarnya.
" Mama happy banget lihat kak Arif bahkan bawa mantu Kerumah ini," sahut Azizi.
" Siapa yang tidak bahagia Azizi. Kamu lihat Arif, usianya sudah berapa tahun. Mama bahkan sudah lelah menyuruhnya untuk mencari calon istri dan tidak taunya dia sudah pacaran. Mama ingin tau wanita seperti apa yang membuatnya bucin. Kalau istilah anak sekarang," ucap Lina yang memang begitu bahagianya.
" Jelas Selina itu wanita yang baik dan Azizi yakin mama juga bisa jatuh cinta padanya," sahut Azizi yang juga semangat untuk mempromosikan Selina.
" Kalau begitu anak-anak mama memang benar-benar begitu hebat dan juga pintar-pintar mencari istri sangat baik-baik, sama dengan kamu begitu baiknya," sahut Lina dengan tersenyum lebar
" Makasih mah," sahut Azizi.
" Ayo di kerjain lagi, kita harus buru-buru," ucap Lina. Azizi mengangguk dengan tersenyum.
" Memang aku sangat beruntung bisa mempunyai mertua seperti mama Vandy dia begitu baik dan sangat perhatian. Bahkan tidak pernah melihat orang-orang dari derahatnya, mama benar-benar wanita yang begitu mulia," batin Azizi yang merasa begitu beruntung bisa menjadi bagian dari keluarga Vandy.
**********
Arif berdiri di samping mobilnya yang terparkir di depan rumah Selina yang pasti dia sedang menunggu pujaan hatinya itu. Arif juga terlihat gelisah dan sebenarnya juga begitu gugup yang sedari tadi menunggu Selina.
" Semoga Selina tidak berubah pikiran untuk mengurungkan niatnya menemui mama dan keluarga ku," batin Arif yang beberapa kali membuang napasnya kedepan.
" Tapi kenapa Selina lama sekali. Apa jangan-jangan dia tidak ingin lagi menemui keluargaku. Makanya dia diam saja," batin Arif yang pikirannya sudah kemana-mana.
Tidak lama akhirnya Selina pun keluar dari rumahnya menggunakan dress putih polos selututnya dan rambut di gerai saja. Arif tersenyum melihat kekasihnya menghampirinya. Dia menyangka Selina akan mundur ternyata tidak. Lama sedikit ternyata Selina sedikit memberi riasan pada wajahnya agar terlihat cantik menemui calon mertuanya itu.
" Maaf aku lama," ucap Selina yang menunduk di depan Arif.
" Tidak apa-apa sayang. Kamu cantik sekali hari ini," ucap Arif.
" Hmmmm, jangan memujiku lagi. Aku sudah dek-dekan ini," sahut Selina dengan suara manjanya.
" Jangan panik Selina. Kita hanya menemui keluargaku bukan untuk berperang, jadi tenaglah. Jangan gugup," ucap Vandy yang memegang dinginnya tangan Selina.
" Bagaimana aku tidak panik. Aku akan menemui orang tuamu. Memang ada yang tidak panik," sahut Selina yang terlihat gugup dan hanya berusaha untuk menenangkan dirinya.
" Sudah sayang jangan tegang ya, kita sekarang pergi ya sebaiknya. Keluarga sudah menunggumu," ucap Arif membujuknya.
" Kamu yakin tidak akan menyesal mengajakku menemui keluarganh sahut Selina yang memastikan.
" Selina apa yang kamu bicarakan. Mana mungkin aku menyesal. Ini jalan yang terbaik dan kemarin kita sudah membahas Maslaah itu. Jadi jangan di pikirkan lagi. Kita sekarang pergi dan semuanya akan baik-baik saja," ucap Arif meyakinkan Selina.
" Kita pergi ya!" ajak Arif dengan lembut. Selina menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan ke depan dengan pipinya yang mengembang.
" Kita pergi sayang?" tanya Arif lagi. Akhirnya Selina mengangguk yang akan yakin akan menemui keluarga dari kekasihnya itu.
__ADS_1
Arif menggenggam tangan Selina dan membawa Selina memasuki mobil.
Bersambung