DETAK Love Story' School

DETAK Love Story' School
Episode 116 menginginkan sesuatu


__ADS_3

Nadya dan Varell berjalan di koridor rumah sakit.


" Aku akan mengantarmu pulang," ucap Varell pada Nadya yang berada di sampingnya.


" Tidak usah, aku menginap di rumah sakit ini. Ibu ku sedang di rawat di sini," ucap Nadya.


" Kamu yakin menginap di sini?" tanya Varell.


" Iya, Varell. Jadi kamu tidak perlu mengantarku," sahut Nadya.


" Ya sudahlah kalau begitu. Aku boleh menjenguk ibumu?" tanya Varell.


" Lain kali saja, ibu sedang istirahat," jawab Nadya.


" Ya sudah kalau begitu," sahut Varell. " Ya sudah aku pulang dulu. Kamu istirahatlah. Jangan terlalu lelah. Besok aku akan menjemputmu. Kita ke sekolah sama-sama," ucap Varell menghadap Nadya.


" Iya," jawab Nadya.


" Ya sudah aku pergi," ucap Varell pamit Nadya mengangguk. Varell pun akhirnya pergi.


*********


Malam hari Verro setia menemani Cherry di rumah sakit. Tadi Varell juga membawakan pakaiannya.


Jadi Verro berganti pakaian di rumah sakit. Sekarang Verro yang duduk di samping Cherry sedang menyuapi Cherry makan.


" Verro!" tegur Cherry sambil mengunyah makanannya.


" Kenapa?" tanya Verro.


" Kamu bertengkar sama papa kamu?" tanya Cherry yang mengetahui hal itu.


" Varell memberi tahu kamu?" tanya Verro menebak. Cherry mengangguk. Verro mendengarnya membuang napasnya perlahan ke samping.


" Kenapa sampai ribut?" tanya Cherry dengan cemasnya.


" Aku tidak perlu menjawab. Kamu sudah tau jawabannya," sahut Verro.


" Lalu mau sampai kapan kamu akan tinggal di tempat Varell. Apa kamu akan terus pergi dari rumah," ucap Cherry.


" Jangan mencemaskanku. Aku tidak apa-apa. Aku tidak mungkin kembali kerumah. Aku tidak bisa tinggal dengan orang-orang seperti mereka. Jadi jangan khawatir," ucap Verro tersenyum.


" Apa Om Hariyanto juga memukulmu kembali?" tanya Cherry khawatir.

__ADS_1


" Iya. Dia hampir melakukannya. Tetapi aku sempat mencegahnya," jawab Verro jujur.


" Pasti Om Hariyanto sangat marah kepadamu," ucap Cherry.


" Pasti!" sahut Verro.


" Tetapi kenapa Om Hariyanto tidak datang menjengukku?" tanya Cherry heran.


" Dia dan istrinya tidak mungkin datang. Karena aku sudah memberi tahunya. Kalau kamu sudah tau semuanya," jawab Verro dengan santai.


" Kamu serius," tanya Cherry kaget.


" Iya. Jadi biarkan saja. Jangan mengurusi mereka. Yang terpenting bagaimana kamu akan sembuh. Mereka juga tidak pernah peduli kepadamu. Mereka hanya mencemaskanmu. Karena ada maunya. Jadi jangan memikirkan mereka," ucap Verro dengan tegas.


" Lalu bagaimana dengan mu. Apa rencamu selanjutnya?" tanya Cherry.


" Memberimu kebahagian. Itu rencanaku yang paling utama," jawab Verro mengusap pipi Cherry. Cherry tersenyum mendengarnya.


" Ayo makan lagi," ucap Verro kembali menyuapi Cherry.


" Verro. Aku besok mau sekolah," ucap Cherry tiba-tiba. Membuat Verro melihatnya dengan serius.


" Tidak bisa Cherry, kondisi kamu tidak memungkinkan untuk sekolah, jadi kamu tidak boleh kesekolah," ucap Verro yang benar-benar tidak akan menuruti Cherry.


" Cherry, sekali ini saja. Turuti perkataanku. Kamu tidak boleh kesekolah. Masalah ujian. Kamu ujian di sini saja. Pihak sekolah pasti akan memberi kelonggaran.


" Tapi Verro aku tidak mau ujian sendiri. Aku tidak akan punya contekan. Aku tidak mau. Aku ingin ujian di sekolah dan seperti biasa kita tukar jawaban. Aku juga ingin membantu Sasy, Toby agar mereka juga punya nilai bagus," ucap Cherry yang merindukan masa-masa ujian dengan berbagai jawaban.


" Cherry. Mereka sudah belajar. Nilai mereka pasti bagus. Kamu jangan memikirkan hal itu," ucap Verro.


" Tapi aku tidak mau ujian sendirian," sahut Cherry.


" Hey," Verro mengusap pipi Cherry. " Jangan membantah. Aku akan menemani kamu saat ujian. Kita akan ujian bersama di rumah sakit. Kamu tidak akan sendiri," ucap Verro dengan lembut memberi pengertian kepada Cherry.


" Cherry kamu mau ya," ucap Verro yang membujuk Cherry.


" Baiklah aku mau. Tetapi dengan 1 syarat," sahut Cherry memberi sarat.


" Baik katakan apa?" tanya Verro tersenyum.


" Mari berkencan 1 hari. Aku ingin pergi bersama mu. 1 hari saja menghabis kan waktu bersamamu," jawab Cherry.


" Kamu mau kan?" tanya Cherry. Verro langsung menggeleng.

__ADS_1


" Verro, kamu menolaknya," sahut Cherry Kecewa.


" Aku akan berkencan denganmu tetapi di rumah sakit. Di sekitar rumah sakit," ucap Verro mengambil keputusan.


" Tapi apa enaknya. Aku mau keluar. Jalan-jalan. Makan bersama. Jangan di sekitar rumah sakit, aku tidak mau," sahut Cherry yang tidak mau jika kencan mereka di rumah sakit.


" Cherry kalau kita kencan di luar. Itu sama saja dengan kamu harus keluar dari rumah sakit. Aku tidak mau kondisi kamu semakin parah. Jadi kita di rumah sakit saja. Aku akan selalu bersamamu," jelas Verro.


" Tapi aku yakin besok aku sudah tidak apa-apa lagi," sahut Cherry dengan yakin.


" Kamu memang tidak akan apa-apa. Karena kamu berusaha seperti tidak apa-apa. Padahal kamu sedang kesakitan. Aku tidak ingin melihat mu seperti itu," jelas Verro.


" Ayo makan lagi!" ujar Verro yang memang tidak akan menuruti apapun kemauan Cherry. Kalau harus membuat Cherry ke luar dari rumah sakit.


" Kamu akan menyesal Verro," ucap Cherry tiba-tiba. Menundukkan kepalanya.


" Cherry, jangan seperti ini," lirih Verro.


Cherry langsung berbaring dan membelakangi Verro. Verro menarik napasnya panjang dan membuang perlahan kedepan. Verro meletakkan makanan di atas meja dan mendekatkan lebih dekat dirinya pada Cherry.


" Cherry, kamu jangan seperti ini. Aku melakukannya demi kebaikan kamu," bujuk Verro mengusap lembut lengan Cherry.


" Verro, aku mengalami gagal jantung. Bukan demam biasa. Jika demam biasa mungkin aku akan sembuh dan setelah sembuh kita bisa pergi bersama. Tapi aku mengalami gagal jantung yang mungkin detik ini aku juga bisa mati. Aku hanya ingin bersamamu 1 hari. Tapi kau tidak mau. Bagaimana jika aku mati besok dan tidak bisa melakukan itu," ucap Cherry dengan derain air matanya.


Cherry memang sangat kecewa dengan Verro. Dia hanya ingin menghabiskan waktu bersama kekasihnya. Karena tau kondisnya yang semakin buruk. Verro pun membaringkan tubuhnya di belakang Cherry dan dan memeluk Cherry erat.


" Baiklah aku akan melakukannya, kita akan pergi besok. Setelah ujian kita akan berkencan, aku akan membawa mu ketempat yang kau mau," sahut Verro mengalah.


Mendengarnya Cherry menghapus air matanya dan langsung berbalik badan dan memeluk Verro.


" Aku hanya ingin bersamamu di hari-hari terakhirku, jadi jangan mencegahku. Maafkan aku harus egois mengambil waktumu," ucap Cherry mewek.


" Iya aku melakukan apapun yang kamu mau. Aku tidak akan melarangnya," sahut Verro memeluk dengan erat dan mencium kening Cherry.


" Sekarang istirahat lah," ucap Verro.


" Hmmmm," jawab Cherry memeluknya dengan erat.


" Kamu benar Cherry seharusnya kita memang lebih banyak menghabiskan waktu. Agar aku tidak menyesal karena tidak memenuhi kemauanmu. Aku tidak ingin menyesal seumur hidupku, aku ingin memberimu kebahagian," batin Verro kembali meneteskan air mata.


Verro semakin mempererat pelukannya. Sambil mengusap rambut Cherry. Sementara Cherry mulai memejamkan matanya yang berada di pelukan Verro. Wajahnya yang berada di dada bidang Verro.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2