
Mereka tetap melanjutkan untuk sarapan sambil mengobrol setelah mendapatkan hadiah masing-masing dari Arif yang memang perhatian.
" Dokter Arif makasih ya sudah memberikan oleh-oleh untuk kami," sahut Cherry dengan senyum lebarnya.
" Sama-sama Cherry," sahut Arif.
" Cherry, kamu sudah bilang makasih, beberapa kali, sudah cukup," sahut Verro kesal.
" Benar Dokter. Dokter baik sekali ingat sama kita," sahut Sasy.
" Kalian berlebihan ini tidak ada apa-apannya," sahut Arif.
" Raquel kamu tidak bilang makasih?" tanya Sasy yang sangat jahil. Dan Raquel pasti geram.
" Makasih ya Dokter," sahut Raquel tersenyum yang pasti terpaksa karena ulah Sasy. Dan Sasy benar-benar tertawa.
" Seriusan, Sasy, mau jodohin Raquel sama Dokter Arif," batin Nadya yang melihat gelagat Sasy yang semakin ketara.
" Sudah lanjutkan sarapannya. Jangan ketawa-ketawa," ucap Toby. Sasy mengangguk dengan tersenyum.
" Oh, iya Dokter bilang sedang ke Amerika. Lagi ngapain, lagi liburan?" tanya Cherry.
" Tidak Cherry, Dokter sedang membawa pasien ke sana mempertemukan pasien dengan Dokter teman dekat yang ada di sana," jawab Arif.
" Untuk berobat?" tebak Nadya.
" Benar, untuk berobat, cek pengobatan, Kalau kalian ingat teman kalian Fiona, dia yang saya bawa kesana," sahut Arif.
" Fiona," lirih mereka serentak.
" Benar, Fiona," jawab Arif.
" Apa sakitnya sudah sangat parah sampai harus di bawa kesana?" tanya Azizi.
" Iya, sangat parah. Kalau sudah stadium 7 pasti sangat parah," jawab Arif. Wajah mereka mendadak prihatin dengan Fiona. Kecuali Sasy yang malah menanggapi datar-datar saja.
" Kasihan sekali Fiona," sahut Nadya.
__ADS_1
" Lalu di mana Fiona?" tanya Azizi.
" Di juga ikut ke Jepang. Karena juga ada cemo di sini. Namun masih istirahat di hotel bersama keluarganya," jawab Arif.
" Kenapa tidak di ajak kemari saja," sahut Cherry tiba-tiba membuat mata Sasy langsung dengan cepat melihat ke arah Cherry.
" Cherry, apaan sih, itu bukan ide yang bagus," sahut Sasy langsung tidak setuju.
" Kan nggak apa-apa, sih. Dia juga pasti akan merasa lebih baik. Kalau bisa bahagia bersama kita," sahut Cherry dengan idenya.
" Dia yang baik, aku yang tidak," sahut Sasy dendam berat dengan Fiona.
" Benar Cherry, ngapain juga sih, dia juga sama keluarganya di sana. Ngapain ikut-ikutan sama kita," sahut Raquel yang setuju dengan Cherry.
" Udah deh Cherry, jangan membuka pintu akses untuk pelakor. Jadi nggak usah ngada- ngada," sahut Sasy menegaskan yang bicara langsung to the point. Dan pasti Raquel tersindir dengan kata-kata itu.
" Maksud kamu apa Sasy, pelakor apanya," sahut Cherry heran dengan perkataan temannya itu.
" Cherry, dengar ya. Jangan menutup kuping atau menutup mata. Kamu jelas tau. Fiona orang seperti apa. Dari dulu suka sama Verro bahkan sampai detik ini. Jadi jangan ngada-ngada, ngasih kesempatan untuknya. Walau dia penyakit ini itu. Kalau sudah buta karena cinta. Dia tidak akan peduli dia harus bertobat saat tau mau mati atau tidak," tegas Sasy tanpa basa-basi.
" Rambut bisa sama hitam. Tetapi kita tidak tau bagaimana hatinya, jadi nggak usah aneh-aneh," tegas Sasy lagi.
" Ishhh, kamu yang berlebihan. Jangan terlalu baik sama orang. Yang ada akan di manfaatkan," sahut Sasy kesal.
" Sasy...".
" Sayang sudah," sahut Verry memegang tangan Cherry yabg berada di atas meja, " benar kata Sasy, kita tidak perlu mengajaknya kemari dia dan keluarganya ada sini. Dan itu bukan kewajiban kita. Kita cukup berdoa yang terbaik untuknya dan kamu tidak perlu harus akrab dengannya," ucap Verro bicara lembut pada istrinya menegaskan.
" Tapi...".
" Cherry, dengarkan aku. Jangan mengundang segala sesuatu yang kamu tidak bisa menghadapinya. Aku tau kamu adalah perempuan yang baik yang sangat mudah lupa dengan kesalahan orang lain. Tetapi kamu juga harus ingat. Tidak semua orang mengingat kebaikan kamu. Jadi masalah Fiona dia punya Dokter sendiri. Jadi jangan memikirkan hal yang lain-lain," tegas Verro. Yang lainnya tersenyum melihat cara Verro yang berbicara dengan lembut pada istrinya dan terdengar sangat menyentuh.
" Kamu mengertikan?" tanya Verry. Cherry mengangguk dan Verro tersenyum langsung memeluk Cherry yang membuat yang lainnya iri saja.
" Lagian, Sasy, sih, pakai bilang pelakor-pelakor segala. Kan aku tau. Kamu tidak mungkin berpaling dari ku," sahut Cherry yang memeluk erat suaminya yang membuat Verro tersenyum.
" Ehekk," Sasy dengan julitnya langsung ingin muntah.
__ADS_1
" Jorok amat sih," sahut Raquel kesal.
" Tau, nih, syirik aja, makanya nikah, supaya bisa kayak gini," sahut Cherry yang semakin pamer dan mempererat pelukannya sengaja memanas-manasi Sasy. Memang lihat wajah Sasy benar-benar kesal yang nggak bisa seperti itu dengan Toby. Dan Toby hanya tersenyum saja.
" Cherry, sangat baik. Jadi sangat wajar Verro begitu mencintainya," batin Nadya tersenyum lebar melihat Cherry dan Verro.
" Hubungan memang akan terlihat sempurna. Jika pasangan itu saling mengerti," batin Azizi yang juga salut dengan pasangan itu.
" Dari kecil mencintai, wajar sih mereka bisa seperti ini sampai sekarang," batin Vandy yang pasti sangat tau bagaimana hubungan 2 insan itu sejak dulu.
*************
Setelah sarapan mereka akhirnya melanjutkan aktivitas mereka dengan berjalan-jalan di luar.
Mereka mengunjungi tempat-tempat indah di Jepang, dari rumah-rumah yang bersejarah dan jalan-jalan ketempat lainnya, menikmati kuliner dan lain sebagainya.
Dan ternyata Sasy menjauhkan diri dari rombongan. Di mana Sasy dan Toby berjalan-jalan ber-2 ana di tempat keramaian menikmati kuliner-kuliner yang enak-enak dan khas Jepang.
Beberapa kali, Sasy menyuapinya sang pacar dengan wajahnya yang benar-benar ceria yang bisa menghabiskan waktu bersama pacarnya.
" Pelan-pelan Sasy, panas tau," protes Toby menerima suapan makanan dari Sasy yang tampaknya membuat lidahnya melepuh.
" Masa, sih," sahut Sasy tidak percaya. Toby langsung mengambil apa yang di suapkan Sasy dan langsung menyuapi Sasy.
" Panas kan," sahut Toby dan Sasy langsung mengipas-ngipas mulutnya dengan lidahnya yang menjulur-julur.
" Ishhhh, Toby, kamu jahat banget," sahut Sasy yang langsung memukul Toby. Dan Toby hanya tertawa melihat Sasy yang seperti anjing kehausan. Memang jahilnya Toby tidak pernah berubah.
" Kamu ya benar, malah ketawa lagi. Nih kamu makam sendiri," sahut Sasy yang langsung kesal dan memberikan makanan yang di pegangnya pada Toby dan dia langsung pergi dengan wajahnya yang cemberut.
" Eh, Sasy, mau kemana!" teriak Toby.
" Pergi, kamu makan aja sendiri," sahut Sasy dengan ketus.
" Jangan pergi, nanti kamu di culik," teriak Toby.
" Bodo amat," sahut Sasy kesal. Toby mengendus tersenyum dengan geleng-geleng melihat kelakukan pacarnya.
__ADS_1
" Dasar, tukang ngambek," ucap Toby yang langsung lari menyusul pacarnya yang pasti harus membujuk pacarnya yabg sudah merajuk akibat ulahnya.
Bersambung