
Setelah dari ruangan perawatan pasien yang tak lain mama dari Clara. Verro langsung memasuki ruangannya yang di ikuti Sasy, Raquel dan Vandy.
Verro memukulkan ke-2 telapak tangannya di mejanya. Dia sebenarnya sangat marah. Tidak terima dengan Bayu yang menuduhnya yang seakan terang-terangan merendahkan dirinya.
Verro harus meluapkan emosinya di dalam hatinya. Hanya bisa mengumpat kekesalan atas apa yang terjadi padanya. Beberapa kali dia mengusap rambutnya dan bahkan meremas dengan ke-2 tangannya.
" Verro, sudahlah. Dia memang sudah gila. Jangan dia ambil pusing. Tidak ada gunanya. Kendalikan dirimu," ucap Vandy yang hanya bisa menegakan sahabatnya.
" Mending luka kamu di obati dulu. Agar tidak infeksi," sahut Raquel yang sudah memegang kotak obat menunggu temannya agar mau di obati.
" Aku tidak tau apa yang ada di pikirannya. Tetapi dia benar-benar keterlaluan. Dia bicara sembarangan tanpa tau apa yang sebenarnya terjadi," ucap Verro mengumpat kesal.
" Sudahlah jangan di pikirkan. Dia memang tidak akan mau kalah. Sangat terlihat jelas. Dia selalu ingin menang sendiri," ucap Vandy yang menepuk bahu Verro.
" Tetapi memang seharusnya. Sekali saja dia di tonjok. Sudah menuduh sembarangan dan beberapa kali memukul Verro. Sangat tidak menghargai Verro," sahut Sasy geram dengan Bayu.
" Sasy. Sudah jangan memperkeruh suasana. Biarkan saja semuanya seperti itu," Sahut Vandy.
" Setelah melihat cctv dia juga akan sadar dengan kelakuannya yang asal main tuduh. Dan akan minta maaf karena sudah main hakim sendiri," ucap Raquel dengan yakin.
" Ya semoga saja itu memang benar," sahut Vandy. Merasa tidak mungkin. Karena orang seperti Bayu memang akan jauh-jauh dari kata minta maaf itu. Verro menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan lalu pergi.
" Mau kemana Verro?" tanya Raquel.
" Aku mau cari udara segar sebentar," jawab Verro.
" Tapi luka kamu belum di obati," ucap Raquel.
" Tidak apa-apa. Ini tidak parah dan akan sembuh," sahut Verro dan langsung pergi. Dia ingin menenagkan dirinya.
__ADS_1
Masalah ini memang membuatnya tidak bisa berpikir dengan jernih dan ini akan berpengaruh pada pasien yang akan di tanganinya dan lebih baik dia pergi menenagkan dirinya.
" Ahhhh, pasti dia sangat marah. Tetapi tidak bisa melakukan apapun. Dia bahkan menjaga kewibawaannya sebagai Dokter. Makanya dia tidak melawan," ucap Sasy.
" Kalau tidak di rumah sakit. Pasti Bayu sudah habis di tangan Verro. Verro tidak melawan karena masih sadar dengan keberadaannya," sahut Sasy geram.
" Aku juga sangat gatal ingin menghajarnya. Dia benar-benar ingin menang sendiri. Sudah di katakan berkali-kali. Tetapi masih saja tidak mau mendengarkan dan merasa ingin menang," ucap Vandy yang sepertinya masih menyimpan kemarahan pada Bayu.
" Eh, tapi sebenarnya dia siapa sih," sahut Aca.
" Ya siapa lagi kalau bukan saudara wanita yang bernama Clara itu," sahut Raquel.
" Bukan itu! saudara sih saudara. Tetapi saudara yang bagaimana. Saudara itu banyak kandung atau hanya sepupu," sahut Sasy tiba-tiba sangat penasaran.
" Dia memanggil Bu Karin mama dan Clara juga memanggil mama ya pasti sudah jelas mereka adik kakak," sahut Raquel.
" Masa iya sih adik kakak sampai segitunya," sahut Sasy merasa ada yang aneh. Membuat Vandy dan Raquel melihatnya dengan heran.
" Kalian tau tidak dari wajah pria yang bernama Bayu itu. Saat memukul Verro dan berbicara sesukanya. Sangat terlihat jelas. Jika dia seperti Pria yang cemburu dan marahnya dia tidak terlihat seperti kakak pada adiknya," ucap Sasy.
" Jadi maksud kamu. Mereka bukan adik kakak. Melainkan punya hubungan lain," sahut Vandy menyimpulkan. Sasy mengangguk.
" Aku tidak tau bagaimana jelasnya. Tapi aku bisa melihat pria itu sepertinya sangat terobsesi dengan Clara dan makanya hal sekecil apapun membuatnya cemburu berlebihan," ucap Sasy yang mengeluarkan pendapatnya.
" Benar juga sih bahkan dari dia berbicara pada Clara. Kalian ingat tidak bahwa dia mengatakan pada Clara. Apa Clara menyukai Verro. Memang jelas terlihat Bayu yang sentimen dan apa lagi ketika Clara benar-benar membela Verro di bandingkan dia," ucap Raquel yang setuju dengan pemikiran Sasy.
" Kalau mereka adik kakak. Tidak mungkin kan Bayu sampai segitunya kepada Clara. Seperti kekasih yang cemburu Besar," ucap Sasy menyimpulkan.
" Tapi kenapa mereka memanggil wanita yang sama dengan mama, dan aku melihat dari pandang Clara. Dia biasa saja dengan Bayu. Tidak ada seperti rasa suka atau apapun," sahut Raquel bingung.
__ADS_1
" Tetapi aku malah berpikiran jika yang di katakan Bayu benar," ucap Raquel pelan.
" Maksud kamu perkataannya yang mana?" tanya Vandy.
" Kalau Clara menyukai Verro," sahut Raquel menerka-nerka dengan ragu. Membuat Sasy dan Vandy saling melihat.
" Kamu kok bisa punya pikiran seperti itu?" tanya Vandy.
" Terlihat dari cara Clara melihat Verro dan bahkan kita juga ada di sana dan kita bisa melihat dia benar-benar membela Verro," jawab Raquel mengeluarkan pendapatnya.
" Ya kalau membela Verro. Bukannya itu hal yang biasa. Karena memang Verro tidak salah," sahut Sasy masih merasa tidak masuk akal dengan pendapat Raquel.
" Tapi kan tidak berlebihan seperti itu," sahut Raquel. Sasy pun tidak menjawab lagi dan malah memikirkan pemikiran Raquel.
" Ahhhhh, sudahlah kita jangan memikirkan masalah itu lagi. Lagian itu bukan urusan kita. Yang harus kita lakukan adalah tetap ada di dekat Verro. Kalian harus tau. Kehadiran Clara membuat pikiran Verro sangat kacau. Dan aku takut masalah tadi akan terulang lagi dan aku takut Verro tidak bisa mengendalikan dirinya,"
" Jadi kita harus tetap berada di sisi Verro. Kita harus bisa mengetahui jalan pikiran Verro yang menganggap Clara adalah Cherry. Atau memang Verro benar-benar bisa membedakan. Jika Cherry dan Clara orang yang berbeda. Jangan sampai Verro menyamakannya dan akan membuat Verro jauh lebih menderita. Jadi tugas kita sebagai sahabat hanya itu," ucap Vandy penuh penegasan dan penekanan pada ke-2 teman-temannya.
" Iya benar juga sih. Kita hanya perlu di sisi Verro untuk mengendalikan dirinya," sahut Sasy setuju dengan perkataan Vandy.
" Ya sudah, kita jangan memikirkan masalah ini lagi. Kita fokus pada Verro saja," ucap Vandy menegaskan. Sasy dan Raquel mengangguk.
***********
Verro duduk di salah satu bangku di koridor rumah sakit. Lukanya sama sekali belum di obati dan dia masih memikirkan masalah yang terjadi pada di dalam ruangan perawatan pasiennya.
" Kenapa kamu tidak bisa mengendalikan diri kamu Verro. Lihatlah tadi akibanya," batin Verro yang juga menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi.
Dia mengakui jika itu memang kesalahannya. Karena dia tidak bisa mengendalikan dirinya dan masih penasaran pada Clara yang masih menganggap jika Clara adalah Cherry.
__ADS_1
Bersambung......