
Mereka masih berbincang-bincang dan belum juga memasuki tempat itu. Dan tiba-tiba 3 jejeran mobil mewah berhenti di depan mereka. Langsung keluar beberapa orang yang berpakaian bodyguard yang membukakan pintu mobil bagian tengah yang tak lain adalah Varell dan sang mama yang keluar dari mobil.
" Wauuuu. Varell memang selalu berbeda, ke kondangan aja pakai bodyguard segala," gumam Sasy geleng. Nadya yang di sekitar mereka merasa tidak nyaman.
Dia pasti tidak merasa tidak pantas berada di sekitar orang-orang kaya itu, sementara dia hanya wanita sederhana belum lagi melihat mamanya Varell yang beberapa tahun lalu pernah membuat luka di hatinya.
" Ya Allah, kenapa juga aku bertemu Tante Helena di sini," batin Rania yang merasa kurang nyaman.
Helena dengan wajahnya yang Arrogant dan terlihat berwibawa pun menghampiri teman-teman ananknya yang pasti selevel dengan nya.
" Tante," sapa Verro.
" Halo Verro," sahut Helena menyapa, " Cherry kamu apa kabar?" tanya Helena memegang lengan Cherry.
" Baik Tante," sahut Cherry tersenyum manis.
" Ini pertama kalinya setelah kejadian itu mama bertemu lagi dengan Nadya," batin Varell yang terus melihat Nadya. Namun Nadya mengalihkan pandangannya dan terlihat resah.
" Gadis kampungan ini sungguh tidak tau malu apa dia pikir pantas berdiri di antara orang-orang ini," batin Helena menatap sinis Nadya. Mungkin dia memang tidak akan pernah bisa menyukai Nadya.
" Ya Allah, aku tau Tante Helena tidak menyukai, aku mohon ya Allah berikan aku kekuatan agar aku bisa tenang saat berhadapan dengannya," batin Nadya yang terus gelisah.
" Tante senang bisa bertemu dengan kalian. Kalian cantik-cantik sekali. Dan sangat pantas untuk hadir di pernikahan mewah dan mungkin saja Vandy salah mengundang seseorang yang mungkin berasal dari kelas rendahan," ucap Helena dengan penuh sindiran.
" Apa yang di katakan mama, kenapa mama bicara seperti itu," batin Varell yang tau tujuan mamanya adalah untuk Nadya.
" Apa maksudnya apa dia sedang menyindirku," batin Selina yang merasa. Maklum dia memang dari kelas rendahan. Karena kastanya sudah turun.
" Tante, bisa aja, kami semua sama. Tidak ada yang pantas dan tidak pantas," sahut Cherry mencoba mencairkan ketegangan yang dia langsung mengerti tujuan dari Helena.
" Jelas ada yang berbeda Cherry. Kamu juga Cherry, dan kamu Sasy dan yang lainnya harus pintar-pintar mencari teman. Paling tidak bertemanlah yang selevel dengan kita," ucap Helena membuat Cherry langsung melihat Nadya yang Nadya hanya diam saja.
" Mah, sudahlah," sahut Varell dengan cepat menghentikan mamanya.
" Kamu ada apa Varell. Kamu sedang tidak berhubungan dengan dengan wanita yang berkasta rendahkan?" tanya Helena.
" Cukup ma, apa yang mama katakan," gertak Varell dengan pelan.
" Ya ampun mulutnya mamanya Varell. benar-benar," batin Raquel geleng-geleng.
__ADS_1
Ternyata Sasy, melihat kegelisahan temannya dan dia pun tidak tega melihat temannya yang di tatap tajam oleh Helena dan juga sedari tadi Helena terus mengeluarkan sindiran untuk Nadya.
" Hmm, kalau begitu, apa tidak sebaiknya kita masuk kedalam saja, acaranya sepertinya akan di mulai," sahut Sasy mencoba mencairkan suasana dan pasti untuk menolong Nadya dari Helena.
" Iya benar, sebaiknya kita masuk kedalam. Vandy pasti mencari kita," sahut Verro membantu.
" Iya mari Tante," sahut Toby mempersilahkan.
" Baiklah! saya juga panas berada di sini. Tante berharap kalian kapan-kapan main ya Kerumah Tante," ucap Helena menawarkan.
" Iya Tante pasti!" sahut Cherry. Helena tersenyum dan membuang napasnya perlahan. Lalu langsung masuk kedalam gedung pernikahan.
" Ayo Nadya!" ajak Sasy yang langsung membawa temannya masuk dan Nadya mengangguk saja dan memasuki gedung dengan hatinya yang pasti sakit mendapat hinaan. Tetapi justru itu biasa untuknya.
" Ayo sayang," ajak Verro pada istrinya. Cherry mengangguk dan masuk kedalam gedung bersama suaminya.
********
Vandy sudah duduk di depan penghulu dengan memakai stelan putih yang sangat terlihat tampan. Tetapi jelas wajah Vandy tidak bisa bohong jika dia sangat gemetaran bahkan beberapa kali terlihat membuang napas perlahan dan juga melap keringatnya.
Tidak berapa lama akhirnya Azizi pun datang dengan cantik menggunakan kebaya putih dengan hiasan di kepalanya. Azizi di gandeng sang putra kecilnya yang mengantarkan mamanya pada papanya.
" Azizi sangat cantik," puji Cherry yang sedari tadi menggandeng lengan suaminya.
" Kamu yang lebih cantik," sahut Verro yang pasti akan terus memuji sang istri.
" Kamu bisa aja," sahut Cherry tersenyum.
Vandy juga melihat calon istrinya itu yang semakin lama semakin dekat. Dan dia harus mengakui jika calon istrinya itu sangat cantik dan bahkan dia tidak mengedipkan matanya dan getaran di dalam sana semakin bergetar. Kala melihat wanita yang sangat cantik itu.
Tidak bisa di bohongi, jika Azizi juga sangat gemetaran dan bahkan dari tadi malam dia tidak tertidur karena pernikahannya yang sekarang ada di depan matanya.
Akhirnya Azizi duduk di samping Vandy dan membuat ke-2nya semakin dek-dekan. Semakin tidak karuan dan perasaan yang semakin campur aduk dan mungkin debaran jantung masing-masing- masing-masing sama-sama bisa di rasakan.
" Ya Allah, kenapa jantungku semakin kencang berdetaknya," batin Azizi merasa tidak tenang.
" Stop jantung jangan mencari gara-gara.Tenanglah semuanya akan selesai. Bersabar," batin Vandy yang bergerutu di dalam hatinya.
" Apa sudah bisa kita mulai?" tanya penghulu.
__ADS_1
" Iya pak, mari kita mulai," sahut papa Vandy.
" Nak Vandy kamu sudah siap?" tanya penghulu.
" Iya pak saya siap," jawab Vandy dengan yakin.
" Nak Azizi kamu sudah siap?" tanya penghulu.
" Iya pak, saya siap," sahut Azizi yang juga dengan yakin.
" Hmmm, baiklah kalau begitu kita akan memulai Ijab kabulnya," sahut penghulu yang langsung mengulurkan tangannya dan langsung di jabat Vandy.
..." Saya nikahkan Azizi Suherman dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan perhiasan 15 gema di bayar tunai" ucap penghulu....
..." Saya terima nikahnya Azizi Suherman dengan mas kawin tersebut di bayar tunai," sahut Vandy sekali tarikan napas....
..." Bagaimana saksi sah?" tanya penghulu melihat kekiri dan kanannya....
..." Sah," sahut semuanya dengan serentak....
" Alhamdulillah," sahut semuanya tersenyum dan Vandy langsung membuang napasnya panjang kedepan. Akhirnya pernikahannya sah dengan Azizi. Azizi juga terlihat bernapas lega. Penghulu pun memimpin doa bersama.
" Amin," sahut penghulu menutup doanya.
" Silahkan, cium tangan suaminya," sahut penghulu memberi arahan. Azizi dan Vandy pun saling berhadapan dan dengan perlahan Azizi meraih tangan Vandy dan mencium punggung tangan itu. Setelah itu Vandy pun mencium kening Azizi.
" Semoga menjadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah," ujar penghulu memberikan doanya. Yang mendapat sambutan Amin dari orang-orang yang ada di sana.
Azizi dan Vandy sah menjadi suami istri yang membuat orang-orang ikut merasakan kebahagian itu. Termasuk Lina yang merasa lega dengan pernikahan putranya sekalian dia juga merasakan haru.
" Aku berharap, Azizi dan Vandy akan terus menjalan kan rumah tangga mereka," batin Lina dengan beribu harapannya.
" Aku sudah menjadi istri Vandy. Aku tidak tau harus melakukan apa lagi setelah ini," batin Azizi yang tampaknya kebingungan.
" Azizi sudah menjadi istriku. Dia dan Iqbal benar-benar menjadi tanggung jawabku. Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Pernikahan ini adalah awal untuk memperbaiki segalanya," batin Vandy.
" Akhirnya Vandy dan Azizi resmi menikah. Semoga mereka ber-2 bisa kembali saling mencintai dan membuang ego mereka. Biarlah masa lalu mereka terkubur," batin Sasy dengan penuh doa dan harapannya.
Bersambung
__ADS_1